Sejarah Perjalanan Indonesia (Tumbuh dan Berkembangnya Kesultanan di Indonesia)
Kita mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penganut agama Islam terbesar di dunia yakni sekitar 231.000.000 jiwa (2021) atau setara dengan 86,7%. Hal itu tak lepas dari peran para pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat yang tidak hanya berdagang melainkan juga menyebarkan agama Islam ke Indonesia. Penyebaran Islam di Indonesia kemudian melahirkan beberapa perubahan salah satunya dengan berdirinya kesultanan-kesultanan yang menggantikan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia.
Berbicara mengenai sejarah Islam, kita tahu bahwa sejarawan asing apabila berbicara tentang Islam, mereka membuat opini yang tidak jujur dan subjektif. hal ini dikarenakan:
1.) Mereka mencoba mendistorsi atau menyepelekan aspek sejarah Islam;
2.) Metodologi historiografi sangat subyektif;
3.) Pemahaman mereka tentang Islam tidak begitu lengkap.
Bagaimana proses masuknya agama Islam ke Indonesia yang sebenarnya? Bagaimana strategi dakwah yang diterapkan oleh para penyebar agama Islam di Indonesia? Apa yang menyebabkan Islam mudah masuk dan berkembangnya di Indonesia? Apa saja perubahan yang terjadi setelah agama Islam masuk ke Indonesia? Itu semua akan kita bahas pada kesempatan kali ini.
A. Masuknya agama Islam ke Indonesia
Terdapat 4 teori masuknya agama Islam ke Indonesia, teori tersebut diantaranya adalah:
1. Teori Makkah
Teori dikemukakan oleh Buya Hamka pada saat menghadiri Dies Natalis PTAIN ke-8 di Yogyakarta. Dalam teori ini dikatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui para pedagang Arab yang datang ke Indonesia sekaligus untuk berdakwah. Buya Hamka secara terang-terangan curiga dengan para penulis orientalis barat yang cenderung menyudutkan Islam di Indonesia.
Menurut Buya Hamka, para penulis Barat melakukan beberapa upaya sistematis untuk menghancurkan keyakinan dari negeri Melayu mengenai hubungan keagamaan yang sangat baik masyarakat Melayu dan tanah Arab sebagai sumber utama untuk menimba ilmu agama. Teori ini didukung oleh Van Leur, Anthony H. Johns, T.W Arnold, Naquib al-Attas, Keyzer, M. Yunus Jamis, Crawfurd dan Buya Hamka pastinya.
Bukti dari teori ini antara lain:
- Pedagang dari Arab telah terjalin kontak dagang dengan para pedagang Cina dan Nusantara jauh sebelum Rasulullah menerima Wahyu. Jalur perdagangan di selatan sudah ramai pada waktu itu.
- Ditemukannya makam kuno di kompleks pemakaman mahligai, Barus dalam batu nisan tertulis nama Syekh Rukunuddin yang wafat pada 672 M.
- Terdapat sebuah perkampungan Arab muslim tahun 674 di daerah Barus, Sumatera Barat. Daerah merupakan daerah penghasil utama kapur Barus yang sangat disukai orang arab. Hal itu kemudian menarik perhatian orang arab untuk datang ke Indonesia.
- Ditemukan sebuah makam tua milik Fatimah binti Maimun di Gresik, Jawa Timur. Makam tersebut ditulis dengan kaligrafi bergaya kufi.
- Penggunaan gelar al-Malik untuk Raja dari Kerajaan Samudera Pasai yang sudah umum dalam kebudayaan Islam di Mesir.
- Kerajaan Samudera Pasai menganut Mazhab Syafi'i yang umumnya dianut oleh masyarakat Mekkah dan Mesir waktu itu.
Meskipun demikian teori ini memiliki kekurangan yakni Minimnya fakta yang disajikan dalam teori Mekkah yang menjelaskan peran bangsa Arab dalam proses penyebaran Islam di Indonesia.
2. Teori Persia
Teori ini dikemukakan oleh Prof. Hoesein Djajadiningrat dan Prof. umar Amir Husen. Dalam teori ini dikatakan bahwa agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Persia pada abad ke 7 hingga abad ke 13 M. Sejarawan mengatakan bahwa negara Indonesia yang dulu dikenal sebagai Nusantara dianggap sebagai tanah yang sangat cocok untuk dijadikan daerah berlangsungnya perdagangan dan dakwah Islam. Beberapa bukti yang dapat dijadikan landasan dari teori ini adalah:
- Adanya persamaan kebudayaan Islam yang ada di Indonesia dengan kebudayaan Islam yang ada di Persia. Seperti peringatan 10 Muharam yang ada di Persia dengan perayaan Tabuik dibeberapa wilayah Sumatera terutama wilayah Sumatera Barat dan Jambi.
- Penggunaan gelar 'Syah' untuk Raja-Raja Islam di Nusantara yang juga digunakan di Persia.
- Kesamaan ajaran sufi yang dipercaya dan dianut oleh Syekh Siti Jenar yakni aliran Al- Hajjaj yang juga dianut oleh orang Persia.
- Terdapat kesamaan antara makam Malik al Shaleh dengan makam Maulana Malik Ibrahim yang merupakan pengaruh dari Persia dan Gujarat.
- adanya persamaan kosakata dari bahasa Persia dengan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu
Namun demikian beberapa ahli sejarah meragukan teori ini dikarenakan bukti-bukti yang dijadikan landasan dari teori ini kurang kuat. Selain itu, Persia bukanlah wilayah pusat agama Islam. Pedagang dari Persia juga jumlahnya tak sebanyak dengan pedagang Arab, India dan Cina.
3. Teori Gujarat
Teori Gujarat dikemukakan oleh J. Pijnapel pada abad ke 19. Yang kemudian dikembangkan oleh Christiaan Snouck Hurgronje dan Jean Pierre Moquette. Teori ini menjelaskan bahwa Islam disebarkan oleh para pedagang dari Gujarat (India selatan) pada abad ke 13 M.
Banyak pedagang dari Gujarat yang menetap di Indonesia untuk menunggu angin musim. Selama menetap di Indonesia itulah para pedagang dari Gujarat melakukan interaksi sosial sehingga asimilasi budaya mulai terjadi melalui perkawinan. Dari perkawinan tersebut dakwah Islam dan pertukaran budaya Persia terjadi. Semakin banyak pedagang menikah dengan penduduk setempat, semakin cepat agama dan budaya Islam menyebar. Ketika banyak penduduk yang masuk Islam, didirikanlah sebuah perkampungan untuk para pedagang Muslim di sepanjang pantai.
Bukti yang dapat dijadikan landasan dari teori ini adalah:
- Terdapat prasasti tertua yang mendukung pandangan Hurgronje bahwa hubungan antara Sumatera dan Gujarat berlangsung lama.
- Terdapat kesamaan makam Malik al Shaleh dengan makam yang ada di Gujarat yang juga terpengaruh oleh Persia. Kesamaan dari makam tersebut dapat dilihat dari batu nisannya.
- Para pedagang dari India selatan tepatnya Gujarat dan Malabar pertama kali sudah menganut Mazhab Syafi'i sebelum datang ke Indonesia.
- Jatuhnya Bagdad menyebabkan banyak sufi mengungsi ke Asia Tenggara melalui India
- Terdapat kesamaan budaya Islam yang ada di Indonesia dengan Islam yang ada di Gujarat. Contohnya penggunaan bahasa Arab-Melayu sebagai bahasa sastra dan agama, penggunaan huruf Jawi sebagai tulisan, penggunaan Kosakata yang berasal dari bahasa Gujarat, serta adanya unsur seni dan arsitektur yang terpengaruh gaya India.
- Marcopolo dari Venesia (Italia) menyatakan bahwa pada tahun 1292 ia singgah di Perlak, yang penduduknya memeluk Islam. Dia mencatat, banyak juga saudagar muslim dari India yang menyebarkan ajarannya.
Namun demikian ada beberapa kekurangan dari teori ini, yakni sebagai berikut.
- Teori tersebut tidak menjelaskan bagaimana para pedagang Gujarat mempengaruhi keyakinan dan kepercayaan masyarakat setempat, bagaimana terjadinya perpindahan agama dan apa peran ulama dan tokoh muslim dalam proses tersebut.
- Pada masa Islamisasi Samudera Pasai, Gujarat saat itu masih merupakan kerajaan Hindu.
4. Teori China
Teori China dikemukakan Prof. Dr. Raden Benedictus Slamet Muljana dan Sumanto Al Qurtuby. Teori ini mengemukakan bahwa sebelumnya Islam telah masuk ke daratan China pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan dan disebarkan oleh Sa'ad bin Abi Waqash. Kemudian berkembang pada masa Dinasti Tang yakni pada tahun 618-905 M. Dan Kanton merupakan pusat dakwah Islam di China.
Setelah menyebarkan ke China, setelah itu disebarkan oleh para perantau muslim China yang datang ke Indonesia. Beberapa bukti yang dapat digunakan sebagai landasan dari teori ini adalah:
- Jumlah mubaligh asal Tionghoa cukup banyak dan termasuk orang-orang berpengaruh, terutama pada masa Kerajaan Demak.
- Dalam buku berjudul Islam in Cina karya Jean A menganalisis hubungan antara Muslim Arab dan orang-orang Cina pada tahun 713 M.
- Terdapat budaya Sumatera bagian Selatan yang terpengaruh oleh tradisi China.
- Migrasi Muslim Tionghoa dari Kanton ke Asia Tenggara, khususnya Palembang, pada tahun 879 Masehi
- Dalam sebuah catatan China disebutkan bahwa Pedagang Cina pertama kali menduduki pelabuhan-pelabuhan Nusantara
- Terdapat masjid dengan arsitektur China di Indonesia.
- Raden Patah, pendiri kerajaan Demak adalah keturunan Tionghoa dari pihak ibunya.
