Literasi membangun kemajuan peradaban Islam

Perintah membaca yang pertama kali diwahyukan dalam Al-Qur'an merupakan bukti yang kuat mengenai signifikansi literasi dalam konteks Islam. Sejak awal, ajaran Islam telah mendorong para pengikutnya untuk senantiasa menuntut ilmu dan pengetahuan. Pada masa kejayaan peradaban Islam, literasi berperan sebagai kunci utama dalam menciptakan peradaban yang cemerlang. Pada periode tersebut, umat Islam berhasil menghasilkan karya-karya monumental di berbagai disiplin ilmu, termasuk matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat. 

Namun, seiring berjalannya waktu, tingkat literasi di kalangan umat Islam mengalami fluktuasi. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas secara mendalam bagaimana literasi telah menjadi fondasi bagi kemajuan peradaban Islam di masa lalu, serta mengidentifikasi tantangan dan solusi yang dapat diimplementasikan untuk meningkatkan literasi umat Islam di masa depan.

A. Apa itu literasi? 
Kata "literasi" berasal dari bahasa Latin "literatus," yang berarti "individu yang terdidik." Secara etimologis, istilah ini juga berhubungan dengan kata "literature" dan "letter" dalam bahasa Inggris, yang merujuk pada kemampuan untuk membaca dan menulis. Berikut merupakan definisi literasi dari berbagai sumber:

1. Elizabeth Sulzby
Menurut Elizabeth Sulzby “1986”, Literasi adalah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan menulis” dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuan. Jika didefinisikan secara singkat, definisi literasi yaitu kemampuan menulis dan membaca. (1)

2. UNESCO
Menurut UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), Literasi ialah seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks yang mana keterampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya. (2)

3. Harvey J. Graff
Menurut Harvey J. Graff, literasi adalah kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis. Setidaknya dengan dua hal ini masyarakat menjadi lebih melek ilmu pengetahuan. (1)

4. National Institute for Literacy
National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. (2)

5. KBBI 
Menurut KBBI, literasi memiliki tiga pengertian utama: (1) kemampuan menulis dan membaca, (2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu, serta (3) kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. (3)

Jadi, Literasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, berhitung, dan memecahkan masalah yang melibatkan proses aktif dalam mencari, memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan menciptakan informasi dalam berbagai bentuk dan mencakup kemampuan berkomunikasi secara efektif, berpikir kritis, dan berkolaborasi dengan orang lain.

B. Literasi pada masa kejayaan Islam 
Masa kejayaan Islam, terutama pada periode klasik (abad ke-8 hingga ke-13 Masehi), merupakan suatu era di mana budaya literasi mencapai tingkat tertinggi dan menjadi fondasi utama bagi kemajuan peradaban. Literasi pada masa tersebut tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga mencerminkan semangat yang kuat untuk mencari, mendokumentasikan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Semangat literasi memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam, di mana perintah pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad adalah "Iqra'" (Bacalah), yang berfungsi sebagai dasar normatif bagi budaya membaca dan pencarian ilmu. Dengan demikian, pencarian ilmu dipandang sebagai suatu kewajiban dalam agama. Selain itu, terdapat banyak hadits dan ajaran yang menekankan pentingnya ulama (orang yang berilmu) serta menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang menuntut ilmu. Secara sosial, hal ini menempatkan ulama dan individu dengan tingkat literasi yang tinggi pada posisi yang terhormat.

Literasi berkembang pesat karena adanya dukungan kelembagaan yang terstruktur yakni: 

1. Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan)
Baitul Hikmah, yang didirikan di Baghdad, merupakan lebih dari sekadar sebuah perpustakaan; institusi ini berfungsi sebagai pusat penelitian, akademi, dan penerjemahan internasional pertama dalam dunia Islam, sehingga menjadi bukti nyata dari investasi peradaban dalam bidang literasi dan ilmu pengetahuan. 

Baitul Hikmah didirikan pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid, yang berlangsung sekitar akhir abad ke-8 Masehi, dan mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan putranya, Khalifah Al-Ma'mun, pada awal abad ke-9 Masehi. Khalifah Al-Ma'mun secara langsung memimpin berbagai proyek intelektual yang signifikan dan memberikan penghargaan tinggi kepada para sarjana dengan menempatkan mereka dalam posisi yang terhormat.

