Mendekatkan Diri kepada Allah melalui Wasilah Cinta dan Keberkahan yang Disyariatkan
Namun, di tengah banyaknya pandangan yang ada, seringkali muncul kebingungan tentang mana yang termasuk sunnah dan mana yang bisa menjauhkan kita dari akidah yang murni. Artikel ini ditulis untuk memberikan penjelasan yang jelas mengenai makna tawasul dan tabarruk, perbedaan di antara keduanya, serta adab-adab berdoa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dengan memahami materi ini, diharapkan kita bisa melaksanakan doa sehari-hari dengan lebih yakin, sesuai dengan dalil, dan penuh berkah.
A. Tawasul
1. Pengertian tawasul
Secara bahasa, tawasul berasal dari kata Al-Wasilah, yang berarti segala sesuatu yang dapat membawa seseorang lebih dekat atau menghubungkan dengan sesuatu. Ada juga bentuk jamaknya, yaitu Wasaa-il. Dalam istilah syariat Islam, al-wasilah yang diperbolehkan atau dianjurkan dalam Al-Qur’an adalah segala cara yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala melalui amal ketaatan dan ibadah yang telah ditetapkan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ٰูุۤงَ َُّููุง ุงَّูุฐَِْูู ุงٰู
َُููุง ุงุชَُّููุง ุงَّٰููู َูุง ุจْุชَุบُْูุۤง ุงَِِْููู ุงَْููุณَِْููุฉَ َูุฌَุงِูุฏُْูุง ِْูู ุณَุจِِْูููٖ َูุนََُّูููู
ْ ุชُِْููุญَُْูู
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah surah ke 5: Ayat 35).
Jadi, disimpulkan bahwa tawasul adalah bentuk mendekatkan diri kepada Allah melalui wasilah dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya, ketaatan kepada-Nya, dengan mengikuti petunjuk Rasul-Nya, serta mengamalkan seluruh amalan yang diridhoi-Nya, atau melakukan ibadah dengan tujuan mendapatkan keridhoan Allah agar mendapat surga-Nya. Secara singkat, tawasul berarti meminta atau memohon kepada Allah melalui sesuatu yang Dia cintai, seperti amal baik atau orang-orang yang Dia sayangi, dengan harapan agar doa yang dipanjatkan lebih mungkin dikabulkan.
2. Jenis-jenis tawasul yang disepakati oleh para ulama Ahlussunnah wal jamaah
Tawasul yang telah disepakati (ittifaq) adalah tawasul yang memiliki dasar hukum yang jelas (sharih) dan tidak bertentangan dengan pendapat dari empat imam madzhab. Berikut adalah penjelasannya:
a. Tawasul dengan Nama-Nama Allah (Asmaul Husna)
Tawasul dengan asmaul husna berarti menyebut nama-nama Allah yang sesuai dengan kebutuhan yang kita minta. Misalnya, "Ya Razzaq (Wahai Maha Pemberi Rezeki), aku memohon kepada-Mu, bukakanlah pintu-pintu rezeki yang halal untuk keluargaku."
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
َِِّٰูููู ุงْูุงَ ุณْู
َุงุٓกُ ุงْูุญُุณْٰูู َูุง ุฏْุนُُْูู ุจَِูุง ۖ َูุฐَุฑُูุง ุงَّูุฐَِْูู ُْููุญِุฏَُْูู ِْููۤ ุงَุณْู
َุงุٓฆِูٖ ۗ ุณَُูุฌْุฒََْูู ู
َุง َูุง ُْููุง َูุนْู
ََُْููู
Artinya: “Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf surah ke 7: Ayat 180).
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa,
Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau menamakan diri-Mu dengan nama-nama tersebut, atau yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang masih tersimpan di sisi-Mu.” (HR. Ahmad no: 3712).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tawasul adalah cara seorang hamba memuji Allah dengan menyebut kesempurnaan-Nya sebelum meminta sesuatu. Ini merupakan salah satu adab terbaik dalam berdoa. Dalam kitabnya yang berjudul Al-Qaidah al-Jalilah fi at-Tawassul wa al-Wasilah, Ibnu Taimiyah menambahkan:
"Tawasul kepada Allah dengan Nama-Nama-Nya dan Sifat-Sifat-Nya adalah jenis tawasul yang diperintahkan dan disyariatkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi ๏ทบ: 'Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki...'. Ini merupakan bentuk Thalab bi ash-Shifat (meminta melalui perantara Sifat), di mana seorang hamba menjadikan sifat-sifat kesempurnaan Allah sebagai sarana untuk dikabulkannya doa."
b. Tawasul dengan sifat-sifat Allah
Tawasul dengan sifat-sifat Allah artinya menggunakan sifat-sifat mulia Allah, seperti rahmat, ilmu, atau kekuasaan, sebagai perantara saat berdoa. Misalnya, kita bisa berdoa, "Ya Allah, dengan Rahmat-Mu yang mencakup segala sesuatu, kasihilah hamba dan jangan biarkan hamba sendirian meski hanya sekejap."
Jika kita bisa menggunakan Nama Allah sebagai perantara, maka Sifat-Nya yang merupakan inti dari Nama tersebut jelas lebih utama.
"Ya Allah, aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon kekuasaan kepada-Mu dengan kodrat-Mu." (HR. Bukhari No. 1162).
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Bada'i al-Fawa'id:
"Barangsiapa yang memperhatikan doa-doa dalam Al-Qur'an dan Sunnah, ia akan mendapati bahwa doa-doa tersebut selalu dikaitkan dengan Asmaul Husna dan Sifat-Sifat-Nya. Inilah wasilah yang paling dicintai Allah, karena si pendoa memuji Allah sebelum meminta hajatnya."
c. Tawasul dengan amal shalih
Tawasul melalui amal shalih adalah cara meminta bantuan dengan melakukan perbuatan baik yang dilakukan dengan tulus agar doa kita diterima. Misalnya, "Ya Allah, jika Engkau melihat sedekah yang saya berikan kemarin sebagai tindakan yang ikhlas demi mencari ridho-Mu, maka permudahlah urusan pekerjaan saya hari ini."
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: ’Ada tiga orang dari umat sebelum kalian bepergian dalam sebuah perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka bermalam di sebuah gua. Mereka pun masuk ke dalam gua tersebut. Tiba-tiba batu besar jatuh dari gunung sampai menutupi mulut gua. Lalu mereka berkata, ‘Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini, kecuali berdoa kepada Allah melalui perantara amal-amal saleh kalian.”
‘Lalu seorang dari mereka menyalakankah doa, ‘Ya Allah, dulu aku punya dua orang tua yang sudah lanjut usia. Aku tidak pernah memberi susu kepada siapa pun sebelum kepada mereka berdua. Pada suatu hari, saya pergi untuk suatu keperluan. Saat aku pulang, ternyata keduanya telah tertidur. Aku mulai memerahkan susu, namun kudapati dia yang lalu masih tertidur. Saya bertekad tidak akan memberikan minuman itu kepada keluarga atau budakku sebelum kedua orang tuaku meminumnya. Maka, aku menunggu mereka bangun, sambil menikmati memegang gelas yang berisi susu hingga fajar subuh tiba. Keduanya lalu terbangun kemudian meminum susu tersebut.
Ya Allah, jikalau perbuatan itu benar-benar aku kerjakan ikhlas karena mengharap wajah-Mu, maka hilangkanlah kesulitan berupa batu besar yang ada di hadapan kami ini.’ Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun celahnya belum cukup dilalui untuk keluar dari gua.
‘Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melanjutkan kisah, ‘Yang lain kemudian ikut berdoa, ‘Ya Allah, aku punya sepupu perempuan. Dahulu ia adalah orang yang paling aku cintai. Aku sangat berharap dia menjadi kekasihku. Namun, dia menolak cintaku. Setelah berlalu beberapa tahun, dia mendatangiku karena sedang butuh uang. Aku pun memberi 120 dinar dengan syarat ia mau tidur satu kasur denganku (berzina). Ternyata dia mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, wanita itu mengucapkan, ‘Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang halal (maksudnya dengan akad nikah).”
