Manifesto Guru Merdeka: Melawan Fitnah dengan Nalar, Melawan Ghibah dengan Karya
1. Hegemoni simbol dan penyempitan makna intelektualitas
Secara etimologis, istilah seperti "Ustadz", "Guru", atau "Mu'alim" memiliki arti yang luas sebagai sebutan bagi siapa saja yang mengajarkan ilmu dan memberikan pencerahan. Namun, di masyarakat dengan tingkat membaca yang rendah, istilah ini mengalami penyederhanaan. Gelar yang seharusnya dihargai karena manfaat ilmu justru berubah menjadi tanda status sosial yang eksklusif.
Pikiran yang menyatakan bahwa otoritas ilmu hanya sah jika berasal dari satu lembaga tertentu menghalangi kreativitas manusia. Sejarah peradaban manusia dibentuk oleh orang-orang yang belajar sendiri, pemikir independen, dan mereka yang berani keluar dari zona nyaman untuk menemukan jati diri mereka. Menilai kualitas intelektual seseorang hanya berdasarkan "stempel" resmi adalah bentuk kesombongan yang mengabaikan esensi ilmu itu sendiri.
Belajar otodidak menurut saya adalah sebuah proses mencari tahu informasi, ilmu atau hal yang belum diketahui melalui bertanya kepada yang lebih tahu, buku, majalah, artikel atau media lainnya dengan menggunakan kemampuan literasi, atas dasar kemauan diri sendiri yang timbul dari dalam hati, tanpa intervensi pihak lain dan dilakukan secara Istiqomah. Sehingga otodidak bukan berarti belajar tanpa guru, melainkan belajar dengan menjadikan seluruh dunia sebagai gurunya.
2. Bahaya "Ad Hominem" di akar rumput
Ketika orang-orang tidak bisa membantah argumen dengan baik, mereka sering kali menyerang individu secara pribadi (Ad Hominem). Kita melihat bagaimana informasi tentang kehidupan pribadi, keadaan ekonomi, bahkan masalah kesehatan fisik digunakan untuk menghalangi pemikiran kritis.
Ini mencerminkan "Mentalitas Kepiting". Siapa pun yang berusaha keluar dari zona nyaman kebodohan bersama akan ditarik kembali oleh mereka yang merasa terancam. Fitnah dan provokasi menjadi senjata terakhir bagi mereka yang kalah dalam perdebatan ide tetapi menang dalam hal suara terbanyak. Dalam masyarakat seperti ini, orang lebih menghargai "siapa yang paling keras berbicara" daripada "apa yang seharusnya dilakukan dengan benar".
3. Dialektika kerja keras: antara fisik dan pikiran
Ada salah paham yang serius yang mengatakan bahwa kerja keras harus selalu terlihat seperti penderitaan fisik yang jelas. Seseorang yang memilih jalur intelektual, seperti mengajar, menulis, atau memulai usaha berbasis pengetahuan, sering kali dianggap egois atau "terlalu nyaman". Padahal, mengembangkan sebuah ide di tengah banyaknya skeptisisme adalah perjuangan mental yang sangat berat.
Memaksakan pandangan tentang "penderitaan fisik" kepada semua orang tanpa mempertimbangkan kemampuan biologis mereka (seperti kesehatan) adalah tindakan yang merendahkan manusia. Pendidikan sejati seharusnya membebaskan orang dari ketergantungan pada kekuatan fisik dan membantu mereka menjadi mandiri secara mental. Keringat yang dihasilkan dari berpikir sama berharganya dengan keringat yang dihasilkan dari aktivitas fisik.
4. Etika menjawab dan integritas ilmiah
Sering kali, ketika seorang pengajar jujur mengakui bahwa ia tidak tahu sesuatu, orang lain salah mengartikan itu sebagai tanda kebodohan. Padahal, dalam tradisi intelektual Islam yang mulia, mengucapkan "Laa adri" (aku tidak tahu) dianggap sebagai bagian penting dari ilmu. Ada perbedaan besar antara "memberi jawaban dengan cara yang sederhana" dan "memberi jawaban secara sembarangan." Seorang pengajar yang memiliki integritas tidak akan berusaha menjawab pertanyaan yang belum ia kuasai hanya untuk menjaga reputasinya di hadapan murid-muridnya. Memberi jawaban tanpa pengetahuan (bi ghairi 'ilmin) sebenarnya adalah kesalahan besar yang diingatkan dalam Al-Qur'an.
ََููุง ุชَُْูู ู
َุง َْูููุณَ ََููู ุจِูٖ ุนِْูู
ٌ ۗ ุงَِّู ุงูุณَّู
ْุนَ َูุง ْูุจَุตَุฑَ َูุง ُْููุคَุงุฏَ ُُّูู ุงُٰููุٓฆَِู َูุง َู ุนَُْูู ู
َุณْุฆًُْููุง
Artinya: "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra' surah ke 17: Ayat 36).
Menggunakan bahasa yang biasa kita pakai sehari-hari untuk menjelaskan ajaran agama bukanlah hal yang salah. Sebaliknya, ini adalah cara berdakwah dengan menggunakan lisan yang membuat ajaran itu lebih mudah dipahami oleh orang-orang. Tujuannya adalah agar ajaran tersebut bisa bermanfaat dan tidak hanya menjadi pernyataan yang kaku. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: "Kami para Nabi diperintahkan untuk menempatkan manusia pada posisinya dan berbicara kepada mereka sesuai dengan kadar akal mereka." (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya, No. 4.842, juga diriwayatkan oleh Al-Daylami).
5. Kejujuran intelektual Vs. dogmatisme buta
Sikap pembelajar seumur hidup adalah lawan dari sifat keras kepala yang sering dimiliki oleh orang-orang dengan sedikit pengetahuan. Seorang pengajar yang terus belajar meskipun ia sudah menjadi narasumber menunjukkan sikap rendah hati dalam ilmu pengetahuan. Kita harus terus mencari kebenaran objektif, bukan hanya mengandalkan kemampuan berbicara yang kosong.
Menuju pendidikan pembebasan:
Sikap untuk terus belajar seumur hidup adalah lawan dari sifat keras kepala yang sering dimiliki oleh orang-orang yang kurang literasinya. Seorang pengajar yang selalu ingin mencari tahu, bahkan ketika ia sudah berada di posisi sebagai pemateri, menunjukkan sikap rendah hati dalam ilmu pengetahuan. Kebenaran yang objektif harus tetap dicari, bukan disembunyikan dengan kata-kata indah yang tidak berarti.
Sumber referensi:
1. Buku:
- Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas) karya Paulo Freire.
- Language and Symbolic Power karya Pierre Bourdieu.
- To Have or To Be? Karya Erich Fromm.
- The Theory of the Leisure Class karya Thorstein Bunde Veblen.
- The True Believer: Thoughts on the Nature of Mass Movements (Sang Pengikut Sejati atau Pengiman Sejati), karya Eric Hoffer.
- Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity karya Erving Goffman.
- Development as Freedom karya Amartya Sen.
2. Jurnal ilmiah:
- Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One's Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments oleh Jens J. Krรผger dan David Dunning.
- The Concept of Education in Islam oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas
3. Kitab para ulama Ahlussunnah wal jamaah
- Ta'limul Muta'allim Tariq Al-Ta'allum karya Syaikh Burhanul Islam Az-Zarnuji.
- Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
- Muqaddimah karya Ibnu Khaldun.
Penulis: Maulana Aditia
Baca juga:
Komentar
Posting Komentar