Fungsi utama Baitul Hikmah adalah menerjemahkan teks-teks klasik dari berbagai peradaban, khususnya dari Yunani, Persia (Pahlavi), dan India (Sanskerta). Para penerjemah yang bekerja di institusi ini menerima imbalan yang sangat tinggi, bahkan ada yang mendapatkan gaji setara dengan berat buku yang mereka terjemahkan dalam bentuk emas.

Proses penerjemahan ini mencerminkan tingkat literasi yang tinggi, yang tidak hanya mencakup kemampuan membaca dalam bahasa asing, tetapi juga kemampuan untuk memahami konsep-konsep filosofis dan ilmiah yang kompleks serta merekonstruksinya secara akurat dalam bahasa Arab. Hasilnya adalah munculnya literatur ilmiah Arab yang kaya, yang berfungsi sebagai bahasa ilmu pengetahuan dunia selama berabad-abad.

Setelah proses penerjemahan, teks-teks tersebut tidak hanya disimpan, tetapi juga dipelajari, dikritik, dan dikembangkan lebih lanjut. Baitul Hikmah menjadi pusat di mana Al-Khawarizmi mengembangkan ilmu Aljabar, yang menunjukkan bahwa literasi berperan sebagai alat untuk produksi dan inovasi ilmu pengetahuan, bukan sekadar sebagai sarana konsumsi.

2. Perpustakaan umum dan akses terbuka
Berbeda dengan Eropa pada Abad Pertengahan, di mana buku sering kali disimpan dalam kunci di biara, peradaban Islam mengembangkan sistem perpustakaan umum yang mencerminkan proses demokratisasi pengetahuan serta penghargaan yang tinggi terhadap buku.

Perpustakaan besar (khizanat al-kutub) tidak terbatas pada ibu kota kekhalifahan seperti Baghdad, melainkan juga terdapat di pusat-pusat regional seperti Kairo, Damaskus, dan Cordoba (Andalusia). Pada masa kejayaannya, kota Cordoba dilaporkan memiliki sejumlah besar perpustakaan. Akses terhadap koleksi naskah tersebut dirancang dengan sangat terbuka, mencerminkan keinginan kolektif untuk berbagi pengetahuan.

Perpustakaan-perpustakaan menyediakan fasilitas dan ruang khusus bagi para akademisi serta masyarakat umum untuk melakukan kegiatan membaca, penelitian, dan penyalinan naskah yang diperlukan. Hal ini secara langsung mendukung proses literasi, di mana semakin mudahnya penyalinan buku berkontribusi pada percepatan penyebaran ilmu pengetahuan. Beberapa perpustakaan memiliki koleksi yang sangat mengesankan, dengan kabar bahwa beberapa di antaranya menyimpan ratusan ribu jilid, yang jauh melebihi koleksi perpustakaan di negara-negara Barat pada periode yang sama.

3. Sistem Madrasah dan Universitas
Madrasah (sekolah) dan institusi tinggi yang kemudian berkembang menjadi universitas modern adalah sistem yang menjamin penyebaran dan penginstitutionalisasian literasi. Madrasah, yang mulai berkembang pesat pada era Seljuk (seperti Nizamiyyah), menawarkan kurikulum yang terorganisir dan memastikan bahwa ajaran serta pengetahuan diwariskan secara sistematis. Institusi seperti Universitas Al-Azhar di Kairo (didirikan pada abad ke-10 M) dan Universitas Al-Qarawiyyin di Fez (didirikan pada abad ke-9 M) berperan sebagai universitas awal yang menarik mahasiswa dan ulama dari seluruh dunia Islam maupun non-Islam.

Sistem pendidikan ini tidak hanya menghasilkan ulama, tetapi juga ilmuwan dengan kemampuan literasi yang tinggi di berbagai bidang seperti kedokteran, filsafat, logika, matematika, dan astronomi. Hal ini menghasilkan pemikir yang mampu menggabungkan ilmu agama dan ilmu rasional. Fondasi dari seluruh sistem ini adalah kemampuan literasi yang kuat, dimulai dari penguasaan bahasa Arab yang mendalam, karena bahasa Arab merupakan lingua franca dalam dunia ilmu pengetahuan.