Namun demikian teori memiliki beberapa kekurangan yakni teori ini hanya menggambarkan peran Cina dalam memperkenalkan Islam ke Nusantara dan didukung oleh bukti bahwa Islam Indonesia telah dipengaruhi oleh budaya Cina dan tidak ada penjelasan awal kapan tepatnya Islam masuk ke Indonesia.
Menurut anda teori manakah yang paling kuat diantara teori-teori yang diatas? Tulis di kolom komentar!
B. Walisongo
Selain para pedagang, mubaligh dan ulama agama Islam juga disebarkan oleh para wali. Diantara wali tersebut adalah Walisongo, siapa sajakah mereka? Mari kita bahas.
1. Sunan Gresik
Sunan Gresik memiliki nama asli Asy-Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Beliau lahir di kashran, Persia dan wafat di Kabupaten Gresik. Tempat beliau berdakwah di daerah Gresik.
2. Sunan Ampel
Sunan Ampel memiliki nama asli Raden Rahmat atau Asy-Syaikh Ali Rahmatullah. Beliau merupakan putra dari Ibrahim As-Samarqandi dan Dewi Candrawulan. Beliau lahir di Champa, Vietnam dan wafat di Surabaya, Jawa Timur. Beliau berdakwah dimulai di daerah rawa yang merupakan hadiah dari raja Majapahit kepada beliau dan beliau juga mendirikan pesantren Ampel Denta di daerah Surabaya.
3. Sunan Bonang
Sunan Bonang memiliki nama asli Raden Sayid Maulana Makhdum Ibrahim. Beliau merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Beliau lahir di Surabaya dan wafat di Tuban. Sunan Bonang mulai berdakwah di Kediri yang mayoritas masih beragama Hindu, kemudian beliau menetap di Desa Bonang, Lasem, Jawa Tengah dan kemudian mendirikan Pesantren Watu Layar disana.
4. Sunan Drajat
Sunan Drajat memiliki nama asli Raden Qosim Syarifuddin. Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, tepatnya Sunan Drajat adalah adik dari Sunan Bonang. Beliau lahir di Surabaya dan wafat di Lamongan. Beliau berdakwah di Desa Drajat, Paciran dan mendirikan Pesantren Dalem Duwur.
5. Sunan Kudus
Sunan Kudus memiliki nama asli Syekh Ja'far Ash-Shadiq dan merupakan putra dari Sunan Ngundung dan Dewi Sri binti Ahmad Wilwatikta. Beliau berdakwah di daerah Kudus dan mendirikan Masjid Agung Kudus.
6. Sunan Giri
Sunan Giri memiliki beberapa nama seperti Raden Paku, Prabu Satmata, Jaka Samudra, Muhammad Ainul Yaqin dan Sultan Abdul Faqih. Beliau lahir di Blambangan dan wafat di Giri Kedaton. Sunan Giri merupakan putra dari Maulana Ishak dan Dewi Sekardadu. Beliau juga merupakan pendiri dari Giri Kedaton.
7. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga memiliki nama asli Syekh Raden Syahid, beliau merupakan putra dari Adipati Tuban bernama Tumenggung Wilwatikta dan Dewi Nawangarum. Beliau lahir di Tuban dan meninggal di
Kadilangu, Demak. Beliau juga merupakan murid dari Sunan Bonang. Nama Kalijaga beliau dapatkan saat Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang. Namun ada versi lain mengenai asal nama Kalijaga tersebut yakni saat berdakwah di Cirebon tepatnya di Desa Kalijaga. Selain itu beliau juga berdakwah di daerah dan Indramayu.
8. Sunan Muria
Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said. Beliau merupakan putra dari Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Sunan Muria berasal dari Gunung Muria dan meninggal di kota Kudus. Sunan Muria menyebarkan agama Islam ke daerah Tayu, Pati, Juana, Kudus dan lereng Gunung Muria.
9. Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah. Sunan Gunung Jati sampai di Cirebon pada 1470 dan menjadi Tumenggung Cirebon atas dukungan dari Kesultanan Demak dan uwaknya yang merupakan Tumenggung Cirebon pertama dari jalur ibu yang bernama pangeran walang sungsang pada 1479 dengan gelar Maulana Jati.
C. Strategi dakwah Islam di Indonesia
Dalam berdakwah tentunya para mubaligh dan ulama dari Arab, Persia dan Gujarat pastinya mempunyai strategi dalam berdakwah. Apa sajakah strategi yang digunakan para mubaligh dan ulama untuk menyebarkan agama Islam ke Indonesia? Kita akan bahas semua disini.
1. Perdagangan
Pedagang muslim dari Arab, Gujarat dan Persia sering singgah di pelabuhan-pelabuhan pesisir Sumatera dan Jawa dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke tanahnya. Ketika mereka singgah atau tinggal sementara, mereka berdagang sekaligus menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Indonesia. Dengan partisipasi para raja dan bangsawan, perdagangan menjadi cara yang sangat menguntungkan bagi para pedagang Muslim. Selain menguntungkan secara material, mereka dengan mudah berdakwah kepada masyarakat hingga penguasa setempat.
2. Perkawinan
Pada saat menetap sementara di Indonesia para pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat tidak sedikit menikah dengan masyarakat setempat. Dari pernikahan tersebut terbentuklah perkampungan Islam.
3. Pendidikan
Strategi dakwah Islam di Indonesia melalui pendidikan umumnya diterapkan setelah terbentuknya masyarakat Islam. Proses pendidikan ilmu agama Islam dilakukan di pesantren yang didirikan oleh ulama, kiai dan guru agama. Para santri yang datang tidak hanya dari lingkungan sekitar pesantren namun ada juga yang berasal dari daerah lain. Setelah mereka ilmu yang mereka pelajari dari pesantren cukup, para santri kemudian kembali ke daerahnya masing-masing dan mensyiarkan agama Islam di kampungnya.
4. Kesenian
Dalam berdakwah para ulama banyak memanfaatkan kesenian yang disukai masyarakat lokal kemudian disisipi nilai-nilai Islam didalamnya. Seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga yakni dengan media pertunjukan wayang kulit, setelah pertunjukan wayang kulit selesai Sunan Kalijaga hanya meminta kepada penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat namun tanpa ada paksaan dalam mengucapkannya. Selain wayang para mubaligh juga menggunakan media seni musik, sastra, seni tari dan bangunan.
5. Hubungan sosial
Para mubaligh dikenal memiliki sikap santun, ramah dan gotong royong dalam berinteraksi sosial dengan masyarakat lokal. Selain itu para mubaligh juga menyampaikan ajaran Islam dengan tidak memaksakan untuk masuk Islam dan tidak merendahkan budaya lokal. Dari situlah kemudian masyarakat lokal dengan mudah memeluk Islam.
6. Tasawuf
Tasawuf adalah sebuah cara yang dilakukan oleh manusia memperindah dirinya dengan akhlak yang bersumber dari agama dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Metode dakwah tasawuf dipilih karena Ajarannya tidak bertentangan dengan budaya yang sudah ada melainkan menjadi bagian dari kebudayaan tersebut. Strategi dakwah dengan metode tasawuf pernah dilakukan oleh Sunan Bonang. Ajaran Sunan Bonang menegaskan bahwa Mahatinggi dan Mahaluhur, sukma Mahasuci yang tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak pula dikelilingi oleh ketiadaan.
7. Politik
Di Indonesia, strategi dakwah Islam melalui politik biasanya dilakukan di lingkungan kerajaan. Pengaruh politik raja sangat berperan dalam penyebaran Islam karena masyarakat pada umumnya mengikuti agama raja. Dengan demikian agama Islam lebih mudah menyebar seiring dengan berkembangnya kerajaan.
D. Alasan Islam mudah diterima dan menyebar di Indonesia
Kita telah mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penganut agama Islam tertinggi di dunia. Lalu apa yang membuat agama Islam mudah diterima dan menyebar ke seluruh Indonesia? Simak penjelasan berikut ini!
1. Penyebaran Islam di Indonesia disebarkan dengan cara-cara yang damai, kreatif, unik, menarik dan sederhana.
2. Syarat untuk masuk Islam yang sangat mudah yakni dengan mengucapkan 2 Kalimat syahadat.
3. Sifat Islam yang terbuka dalam penyebarannya dan tidak terbatas pada orang/golongan tertentu.
4. Masyarakat Indonesia yang terbuka terhadap masuknya budaya asing.
5. Islam tidak mengenal kasta, dalam Islam semua orang sama dihadapan Allah yang membedakan adalah iman dan ketaqwaannya.
6. Dalam Islam terdapat perintah untuk menunaikan zakat untuk mengurangi kesenjangan sosial.
7. Pelaksanaan ibadah agama Islam yang sederhana.
8. Adanya dukungan dari para penguasa setempat bahkan penguasa kerajaan.
E. Perkembangan dakwah Islam di Indonesia
1. Perkembangan dakwah Islam di Sumatera
Pulau Sumatera merupakan tempat awal mulanya agama Islam masuk dan berkembang disana. Penyebaran agama Islam di Pulau ini dimulai dari Pasai, Aceh Utara oleh Abdullah Arif. Ia adalah seorang mubaligh dari Arab dengan misi untuk berdakwah dan berdagang. Masyarakat Pasai sangat terkesan dengan kesopanan dan keramahan orang-orang Arab yang berdakwah, masyarakat Pasai pun bersedia masuk Islam. Para raja dan pemimpin setempat pun masuk Islam setelah melihat kesantunan orang-orang Arab yang berdakwah.
Setelah agama Islam berkembang di Pasai, menyebar ke daerah yaitu Pariaman, Sumatera Barat dibawa oleh Syekh Burhanuddin melalui jalur laut dari pantai barat Sumatera. Dakwah Islam secara pelan-pelan dan bertahap dikarenakan adat Sumatera Barat masih kuat.Para mubaligh yang arif dan bijaksana dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat dan akhirnya masyarakat Sumatera Barat dapat menerima Islam dengan baik. Sebagai bukti bahwa masyarakat Sumatera Barat menerima Islam dengan rela dan sadar adalah adat bersendi syura, Syara'bersendi kitabullah. Artinya adat istiadat yang dianut masyarakat Sumatera Barat adalah adat yang berlandaskan Islam.