Kata-kata itu tiba-tiba membuatku sadar. Sehingga aku mengurungkan hasrat buruk itu dan aku pergi meninggalkannya. Padahal wanita itu adalah orang yang paling aku cintai. Aku meninggalkan dia bersama kepingan emas yang sudah aku berikan padanya. Ya Allah, jikalau perbuatan itu benar-benar aku kerjakan ikhlas karena mengharap wajah-Mu, maka hilangkanlah kesulitan berupa batu besar yang ada di hadapan kami ini.’ Batu besar itu tiba-tiba kembali bergeser membuka, namun celahnya belum cukup dilalui untuk keluar dari gua.
‘Nabi Shalallahu alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Orang ketiga juga berdoa, ‘Ya Allah, dulu aku punya beberapa pegawai. Gaji aku berikan kepada mereka. Namun, ada satu pegawai saya yang berhenti bekerja kepada saya. Dia pergi meninggalkan jatah gajinya. Gaji itu pun aku kembangkan hingga menghasilkan banyak harta. Setelah beberapa waktu, pegawai itu datang menemuiku. Ia menagih saya, ‘Wahai hamba Allah, saya ingin mengambil gajiku yang belum saya ambil terlebih dahulu.’ Maka aku menjawab, ‘Semua yang kamu lihat ini, berupa unta, sapi, kambing, dan budak adalah gajimu yang belum kamu ambil.’ Maka ia menjawab, ‘Wahai hamba Allah! Jangan bercanda denganku!’ Aku menjawab, ‘Saya tidak bercanda denganmu.’ Kemudian semua harta diserahkan pada si pegawai tanpa sisa sedikit pun.
Ya Allah, jikalau perbuatan itu benar-benar aku kerjakan ikhlas karena mengharap wajah-Mu, maka hilangkanlah kesulitan berupa batu besar yang ada di hadapan kami ini.’ Gua yang sebelumnya tertutup pun terbuka. Akhirnya mereka semua dapat keluar.” (HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743).
Imam An-Nawawi menekankan bahwa para ulama sepakat bahwa amal shalih merupakan cara paling ampuh untuk mendekatkan diri antara seorang hamba dan Sang Pencipta. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menyatakan dalam bukunya yang berjudul Al-Qaidah al-Jalilah fi at-Tawassul wa al-Wasilah:
"Umat Islam telah bersepakat (Ijma') bahwa bertawasul dengan keimanan kepada Nabi, ketaatan kepada beliau, cinta kepada beliau, dan amal shalih yang dikerjakan oleh seorang hamba adalah sebesar-besarnya wasilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya: 'Carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya'. Inilah wasilah yang tidak diperselisihkan oleh seorang pun dari kalangan kaum muslimin."
d. Tawasul dengan orang shalih yang masih hidup
Berhubungan dengan orang-orang baik yang masih hidup berarti kita mengunjungi mereka untuk meminta doa kepada Allah, bukan meminta sesuatu dari mereka. Misalnya, kita bisa berkata, "Wahai guru/ibu, tolong doakan saya supaya Allah memberi ketenangan hati dalam iman dan memudahkan ujian yang saya hadapi." Atau dalam doa, "Ya Allah, kabulkanlah permohonanku ini seperti doa yang diucapkan oleh hamba-Mu yang baik (si A) untukku."
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ََْููู ุงََُّููู
ْ ุงِุฐْ ุธََّูู
ُْูุۤง ุงَُْููุณَُูู
ْ ุฌَุงุٓกَُْูู َูุง ุณْุชَุบَْูุฑُูุง ุงَّٰููู َูุง ุณْุชَุบَْูุฑَ َُูููู
ُ ุงูุฑَّุณُُْูู ََููุฌَุฏُูุง ุงَّٰููู ุชََّูุง ุจًุง ุฑَّุญِْูู
ًุง
Artinya: "Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang." (QS. An-Nisa' surah ke 4: Ayat 64).
Dalam sebuah hadits dikisahkan, bahwa ada orang yang buta datang menemui Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Orang buta itu berkata,
“Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah supaya menyembuhkanku (dari kebutaan).” Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menjawab, “Jika engkau menghendaki, aku akan berdoa untukmu. Dan jika engkau menghendaki, bersabar itu lebih baik bagimu.” Orang buta itu tetap berkata, “Doakanlah.” Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyuruh orang tersebut berwudhu lalu shalat dua rakaat, kemudian Beliau menyuruhnya berdoa mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dan aku menghadap kepadamu bersama dengan nabimu, Muhammad, seorang nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap bersamamu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar Dia memenuhi untukku. Ya Allah jadikanlah ia pelengkap bagi (doa)ku, dan jadikanlah aku pelengkap bagi (doa)nya.” Ia (perawi hadits) berkata, “Laki-laki itu kemudian melakukannya, sehingga dia sembuh.’(HR. Tirmidzi no. 3578, Ahmad no. 17240, Ibnu Majah no. 1385).
Para ulama, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, menjelaskan bahwa makna "bersama Nabi-Mu" di sini merujuk pada doa dan syafaat Nabi-Mu. Jadi, orang buta itu menggunakan doa Nabi ๏ทบ sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Para imam madzhab juga sepakat bahwa meminta doa dari orang yang dianggap lebih dekat kepada Allah adalah sunnah yang dianjurkan. Ini juga terlihat dari tindakan Umar bin Khattab yang meminta doa Al-Abbas (paman Nabi) saat terjadi kekeringan.
"Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawasul kepada-Mu dengan Nabi kami (doanya) lalu Engkau beri hujan, dan sekarang kami bertawasul dengan paman Nabi kami (doanya)..." (HR. Bukhari No. 1010).
Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari saat menjelaskan hadits Umar bertawasul dengan Al-Abbas:
"Hadits ini menunjukkan Ijma' para sahabat tentang bolehnya meminta doa kepada orang-orang yang memiliki keutamaan (orang shalih) dan bertawasul kepada Allah melalui doa mereka saat terjadi kesulitan."
e. Tawasul dengan keimanan dan ketauhidan kepada Allah
Tawasul yang dilakukan dengan iman dan tauhid kepada Allah adalah cara untuk mengakui status kita sebagai hamba yang percaya dan mengesakan-Nya. Hal ini menjadi alasan agar Allah memberikan rahmat-Nya. Misalnya, seseorang bisa berdoa, "Ya Allah, aku percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau dan Muhammad adalah utusan-Mu. Dengan iman ini, selamatkanlah aku dari siksa api neraka."
Keimanan merupakan dasar dari semua kebaikan. Jika amal lahiriah seperti sedekah dapat menjadi sarana, maka amal batiniah tertinggi yaitu iman, secara logika hukum Islam memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk diterima.
ุฑَุจََّูุงۤ ุงََِّููุง ุณَู
ِุนَْูุง ู
َُูุง ุฏًِูุง َُّููุง ุฏِْู ِْููุงِ ْูู
َุง ِู ุงَْู ุงٰู
ُِْููุง ุจِุฑَุจُِّูู
ْ َูุงٰ ู
ََّูุง ۖ ุฑَุจََّูุง َูุง ุบِْูุฑْ ََููุง ุฐُُْููุจََูุง ََِّูููุฑْ ุนََّูุง ุณَِّูุงٰุชَِูุง َูุชََََّูููุง ู
َุนَ ุงْูุงَ ุจْุฑَุง ุฑِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali ‘Imran surah ke 3: Ayat 193).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di:
"Allah menyebutkan dalam banyak ayat tentang hamba-Nya yang berkata: 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman'. Ini menunjukkan bahwa keimanan adalah wasilah paling kuat. Secara Qiyas, jika amal cabang (seperti sedekah) bisa menjadi wasilah, maka akar dari segala amal (Tauhid) adalah wasilah yang paling utama di hadapan Allah."
f. Tawasul dengan mengakui dosa dan kelemahan diri
Tawasul dengan mengakui kesalahan dan kelemahan diri adalah cara untuk menunjukkan ketidakberdayaan (al-Iftiqar) di depan Allah. Kita bisa mengungkapkan ini dengan mengatakan, "Ya Allah, aku adalah hamba-Mu yang lemah dan penuh dosa. Hanya Engkau yang bisa mengampuniku. Jadi, ampunilah aku, wahai Zat Yang Maha Pengampun."