Secara keseluruhan, Baitul Hikmah berfungsi sebagai laboratorium untuk penerjemahan dan penelitian, Perpustakaan sebagai tempat penyebaran pengetahuan, dan Madrasah/Universitas sebagai pabrik yang menghasilkan intelektual. Ketiga pilar ini bekerja sama untuk menciptakan budaya literasi yang sangat subur, yang kemudian menjadi penggerak utama kemajuan peradaban Islam.

Literasi bukan hanya sekadar aktivitas membaca, melainkan juga merupakan sarana untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi. Para ilmuwan seperti Al-Khawarizmi (yang mengembangkan Aljabar) dan Ibnu Sina (penulis Al-Qanun fi al-Tibb, yang menjadi referensi kedokteran di Eropa selama berabad-abad) mampu menciptakan karya-karya monumental berkat adanya tradisi menulis, menyalin, dan berdiskusi tentang naskah (literasi).

Tokoh seperti Ibnu Khaldun menulis Muqaddimah, sebuah karya yang menjadi fondasi ilmu sosiologi dan historiografi modern, yang menunjukkan kemampuan analisis dan dokumentasi yang luar biasa. Selain itu, hadirnya kertas yang murah berkat teknologi pembuatan kertas yang dibawa dari Tiongkok dan disempurnakan di Baghdad, mendukung tradisi penulisan dan penyalinan, sehingga buku menjadi lebih terjangkau dan penyebaran ilmu menjadi lebih cepat.

C. Perbandingan tingkat literasi umat Islam di masa lalu dengan masa kini
Perbedaan mendasar antara literasi umat Islam pada masa kejayaan klasik dan masa kini terletak pada: 

1. Nilai sosial terhadap ilmu
Di masa lalu, semangat "Iqra'" (Bacalah) diartikan sebagai penghormatan sosial. Orang-orang berilmu, seperti ulama dan sarjana, ditempatkan di posisi teratas dalam masyarakat. Kecintaan terhadap buku dan naskah menjadi simbol status, dengan para Khalifah memberikan insentif besar kepada penerjemah dan penulisnya. 

Namun, saat ini, nilai sosial lebih terfokus pada konsumsi dan hiburan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca buku secara mendalam (literasi kritis) sering kali digantikan oleh konten digital yang cepat dan kurang mendalam, seperti berita atau media sosial. Para intelektual kini harus bersaing ketat dengan influencer untuk menarik perhatian publik.

2. Peralihan ekosistem ilmu 
Literasi adalah sebuah kegiatan yang didukung oleh negara. Institusi seperti Baitul Hikmah berfungsi tidak hanya sebagai perpustakaan, tetapi juga sebagai pusat penelitian dan penerjemahan yang besar. Ribuan naskah asing diteliti dan disintesis. Kegiatan penerjemahan (membaca mendalam) dan penulisan (berkualitas tinggi) telah menjadi sektor yang aktif. 

Saat ini, perhatian kita beralih dari aspek produksi menuju konsumsi. Meski akses informasi digital berlimpah, tantangan yang ada adalah mengembangkan kemampuan membaca dasar menjadi kemampuan riset dan inovasi. Fasilitas penelitian dan penerbitan ilmiah di negara-negara mayoritas Muslim walaupun ada, masih belum sekuat atau seproduktif pusat ilmu pengetahuan di seluruh dunia.

3. Output Intelektual
Hasil dari literasi sejarah menghasilkan karya-karya orisinal dan ensiklopedis yang menjadi rujukan selama berabad-abad. Ilmuwan Muslim telah berperan sebagai penghasil ilmu yang menetapkan kurikulum global di bidang kedokteran, matematika (Aljabar), dan astronomi. Saat ini, output intelektual cenderung lebih banyak mengadaptasi atau mengomentari ilmu yang sudah ada, dengan kontribusi orisinal dalam jurnal ilmiah global yang masih rendah. Literasi saat ini juga lebih rentan terhadap tantangan literasi digital yang dangkal, sehingga membuat masyarakat lebih mudah terpengaruh oleh hoaks dan kesulitan dalam menilai validitas informasi.