Kemudian Islam masuk ke Sumatera Selatan pada tahun 1440 atas jasa Sunan Ampel. Kemudian Sunan Ampel menyarankan kepada penguasa Palembang yang waktu itu masih menjadi vasal Majapahit bernama Arya Damar yang kemudian terkenal dengan nama Aryadillah atau Abdillah untuk bersedia mendakwahkan Islam di Sumatera Selatan. Atas rahmat dan petunjuk dari Allah, apa yang disarankan Sunan Ampel dapat terlaksana oleh Aryadillah dan akhirnya Islam berkembang di Sumatera Selatan.
2. Perkembangan dakwah Islam di Pulau Jawa
Islam masuk ke pulau Jawa sekitar abad ke-11 M melalui para mubaligh dan pedagang Arab dari Pasai yang datang pertama kali di pesisir pantai utara Jawa. Tokoh terkenal yang berdakwah di Jawa Timur adalah Sunan Gresik, beliau menetap di Gresik dan kemudian mendirikan pusat dakwah dan pusat studi agama Islam.
Dalam majelisnya beliau merekrut beberapa muridnya untuk dikirim mendakwahkan Islam ke daerah lain di pulau Jawa. Syiar Islam di Jawa Tengah berpusat di Demak dan dilakukan oleh Walisongo, kemudian murid-murid Walisongo ikut menyebarkan ke pedalaman Pulau Jawa hingga Islam berkembang pesat.
3. Perkembangan dakwah Islam di Pulau Kalimantan
Islam masuk ke Pulau Kalimantan pada awalnya di Kalimantan Selatan dibawa oleh para pedagang Arab dan para mubaligh dari Pulau Jawa. Islam berkembang sangat pesat di Kalimantan dan puncaknya pada tahun 1478 ketika Majapahit runtuh.
Selanjutnya daerah lainnya yang dimasuki Islam adalah Kalimantan Barat dibawa oleh para pedagang dari Johor dan ulama serta mubaligh dari Palembang. Pada awalnya, daerah dimasuki Islam di Kalimantan Barat adalah Muara Sambas dan Sukadana. Kemudian menyebar ke seluruh Kalimantan Barat. Penyebaran Islam di Kalimantan Timur khususnya Kutai disebarkan oleh Dato' Ri Bandang dan Tuang Tunggang dari Sumatera Barat melalui jalur perdagangan.
4. Perkembangan dakwah Islam di Pulau Sulawesi
Islam telah masuk ke Pulau Sulawesi dibawa oleh Dato' Ri Bandang dari Sumatera Barat pada abad ke 16 M di wilayah Gowa yang merupakan sebuah kerajaan kecil yang sebelumnya menganut kepercayaan nenek moyang.
Kemudian setelah Dato' Ri Bandang atau Abdul Makmur, Dato'ri Pattimang atau Dato'ri Sulaeman, dan Dato'ri Tiro atau Abdul Jawad datang, I Mangerangi Daeng Manrabbia yang merupakan raja dari Kerajaan Gowa masuk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Alauddin atas saran dari Dato' Ri Bandang. Para pedagang telah mensyiarkan Islam ditengah-tengah masyarakat Sulawesi Selatan sebelum raja dari Kerajaan Gowa masuk Islam. Dari Gowa, Islam terus menyebar ke daerah lain seperti Tallo dan Bone.
5. Perkembangan dakwah Islam di Nusa Tenggara
Islam masuk ke Nusa Tenggara dibawa oleh para mubaligh dari Bugis dan Jawa pada tahun 1540 M. Islam pada awalnya berkembang di daerah Lombok yang masyarakatnya adalah suku Sasak. Kemudian menyebar secara perlahan ke daerah Sumbawa dan Flores.
6. Perkembangan dakwah Islam di Maluku dan Papua
Islam telah masuk dan berkembang di Maluku pada tahun 1400-1500 M yang dibawa oleh pedagang muslim yang berdagang sambil berdakwah dan ulama/ mubaligh. Pada awalnya daerah yang dimasuki Islam di Maluku hanya Ternate, Tidore, Bacau dan Jailolo. Penguasa dari kerajaan tersebut berasal dari satu keturunan yang sama dan mereka semua ikut berperan dalam perkembangan Islam di Maluku.
Islam masuk ke Papua atas pengaruh dari raja-raja Maluku, pedagang muslim dan ulama/mubaligh dari Maluku. Pada awalnya daerah yang dimasuki Islam di Papua hanya Misol, Salawati, Pulau Waigeo dan Pulau Gebi. Namun perkembangannya berjalan agak lambat.
F. Kesultanan Islam di Indonesia
Perkembangan dakwah Islam di Indonesia melahirkan banyak sekali kesultanan-kesultanan di Indonesia. Kesultanan-kesultanan di Indonesia dipimpin oleh seorang sultan. Berikut ini merupakan kesultanan-kesultanan Islam di Indonesia:
1. Kesultanan Jeumpa
Mungkin dari kita mengetahui bahwa kesultanan Islam tertua adalah Kesultanan Peureulak atau kalau tidak Kesultanan Samudera Pasai. Padahal ada kesultanan Islam yang jauh lebih tua dari Kesultanan Peureulak dan Kesultanan Samudera Pasai, kesultanan tersebut bernama Kesultanan Jeumpa.
Jeumpa merupakan kerajaan kecil yang terletak di Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Sebelum Islam datang, penduduk Jeumpa masih menganut animisme dan dinamisme, dan dipimpin oleh Meurah (Maharaja). Selain itu Jeumpa telah menjalin hubungan dagang dengan China, India dan negeri Arab sejak abad ke 7 M sebelum kedatangan Islam.
Dahulu kala hiduplah seorang pemuda Muslim keturunan Arab-Persia bernama Syahriansyah Salman datang ke daerah Jeumpa. Kedatangan Salman dilatarbelakangi oleh pengasingan politik akibat pengejaran terhadap penguasa Bani Umayyah. ia memilih pinggiran kota agar tidak terlalu menarik perhatian.
Berkat kecerdasannya, ia menarik perhatian penguasa Jeumpa, yang kemudian dijadikan orang kepercayaannya. Dalam perkembangannya, Salman kemudian menikah dengan Mayang Seludang, putri penguasa Jeumpa.
Setelah mertuanya meninggal dunia Salman kemudian diangkat menjadi penguasa Jeumpa. Setelah diangkat menjadi penguasa Jeumpa ia dikenal dengan Meurah Jeumpa. Salman mendeklarasikan Kesultanan Jeumpa pada 777 M. Dengan demikian, Kesultanan Jeumpa menjadi Kesultanan Islam pertama di Indonesia dan Dengan demikian, Jeumpa menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara dan juga menjadi salah satu pusat Islamisasi paling awal.
Potensi, kepribadian, dan pengetahuan Salman sebagai bangsawan Persia mendorong pertumbuhan kerajaan. Kerajaan Jeumpa berkembang sebagai salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan yang berpengaruh di pantai utara Sumatera. Hal ini didukung oleh letak geografisnya yang strategis yaitu sebagai pelabuhan transit dari Cina ke Persia dan sebaliknya. Kerajaan Jeumpa juga memperluas hubungan diplomatik dan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan lain di pulau Sumatera atau dengan negara asing, khususnya Arab dan Cina.
Kerajaan ini tidak bertahan lama dan kemungkinan runtuh pada tahun 840 M. Namun, banyak sejarawan meragukan karena catatan sejarah tentang kebangkitan dan kejatuhan kerajaan ini tidak dapat dipastikan keabsahannya. Dikarenakan peninggalan Kerajaan Jeumpa yang ada hanya berupa makam raja-rajanya yang tidak memiliki kaligrafi indah yang terdapat pada batu nisan raja-raja Muslim di Aceh. Sehingga Kesultanan perlak diakui sebagai Kesultanan pertama di Indonesia dikarenakan bukti-bukti peninggalannya lebih meyakinkan.
2. Kesultanan Peureulak
Sejarah berdirinya kerajaan Peureulak dimulai ketika sekelompok Da'i dari Mekkah bernama Nakhoda Khalifah tiba di Perlak pada tahun 800 M yang bertujuan untuk berdagang dan menyebabkan Islam. Salah satu dari anggota kelompok tersebut ialah Sayyid Ali Al-Muktabar bin Muhammad Diba'i bin Imam Ja'far Al-Shadiq. Dengan cara dakwah yang menarik, mereka berhasil membuat penduduk setempat masuk Islam dan beberapa rombongan mulai menikah dengan penduduk setempat, termasuk Sayyid Ali Al-Muktabar yang menikah dengan Putri Tansyir Dewi.
Dari pernikahan mereka berdua menghasilkan seorang putra bernama Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah kemudian mendirikan Kesultanan Peureulak pada 840 M. Para sultan dari Kesultanan Peureulak dapat dibagi menjadi dua dinasti yakni Dinasti Sayid Maulana Abdul Azis Syah dan Dinasti Johan Berdaulat.
Sultan dari Kesultanan Peureulak:
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah (840 – 864 M)
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Rahim Syah (864 – 888 M)
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abbas Syah (888 – 913 M)
- Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughayat Syah (915 – 918 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Johan Berdaulat (928 – 932 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Johan Berdaulat (932 – 956 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Johan Berdaulat (956 – 983 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Johan Berdaulat (986 – 1023 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Johan Berdaulat (1023 – 1059 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Johan Berdaulat (1059 – 1078 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Johan Berdaulat (1078 – 1109 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Johan Berdaulat (1109 – 1135 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Johan Berdaulat (1135 – 1160 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Johan Berdaulat (1160 – 1173 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Johan Berdaulat (1173 – 1200 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Johan Berdaulat (1200 – 1230 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin II Johan Berdaulat (1230– 1267 M)
- Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292 M)
Berdirinya Kesultanan Peureulak mengakibatkan orang orang arab dari kelompok Sunni maupun Syiah semakin banyak berdatangan untuk berdagang. Tidak hanya berdagang kedua kelompok ini lantas menyebarkan pengaruhnya hingga terjadi gesekan diantara dua kelompok ini pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughayat Syah.