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
َู ุฐَุง ุงُِّْูููู ุงِุฐْ ุฐََّูุจَ ู
ُุบَุง ุถِุจًุง َูุธََّู ุงَْู َّْูู َّْูููุฏِุฑَ ุนََِْููู ََููุง ุฏٰู ِูู ุงูุธُُّูู
ٰุชِ ุงَْู َّูุงۤ ุงَِٰูู ุงَِّูุงۤ ุงَْูุชَ ุณُุจْุญََٰูู ุงِِّْูู ُْููุชُ ู
َِู ุงูุธِّٰูู
َِْูู(ูจูง) َูุง ุณْุชَุฌَุจَْูุง َููٗ ۙ ََููุฌَُّْٰููู ู
َِู ุงْููุบَู
ِّ ۗ ََููุฐَِٰูู ُْูููุฌِู ุงْูู
ُุคْู
َِِْููู(ูจูจ)
Artinya:“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya surah ke 21: Ayat 87-88).
g. Tawasul dengan menyebutkan keadaan yang sangat mendesak
Tawasul dengan menyebutkan keadaan yang sangat mendesak adalah saat kita mengungkapkan keadaan yang sangat mendesak, seperti kesusahan atau penyakit yang sedang dialami, agar Allah melihat kita dengan penuh kasih sayang. Contohnya, "Ya Allah, aku datang kepada-Mu dalam keadaan lemah, sendirian, dan tanpa daya. Kepada siapa lagi aku bisa mengadu selain kepada-Mu?"
Tradisi ini telah dilakukan oleh para ulama salaf dari generasi ke generasi. Mereka memulai doa dengan menyatakan kelemahan diri sebagai cara untuk meminta rahmat Allah agar segera membantu mereka. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
َูุง َู ุฑَุจِّ ุงِِّْูู َََููู ุงْูุนَุธْู
ُ ู
ِِّْูู َูุง ุดْุชَุนََู ุงูุฑَّุฃْุณُ ุดَْูุจًุง ََّููู
ْ ุงَُْูู ุจِุۢฏُุนَุงุٓฆَِู ุฑَุจِّ ุดًَِّููุง
Artinya: "Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku." (QS. Maryam surah ke 19: Ayat 4).
Al-Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya (Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an):
"Di antara adab berdoa yang disepakati adalah Al-Iftiqar (menampakkan kefakiran). Nabi Yunus Alaihi Sallam dan Nabi Zakaria Alaihi Sallam mengajarkan kita bahwa menyebutkan kelemahan diri adalah wasilah yang menggerakkan rahmat Allah. Secara Qiyas, Allah adalah Maha Perkasa, maka cara terbaik bagi yang lemah untuk mendekat adalah dengan mengakui kelemahannya."
B. Tabarruk
1. Pengertian tabarruk
Tabarruk berasal dari kata tabrik yang berarti mendoakan agar orang lain mendapatkan berkah. Tabarruk sendiri berarti usaha untuk mendapatkan berkah, yang sering disebut "ngalap berkah" di kalangan santri. Secara bahasa, berkah artinya tumbuh atau bertambah. Sedangkan secara istilah, berkah adalah kebaikan yang Allah berikan kepada sesuatu. Jadi, tabarruk adalah kegiatan untuk mengambil kebaikan (berkah) dari sesuatu yang telah diberi oleh Allah.
2. Jenis-jenis tabarruk yang disepakati oleh para ulama Ahlussunnah wal jamaah
Keberkahan (Barakah) adalah anugerah dari Allah yang diberikan-Nya kepada makhluk-Nya. Berikut ini ada sembilan jenis tabarruk yang disepakati oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah:
a. Tabarruk dengan diri Rasulullah
Keberkahan ada pada fisik Nabi ๏ทบ, termasuk rambut, keringat, dan bekas wudhu beliau. Dalam sebuah hadits disebutkan,
"Para sahabat berebut bekas wudhu Nabi ๏ทบ hingga mereka hampir berkelahi (karena ingin mendapatkannya)." (HR. Bukhari No. 189).
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ada kesepakatan di antara para sahabat bahwa jasad Nabi ๏ทบ adalah sumber berkah. Kita bisa mengucapkan, "Ya Allah, aku menghormati Nabi-Mu, berikanlah keberkahan hidup kepadaku seperti Engkau memberkahi tubuh beliau." Namun, para ulama mengingatkan bahwa saat ini sulit untuk membuktikan keaslian barang-barang fisik yang diklaim sebagai milik beliau, sehingga perhatian kita sebaiknya beralih ke aspek kedua dari keberkahan.
b. Tabarruk dengan peninggalan dan bekas Rasulullah (Al-Qur'an dan Sunnah)
Al-Qur'an dan Sunnah adalah warisan Nabi yang paling langgeng dan keasliannya terjaga. Misalnya, "Ya Allah, semoga Al-Qur'an ini menjadi penolong dan membawa berkah untuk keluarga kami melalui cahaya ayat-ayat-Nya."
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
َٰููุฐَุง ِูุชٰุจٌ ุงَْูุฒَُْٰููู ู
ُุจٰุฑٌَู
Artinya: "Dan ini (Al-Qur'an), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah;" (QS. Al-An'am surah ke 6: Ayat 92).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa keberkahan Al-Qur'an berasal dari petunjuk, penyembuhan bagi hati (Syifa), dan pahala yang didapat saat membacanya.
c. Tabarruk dengan air zamzam
Air ini memiliki sejarah spiritual yang sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim. Para ulama berpendapat bahwa jika tanah Makkah diberkahi, maka air yang mengalir di sana adalah bagian dari berkah tersebut. Contohnya, kita bisa berkata, "Bismillah, saya meminum air yang penuh berkah ini dengan niat untuk meminta kesembuhan dan kekuatan dalam ibadah kepada-Mu."
"Air Zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya." (HR. Ibnu Majah No. 3062).
d. Tabarruk dengan amal shalih
Keberkahan datang dari ketekunan dalam melakukan ketaatan. Di sini, keberkahan berarti bertambahnya kebaikan dalam hidup karena Allah meridhai amal perbuatan hamba-Nya. Contoh kalimatnya adalah, "Ya Allah, berikanlah berkah pada rezeki saya melalui sedekah yang saya berikan secara rutin ini." Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ََْููู ุงََّู ุงََْูู ุงُْููุฑٰูۤ ุงٰู
َُْููุง َูุง ุชََّْููุง ََูููุชَุญَْูุง ุนََِْูููู
ْ ุจَุฑَٰูุชٍ ู
َِّู ุงูุณَّู
َุงุٓกِ َูุง ْูุงَ ุฑْุถِ
Artinya: "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi," (QS. Al-A'raf surah ke 7: Ayat 96).
e. Tabarruk dengan nama para Nabi atau orang-orang shalih
Memberi nama anak dengan nama orang-orang baik adalah harapan (Tafa’ul) agar sifat-sifat baik mereka bisa menurun kepada si pemilik nama. Contohnya, "Saya beri nama anak ini 'Muhammad' sebagai doa agar Engkau memberinya akhlak yang baik seperti Nabi-Mu." Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa memberi nama anak dengan nama orang saleh adalah harapan agar kebaikan dari perilaku mereka bisa menular ke anak tersebut. Dalam hadits disebutkan bahwa,
"Berilah nama dengan namaku (Muhammad)..." (HR. Bukhari No. 110).
f. Tabarruk dengan waktu-waktu mulia
Waktu-waktu tertentu yang dipilih oleh Allah untuk memberikan rahmat lebih banyak. Mengambil berkah dari waktu-waktu istimewa seperti Lailatul Qadr adalah cara yang sangat dianjurkan untuk mendapatkan tabarruk, di mana seorang hamba berusaha keras untuk taat, karena percaya bahwa ada kebaikan yang berlipat ganda dan tetap (Barakah) pada malam itu. Contoh kalimatnya adalah, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu di malam yang Engkau sebut lebih baik dari seribu bulan ini, curahkanlah keberkahan-Mu yang melimpah dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang Engkau selamatkan dari api neraka."