4. Pergeseran sifat literasi dari integralistik menuju fragmentatif
Literasi pada era kejayaan memiliki karakter yang integralistik atau holistik. Para cendekiawan klasik, seperti Ibnu Sina dan Al-Razi, adalah tokoh serba bisa yang mampu menguasai dan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu agama (naqli) seperti fikih dan tafsir, hingga ilmu rasional (aqli) seperti filsafat, kedokteran, dan matematika. Keterampilan literasi mereka memungkinkan terwujudnya sintesis pengetahuan untuk membentuk pandangan dunia yang utuh. 

Sebaliknya, literasi saat ini cenderung bersifat fragmentatif atau terfokus. Ilmu pengetahuan terbagi-bagi, di mana seorang ahli di bidang sains mungkin hanya memiliki pemahaman yang terbatas tentang ilmu agama, dan sebaliknya. Pemisahan ini menyulitkan masyarakat dalam mengembangkan visi peradaban yang komprehensif, karena literasi seringkali hanya terfokus pada kedalaman dalam satu area yang sempit.

5. Perubahan motivasi literasi dari kewajiban agama menjadi kebutuhan karier
Pada masa klasik, motivasi utama untuk terlibat dalam literasi dan pencarian ilmu berasal dari kewajiban agama dan spiritual. Ilmu dianggap sebagai bentuk ibadah dan sarana untuk mengenal Allah (ma'rifah), serta sebagai cara untuk meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Para pengajar dan penulis mencari kebenaran, bukan hanya imbalan materi.

Saat ini, meskipun motivasi spiritual masih ada, literasi semakin didorong oleh kebutuhan fungsional dan ekonomi. Literasi dipandang sebagai alat untuk memperoleh sertifikasi, ijazah, atau pekerjaan yang lebih baik. Perubahan motivasi ini dapat mengurangi kedalaman dan kritisitas dalam belajar, karena tujuan utamanya adalah mencapai kelulusan atau kesuksesan di pasar, bukan mencari kebenaran universal.

6. Perbedaan jangkauan bahasa ilmu dari lingua franca universal ke multibahasa lokal
Pada masa kejayaan, literasi didukung oleh Bahasa Arab sebagai Lingua Franca atau bahasa pengantar universal untuk ilmu pengetahuan di seluruh kekhalifahan Islam. Seorang ilmuwan di Maroko dapat dengan mudah membaca dan berdiskusi dengan seorang ilmuwan di Iran menggunakan bahasa yang sama, sehingga memastikan penyebaran ilmu yang cepat dan terkoordinasi. 

Sementara itu, dunia Islam saat ini mengalami pemecahan dalam bahasa ilmu. Diskusi tentang agama dan pendidikan dasar berlangsung dalam bahasa-bahasa lokal seperti Indonesia, Urdu, atau Turki. Di sisi lain, banyak publikasi ilmiah dan penelitian canggih harus menggunakan Bahasa Inggris agar bisa menjangkau pembaca di seluruh dunia. Pemecahan ini membuat umat Islam kesulitan untuk menyatukan kembali pengetahuan ilmiah mereka secara terintegrasi dan universal seperti yang pernah ada sebelumnya. 

D. Dampak literasi terhadap kemajuan peradaban Islam 
Secara sederhana, literasi (budaya membaca, menulis, dan belajar) merupakan kunci utama yang membuka jalan menuju kejayaan dan kemajuan peradaban Islam di masa lalu. Dampaknya bisa berupa:

1. Pendorong kemajuan ilmu pengetahuan
Literasi berperan sebagai dasar untuk mengumpulkan dan mengembangkan pengetahuan. Keberadaan lembaga seperti Baitul Hikmah di Baghdad (yang didirikan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid) merupakan bukti nyata bahwa peradaban Islam memberikan perhatian besar terhadap buku dan literasi. Dengan koleksi ratusan ribu buku, perpustakaan ini menjadi tempat pertemuan dan penerjemahan ilmu dari berbagai belahan dunia (seperti Yunani, Persia, dan lain-lain) ke dalam bahasa Arab. Penghargaan terhadap karya tulis sangat tinggi, bahkan karya ilmiah dihargai dengan emas sesuai beratnya. Ini menunjukkan bahwa masyarakat dan negara sangat menghargai aktivitas membaca dan menulis, mendorong individu untuk menjadi ilmuwan.