Gesekan diantara kedua kelompok ini dapat berakhir setelah terjadi perjanjian damai antara kedua belah pihak yang mengatur pembagian Kesultanan Peureulak menjadi 2. Perjalanan tersebut dinamakan perjanjian Uleu Meuh, isi perjanjian tersebut menyebutkan bahwa Perlak Baroh (Syiah) yang berpusat di Bandar Khalifah dengan wilayah dipesisir sementara itu Perlak Tunong (Sunni) dengan wilayah di pedalaman.
Meskipun, Syiah tidak berkembang seba Kerajaan Sriwijaya menghancurkan Perlak Baroh. Keadaan ini kemudian membangkitkan semangat menyatukan kembali kepemimpinan Kesultanan Peureulak. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Johan Berdaulat kemudian diangkat sebagai Sultan ke 8 dari Kesultanan Peureulak dan terus berperang melawan Sriwijaya hingga tahun 1006 M.
Kesultanan Peureulak mengalami puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin II Johan Berdaulat. Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Peureulak mengalami kemajuan pesat, khususnya dalam bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah.
Kesultanan Peureulak dikenal dengan produksi kayu Perlak, yaitu kayu pembuatan kapal yang berkualitas tinggi. Hasil alam ini menarik pedagang dari Gujarat, Arab dan India dan menyebabkan
Kerajaan Peureulak berkembang menjadi pelabuhan perdagangan yang maju. Hal ini juga mendorong terjadinya perkawinan antara pedagang muslim dengan penduduk setempat, yang pada akhirnya menjadikan Peureulak sebagai pusat dakwah Islam di Indonesia.
Saat masih berkuasa, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin II menikahkan putrinya Putri Ganggang Sari dengan Malik Al-Saleh dari Kerajaan Samudera Pasai. Kesultanan Peureulak berakhir dengan wafatnya Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat pada 1292 M. Kesultanan Peureulak kemudian bergabung dengan Kesultanan Samudera Pasai.
3. Kesultanan Samudera Pasai
Kesultanan Samudera Pasai berdiri pada 1267 M oleh Meurah Silu yang kemudian berganti nama Malik Al Saleh setelah masuk Islam ditangan seorang utusan Syarif Makkah bernama Syekh Ismail. Sultan dari Kesultanan Samudera Pasai:
- Sultan Malik Al Saleh (1267-1297 M)
- Sultan Muhammad Malik Az-Zahir (1297-1326 M)
- Sultan Mahmud Malik Az-Zahir (1326-1345 M)
- Sultan Ahmad Malik az-Zahir (1345-1349 M)
- Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir (1349-1406 M)
- Sultanah Nahrasiyah (1406-1428 M)
- Sultan Zainal Abidin II (1428-1438 M)
- Sultan Shalahuddin (1438-1462 M)
- Sultan Ahmad II (1462-1464 M)
Sultan Abu Zaid Ahmad III (1464-1466 M)
Sultan Ahmad IV (1466 M)
Sultan Mahmud (1466-1468 M)
Sultan Zainal Abidin III (1468-1474 M)
Sultan Muhammad Syah II (1474-1495 M)
Sultan Al-Kamil (1495 M)
Sultan Adlullah (1495-1506 M)
Sultan Muhammad Syah III (1506-1507 M)
Sultan Abdullah (1507-1509 M)
Sultan Ahmad V (1509-1514 M)
Sultan Zainal Abidin IV (1514-1524M)
Pada tahun 1292, Pasai didatangi oleh seorang penjelajah dari Venesia, Italia bernama Marcopolo. Dari catatan Marcopolo diketahui bahwa raja Samudera Pasai menyandang gelar Sultan. Sepeninggal Sultan Malik al-Saleh, pemerintahannya digantikan oleh Sultan Muhammad Malik Az-Zahir.
Pada tahun 1346, Pasai didatangi oleh Ibnu Bathutah, seorang musafir muslim dari Maghreb, yang menceritakan bahwa selama berada di Tiongkok, ia melihat kapal Sultan Pasai di Tiongkok. Memang, sumber Cina menyebutkan bahwa utusan dari Pasai secara teratur datang ke Cina untuk membayar upeti.
Catatan lain juga menyebutkan bahwa Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India barat pada tahun 1282. Hal ini membuktikan bahwa Pasai memiliki hubungan yang cukup luas dengan kerajaan-kerajaan asing.
Kesultanan Samudera Pasai mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik Az-Zahir. Pada masa kejayaannya, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas bernama dirham. Uang tersebut digunakan sebagai mata uang resmi kerajaan.
Lokasi yang strategis yaitu di pantai utara Sumatera tepatnya di dekat kota Lhokseumawe di Aceh. Samudera Pasai berkembang menjadi kerajaan maritim menggantikan peran Sriwijaya di Selat Malaka. Selain itu, Kesultanan Samudera Pasai memiliki pengaruh terhadap pelabuhan-pelabuhan penting seperti Pidie dan Perlak. Barang dagangan penting Samudra adalah lada, kapur dan emas.
Samudera Pasai tidak hanya menjadi pusat perdagangan tetapi juga menjadi pusat pengembangan Islam. Sekelompok minoritas kreatif dapat menggunakan huruf Arab yang dibawa oleh Islam untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu. Ini kemudian disebut sebagai bahasa Jawi, dan aksaranya dikenal sebagai Arab Jawi.
Diantara tulisan tersebut adalah Hikayat Raja Pasai. Bagian pertama teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360. Hikayat Raja Pasai menandai awal perkembangan sastra Melayu klasik di Nusantara. Bahasa Melayu kemudian juga digunakan oleh Syekh Abdurrauf al-Singkili untuk menulis buku-bukunya.
Selain itu, ilmu tasawuf juga berkembang. Salah satu buku tasawuf tersebut adalah Durru al-Manzum karya Maulana Abu Ishak. Kemudian, Makhdum Patakan menerjemahkan kitab tersebut ke dalam bahasa Melayu atas permintaan Sultan Malaka. Kitab ini menyampaikan informasi tentang perkembangan Islam di Asia Tenggara saat itu.
Kesultanan Samudera Pasai mengalami kemunduran akibat perseteruan keluarga kerajaan yang dimulai pada akhir abad ke-14, mengakibatkan perang saudara dan perebutan kekuasaan di dalam istana kerajaan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Sultan Pasai meminta bantuan kepada Kesultanan Malaka Namun, bantuan Kesultanan Malaka tetap berdampak pada Kerajaan Samudera Pasai yang semakin mendekati kehancuran.
Kerajaan Majapahit berambisi untuk menyatukan Nusantara dengan menyerang Kesultanan Samudera Pasai. Selain itu, penyerangan ini dilatarbelakangi oleh Perlakuan tidak pantas Sultan Ahmad Malik Az-Zahir terhadap putri Majapahit bernama Raden Galuh Gemerencang.
Antara tahun 1345 dan 1350, ketika Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk, Mahapatih Gajah Mada diperintahkan untuk menyerang Samudera Pasai. Majapahit awalnya menyerang perbatasan Perlak dan gagal karena dijaga ketat oleh Samudera Pasai, yang telah mendengar rencana invasi dari Jawa.
Meski serangan darat tidak menembus pertahanan Samudera Pasai, serangan laut berhasil membawa pasukan Gajah Mada masuk ke dalam keraton. Invasi Majapahit menyebabkan Kesultanan Samudera Pasai mengalami kemunduran. Dan pada akhirnya menjadi vasal Majapahit, meskipun pada masa pemerintahan Sultanah Nahrasiyah Kesultanan Samudera Pasai merdeka dari Kerajaan Majapahit.
Pada awal abad ke-15 berdiri Kerajaan Malaka yang melahirkan pusat politik dan perdagangan baru Malaka, dan letak Kerajaan Malaka lebih strategis dibandingkan dengan Kerajaan Samudera Pasai. Ini kemudian menyebabkan runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai secara bertahap. Seiring berjalannya waktu, keberadaan Samudera Pasai di kawasan Malaka mulai berkurang. Dominasi kerajaan Malaka dalam perdagangan membuat kerajaan Samudera Pasai semakin terpinggirkan.
Pada tahun 1511, Portugis di bawah Alfonso de Albequerqur menyerang Malaka dengan 16.000 tentara dan 15 kapal. Serangan ini membuahkan hasil dan Portugis mulai menguasai kawasan strategis yang menjadi pusat perdagangan Selat Malaka. Portugis berhasil menaklukkan sebagian wilayah Kesultanan Samudera Pasai pada 1521 M. Kemudian tahun 1524 Kesultanan Aceh menaklukkan sisa wilayah Kesultanan Samudera Pasai dan merebut kembali wilayah Kesultanan Samudera Pasai yang kuasai Portugis. Akhirnya wilayah Kesultanan Pasai resmi runtuh dan menjadi bagian dari Aceh Darussalam.
• Peninggalan Kesultanan Samudera Pasai:
- Makam Sultan Malik Al Saleh
- Lonceng Cakra Donya
- Dirham peninggalan Kerajaan Samudera Pasai
- Makam Sultanah Nahrasiyah
- Hikayat Raja-Raja Pasai.
4. Kesultanan Aceh
Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada 1496 M dengan beribukota di Kutaraja atau sekarang lebih dikenal dengan Banda Aceh. Latar belakang berdirinya Kesultanan Aceh dimulai ketika kekuatan Barat tiba di Malaka. Hal ini mendorong Sultan Ali Mughayat Syah untuk membentuk kekuatan dengan menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di bawah naungan kerajaan Aceh.