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ََْูููุฉُ ุงَْููุฏْุฑِ ۙ ุฎَْูุฑٌ ู
ِّْู ุงَِْูู ุดَْูุฑٍ
Artinya: "Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr surah ke 97: Ayat 3).
h. Tabarruk dengan makanan/tumbuhan tertentu
Allah menciptakan beberapa jenis tumbuhan dan makanan sebagai "wadah" keberkahan khusus yang tidak ada pada makanan lainnya. Makan makanan ini dengan niat mengikuti sunnah adalah bentuk tabarruk. Contohnya adalah buah zaitun, yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai Syajaratin Mubarakatin (Pohon yang diberkahi). Dalam hadits, disebutkan bahwa,
"Makanlah zaitun dan berminyaklah dengannya, karena ia berasal dari pohon yang diberkahi." (HR. Tirmidzi No. 1852).
Selanjutnya, ada kurma yang memiliki keberkahan khusus untuk perlindungan. Dalam hadits disebutkan,
"Barangsiapa mengonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir." (HR. Bukhari No. 5445).
Contoh kalimatnya adalah, "Ya Allah, saya memakan butiran kurma ini sebagai cara untuk mengikuti sunnah Nabi-Mu. Maka, jadikanlah kurma ini sebagai penghubung untuk kesehatan tubuh saya dan kekuatan dalam ibadah saya."
Kemudian ada Habbatussauda (Jintan Hitam), disebutkan dalam hadits,
"Sesungguhnya pada jintan hitam terdapat obat untuk segala penyakit kecuali kematian." (HR. Bukhari No. 5688).
Terakhir ada madu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ุซُู
َّ ُِْููู ู
ِْู ُِّูู ุงูุซَّู
َุฑٰุชِ َูุง ุณُِْْููู ุณُุจَُู ุฑَุจِِّู ุฐًُُููุง ۗ َูุฎْุฑُุฌُ ู
ِْูۢ ุจُุทَُِْูููุง ุดَุฑَุง ุจٌ ู
ُّุฎْุชٌَِูู ุงََْููุง ُููٗ ِِْููู ุดَِูุงุٓกٌ َِّّูููุง ุณِ ۗ ุงَِّู ِْูู ุฐَِٰูู َูุงٰ َูุฉً َِّْูููู
ٍ َّูุชَََّููุฑَُْูู
Artinya: "kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan, lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir." (QS. An-Nahl surah ke 16: Ayat 69).
Makanan ini memiliki dua jenis keberkahan, yang pertama adalah keberkahan fisik, seperti kesehatan dan nutrisi, dan yang kedua adalah keberkahan spiritual.
i. Duduk dan menuntut ilmu dengan orang shalih
Keberkahan datang melalui pengalihan adab dan ilmu dari pewaris Nabi. Imam Asy-Syafi'i menegaskan bahwa seorang murid mendapatkan keberkahan ketika ia tulus dalam belajar ilmu dan adab dari gurunya yang baik. Misalnya, seperti penjual minyak wangi; meskipun kita tidak membelinya, kita tetap merasakan aroma harumnya. Keberkahan ini terlihat dalam ketenangan hati dan kemudahan dalam memahami agama. Contoh kalimatnya adalah, "Ya Allah, saya hadir di majelis ilmu ini, berikanlah berkah kepada pemahaman saya melalui bimbingan guru yang baik ini."
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah... melainkan ketenangan turun, rahmat meliputi mereka, dan malaikat mengelilingi mereka." (HR. Muslim No. 2699).
Apakah mencium tangan ulama atau guru termasuk tabarruk? Ya, mencium tangan guru atau ulama dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah adalah cara untuk mendapatkan berkah dengan menghormati orang yang membawa ilmu syariat. Diceritakan bahwa Zari' adalah salah satu perwakilan dari suku Abdul Qais yang datang untuk bertemu dengan Rasulullah ๏ทบ.
"Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami dan orang-orang besar di antara kami."
(Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Ibnu Sa'ad dalam Al-Thabaqat. Al-Hafiz Ibnu Hajar menyebutkan atsar ini dalam Fathul Bari).
Para ulama menjelaskan bahwa mencium tangan guru atau ulama adalah cara untuk mencari berkah melalui ilmu yang mereka miliki. Namun, ini harus dilakukan dengan niat menghormati karena Allah, bukan untuk menyembah atau mengagungkan secara berlebihan. Imam An-Nawawi dari Madzhab Syafi'i dalam bukunya Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa mencium tangan seseorang karena kesalehannya, ilmunya, atau sifat baik lainnya adalah hal yang dianjurkan.
Catatan:
1. Menghormati ulama atau guru dilakukan karena ilmu dan ketakwaan mereka kepada Allah, bukan karena menganggap mereka memiliki kekuatan ilahi.
2. Mencium tangan dilakukan dengan sikap rendah hati, bukan untuk menyembah.
3. Selalu ingat bahwa yang memberikan manfaat dan berkah sebenarnya adalah Allah, sementara ulama hanya menjadi perantara.
C. Perbedaan tawasul dengan tabarruk
Secara teologis, Tawasul dan Tabarruk sama-sama merupakan cara (wasilah) untuk mendapatkan keridhaan Allah. Namun, jika kita analisis lebih dalam, ada perbedaan penting dalam tujuan, cara kerja, dan fokus masing-masing.
1. Perbedaan dari sisi fokus (mekanisme)
Tawasul terutama menekankan pada kalimat atau doa yang diucapkan. Seseorang menggunakan sesuatu yang dicintai oleh Allah sebagai "perantara" agar doanya lebih mungkin dikabulkan. Ini mirip dengan memakai jalur khusus agar pesan kita sampai langsung kepada atasan. Di sisi lain, Tabarruk lebih fokus pada benda atau objek yang memiliki berkah. Seseorang berinteraksi dengan objek tersebut untuk mendapatkan tambahan kebaikan dari Allah melalui objek itu. Ini seperti mengisi ulang energi dari sumber listrik yang sudah disediakan oleh pemilik rumah.
2. Perbedaan dari sisi tujuan akhir
Tawasul bertujuan untuk memenuhi keinginan kita, seperti ingin lulus ujian, sembuh dari sakit, atau mendapatkan pengampunan atas dosa. Kita melakukan tawasul agar Allah memberikan apa yang kita harapkan. Sementara itu, tabarruk bertujuan untuk mendapatkan kualitas dan keberlangsungan dalam hidup kita, contohnya agar ilmu yang dipelajari tidak mudah terlupakan atau agar harta yang sedikit tetap mencukupi. Kita berusaha untuk bertabarruk supaya Allah menanamkan kebaikan yang langgeng dalam diri kita.
3. Perbedaan dalam objek yang digunakan
Tawasul dapat melibatkan hal-hal yang tidak terlihat, seperti cinta kita kepada Nabi, niat baik dalam beramal, atau bahkan pengakuan atas kesalahan kita. Sementara itu, tabarruk biasanya berkaitan dengan benda-benda nyata atau fisik yang telah diakui melalui wahyu, seperti air Zamzam, jenis makanan tertentu, atau barang-barang peninggalan Nabi (atsar).
4. Perbedaan dari sisi momentum (waktu penggunaan)
Tawasul, yang terkait dengan kebutuhan tertentu, biasanya dilakukan ketika seseorang memiliki permintaan khusus atau berada dalam keadaan darurat. Tawasul berfungsi sebagai "pembuka pintu" yang tepat saat doa akan dipanjatkan. Jika tidak ada doa atau permintaan, maka makna tawasul tidak dapat tercapai. Di sisi lain, tabarruk dapat dilakukan kapan saja tanpa perlu menunggu hajat atau doa tertentu. Seseorang bisa bertabarruk dengan tinggal dekat masjid, rutin mengonsumsi madu, atau mengikuti majelis ilmu hanya untuk memastikan hidupnya selalu dikelilingi kebaikan, meskipun saat itu ia tidak sedang berdoa secara khusus.