2. Alat penyebaran peradaban secara damai
Literasi yang baik memungkinkan umat Islam untuk menjadi penghasil ilmu pengetahuan di tingkat global. Melalui budaya literasi ini, muncul ilmuwan-ilmuwan ternama seperti Ibnu Sina (Bapak Kedokteran), Al-Khawarizmi (Pencipta Aljabar), dan Al-Ghazali (Filsafat dan Teologi). Sumbangan mereka tidak hanya memajukan ilmu pengetahuan di dunia Islam, tetapi juga menjadi acuan utama bagi peradaban Barat selama berabad-abad. Literasi memungkinkan pertukaran pengetahuan antarbudaya secara efektif. Ilmu pengetahuan (sains dan teknologi) disebarkan melalui buku dan tulisan, sehingga peradaban Islam dapat menjangkau peradaban lain tanpa menggunakan kekerasan.

3. Pembentuk karakter dan moral
Literasi tidak hanya menjadikan seseorang pintar, tetapi juga membentuk karakter umat. Dengan membaca dan memahami ajaran Islam (Al-Qur'an dan Hadits) secara mendalam, umat Islam dapat mengembangkan nilai-nilai keagamaan, moral, dan karakter yang kokoh. Literasi menjadi landasan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal: menciptakan individu yang cerdas secara intelektual, berakhlak baik, dan menjadi anggota masyarakat yang produktif.

4. Demokratisasi pengetahuan dan akses publik
Akses terhadap buku dan naskah terbuka untuk masyarakat umum dan para sarjana, bukan hanya untuk kalangan elit. Kebijakan ini memastikan bahwa ilmu pengetahuan menyebar secara merata ke berbagai lapisan masyarakat, yang mendorong munculnya ilmuwan dari berbagai latar belakang sosial. Literasi menjadi alat untuk mobilitas sosial dan memastikan bahwa inovasi tidak hanya menjadi hak segelintir orang.

5. Kohesi intelektual melalui lingua franca arab
Literasi yang kuat memungkinkan terbentuknya kesatuan intelektual yang melintasi batas geografis dan etnis yang luas. Bahasa Arab menjadi "Lingua Franca" utama untuk ilmu pengetahuan dan penelitian di seluruh wilayah kekhalifahan, dari Spanyol hingga Persia. Kemampuan literasi dalam Bahasa Arab yang bersifat universal ini memastikan bahwa para ilmuwan di Cordoba dapat membaca, mengkritik, dan mengembangkan karya ilmuwan di Baghdad tanpa kendala bahasa. Hal ini menciptakan diskusi ilmiah yang kohesif dan berkelanjutan, yang menjadi ciri khas kemajuan peradaban Islam, serta memungkinkan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat dan terpadu.

E. Tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan literasi di dunia Islam
1. Kesenjangan akses teknologi
Tantangan terbesar yang paling nyata adalah tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap teknologi. Di banyak daerah terpencil atau desa-desa miskin di dunia Islam, masyarakat masih kesulitan untuk mendapatkan perangkat keras (seperti laptop atau tablet) dan akses internet yang stabil (sinyal yang kuat dan terjangkau). 

Hal ini menciptakan ketidakadilan digital. Anak-anak dan pelajar di daerah yang tidak terjangkau internet menjadi tertinggal. Mereka kehilangan kesempatan untuk mengakses sumber belajar digital, mengikuti kelas online, atau mencari informasi terbaru yang dapat diakses oleh teman-teman mereka di kota besar. Kesempatan untuk belajar secara modern pun menjadi tidak merata.

2. Rendahnya literasi digital
Meskipun perangkat dan internet sudah tersedia, tantangan berikutnya adalah banyak orang yang belum memahami cara menggunakannya dengan baik. Literasi digital tidak hanya berarti bisa menyalakan komputer, tetapi juga kemampuan untuk menggunakan alat digital dengan bijak untuk belajar dan bekerja. Banyak guru dan siswa masih belum menguasai keterampilan ini, seperti mencari sumber ilmiah yang terpercaya di internet, menggunakan aplikasi pembelajaran, atau memanfaatkan database digital. Akibatnya, teknologi yang seharusnya mempercepat proses belajar (membaca, meneliti, menulis) malah mengurangi efektivitas pembelajaran. Alat digital yang mahal menjadi kurang berguna karena pengguna tidak tahu cara memaksimalkan penggunaannya untuk meningkatkan literasi mereka. 