Berikut merupakan para sultan dari Kesultanan Aceh:
- Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M)
- Sultan Salahudin (1528-1537 M)
- Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar (1537-1568 M)
- Sultan Husein Ali Riayat Syah (1568-1575 M)
- Sultan Muda (1575 M)
- Sultan Sri Alam (1575 - 1576 M)
- Sultan Zain al-Abidin (1576-1577 M)
- Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589 M)
- Sultan Buyong (1589-1596 M)
- Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604 M)
- Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M)
- Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M)
- Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M)
- Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675 M)
- Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678 M)
- Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688 M)
- Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699 M)
- Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702 M)
- Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703 M)
- Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726 M)
- Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726 M)
- Sultan Syams al-Alam (1726-1727 M)
- Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735 M)
- Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760 M)
- Sultan Mahmud Syah (1760-1781 M)
- Sultan Badr al-Din (1781-1785 M)
- Sultan Sulaiman Syah (1785-1795 M)
- Alauddin Muhammad Daud Syah Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815 M) dan dan (1818-1824 M)
- Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818 M)
- Sultan Muhammad Syah (1824-1838 M)
- Sultan Mansur Syah (1857-1870 M)
- Sultan Mahmud Syah (1870-1874 M)
- Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903 M)
Pada periode awal, konsentrasi politik lebih tertuju pada pembangunan kekuatan militer untuk mempertahankan eksistensinya dari ancaman internal maupun eksternal. Untuk membangun kerajaan yang besar dan kuat, Sultan Ali Mughayat Syah membentuk angkatan darat dan laut yang kuat. Kekuatan militer juga diperlukan untuk memperluas dan menambah wilayah Kesultanan Aceh.
Selain tertuju pada militer, Sultan Ali Mughayat Syah juga meletakkan dasar politik luar negeri kerajaan Aceh yang isinya sebagai berikut:
- Mandiri agar tidak bergantung pada pihak
- Menjalin hubungan lebih dekat dengan kerajaan-kerajaan muslim di nusantara
- Menghindari negara barat Mendapat ahli dari pihak luar
- Melakukan dakwah Islam ke seluruh nusantara
Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar muda. Pada masa pemerintahannya melakukan perluasan ke daerah Pahang yang merupakan penghasil utama timah, melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka dan Kerajaan Johor di semenanjung Malaya agar dapat menguasai daerah penghasil lada.
Ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa, beliau tidak hanya melanjutkan kegiatan ekspansi teritorialnya seperti para pendahulunya. Sultan Iskandar Muda juga berusaha membenahi sistem politik kerajaan, terutama dalam hal konsolidasi dan penguasaan wilayah-wilayah yang dikuasainya. Kesultanan Aceh memiliki kekuasaan yang sangat luas, meliputi wilayah Aru, Pahang, Kedah, Perlak dan Indragiri.
Selain itu juga, Kesultanan Aceh tumbuh menjadi kerajaan besar dan mendominasi perdagangan, bahkan menjadi pelabuhan transit yang menghubungkan para pedagang Muslim dengan Barat pada saat Sultan Iskandar muda berkuasa. Hasil komoditas Kesultanan Aceh antara lain Lada, emas, minyak tanah, kapur, sutera, kapas, kapur barus, menyan, blerang.
Kejayaan Aceh tidak lepas dari letaknya yang strategis yakni dekat dengan jalur pelayaran dan perdagangan internasional.
Setelah Sultan Iskandar Thani meninggal dunia yakni pada 1641 Kesultanan Aceh mengalami kemunduran. Terjadi konflik internal akibat perebutan kekuasaan pada pewaris tahta yakni pada masa pemerintahan Alauddin Muhammad Daud Syah Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam sampai Sultan Mahmud Syah bertahta pada 1870.
Selain itu, Traktat Sumatera yang lahir pada tahun 1871 menyatakan bahwa Inggris memiliki kewajiban untuk meninggalkan semua masalah politik dan kebijakan Belanda di Sumatera. Traktat Sumatera adalah perubahan dari Traktat London tahun 1824.
Traktat London memberi Inggris hak untuk mempertahankan Aceh dari serangan negara manapun. Traktat London merupakan bentuk kerjasama antara Kesultanan Aceh dengan Inggris. Namun setelah direvisi dan munculnya Traktat Sumatera, Kesultanan Aceh terancam diserbu oleh Belanda.
Belanda pada awalnya memberikan ancaman politik kepada Kesultanan Aceh. Hingga pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Daud Syah, Belanda melakukan serangan terhadap Kesultanan Aceh. Ketika pecah konflik Kesultanan Belanda-Aceh, Sultan Muhammad Daud Syah meminta status protektorat Kekaisaran Rusia pada tahun 1879 dan 1898. Namun, permintaan Kesultanan Aceh ditolak oleh penguasa Rusia.
Penyerangan Belanda terhadap Kesultanan Aceh pada awalnya mengalami kegagalan, namun dengan sedikit intrik Kesultanan Aceh dapat dikalahkan oleh Belanda setelah perang selama 40 tahun dengan menyerahnya Sultan Muhammad Daud Syah.
Kesultanan Aceh meninggalkan beberapa peninggalan sejarah antara lain:
- Masjid Raya Baiturrahman
- Taman Sari Gunongan
- Benteng Indra Patra
- Meriam Kesultanan Aceh
- Makam Sultan Iskandar muda
- Uang emas Kesultanan Aceh
- Hikayat Aceh
5. Kesultanan Demak
Raden Patah pergi meninggalkan Majapahit kemudian mendirikan Kerajaan Demak pada tahun 1478 tepatnya di daerah Bintoro, Demak Jawa Tengah setelah mendapat dukungan dari para bupati disekitar wilayah Demak. Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah dengan adat istiadat berlandaskan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Berikut merupakan para sultan dari Kesultanan Demak:
- Raden Patah (1478–1518M)
- Pati Unus (1518–1521 M)
- Trenggono (1521–1546 M)
- Sunan Prawoto (1546–1547 M)
- Arya Penangsang (1547-1554 M)
Pada saat Raden Patah berkuasa, wilayah Kesultanan Demak meliputi Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi, dan beberapa daerah di Kalimantan. Setelah Raden Patah wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh Pati Unus. Pada saat Pati Unus berkuasa, ia melakukan penyerbuan ke Malaka yang dikuasai oleh Portugis tepatnya pada 1521 M. Namun, Pati Unus tewas saat penyerbuan ke Malaka.
Setelah Pati Unus wafat, tahta diberikan kepada Sultan Trenggono. Pada masa inilah Kesultanan Demak berhasil mencapai puncak kejayaannya. Pada saat Sultan Trenggono berkuasa wilayah Kesultanan Demak meliputi Madura, Blambangan, Mataram, dan Pajang.
Secara ekonomi, Demak berperan penting karena memiliki lahan pertanian yang luas dan menghasilkan bahan pangan terutama beras. Selain itu, sektor perdagangan Kerajaan Demak juga maju. Komoditas adalah beras, madu, dan lilin. Barang-barang tersebut diekspor ke Malaka melalui Pelabuhan Jepara. Dengan demikian, kehidupan ekonomi masyarakat berkembang lebih baik.
Sebagai negara maritim, Demak berperan sebagai penghubung atau transit antara daerah penghasil rempah-rempah di timur dan Malaka, dan dari Malaka kemudian dibawa ke barat oleh para pedagang. Kesultanan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di Indonesia yang dibantu oleh Walisongo.
Sultan Trenggono akhirnya wafat pada tahun 1546 M saat terjadi pertempuran di Pasuruan akibat dibunuh oleh pegawainya yang ikut perang. Setelah itu tahta diberikan kepada Sunan Prawoto. Namun, Sunan Prawoto hanya memerintah beberapa tahun saja karena lebih tertarik mendalami kehidupannya sebagai seorang ulama yang menyebarkan agama Islam ke seluruh Jawa.
Akhirnya tahta diberikan kepada Arya Penangsang anak dari Pangeran Surowiyoto. Setelah menjadi sultan, Arya Penangsang kemudian membunuh Sunan Prawoto melalui suruhannya. Dikarenakan Sunan Prawoto pernah membunuh Pangeran Surowiyoto ayah dari Arya Penangsang. Selain itu Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri penguasa Jepara. Hal itu membuatnya dimusuhi oleh para Adipati termasuk Jaka Tingkir.
Arya Penangsang memindahkan pusat pemerintahan ke Jipang. Berbagi konflik muncul setelah kejadian tersebut, terutama setelah pusat pemerintahan Kesultanan Demak dipindahkan ke Pajang pada tahun 1554 M karena Sultan Hadiwijaya yang dibantu Ki Ageng Pemanahan berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Setelah kejadian itu Kesultanan Demak berakhir dan berdirilah Kesultanan Pajang.
Peninggalan Kesultanan Demak:
- Masjid Agung Demak
- Soko tatal
- Pewastren (kolam wudhu Masjid Agung Demak)
- Makam para Sultan Demak
6. Kesultanan Pajang
Kesultanan Pajang didirikan oleh Jaka Tingkir pada tahun 1554 M setelah memindahkan pusat pemerintahan yang sebelumnya di Demak ke Pajang. Kesultanan Pajang tepatnya berada di perbatasan Desa Pajang, Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Setelah mendirikan Kesultanan Pajang Jaka Tingkir mendapat gelar Sultan Hadiwijaya.
Sultan dari Kesultanan Pajang antara lain:
- Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya (1554-1583 M)
- Arya Pangiri atau Awantipura (1583-1586 M)
- Pangeran Benowo atau Prabuwijaya (1586-1587 M)
Sultan Hadiwijaya berhasil membawa Kesultanan Pajang menuju puncak kejayaannya. Pada masa pemerintahannya kekuasaan Pajang meliputi Madiun, Blora dan Kediri. Selain itu, Pajang merupakan kerajaan agraris yang mengalami perkembangan pertanian yang pesat. Hal ini didukung dengan letaknya yang berada di dataran rendah tempat bertemunya sungai Pepe dan Dengkeng, menjadikannya persawahan terpenting di Pulau Jawa.
Pada tahun 1582 M perang terjadi antara Pajang dan Mataram. Setelah pulang dari pertempuran, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Setelah Sultan Hadiwijaya meninggal, terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Benowo selaku putra dari Sultan Hadiwijaya dan Arya Pangiri selaku menantu Sultan Hadiwijaya. Perebutan kekuasaan inilah yang akhirnya menyebabkan kemunduran Kesultanan Pajang.