5. Perbedaan dari sisi syarat keabsahan (kaitan dengan pelaku)
Dalam tawasul yang melibatkan amal baik atau iman, keabsahannya sangat bergantung pada kualitas hati pelaku. Jika seseorang bertawasul dengan sedekahnya tetapi ia melakukannya untuk pamer, maka cara tersebut menjadi lemah. Tawasul membutuhkan kesalehan dari orang yang berdoa. Keberkahan air Zamzam, malam Lailatul Qadr, atau tanah Makkah bersifat tetap karena Allah-lah yang memberkahi tempat atau waktu tersebut. Siapa pun yang menggunakannya dengan cara yang benar akan merasakan manfaat berkahnya, karena "daya berkah" itu sudah ada pada objek tersebut dengan izin Allah.
Tawasul lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan doa, sementara Tabarruk bersifat tetap dan preventif untuk menjaga agar hidup selalu dalam kebaikan. Tawasul adalah tentang bagaimana kita meminta, sedangkan Tabarruk adalah tentang bagaimana kita menerima limpahan kebaikan. Keduanya menunjukkan bahwa rahmat Allah tersebar luas melalui doa maupun melalui benda dan orang-orang yang Dia muliakan.
D. Amalan doa sehari-hari
1. Pengertian doa
Dari segi bahasa, kata "doa" atau "du’a" berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a-yada’u-da’a-da’watun. Kata ini berarti memanggil, mengundang, meminta bantuan, serta memohon. Dalam istilah Islam, doa memiliki beberapa pengertian yang telah penulis ringkas. Doa adalah inti dari ibadah dan cara seorang hamba menunjukkan pengakuan atas kelemahan dan ketergantungannya kepada Allah.
Ini juga merupakan bentuk komunikasi atau dialog antara hamba dan Allah yang membantu mendekatkan hubungan mereka. Melalui doa, seseorang bisa memuji dan menghargai Allah atas semua nikmat dan karunia-Nya. Selain itu, doa menjadi sarana bagi hamba untuk menyampaikan segala kebutuhan, keinginan, keluhan, permintaan, serta mohon perlindungan dari berbagai bahaya dan keburukan kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
َูุงِ ุฐَุง ุณَุงَ ََููู ุนِุจَุง ุฏِْู ุนَِّْูู َูุงِ ِّْูู َูุฑِْูุจٌ ۗ ุงُุฌِْูุจُ ุฏَุนَْูุฉَ ุงูุฏَّุง ุนِ ุงِุฐَุง ุฏَุนَุง ِู ۙ ََْูููุณْุชَุฌِْูุจُْูุง ِْูู َُْูููุคْู
ُِْููุง ุจِْู َูุนََُّููู
ْ َูุฑْุดُุฏَُْูู
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 186).
Dalam hadits disebutkan bahwa,
“Tidak ada yang dapat menolak takdir (yang buruk) kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali perbuatan baik.” (HR. Tirmidzi no. 2139).
Hadits ini menegaskan bahwa doa adalah "senjata" yang sangat kuat. Menggunakan 7 jenis tawasul dalam doa adalah cara kita untuk memaksimalkan doa agar bisa "mengetuk pintu langit" dan mengubah takdir muallaq (takdir yang dapat berubah karena alasan tertentu). Amal baik membawa keberkahan (ziyadatul khair) dalam bentuk peningkatan usia atau berkah waktu, sehingga meskipun umur seseorang pendek, terasa panjang karena banyak manfaat yang dihasilkan. Para ulama menjelaskan bahwa "menambah umur" bisa memiliki dua arti: pertama, Allah benar-benar menambahkan usia seseorang karena ketaatannya; kedua, Allah memberkahi waktunya sehingga orang tersebut mampu melakukan amal besar dalam waktu singkat, sesuatu yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang lain meskipun mereka hidup lebih lama.
2. Adab dalam berdoa
a. Niatkan dalam hati bahwa doa tersebut ditujukan hanya kepada Allah
Tauhid adalah hal yang paling penting. Seseorang harus percaya bahwa tidak ada yang bisa mengabulkan doa selain Allah. Mengikhlaskan doa berarti membersihkan hati dari harapan kepada makhluk. Jika hati masih bergantung pada manusia, maka arti sebenarnya dari doa itu sudah tidak sempurna. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
َُูู ุงْูุญَُّู َูุงۤ ุงَِٰูู ุงَِّูุง َُูู َูุง ุฏْุนُُْูู ู
ُุฎِْูุตَِْูู َُูู ุงูุฏَِّْูู ۗ ุงَْูุญَู
ْุฏُ ِِّٰููู ุฑَุจِّ ุงْูุนَٰูู
َِْูู
Artinya: "Dialah yang hidup kekal, tidak ada Tuhan selain Dia; maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam." (QS. Ghafir surah ke 40: Ayat 65).
b. Memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad
Ini adalah prosedur resmi sebelum mengadakan suatu acara. Memuji Allah dan mengucapkan shalawat adalah cara untuk membuka pintu langit. Nabi ๏ทบ mendengar seseorang berdoa tanpa memuji Allah dan bershalawat, lalu beliau berkata:
"Orang ini terburu-buru." Kemudian beliau bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian bershalawat kepada Nabi..." (HR. Tirmidzi No. 3477).
c. Disunnahkan mengangkat kedua tangan
Mengangkat kedua tangan menunjukkan sikap Iftiqar (sangat membutuhkan) dan kerendahan hati.
"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya jika hamba-Nya mengangkat kedua tangan, lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan)." (HR. Abu Dawud No. 1488).
d. Dianjurkan untuk menggunakan nama-nama Allah yang sesuai dengan permohonan kita
Ini adalah cara tawasul yang paling sederhana. Contohnya, saat kita meminta ampunan, kita bisa menyebut nama "Al-Ghafur" (Yang Maha Pengampun) atau mengucapkan "Ya Razzaq" ketika meminta kelapangan rezeki. Bukti tentang hal ini sudah dijelaskan sebelumnya dalam QS. Al-A’raf surah ke 7: Ayat 180.
e. Bersungguh-sungguh dan memohon dengan sepenuh hati bahwa Allah akan mengabulkannya
Keraguan bisa menjadi penghalang dalam berdoa. Allah memperlakukan hamba-Nya berdasarkan apa yang hamba tersebut percayai tentang-Nya.
"Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan..." (HR. Tirmidzi No. 3479).
f. Memohon kebaikan dan tidak memohon hal-hal yang dilarang
Doa harus berisi hal-hal yang diridhai Allah.
"Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau memutus tali silaturahmi." (HR. Muslim No. 2735).
g. Disunnahkan untuk mendoakan orang lain, terutama saudara seiman
Salah satu cara agar doa kita cepat dikabulkan adalah dengan mendoakan orang lain tanpa memberitahu mereka.
"Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang tersebut, kecuali malaikat akan berkata: 'Dan bagimu juga seperti itu'." (HR. Muslim No. 2732).
h. Mengulangi doa sebanyak tiga kali
Disarankan untuk mengulang doa tiga kali, baik itu permohonan yang sama atau doa yang berbeda, agar menunjukkan kesungguhan dalam berdoa. Ini juga mencerminkan keteguhan dan keseriusan seorang hamba.
"Apabila Rasulullah ๏ทบ berdoa, beliau berdoa tiga kali, dan apabila beliau meminta, beliau meminta tiga kali." (HR. Muslim No. 1794).
i. Khusyuk dan penuh konsentrasi
Usahakan untuk berdoa dengan tenang dan penuh fokus, hindari gangguan dari sekitar, dan arahkan hati serta pikiranmu kepada Allah. Doa bukan hanya sekedar kata-kata yang diucapkan, tetapi juga merupakan ungkapan dari hati. Dengan konsentrasi yang baik, kamu memastikan bahwa doa mu sampai ke hadirat-Nya.
"Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah." (HR. Tirmidzi No. 3479).
j. Berdoalah pada waktu-waktu yang mustajab
Memilih waktu saat pintu rahmat dibuka lebar:
- Malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan.
Dari Aisyah Radhiyallahu 'Anhu, ia bertanya kepada Nabi ๏ทบ: "Wahai Rasulullah, jika aku mendapati malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?" Beliau menjawab: "Ucapkanlah: Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku)." (HR. Tirmidzi No. 3513 dan Ibnu Majah No. 3850, hadits ini shahih).