3. Potensi erosi nilai moral
Dalam pendidikan Islam, tujuan literasi adalah untuk meningkatkan kecerdasan pikiran sekaligus membentuk akhlak yang baik. Namun, teknologi dapat mengganggu keseimbangan ini. Media sosial dan internet, khususnya, dapat dengan cepat mengalihkan perhatian dari nilai-nilai dasar ajaran Islam. 

Jika teknologi digunakan tanpa pengawasan yang tepat, fokus pendidikan bisa berubah hanya pada aspek akademis (seperti mendapatkan nilai tinggi) dan mengabaikan sisi moral dan karakter (akhlak). Ini bisa menurunkan kualitas pendidikan Islam secara keseluruhan. Murid  mungkin menjadi pintar dalam hal pengetahuan umum, tetapi kurang memiliki adab atau pemahaman spiritual yang mendalam, yang seharusnya menjadi tujuan utama pendidikan Islam. 

4. Ancaman konten negatif dan etika digital
Internet adalah pedang bermata dua; ia menawarkan pengetahuan sekaligus membawa informasi yang bisa merusak dan menyesatkan. Di dalam internet, terdapat banyak konten negatif seperti hoax, ujaran kebencian, dan materi yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, serta kurangnya etika digital seperti cyberbullying dan plagiarisme. Tantangan ini mempengaruhi literasi dari segi kualitas konten dan moralitas. Jika pelajar tidak dilengkapi dengan kemampuan literasi kritis untuk membedakan hoax dan prinsip etika yang kuat untuk berinteraksi secara online, mereka dapat terpapar informasi yang salah atau bahkan menjadi penyebar kebencian. Hal ini jelas mengganggu upaya menjaga kualitas literasi dan pendidikan agama yang baik. 

5. Menurunnya budaya menulis dan critical review
Tantangan ini berkaitan dengan pergeseran dari menjadi produsen ilmu menjadi konsumen informasi, yang merupakan kemunduran dari masa kejayaan. Di masa lalu, literasi tidak hanya mencakup membaca, tetapi juga menulis, menyalin, dan mengkritik naskah. Saat ini, banyak fokus pendidikan hanya berhenti pada tahap membaca dan menghafal.

Terdapat kelemahan dalam budaya riset dan publikasi ilmiah orisinal yang diakui secara global di banyak institusi pendidikan tinggi Islam. Umat Islam mengalami kesulitan dalam menciptakan pengetahuan baru. Peran mereka sebagai produsen ide dan inovasi (yang memerlukan literasi tinggi dalam menulis, berdebat, dan memublikasikan) semakin melemah, dan posisi mereka dalam peta ilmu pengetahuan global cenderung menjadi pengadaptasi atau konsumen.

6. Rendahnya anggaran dan infrastruktur literasi publik
Secara struktural, banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim masih memiliki investasi yang rendah untuk fasilitas literasi publik dibandingkan dengan negara-negara maju. Hal ini terlihat dari minimnya anggaran negara yang dialokasikan untuk pembangunan dan pemeliharaan perpustakaan umum yang memadai, serta untuk pengadaan buku berkualitas tinggi secara massal.

Perpustakaan yang ada sering kali kekurangan koleksi terbaru, fasilitas yang nyaman, dan program literasi komunitas yang aktif. Kekurangan infrastruktur ini membuat akses fisik terhadap berbagai sumber bacaan menjadi sulit. Padahal, perpustakaan merupakan pilar utama yang menyediakan ruang aman dan terjangkau bagi masyarakat untuk mengembangkan kebiasaan membaca mendalam, yang merupakan inti dari literasi peradaban.

7. Kesenjangan literasi bahasa (fragmentasi lingua franca)
Meskipun telah dibahas sebelumnya, penting untuk menjelaskan tantangan ini secara lebih rinci. Pada masa lalu, Bahasa Arab menjadi bahasa utama untuk ilmu pengetahuan. Namun sekarang, Bahasa Inggris telah mengambil alih sebagai bahasa utama dalam penelitian dan ilmu modern. Di sisi lain, pendidikan dasar dan diskusi agama masih banyak menggunakan bahasa lokal seperti Bahasa Indonesia dan Urdu. 