Arya Pangiri naik tahta pada tahun 1583, sedangkan Pangeran Benawa terusir ke Jipang. Namun pada masa pemerintahannya, Arya Pangiri hanya mementingkan balas dendam terhadap Mataram, sedangkan nyawa rakyatnya diabaikan. Hal ini membuat Pangeran Benawa khawatir dan melancarkan serangan pada tahun 1586 dengan bantuan Sutawijaya penguasa Mataram. Dalam penyerangan tersebut, Arya Pangiri berhasil dikalahkan dan dikembalikan ke Demak.
Pangeran Benawa dinobatkan sebagai raja ketiga Kerajaan Pajang. Pemerintahan Pangeran Benawa hanya berlangsung singkat karena ingin menjadi penyebar agama Islam. Pada tahun 1587, pemerintahannya berakhir tanpa meninggalkan putra mahkota. Menurut kebijakan Sutawijaya, pusat pemerintahan dipindahkan ke Mataram dan Pajang kemudian menjadi negara bawahan Mataram.
Peninggalan Kesultanan Pajang tak begitu banyak. Yang ditemukan hanya Masjid Laweyan yang dibangun pada masa Sultan Hadiwijaya yang telah beberapa kali mengalami pemugaran masih terjaga dan masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini. Selain Masjid Laweyan peninggalan lain dari Kesultanan Pajang adalah reruntuhan yang diperkirakan petilasan Keraton Pajang.
7. Kesultanan Mataram
Setelah Ki Ageng Pemanahan berhasil membantu Sultan Hadiwijaya mengalahkan Arya Penangsang, Ki Ageng Pemanahan kemudian diberikan sebuah tanah di hutan mentaok yang sekarang merupakan Kotagede, Yogyakarta.
Ki Ageng Pemanahan membangun desa yang makmur dari tanah dan setelah kematiannya, putranya Danang Sutawijaya melanjutkan perannya. Namun, Danang Sutawijaya mulai memberontak terhadap Pajang diakhir masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Namun, Sultan Hadiwijaya memutuskan mundur dari pertempuran, akhirnya Mataram merdeka dari Kesultanan Pajang pada 1586. Setelah pulang dari pertempuran ia sakit dan meninggal dunia.
Singkat cerita, Danang Sutawijaya bersama Pangeran Benowo berhasil mengalahkan Arya Pengiri, namun Pangeran Benowo lebih memilih menjadi penyebar agama Islam. Dikarenakan tidak ada putra mahkota pengganti Pangeran Benowo, Sutawijaya mengambil tindakan dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram tepatnya di Kotagede pada 1587M. Kemudian Danang Sutawijaya mendapat gelar Panembahan Senopati.
Sebagai pendiri dan raja pertama Kesultanan Mataram, Panembahan Senopati menghadapi banyak kendala, terutama berasal dari para Adipati dibawah Kesultanan Pajang di pantai utara Jawa. Mereka terus memberontak karena ingin melepaskan diri dari Pajang dan menjadi kerajaan yang merdeka contohnya Bupati Ponorogo, Madiun, Kediri dan Pasuruan. Namun, Sutawijaya mampu memperluas wilayahnya hingga berhasil menduduki seluruh wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur bahkan Kesultanan Cirebon dan Kerajaan Galuh dapat ditundukkan pada 1559 M.
Daftar para Sultan dari Kesultanan Mataram:
- Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati (1586-1601 M)
- Raden Mas Jolang atau Panembahan Anyakrawati (1601-1613 M)
- Raden Mas Jatmiko/ Rangsang atau Sultan Agung Anyakrakusuma (1613-1645 M)
- Raden Mas Sayyidin atau Amangkurat I (1646-1677 M)
- Raden Mas Rahmat atau Amangkurat ll (1677-1703 M)
- Raden Mas Sutikna atau Amangkurat lll (1703-1705 M)
- Raden Mas Drajat atau Pakubuwana l (1704-1719 M)
- Raden Mas Suryaputra atau Amangkurat lV (1719-1726 M)
- Raden Mas Prabasuyasa atau
Pakubuwana II (1726-1742 M)
- Raden Mas Garendi atau Amangkurat V (1742-1743 M)
- Raden Mas Prabasuyasa atau Pakubuwana II (1745-1749 M)
Setelah Panembahan Senopati wafat tahta beralih ke Panembahan Anyakrawati. Pada masa pemerintahannya, banyak penguasa di Jawa Timur yang ingin merdeka dari Mataram. Mas Jolang berusaha menekan pemberontakan tersebut, namun sebelum usahanya berhasil, ia tewas dalam pertempuran di daerah Krapyak.
Setelah Panembahan Senopati wafat tahta diberikan kepada Raden Mas Wuryah Pangeran Martapura. Namun, Pangeran Martapura tidak jadi naik tahta dikarenakan mengalami keterbelakangan mental sehingga tahta dialihkan ke Raden Mas Jatmiko/ Rangsang. Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyakrakusuma. Pada masa pemerintahannya wilayah kekuasaan Mataram meliputi seluruh Pulau Jawa kecuali Banten dan Batavia.
Selain itu, pada saat Sultan Agung berkuasa ia melakukan penyerbuan sebanyak 2 kali terhadap Batavia yang dikuasai oleh VOC. Penyerbuan pertama pada tahun 1628 yang dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso dan Pangeran Mandurejo dan penyerbuan tahun 1629 yang dipimpin oleh Adipati Ukur. Meskipun kedua penyerbuan itu gagal, namun hal itu membuat VOC tidak berani bermasalah dengan Mataram.
Dalam bidang ekonomi Kesultanan Mataram bergantung pada sektor pertanian dikarenakan wilayahnya berada di pedalaman. Sementara wilayah pesisir pantai Mataram tidak begitu dimanfaatkan. Penarikan pajak dari wilayah penghasil beras membuat perekonomian Kesultanan Mataram berkembang pesat.
Sepeninggal Sultan Agung, tahta jatuh ke tangan Amangkurat l selaku putra dari Sultan Agung. Namun, kepribadian Amangkurat I berkebalikan dengan ayahnya, bahkan ia dikenal sebagai pemimpin yang kejam. Bahkan pada masa pemerintahannya, ia menjalin hubungan dengan VOC. VOC juga diizinkan untuk mendirikan benteng-benteng dipesisir Utara Pulau Jawa. Antara VOC dan Mataram juga saling membebaskan tawanan.
Perjanjian ini ditandatangani pada tanggal 24 September 1646 dan disambut baik oleh VOC. Tembakan meriam terdengar dari benteng-benteng VOC sebagai bentuk perayaan perdamaian. Bagi Amangkurat I, perjanjian ini merupakan bukti bahwa VOC telah tunduk pada kekuasaan Mataram. Para pejabat senior yang hidup pada masa pemerintahan Sultan Agung jelas menentang apa yang dilakukan oleh Amangkurat l.
Pada 1647, Amangkurat l memerintahkan Wiraguna untuk pergi ke daerah Tapal Kuda dengan tujuan untuk mengusir Kerajaan Blambangan. Namun saat Wiraguna jauh dari keluarga dan pendukungnya, Wiraguna dibunuh oleh suruhan Amangkurat l. Setelah membunuh Wiraguna, Amangkurat l kemudian memerintahkan suruhannya untuk membunuh keluarga Wiraguna dibunuh. Alasan Amangkurat l membunuh Wiraguna sebab ia pernah terlibat skandal perselingkuhan dengan istri Wiraguna sewaktu menjadi putra mahkota yakni pada tahun 1637 M.
Mengetahui bahwa rekanya dibunuh pangeran Alit kemudian memberontak, menyerang istana Plered. Serangan itu berhasil dikalahkan dan Pangeran Alit sendiri tewas dalam serangan tersebut. Khawatir akan ancaman baru dari para ulama pendukung Pangeran Alit, Amangkurat I memerintahkan pembantaian para ulama dan keluarganya.
Saat merencanakan pembantaian ini Amangkurat l menginginkan agar dalang dari pembantaian ini tidak diketahui siapapun. Ia kemudian memerintahkan 4 pejabat istana untuk melakukan pembantaian ini, mereka adalah Pangeran Aria, Tumenggung Nataairnawa, Tumenggung Suranata, dan Ngabehi Wirapatra. Mereka disebar kesuluruh wilayah Mataram. Keempatnya diperintahkan untuk bergerak ke empat arah utama untuk melakukan pembantaian ini. Amangkurat juga berpesan agar tidak ada pemuka agama yang luput dari pembantaian ini.
Pembantaian pun di mulai pada tengah hari dengan ditandai tembakan meriam dari Keraton Mataram. Sekitar 5.000-6.000 ulama dan anggota keluarganya terbunuh dalam waktu kurang dari 30 menit. Karena pembantaian tersebut dilakukan pada tengah hari, maka pada waktu itu tidak ada adzan zhuhur. Amangkurat l berusaha menyembunyikan keterlibatannya dalam pembantaian ini
Keesokan harinya dia berpura-pura marah dan terkejut. Dia menuduh ulama sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas kematian Raden Mas Alit dan memaksa delapan pejabat untuk mengaku merencanakan kudeta terhadap Amangkurat l.Kedelapan orang ini dan anggota keluarganya juga dibunuh. Pada tahun 1659, Amangkurat I memerintahkan agar Pangeran Pekik yang merupakan salah satu mertuanya dan keluarganya dibunuh. Hal itu karena Pangeran Pekik berani memperistri seorang gadis bernama Rara Oyi yang akan menjadi selirnya Raden Mas Rahmat.
Atas apa yang dilakukan oleh Amangkurat l, mengakibatkan munculnya pemberontakan yang dipimpin oleh Trunojoyo dari Madura. Pemberontakan ini didukung oleh Raden Mas Rahmat, Karaeng Galesong putra dari Sultan Hasanuddin dari Kesultanan Gowa-Tallo yang sakit hati atas perlakuan Amangkurat l terhadap Sultan Hasanuddin diperintahkan datang ke Mataram sendirian tanpa pasukan layaknya negara bawahan, selain itu Giri Kedaton juga mendukung pemberontakan ini karena sakit hati atas pembantaian ulama yang dilakukan oleh Amangkurat l.