Imam Ahmad dan para ulama menjelaskan bahwa apabila Nabi ๏ทบ mengajarkan doa tertentu untuk malam tersebut, hal itu menandakan bahwa malam itu merupakan waktu utama dalam proses pengabulan doa.
- Saat sujud dalam shalat.
Sujud merupakan posisi paling rendah bagi manusia, di mana dahi (bagian tubuh yang paling mulia) ditempatkan sejajar dengan tanah. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kedekatan (qarb) dalam konteks ini bukanlah berarti kedekatan secara jarak fisik, melainkan kedekatan yang bersifat rahmat dan ijabah. Secara filosofis, ketika seorang hamba berada dalam keadaan sangat rendah hati, ia justru sedang berada pada puncak kedekatan dengan Z
Dzat Yang Maha Tinggi. Inilah waktu yang paling tepat untuk membisikkan permohonan yang paling rahasia karena hati sedang dalam kondisi yang paling tunduk dan penuh khusyuk.
"Saat paling dekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim No. 482).
- Antara adzan dan iqamah.
Para ulama menyebut waktu ini sebagai waktu "penantian ibadah". Orang yang menunggu shalat dianggap sama seperti orang yang sedang shalat. Syaikh Muhammad Abdurrahman al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarah Jami' at-Tirmidzi menjelaskan bahwa pada waktu ini pintu-pintu langit dibuka karena merupakan waktu diserukannya panggilan tauhid (adzan). Daripada berbincang hal-hal duniawi sambil menunggu iqamah, seorang Muslim dianjurkan untuk memfokuskan diri pada doa karena wasilah waktu ini sangat kuat.
Doa antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak." (HR. Abu Dawud No. 521).
- Sepertiga malam terakhir.
Dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, pernyataan bahwa "Allah turun ke langit dunia" dipahami sesuai keagungan dan keabsolutan Allah, tanpa tasybih (penyerupaan dengan makhluk). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah waktu Khalwah (berduaan dengan Allah) saat mayoritas manusia terlelap. Pada saat ini, Allah menawarkan ampunan dan pengabulan sebagai bentuk kasih sayang khusus bagi hamba-Nya yang rela bangun untuk beribadah. Waktu ini merupakan momen "privat" di mana tawasul dengan pengakuan dosa (Poin 6) dan keadaan mendesak (Poin 7) sangat tepat dipraktekkan.
Saat Allah turun ke langit dunia dan berfirman: "Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan." (HR. Bukhari No. 1145).
- Hari Jumat terutama setelah Ashar.
Di hari Jumat, terdapat satu waktu singkat di mana doa tidak akan ditolak oleh Allah. Para ulama, seperti Imam Ahmad, berpendapat bahwa waktu mustajab ini berada di saat-saat terakhir sebelum matahari terbenam pada hari Jumat.
"Di dalam hari Jumat itu ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba Muslim mendapatinya dalam keadaan berdiri shalat dan memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan mengabulkannya." Beliau memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu itu sangat singkat. (HR. Bukhari No. 935 dan Muslim No. 852).
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: "Carilah waktu tersebut di akhir waktu setelah Ashar." (HR. Abu Dawud No. 1048, dishahihkan oleh Al-Albani).
- Ketika hujan.
Hujan merupakan bentuk rahmat fisik yang Allah turunkan untuk menghidupkan bumi yang mati. Imam Asy-Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm meriwayatkan: "Carilah pengabulan doa saat bertemunya dua pasukan, saat iqamah shalat, dan saat turunnya hujan." Logikanya, ketika Allah sedang menurunkan rahmat-Nya secara fisik (hujan), maka rahmat maknawi (pengabulan doa) juga turut turun dengan derasnya. Saat melihat hujan, jangan hanya memandangnya sebagai fenomena alam biasa, tetapi jadikan momen tersebut sebagai peluang untuk bertabarruk dan berdoa agar doa kita turut mendapatkan keberkahan dan dikabulkan oleh Allah.
"Dua doa yang tidak tertolak... saat perang berkecamuk dan saat turun hujan." (HR. Abu Dawud No. 2540).
- Saat berbuka puasa.
Waktu berbuka merupakan saat di mana seorang hamba berada dalam kondisi paling dekat dengan ridho Allah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah. Keadaan lapar, haus, dan ketundukan hati seorang mukmin saat menanti perintah Allah untuk berbuka menjadikannya dalam kondisi Iftiqar (sangat membutuhkan), yang menjadi ruh dari pengabulan doa.
"Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi." (HR. Tirmidzi No. 3598).
"Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, pada saat ia berbuka, terdapat doa yang tidak akan tertolak." (HR. Ibnu Majah No. 1753, sanad hadits ini hasan).
3. Amalan doa sehari-hari
Berikut adalah beberapa amalan doa sehari-hari dan doa para Nabi dan Rasul yang dapat diamalkan:
a. Doa sebelum memulai aktivitas
ุงََُّูููู
َّ ุจَِู ุฃَุตْุจَุญَْูุง َูุจَِู ุฃَู
ْุณََْููุง، َูุจَِู َูุญَْูุง، َูุจَِู َูู
ُْูุชُ، َูุฅََِْููู ุงُّููุดُْูุฑُ
Allฤhumma bika ashbahnฤ, wa bika amsainฤ, wa bika nahyฤ, wa bika namลซtu, wa ilaika nusyลซru.
Artinya: “Ya Allah, dengan-Mu kami berpagi hari, dengan-Mu kami bersore hari, dengan-Mu kami hidup, dengan-Mu kami mati. Hanya kepada-Mu (kami) kembali.”
b. Doa untuk menutup hari
ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนَْู ِูู َْููุจِู ُููุฑًุง َِููู ุจَุตَุฑِู ُููุฑًุง َِููู ุณَู
ْุนِู ُููุฑًุง َูุนَْู َูู
ِِููู ُููุฑًุง َูุนَْู َูุณَุงุฑِู ُููุฑًุง ََِْููููู ُููุฑًุง َูุชَุญْุชِู ُููุฑًุง َูุฃَู
َุงู
ِู ُููุฑًุง َูุฎَِْููู ُููุฑًุง َูุนَุธِّู
ْ ِูู ُููุฑًุง
Allahummaj’al fi qalbi nuran, wa fi bashari nuuron, wa fi sam’i nuuron, wa an yasari nuuron, wa fauqi nuran, wa tahti nuuron, wa amami nuran, wa khalfi nuuron, wa adzim li nuran
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah dalam hati kami cahaya, dalam penglihatan kami cahaya, dalam pendengaran kami cahaya, di sisi kanan kami cahaya, di sisi kiri kami cahaya, di atas kami cahaya, di bawah kami cahaya, di depan kami cahaya, di belakang kami cahaya, dan agungkan cahaya untuk kami.”
c. Doa Masuk WC/kamar mandi
ุงَُّٰูููู
َّ ุงِّْูู ุงَุนُْูุฐُุจَِู ู
َِู ุงْูุฎُุจُุซِ َูุงْูุฎَุจَุขุฆِุซِ
Allahumma Innii a’uudzubika minal khubutsi wal khobsits
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan”
d. Doa keluar WC/kamar mandi
ุบُْูุฑَุงََูู ุงْูุญَู
ْุฏُ ِِููู ุงَّูุฐِْู ุงَุฐَْูุจَ ุนَّูู ุงْูุงَุฐَู َูุนَุงَูุงِْูู
Ghufraanakal hamdu lillaahil ladzii adzhaba ‘annil adzaa wa ‘aafaanii
Artinya: “Dengan mengharap ampunanMu, segala puji milik Allah yang telah menghilangkan kotoran dari badanku dan yang telah menyejahterakan”
e. Doa sebelum makan
ุงَُّูููู
َّ ุจَุงุฑِْู َููุงَ ِْููู
َุง ุฑَุฒَْูุชَูุง ََِูููุง ุนَุฐَุงุจَ ุงَّููุงุฑِ، ุจِุณْู
ِ ุงِููู
Allahumma barik lana fi ma razaqtana wa qina adzaban nar.