Kesenjangan ini menyebabkan terjadinya isolasi dalam pemikiran. Seorang pelajar yang hanya menguasai bahasa lokal akan kesulitan menemukan informasi dan riset terbaru dari seluruh dunia. Di sisi lain, seorang ilmuwan yang fasih berbahasa Inggris mungkin tidak dapat terhubung dengan diskusi tentang budaya dan agama setempat. Ketidakselarasan dalam literasi ini menghalangi perkembangan visi peradaban Islam yang harmonis. 

F. Peran pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam memutuskan solusi untuk meningkatkan literasi 
1. Peran pemerintah
Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam membuat dan melaksanakan kebijakan serta program untuk meningkatkan literasi. Berikut adalah beberapa poin pentingnya: 

a. Pemerintah mengatur dan membuat undang-undang untuk menekankan pentingnya literasi, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan aturan lainnya (PP dan Permendikbud). 
b. Mereka meluncurkan program-program literasi utama, seperti Program Literasi Keluarga yang mendorong membaca di rumah, Program Literasi Satuan Pendidikan yang mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran di sekolah, serta Program Literasi Masyarakat yang memperkuat layanan perpustakaan dan akses buku. 
c. Pemerintah juga menyediakan buku pelajaran dengan harga terjangkau dan mudah diakses secara online, meskipun masih perluasan untuk buku non-pelajaran demi meningkatkan literasi umum. 
d. Mereka menjalankan Gerakan Nasional Gemar Membaca untuk membangun budaya literasi yang kuat di masyarakat. 
e. Terdapat koordinasi antara kementerian dan lembaga agar program literasi berjalan dengan baik dan menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk daerah terpencil. 
f. Selain itu, mereka melakukan advokasi, penyuluhan, dan evaluasi program literasi agar tetap efektif dan berkembang sesuai kebutuhan zaman. 

2. Peran lembaga pendidikan 
Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya sangat penting untuk menanamkan dan mengembangkan kemampuan literasi pada anak-anak. Tugas utama mereka adalah: 

a. Menyusun dan menerapkan panduan literasi dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca, berpikir kritis, dan literasi lainnya. 
b. Memfasilitasi kegiatan membaca secara rutin, seperti menyediakan waktu khusus setiap hari di sekolah untuk membaca buku non-pelajaran. 
c. Mengintegrasikan literasi ke dalam kurikulum sebagai bagian dari pengembangan karakter dan kemampuan kognitif siswa. 
d. Menjadi pusat penyebaran dan contoh budaya baca serta mendukung gerakan literasi di tingkat keluarga dan masyarakat. 
e. Memberikan akses yang baik ke buku dan sumber belajar lainnya untuk mendukung literasi. 

3. Peran masyarakat
Masyarakat memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk budaya literasi karena mereka yang menerapkan kebiasaan membaca dan belajar dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa peran mereka meliputi: 

a. Mendukung dan berpartisipasi dalam program literasi yang diselenggarakan oleh pemerintah dan lembaga pendidikan, seperti ikut aktif di perpustakaan masyarakat dan Kampung Literasi. 
b. Menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung kebiasaan membaca dan bercerita sejak kecil, yaitu melalui Program Literasi Keluarga yang sangat menekankan peran orang tua. 
c. Memulai dan melaksanakan kegiatan literasi di komunitas, seperti taman bacaan masyarakat, klub buku, atau kelompok diskusi. 
d. Menjadi agen perubahan dengan melibatkan semua elemen masyarakat untuk membangun budaya baca dan literasi yang kuat dan berkelanjutan. 

Dengan penggabungan peran ini, cara yang diambil untuk meningkatkan literasi akan lebih berhasil dan berdampak luas, karena melibatkan kebijakan, pendidikan formal, dan lingkungan sosial secara bersamaan. Oleh karena itu, untuk menentukan solusi yang tepat dalam meningkatkan literasi, pemerintah mengatur dan menyediakan program, lembaga pendidikan menerapkan literasi dalam pengajaran, serta masyarakat menghidupkan dan menerapkan budaya literasi di dalam keluarga dan lingkungan sosial. 

