Postingan

Mendekatkan Diri kepada Allah melalui Wasilah Cinta dan Keberkahan yang Disyariatkan

Gambar
Doa bukan hanya sekumpulan kata yang kita ucapkan saat memerlukan sesuatu, tetapi juga merupakan bentuk penghambaan yang mendalam kepada Allah. Dalam usaha kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya, Islam mengajarkan konsep-konsep mulia seperti Tawasul dan Tabarruk. Keduanya berfungsi sebagai perantara yang disyariatkan untuk mencari keridaan dan keberkahan dari Allah.  Namun, di tengah banyaknya pandangan yang ada, seringkali muncul kebingungan tentang mana yang termasuk sunnah dan mana yang bisa menjauhkan kita dari akidah yang murni. Artikel ini ditulis untuk memberikan penjelasan yang jelas mengenai makna tawasul dan tabarruk, perbedaan di antara keduanya, serta adab-adab berdoa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dengan memahami materi ini, diharapkan kita bisa melaksanakan doa sehari-hari dengan lebih yakin, sesuai dengan dalil, dan penuh berkah.  A. Tawasul 1. Pengertian tawasul Secara bahasa, tawasul berasal dari kata Al-Wasilah, yang berarti segala sesuatu yang d...

Menakar Pluralisme Feodalisme dan Feminisme dengan Timbangan Al Quran dan Sunnah

Gambar
Pergerakan zaman yang terus berlangsung membawa kita pada titik temu berbagai pemikiran dan sistem sosial yang rumit. Di zaman modern ini, diskusi tentang kesetaraan, struktur kekuasaan, dan keberagaman keyakinan menjadi hal yang tak bisa dihindari dalam masyarakat. Fenomena seperti feminisme yang memperjuangkan keadilan hak, sisa-sisa feodalisme yang masih mempengaruhi hierarki sosial, serta pembicaraan mengenai pluralisme di tengah keragaman, mendorong kita untuk memiliki panduan yang jelas dalam bersikap.  Sebagai orang beriman, kita tidak bisa menerima atau menolak setiap ideologi dan fenomena sosial tanpa pemikiran yang mendalam. Kita perlu menggunakan pertimbangan yang objektif dan tegas agar tidak terjebak dalam arus pemikiran yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai keimanan. Artikel ini akan membahas secara mendetail bagaimana pandangan Islam terhadap ketiga fenomena tersebut, dengan merujuk pada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai dasar analisisnya, serta...

Manifesto Guru Merdeka: Melawan Fitnah dengan Nalar, Melawan Ghibah dengan Karya

Gambar
Dalam kehidupan sosial kita saat ini, kita sering melihat sebuah ironi yang besar yaitu gagasan tidak lagi dinilai berdasarkan kebenarannya, tetapi dari siapa yang mengatakannya. Kita hidup di dalam "masyarakat berlabel", di mana gelar resmi, latar belakang pendidikan, dan status sosial dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mendapat pengakuan saat berbicara. Fenomena ini bukan hanya masalah tata krama, tetapi juga merupakan bentuk kekerasan simbolis yang menghalangi kebebasan berpikir dan kemajuan peradaban. 1. Hegemoni simbol dan penyempitan makna intelektualitas Secara etimologis, istilah seperti " Ustadz ", "Guru", atau " Mu'alim " memiliki arti yang luas sebagai sebutan bagi siapa saja yang mengajarkan ilmu dan memberikan pencerahan. Namun, di masyarakat dengan tingkat membaca yang rendah, istilah ini mengalami penyederhanaan. Gelar yang seharusnya dihargai karena manfaat ilmu justru berubah menjadi tanda status sosial yang...

Mengambil pelajaran dari bangkit dan mundurnya peradaban Islam

Gambar
Sejarah bukan hanya sekumpulan angka tahun yang kaku atau cerita romantis tentang kejayaan di masa lalu. Setelah kita membahas faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi naik turunnya peradaban Islam, saatnya kita melangkah lebih jauh. Mengetahui penyebab adalah satu hal, tetapi mengambil pelajaran untuk dijadikan panduan di tengah tantangan abad ke-21 sangatlah penting.  Peradaban Islam, dengan segala perubahan yang terjadi, memberi kita petunjuk tentang bagaimana iman, ilmu pengetahuan, dan keadilan bisa bekerja sama untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Di sisi lain, keruntuhannya mengingatkan kita bahwa kurangnya pemikiran dan perpecahan moral bisa menjadi racun bagi suatu bangsa.  Artikel ini bertujuan untuk merenungkan dampak dari kemunduran tersebut dan merancang strategi pembaharuan yang lebih relevan dan berorientasi pada masa depan. Kita tidak hanya ingin mengajak umat untuk melihat ke belakang, tetapi juga belajar bagaimana cara "berlari"...