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kamu pada apa yang telah Engkau karuniakan dan lindungilah kami dari siksa neraka."
f. Doa sesudah makan
ุงَْูุญَู
ْุฏُ ِِููู ุงَّูุฐِْู ุฃَุทْุนَู
ََูุง َูุณََูุงَูุง َูุฌَุนَََููุง ู
َِู ุงูู
ُุณِْูู
ِْูู
Alhamdulillahilladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana minal muslimin.
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan telah memberi kami minum, dan menjadikan kamu termasuk orang yang patuh.”
g. Doa berpergian
ุงَُّٰูููู
َّ َِّْููู ุนَََْูููุง ุณََูุฑََูุง َูุฐَุง َูุงุทِْูุนََّูุงุจُุนْุฏَُู ุงَُّٰูููู
َّ ุงَْูุชَ ุงูุตَّุงุญِุจُ ِูู ุงูุณََّูุฑَِูุงْูุฎََِْูููุฉُِูู ุงْูุงَِْูู
Allohumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa waathwi ‘annaa bu’dahu. Allohumma antashookhibu fiissafari walkholiifatu fiil ahli.
Artinya: “Ya Allah, mudahkanlah kami berpergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam berpergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga.”
h. Doa sampai di tempat tujuan
ุงَْูุญَู
ْุฏُ ِِููู ุงَّูุฐِู ุณََูู
َِูู َูุงَّูุฐِู ุงََِููู َูุงَّูุฐِู ุฌَู
َุนَ ุงูุดَّู
َْู ุจِ
Alhamdulillahil ladzi sallamani wal ladzi awani wal ladzi jama’asy syamla bi
Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menyelamatkan akau dan yang telah melindungiku dan yang mengumpulkanku dengan keluargaku.
i. Doa keluar rumah
ุจِุณْู
ِ ุงِููู ุชَََّْูููุชُ ุนََูู ุงِููู ูุงَุญََْูู َููุงََُّููุฉَ ุงِูุงَّ ุจِุงููู
Bismillaahi tawakkaltu ‘alalloohi laa hawlaa walaa quwwata illaa bilaahi
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tiada daya kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.”
j. Doa Masuk Rumah
ุงَُّٰูููู
َّ ุงِّْูู ุงَุณْุฃََُูู ุฎَْูุฑَุงْูู
َِْููุฌِ َูุฎَْูุฑَุงْูู
َุฎْุฑَุฌِ ุจِุณْู
ِ ุงِููู ََููุฌَْูุง َูุจِุณْู
ِ ุงِููู ุฎَุฑَุฌَْูุง َูุนََูู ุงِููู ุฑَุจَّูุง ุชََََّْููููุง
Allahumma innii as-aluka khoirol mauliji wa khoirol makhroji bismillaahi wa lajnaa wa bismillaahi khorojnaa wa’alallohi robbina tawakkalnaa
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu baiknya tempat masuk dan baiknya tempat keluar dengan menyebut nama Allah kami masuk, dan dengan menyebut nama Allah kami keluar dan kepada Allah Tuhan kami, kami bertawakkal”
E. Keutamaan dan manfaat tawasul, tabarruk, dan doa
Menerapkan ketiga hal ini tidak hanya tentang menjalankan cara beribadah, tetapi juga merupakan usaha menyeluruh untuk menghadirkan Allah dalam setiap napas yang kita ambil. Berikut adalah manfaat dan keutamaannya secara lebih mendalam:
1. Sebagai sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)
Tawasul, terutama dengan mengakui kesalahan dan kelemahan diri, adalah cara yang efektif untuk mengatasi penyakit hati seperti sombong dan rasa bangga. Ketika kita bertawasul, kita menyadari bahwa doa kita mungkin terhalang oleh perbuatan buruk, jadi kita menggunakan "kemuliaan" nama-nama Allah atau amal baik sebagai penghubung. Proses ini secara alami menekan ego manusia dan membantu menumbuhkan sikap rendah hati.
2. Mewujudkan konsep ziyadatul khair (pertambahan kebaikan)
Manfaat utama dari Tabarruk adalah mendapatkan keberkahan yang sejati. Dalam Islam, keberkahan tidak selalu berarti "bertambahnya jumlah", tetapi lebih kepada "bertambahnya manfaat". Harta yang diberkahi akan menjauhkan pemiliknya dari sifat boros dan perbuatan buruk. Umur yang diberkahi akan membantu seseorang menciptakan karya besar bagi umat, meskipun hidupnya singkat. Tabarruk membantu kita untuk mengutamakan "kualitas" daripada "kuantitas".
3. Memperkuat ikatan (ittishal) dengan generasi shalih
Dengan melakukan tabarruk kepada para ulama, seperti dengan menghadiri majelis mereka atau menghormati mereka, seorang Muslim menghubungkan diri secara rohani dengan Rasulullah. Ini membantu menjaga iman tetap kuat. Seseorang yang selalu mencari keberkahan dari orang-orang baik akan lebih hati-hati dalam perilakunya karena ia merasa menjadi bagian dari komunitas yang terhormat, sehingga ia malu untuk melakukan hal-hal buruk.
4. Mengubah takdir muallaq dengan izin Allah
Seperti yang telah kita bahas dalam hadits (HR. Tirmidzi No. 2139), doa yang dilakukan dengan cara tawasul yang baik bisa mengubah takdir yang bersifat muallaq (yang bisa berubah karena sebab tertentu). Ini memberikan harapan tanpa batas bagi setiap Muslim. Selama pintu tawasul dan doa masih terbuka, tidak ada situasi yang benar-benar tanpa jalan keluar.
5. Mencapai maqam al-iftiqar (sangat butuh kepada Allah)
Esensi dari seluruh ibadah adalah rasa butuh kepada Allah. Doa yang disertai tawasul menunjukkan bahwa seorang hamba merasa tidak memiliki "modal" yang cukup untuk menghadap Tuhannya, sehingga ia mencari jalan yang paling dicintai-Nya. Maqam Al-Iftiqar adalah derajat tertinggi seorang hamba. Semakin seseorang merasa butuh dan tidak berdaya di hadapan Allah, maka Allah akan semakin mencukupi segala kebutuhannya dan mengangkat derajatnya.
6. Perlindungan dari fitnah dan keburukan
Bertabarruk dengan waktu tertentu (seperti waktu subuh atau hari Jumat) dan dengan makanan sunnah (seperti kurma Ajwa atau madu) berperan sebagai pelindung secara spiritual dan fisik. Ini merupakan langkah pencegahan untuk melindungi diri dari gangguan setan, sihir, serta penyakit fisik. Seseorang yang menjalani kehidupan penuh dengan tabarruk akan memiliki kekuatan batin yang lebih baik dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Oleh karena itu, tawasul, tabarruk, dan doa bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga strategi penting bagi seorang mukmin untuk mendapatkan rahmat Allah di dunia dan syafaat-Nya di akhirat.
F. Menjaga Kemurnian Tauhid dalam Berwasilah dan Bertabarruk
Agar praktik Tawasul dan Tabarruk tetap sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan tidak terjerumus ke dalam syirik (menyekutukan Allah), setiap Muslim harus berpegang teguh pada prinsip utama berikut ini:
1. Allah adalah satu-satunya sumber manfaat dan mudharat
Pondasi dasar akidah adalah keyakinan bahwa semua keberkahan dan pengabulan doa sepenuhnya datang dari Allah Ta’ala. Objek tawasul, seperti amal shalih, atau objek tabarruk, seperti air Zamzam, sama sekali tidak memiliki kekuatan sendiri. Kita meminum air Zamzam karena percaya ada berkah dari Allah dalam air tersebut, bukan karena beranggapan bahwa air itu adalah entitas yang dapat menyembuhkan.