Kesimpulan: 
Perjalanan kita dalam menjelajahi hubungan antara literasi dan peradaban Islam menyoroti satu kebenaran penting. Literasi adalah inti dan dasar bagi kemajuan peradaban Islam. Perintah "Iqra'" bukan hanya sekadar instruksi untuk membaca, tetapi juga ajakan untuk menguasai ilmu secara menyeluruh, yang di masa kejayaan menghasilkan banyak ulama dan ilmuwan dari berbagai bidang. 

Kita telah melihat bahwa di masa lalu, literasi merupakan gerakan bersama yang didukung sepenuhnya oleh negara dan lembaga seperti Baitul Hikmah dan sistem madrasah. Hal ini menghasilkan karya-karya besar yang diakui di seluruh dunia dalam bidang matematika, kedokteran, dan filsafat. 

Namun, jika kita bandingkan dengan sekarang, ada pergeseran yang signifikan. Literasi saat ini cenderung beralih dari penciptaan ilmu asli menjadi konsumsi informasi digital yang kurang mendalam. Meskipun tantangan zaman modern mulai dari kesenjangan akses teknologi hingga hilangnya nilai moral akibat penggunaan digital yang tidak terarah sangat terasa, solusi untuk mengembalikan kejayaan peradaban harus dimulai dari hal yang sama: revitalisasi budaya literasi. 

Literasi adalah kunci untuk menghadapi tantangan zaman ini. Literasi yang baik tidak hanya meningkatkan kualitas hidup dan membentuk karakter masyarakat yang baik, tetapi juga merupakan syarat penting untuk bersaing dalam inovasi global. Keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini sangat bergantung pada kerjasama tiga pilar utama yakni Pemerintah perlu menyediakan infrastruktur dan kebijakan pendukung, Lembaga Pendidikan harus menanamkan literasi kritis dan terintegrasi, serta Masyarakat harus menjadikan budaya membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. 

Artikel ini bukan hanya sekadar catatan sejarah, tetapi juga sebuah ajakan untuk bertindak. Jika kejayaan peradaban Islam di masa lalu didasarkan pada banyaknya buku yang ada, maka keberhasilan di masa depan harus ditopang oleh tindakan literasi nyata yang kita lakukan hari ini. 

Mari kita hidupkan kembali semangat "Iqra'' dengan cara-cara berikut: 
1. Jadikan membaca sebagai kegiatan utama setiap hari. Kurangi waktu untuk konsumsi konten pasif dan fokuslah pada membaca buku-buku yang lebih mendalam. 
2. Ubah rumah dan lingkungan sekitar Anda menjadi perpustakaan kecil. Berikan buku sebagai hadiah. Ajak anak-anak Anda untuk bertanya dan menulis. 
3. Dukung program literasi di daerah Anda, ikut serta dalam gerakan membuat perpustakaan mini, atau berkontribusi pada inisiatif peningkatan literasi digital di komunitas. 

Ingat: Setiap buku yang Anda baca, setiap ilmu yang Anda bagikan, dan setiap rasa cinta yang Anda tanamkan pada generasi mendatang adalah batu bata untuk membangun kembali Kemajuan Peradaban Islam. Jangan biarkan warisan intelektual ini lenyap. Bertindaklah sekarang! 

Baca juga: 

Referensi:
11. Jurnal ilmiah 
a. Peranan Baitul Hikmah dalam Menghantarkan Kejayaan Daulah Abbasiyah oleh Irfan 
b. Peran Literasi Budaya Dalam Manajemen Pembelajaran Pendidikan Islam oleh Arnhingsih Dilapanga dan Meiskyarti Luma
c. TANTANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL oleh Intan Probowati, Nova Mulyani, Rizky Azzahra dan Herlini Puspika Sari
d. Pendekatan Kelembagaan: Upaya Pemerintah Indonesia Dalam Meningkatkan Literasi oleh Neneng Yani Yuningsih, Salsabila dan Susi Yulianti 
12. Buku Fajar Intelektualisme Islam: Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab karangan J. Pedersen, Abdurrahman Alwiyah dan Liputo Yuliani 
Dan sumber ilmiah lainnya 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhi suudzon dan tingkatkan husnudzon

Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul

Peduli terhadap hewan dan lingkungan sekitar