Gabungan dari kekuatan pemberontak berhasil memukul mundur pasukan Mataram dan menguasai Plered sebagai ibukota Mataram. Amangkurat l yang waktu itu sakit keras melarikan diri bersama para pengikutnya ke Banyumas. Namun ia meninggal saat dalam pelariannya. Kemudian Amangkurat l dimakamkan di Tegal.
Raden Mas Rahmat meminta Trunojoyo menyerahkan kekuasaan kepadanya. Namun Trunojoyo menolak permintaan tersebut. Hingga membuat Raden Mas Rahmat marah dan berpihak kepada ayahnya. Setelah ayahnya meninggal Raden Mas Rahmat pun diangkat menjadi Sultan Mataram dengan gelar Amangkurat ll. Untuk menghadapi Trunojoyo Raden Mas Rahmat meminta bantuan VOC. Namun ada beberapa syarat yang diajukan VOC untuk membayar jasanya dengan perjanjian Jepara.
Isi perjanjian Jepara:
- Seluruh biaya perang ditanggung Mataram
- Sebelum Mataram lunas membayar biaya perang, seluruh pelabuhan Mataram diserahkan kepada VOC.
- Seluruh wilayah barat Mataram dari Pamanukan hingga pantai selatan diserahkan kepada VOC.
- VOC mendapatkan hak monopoli perdagangan sutera dan beras di wilayah Mataram.
- VOC berhak menempatkan pasukan di ibukota Mataram.
Perjanjian Jepara sebenarnya lebih menguntungkan pihak VOC, namun Amangkurat ll menyetujuinya karena sangat membutuhkan bantuan dari VOC. Akhirnya gabungan pasukan VOC dapat memukul mundur Trunojoyo dan para pengikutnya dari Plered. Pasukan Trunojoyo terus dipukul mundur hingga akhirnya Trunojoyo menyerah dan dieksekusi mati pada tahun 1680 M oleh Amangkurat ll. Setelah mengeksekusi Trunojoyo kemudian ia memindahkan pusat pemerintahan ke Kartasura.
Kesultanan Mataram terus mengalami pergolakan besar pada masa pemerintahan para Sultan Mataram silih berganti. Pergolakan kerajaan tersebut secara resmi diakhiri dengan Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut membagi Kesultanan Mataram menjadi dua kekuasaan, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat diserahkan kepada Hamengku Buwono I, sedangkan Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Pakubuwono III.
Namun suatu saat akan lahir seorang ulama keturunan bangsawan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang akan mengobarkan perang melawan Belanda yang mengakibatkan terkurasnya kas negara tersebut. Ulama tersebut adalah Pangeran Diponegoro.
Peninggalan Kesultanan Mataram:
* Peninggalan Kesultanan Mataram di Surakarta:
- Benteng Vastenburg
- Pasar Gedhe Hardjonagoro
- Masjid Agung Keraton Surakarta
- Taman Sriwedari
- Keraton Kasunanan Surakarta
* Peninggalan Kesultanan Mataram di Yogyakarta:
- Masjid Agung Gedhe Kauman
- Masjid Kotagede
- Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning
- Pasar Kotagede
- Kompleks Makam Kerajaan Imogiri
- Keraton Kesultanan Yogyakarta
8. Kesultanan Cirebon
Dalam Babad Tanah Sunda dan Carita Purwaka Caruban Nagari dijelaskan bahwa Cirebon awalnya adalah sebuah desa kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Sedikit demi sedikit, kawasan itu berkembang menjadi desa yang hidup dan disebut Caruban artinya campuran karena percampuran para pendatang dari berbagai suku, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian.
Mengingat sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah nelayan, maka usaha penangkapan ikan dan udang kecil yang disebut rebon serta pembuatan terasi, petis dan garam. Istilah air yang digunakan untuk membuat terasi dari udang rebon berkembang menjadi cai-rebon yang berarti air rebon yang kemudian menjadi Cirebon.
Dengan dukungan pelabuhan yang sibuk, kawasan tersebut berkembang menjadi kota besar yang ramai di pantai Utara Pulau Jawa. Sepeninggal Ki Gedeng Tapa, cucunya Walangsungsang mendirikan Keraton Pakungwati dan mendirikan pemerintahan di Cirebon pada tahun 1430 M. Jadi, orang yang dianggap sebagai pendiri Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana.
Setelah menunaikan ibadah haji, ia dikenal sebagai Haji Abdullah Iman dan muncul sebagai sultan pertama Cirebon yang giat menyebarkan Islam kepada rakyatnya. Berkat Haji Abdullah Iman Cirebon pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
Daftar para Sultan dari Kesultanan Cirebon:
- Pangeran Cakrabuana (1430-1479 M)
- Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (1479-1568 M)
- Fatahillah (1568-1670 M)
- Pangeran Emas bergelar Panembahan Ratu l (1570-1649 M)
- Pangeran Rasmi bergelar Panembahan Ratu ll (1649-1677 M)
Kesultanan Cirebon mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati. Pada masa pemerintahannya banyak daerah di Pulau Jawa yang berhasil beliau taklukkan seperti Banten, Sunda Kelapa dan Rajagaluh dengan tujuan kepentingan politik dan penyebaran agama Islam.
Dalam bidang ekonomi, Sunan Gunung Jati memfokuskan pada perdagangan dengan bangsa Campa, Malaka, Cina, India dan Arab. Pada saat Sunan Gunung Jati berkuasa Kesultanan Cirebon berkembang pesat baik dalam bidang agama, ekonomi dan politik. Sepeninggal Sunan Gunung Jati, tahta dilanjutkan oleh Fatahillah namun Fatahillah tidak lama berkuasa.
Pada saat Panembahan Ratu ll berkuasa, Kesultanan Cirebon diapit oleh Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Suatu ketika ia dipanggil oleh Amangkurat l ke Surakarta dan dituduh telah berkomplot dengan Banten untuk menjatuhkan kekuasaan Amangkurat l di Mataram. Kemudian ia diasingkan dan wafat di Surakarta pada 1677 M.
Saat Panembahan Ratu ll wafat terjadi kekosongan kekuasaan di Kesultanan Cirebon yang kemudian diambil alih oleh Mataram. Sikap Mataram tersebut memicu amarah Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten. Kemudian Sultan Ageng Tirtayasa membebaskan putra Panembahan Ratu ll yang juga dalam pengasingan.
Kesultanan Cirebon kemudian terpecah menjadi 3 yakni Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan yang masing-masing berkuasa dan menurunkan kekuasaan pada sultan berikutnya. Perpecahan ini merupakan keruntuhan Kesultanan Cirebon, ditambah VOC yang memperkeruh keadaan dengan politik adu domba.
Peninggalan Kesultanan Cirebon antara lain:
- Keraton Kasepuhan
- Keraton Kanoman
- Keraton Kacirebon
- Masjid Agung Cirebon
- Makam Sunan Gunung Jati
9. Kesultanan Banten
Sebelum Banten menjadi wilayah Muslim, itu milik Kerajaan Pajajaran. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Pajajaran bekerjasama dengan Portugis yang menguasai Malaka saat itu. Dengan kerja sama ini, Pajajaran berharap mendapat bantuan Portugis untuk menghentikan pengaruh Demak yang sudah sampai ke Jawa Barat.
Namun upaya Pajajaran gagal. Portugis yang sudah berada di Sunda Kelapa diusir oleh pasukan gabungan Demak dan Cirebon pimpinan Fatahillah. Situasi yang sama juga terjadi di pelabuhan Banten. Sebelum Portugis bisa dapat menginjakkan kaki di pelabuhan tersebut, Sunan Gunung Jati menguasainya dari Pajajaran. Keberhasilan penaklukan Banten oleh Sunan Gunung Jati tercatat pada tahun 1525-1526.
Sunan Gunung Jati menetap di Banten selama beberapa waktu dan membentuk pemerintahan. Pada tahun 1552, Sunan Gunung Jati memutuskan untuk kembali ke Cirebon dan kekuasaan Banten dialihkan kepada putranya Maulana Hasanuddin. Maulana Hasanuddin kemudian diangkat sebagai Sultan pertama Kesultanan Banten. Banten lambat laun menjadi pusat perdagangan penting bagi para pedagang asing.
Daftar penguasa Kesultanan Banten:
- Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570 M)
- Sultan Maulana Yusuf (1570-1585 M)
- Sultan Maulana Muhammad (1585-1596 M)
- Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1647 M)
- Sultan Abu Al Ma'ali Ahmad (1647-1651 M)
- Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683 M)
- Sultan Abu Nashar Abdul Qahar atau Sultan Haji (1683-1687 M)
- Sultan Abu al-Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690 M)
- Sultan Abu al-Mahasin Muhammad Zainulabidin (1690-1733 M)
- Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin (1733-1750 M)
- Sultan Syarifuddin Ratu Wakil (1750-1752 M)
- Sultan Abu al-Ma'ali Muhammad Wasi (1752-1753 M)
- Sultan Abu al-Nasr Muhammad Arif Zainulasyiqin (1753-1773 M)
- Sultan Aliyuddin l (1773-1799 M)
- Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin (1799-1801 M)
- Sultan Muhammad Ishaq Zainulmuttaqin (1801-1802 M)
(Untuk sementara pemerintahan Kesultanan Banten dipimpin oleh wakil Sultan Pangeran Natawijaya (1802-1803 M))
- Sultan Aliyudin ll (1803-1808 M)
(Untuk sementara pemerintahan Kesultanan Banten dipimpin oleh wakil Sultan Pangeran Suramenggala (1808-1809 M))
- Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin (1809-1813 M)
Pada saat Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa Kesultanan Banten berhasil mencapai puncak kejayaannya. Beberapa hal yang dilakukannya untuk memajukan Kesultanan Banten antara lain:
• Sultan Ageng mengembangkan wilayah Kesultanan Banten hingga hampir separuh wilayah Jawa Barat, Selat Sunda, dan Lampung.