2. Perantara hanya sebagai "sebab" (asbab)
Dalam jagat yang luas ini, Tuhan menetapkan kaidah sebab-akibat. Tawasul dan Tabarruk hendaknya dilihat sebagai Sebab Syar’i (jalur yang diperbolehkan oleh agama), bukan sebagai faktor yang menentukan hasil akhir. Menurut prinsip para ulama, "bergantung pada sebab adalah syirik (kecil), sedangkan mengabaikan sebab sepenuhnya adalah kebodohan." Kita tetap berupaya (melalui sebab) dengan cara yang diridhoi oleh Allah, tetapi hati kita senantiasa bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta Sebab (Musabbibul Asbab).
3. Menjauhi sikap berlebihan (ghuluw)
Salah satu jalan menuju penyimpangan adalah pandangan berlebihan dalam mengagungkan makhluk. Mencium tangan seorang ulama atau mencari berkah dari majelis ilmu dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan kasih karena Allah, bukan karena menganggap ulama tersebut terbebas dari kesalahan atau sejajar dengan Tuhan. Hindarilah untuk langsung meminta kepada orang yang telah meninggal (contohnya: "Wahai Fulan, berikanlah aku rezeki"), karena tawasul yang sejati adalah memohon kepada Allah melalui perantara yang dicintai-Nya.
4. Syarat legitimasi dalil (bukan berdasarkan perasaan)
Setiap usaha tawasul dan tabarruk mesti berdasarkan pada bukti syariat yang valid, bukan hanya pada perasaan atau mimpi individu. Secara umum, ibadah adalah terlarang kecuali terdapat dasar yang mengizinkannya (Al-ashlu fil 'ibadati al-haram illa ma dallal dalilu 'ala masyru'iyyatihi). Kita tidak diperbolehkan untuk membuat cara tawasul yang baru atau meyakini sebuah objek memiliki berkah (seperti batu, keris, atau pohon tertentu) tanpa adanya penjelasan dari Al-Qur'an, Hadits, atau praktik para Sahabat. Penentuan berkah adalah hak eksklusif Allah untuk menetapkannya.
5. Tidak menjadikan perantara sebagai penghalang (hijab)
Tawasul dan tabarruk seharusnya mendekatkan seseorang kepada Allah dan meningkatkan ketaatan, bukan sebaliknya menjadikan seseorang malas beribadah akibat merasa "cukup" dengan adanya perantara itu. Perantara bertujuan untuk mendorong ketaatan, bukan sebagai pengganti dari ketaatan itu sendiri. Salah jika seseorang hanya mengandalkan tabarruk, seperti minum air Zamzam atau mencium tangan ulama, tetapi melupakan shalat atau melanggar aturan syariat. Keberkahan akan menjauh dari mereka yang melakukan maksiat. Inti dari wasilah adalah agar Allah memberikan ridho, yang diperoleh melalui ketaatan yang penuh.
Sebagai akhir, berwasilah dan bertabarruk menjadi bukti akan keindahan Islam yang menyediakan banyak jalan untuk mengakses rahmat Allah. Dengan memahami batasan-batasan yang telah disebutkan, kita dapat mencapai keberkahan hidup dan kedekatan dengan Allah tanpa sedikit pun merusak kemurnian Tauhid kita.
"Tawasul dan Tabarruk merupakan cara untuk mengakui kelemahan diri di hadapan kemuliaan Allah, dengan membawa segala sesuatu yang dicintainya agar Dia juga mencintai kita."
Penutup:
Tawasul dan tabarruk merupakan bukti rahmat Allah yang tak terhingga kepada hamba-hamba-Nya. Keduanya disediakan agar kita dapat menempuh jalan yang lebih indah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, baik melalui Nama-nama-Nya, amal kebaikan kita, maupun nikmat yang telah Allah berikan dalam waktu, ruang, dan di antara orang-orang pilihan-Nya.
Aspek terpenting yang harus selalu kita jaga adalah menjaga hati kita tetap terhubung hanya kepada Allah, sumber segala nikmat. Tawasul dan tabarruk hanyalah sebab, sedangkan Allah adalah Penentu segala akibat. Dengan mempraktikkan adab shalat yang benar dan menjaga kesucian iman kita, dengan kehendak Allah, permohonan kita tidak hanya memiliki peluang besar untuk dikabulkan, tetapi juga berfungsi sebagai ibadah yang akan meningkatkan bobot amal kita di Akhirat.
Sumber referensi:
1. Al-Qur'an
- QS. Al-Ma’idah surah ke 5: Ayat 35.
- QS. Al-A’raf surah ke 7: Ayat 180.
- QS. An-Nisa' surah ke 4: Ayat 64.
- QS. Ali ‘Imran surah ke 3: Ayat 193.
- QS. Al-Anbiya surah ke 21: Ayat 87-88.
- QS. Maryam surah ke 19: Ayat 4.
- QS. Al-An'am surah ke 6: Ayat 92.
- QS. Al-A'raf surah ke 7: Ayat 96.
- QS. Al-Qadr surah ke 97: Ayat 3.
- QS. An-Nahl surah ke 16: Ayat 69.
- QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 186.
- QS. Ghafir surah ke 40: Ayat 65.
- QS. Al-Isra' surah ke 17: Ayat 1.
2. Hadits nabi
- HR. Ahmad No. 3712.
- HR. Bukhari No. 1162.
- HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743.
- HR. Bukhari No. 1.010.
- HR. Tirmidzi no. 3.578, Ahmad no. 17.240, Ibnu Majah no. 1.385.
- HR. Bukhari No. 189.
- HR. Bukhari No. 110.
- HR. Ibnu Majah No. 3062.
- HR. Tirmidzi No. 1852.
- HR. Bukhari No. 5445.
- HR. Bukhari No. 5688.
- HR. Abu Dawud No. 5225.
- HR. Muslim No. 2699.
3. Kitฤb para ulama Ahlussunnah wal jamaah
- Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawi.
- Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari karya Al-Hafiz Imam Ibnu Hajar al-Asqalani.
- Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi.
- Qa'idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah karya Ibnu Taimiyah.
- Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
- Al-Syifa bi Ta'rifi Huquqil Mustafa karya Al-Qadhi 'Iyadh bin Musa al-Yahshubiyy.
- Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi karya Syaikh Abdurrahman Al-Mubarakfuri.
- Misykat al-Mashabih karya Al-Khathib At-Tibrizi.
- Al-Mustadrak 'ala al-Shahihain karya Imam Al-Hakim al-Naisaburi.
- Jami' al-'Ulum wal Hikam karya Ibnu Rajab al-Hanbali.
- Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an (Tafsir al-Qurthubi) karya Imam Qurthubi.
4. Buku modern
- Mafahim Yajib an Tusahhah karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani.
- At-Tawassul: Anwa'uhu wa Ahkamuhu karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
- Ar-Rahiq al-Makhtum karya Safiur Rahman Mubarakpuri.
- Fiqh al-Ad'iyah wal Adzkar karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr.
- Ad-Du’a: Al-Mafhum wal Adab karya Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani.
- Al-Barakah fi al-Rizqi wa al-Amal karya Syaikh Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari.
- At-Tabarruk: Anwa’uhu wa Ahkamuhu karya Dr. Nasir bin Abdul Rahman al-Juda'.
- Aqidah al-Mukmin karya Syaikh Abu Bakar al-Jaza’iri.
- Syarh al-Arba'in al-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
- Al-Wasailu ila Ma’rifati al-Ad’iyati al-Mustajabah karya Syaikh Ahmad bin Abdul Halim.
5. Jurnal & karya ilmiah modern
- Konsep Tabarruk dalam Hadis Nabi: Studi Terhadap Pemikiran Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki oleh M. Alfatih Suradji.
- Intercession (Wasilah) in Islamic Theology: A Comparative Study oleh Muhammad Sultan Akhter.
- The Philosophy of Dua (Supplication) and its Psychological Impact oleh Akram Habibulla.
- Otoritas Ulama dan Praktik Tabarruk di Pesantren Jawa oleh Abdur Rozaki.
- Makna Berkah pada Air Zamzam: Tinjauan Tafsir dan Sains karya Nurul Hidayati.
- Fenomena Cium Tangan dalam Tradisi Pendidikan Islam: Antara Budaya dan Teologi oleh Rohmatun Lukluk Isnaini.
6. Internet
Penulis: Maulana Aditia
Baca juga: Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul
Komentar
Posting Komentar