• Memajukan wilayah perdagangan Banten di Sumatera bagian selatan dan pulau Kalimantan.
• Banten dijadikan sebagai pos perdagangan internasional yang mempertemukan para pedagang lokal dengan para pedagang Eropa.
• Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam
• Modernisasi bangunan istana dengan dibantu Lucas Cardeel
• Membentuk armada laut untuk melindungi perdagangan dari kerajaan lain dan serangan pasukan Eropa.
Pada masa pemerintahannya, kekuatan politik dan militer Banten berkembang pesat. Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa dikenal sebagai raja yang sangat menentang pendudukan VOC di Banten. Bahkan VOC berulang kali melobi sultan untuk mendirikan perwakilan di pelabuhan Banten. Namun, Sultan Ageng selalu menolak permintaan tersebut.
Komoditi unggulan Kesultanan Banten adalah lada yang menjadi andalan perdagangan pada masa itu. Pelabuhan Banten sangat populer di kalangan pedagang saat itu. Hal ini karena Kesultanan Banten tidak melakukan monopoli dan membiarkan perdagangan berlangsung secara terbuka.
Menurut catatan sejarah Banten, sultan yang berkuasa merupakan keturunan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sehingga Islam benar-benar menjadi pedoman bagi umat. Meskipun ajaran Islam mempengaruhi sebagian besar aspek kehidupan, masyarakat mempraktikkan toleransi terhadap pemeluk agama lain. Hal ini dapat terlihat pada tahun 1673, dibangun Kelenteng di pelabuhan Banten sebagai simbol kebebasan beragama. Selain itu, banyak orang India, Arab, Cina, Melayu, dan Jawa yang tinggal di Banten.
Keberhasilan Banten menarik perhatian bangsa asing pada masa itu seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda. Kemajuan Banten Cornelis de Houtman menggambarkannya pada tahun 1596 sebagai Amsterdam van Java atau Amsterdam pulau Jawa.
Seperti yang dijelaskan diawal, bahwa Sultan Ageng Tirtayasa sangat menentang pendudukan VOC di Banten. Hal itu membuat VOC melakukan praktik adu domba. Terlebih saat putra mahkota Kesultanan Banten yakni Sultan Haji yang pro terhadap VOC berselisih dengan ayahnya yakni Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1680 M. Perselisihan tersebut akhirnya mengakibatkan perang saudara dikalangan internal kerajaan.
Pada awalnya Sultan Haji mengalami kekalahan, namun ia tidak tinggal diam. Ia kemudian meminta bantuan kepada VOC hingga inggris. VOC kemudian memanfaatkan perselisihan tersebut dengan berpihak kepada Sultan Haji. Kemudian Sultan Haji dan VOC menyatukan kekuatan dan melakukan serangan balasan ke istana.
Akhirnya Sultan Haji berhasil menguasai istana sementara Sultan Ageng Tirtayasa bersama para putra dan putrinya yang setia kepadanya menyelamatkan diri ke pedalaman. Pada 1683 Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan dipaksa kekuasaannya pada Sultan Haji. Kemudian Sultan Ageng Tirtayasa dibuang ke Batavia.
Setelah berhasil menggulingkan ayahnya Sultan Haji kemudian menjadi penguasa Kesultanan Banten. Meskipun demikian, ia harus menyetujui persyaratan yang diajukan oleh VOC melalui perjanjian Banten yang jauh lebih menguntungkan VOC. Sejak saat itu Kesultanan Banten berada dibawah kendali VOC yang berdampak pada penderitaan rakyat.
Kesultanan Banten juga pernah diserap kedalam wilayah Hindia Belanda pada tahun 1808 oleh Daendels dikarenakan Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin menolak perintah dari Daendels untuk memindahkan ibukota ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk pembangunan pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Daendels menyerang dan menghancurkan Istana Surosowan. Kemudian Sultan dan keluarganya disekap dan dipenjarakan di Benteng Speelwijk.
Selain itu Gubernur Jendral Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan pada tanggal 22 November 1808 untuk melepaskan Lampung dari wilayah kesultanan Banten dan keterkaitannya dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), wilayah Lampung dalam surat keputusan tersebut langsung berada di bawah pengawasan Gubernur Jenderal.
Semenjak tahun 1809, Wilayah Kesultanan Banten sudah banyak diotak-atik penjajah Asing dengan pembagian-pembagian wilayah yang meminimalisir kekuatan pengaruh Kesultanan Banten dan untuk memperlemah perlawanan Rakyat Banten yang sering kali terus melawan. Pada saat terjadi peralihan kekuasaan di Nusantara dari Belanda kepada Inggris, diakibatkan kekalahan Napoleon Bonaparte dari Prancis kepada Inggris.
Hingga pada saat inggris berkuasa di Nusantara Kesultanan Banten resmi dihapus, tepatnya pada tahun 1813 Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin dipaksa turun dari tahtanya. Setelah status kesultanan dihapuskan, kemudian diangkatlah Rafiuddin menjadi Sultan Bupati atau Sultan Tituler di wilayah Banten, atau di sebagian penulisan sejarah, Rafiuddin diangkat menjadi Bupati di wilayah Banten Hilir (Wilayah Kabupaten Pandeglang), sedangkan Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin kemudian diangkat menjadi Bupati Banten Hulu (wilayah Kabupaten Serang).
Peninggalan Kesultanan Banten:
- Masjid Agung Banten
- Masjid Kasunyatan
- Benteng Keraton Surosowan
- Masjid Pacinan
- Benteng Speelwijk
- Meriam Ki Amuk
10. Kesultanan Banjar
Sejarah Kesultanan Banjar tidak lepas dari sejarah kerajaan Daha yang merupakan kerajaan Hindu dominan saat itu. Raden Sukarama dari Kerajaan Daha mewariskan tahta kerajaan kepada cucunya Raden Samudera. Namun, putra Raden Sukarama pangeran Tumenggung merebut tahta dan memaksa Raden Samudera melarikan diri dan bersembunyi di hilir Sungai Barito Lantaran nyawanya dalam bahaya.
Dalam pelariannya, Raden membuat kesepakatan dengan komunitas Melayu di Kalimantan. Isi kesepakatan tersebut adalah komunitas Melayu akan melindungi dan membantu Raden Samudera merebut kembali tahta asalkan tidak harus membayar upeti kepada Negara Daha.
Raden Samudera meminta bantuan Kesultanan Demak untuk merebut kembali tahtanya. Sultan Demak menyetujuinya dengan syarat Raden Samudera dan pengikutnya masuk Islam. Setelah sepakat dengan syarat tersebut, peryerbuan pun dilakukan dan Raden Samudera berhasil merebut kembali tahtanya dari Pangeran Tumenggung.
Pada tahun 1526 M Kerajaan Daha berubah menjadi Kesultanan Banjar dengan pusat pemerintahan di Kuin, Banjarmasin. Raden Samudera mengangkat dirinya sebagai sultan dari Kesultanan Banjar dengan gelar Sultan Suriansyah. Meskipun menjadi kesultanan, sistem pemerintahan mengikuti Negara Daha.
Pengaruh Islam di Kesultanan Banjar sangat dominan dan tidak lepas dari pengaruh Khatib Dayan di Kesultanan Demak. Itu terlihat dari peninggalannya berupa tiga masjid yang arsitekturnya mirip dengan Masjid Agung Demak. Ketiga masjid tersebut adalah masjid Kuin, Jami dan Basirih. Selain itu, Sultan Adam adalah hukum yang semuanya berdasarkan hukum Islam
Daftar para sultan Kesultanan Banjar:
- Sultan Suriansyah (1520-1545 M)
- Sultan Rahmatullah (1545-1570 M)
- Sultan Hidayatullah (1570-1595 M)
- Sultan Mustain Billah (1595-1642 M)
- Sultan Inayatullah (1636/1642-1647 M)
- Sultan Saidullah (1647-1660 M)
- Sultan Ri'ayatullah (1660-1663 M)
- Sultan Amirullah Bagus Kesuma (1663-1679 M)
- Sultan Agung/ Pangeran Suryanata II (1663-1679 M)
- Sultan Tahlilullah (1679-1708 M)
- Sultan Tahmidullah I (1708-1717 M)
- Panembahan Kusuma Dilaga (1717-1730 M)
- Sultan Hamidullah (1730-1734 M)
- Sultan Tamjidullah l (1734-1759 M)
- Sultan Muhammadillah (1759-1761 M)
- Sultan Tahmidullah II (1761-1801 M)
- Sultan Sulaiman al-Mutamidullah (1801-1825 M)
- Sultan Adam Al-Watsiq Billah (1825-1857 M)
- Sultan Tamjidullah II al-Watsiqu Billah (1857-1859 M)
- Pangeran Antasari (1859-1862 M)
- Sultan Muhammad Seman (1862-1905 M)
- Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah (2010-Sekarang) <-- dihidupkan kembali sebagai simbol adat dan menjadi Bupati Banjar ke 16.
Pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah Kesultanan Banjar berhasil mencapai puncak kejayaannya. Pada masa inilah wilayah Kesultanan Banjar meliputi Sambas, Lawai, Sukadana, Kotawaringin, Pembuang, Sampit, Mendawai, Kahayan Hilir, Kahayan Hulu, Kutai, Pasir, Pulau Laut, Satui, Asam Asam, Kintap, dan Swarangan.
Ketika Sultan Mustain Billah berkuasa, Kesultanan Banjar tidak lagi memberikan upeti kepada Kesultanan Demak ketika Kesultanan Demak dialihkan ke Kesultanan Pajang. Selain itu, ketegangan antara Kesultanan Banjar dan Mataram perlahan mulai membaik.
Kehidupan ekonomi Kesultanan Banjar mulai berkembang pesat saat memasuki abad ke-16 dan ke-17 M. Banjarmasin yang menjadi pusat pemerintahan menjadi kota perdagangan penting yang berdampak pada kesejahteraan rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan posisi Kalimantan Selatan sebagai jalur perdagangan yang sangat strategis.
Komoditas utama dari Kesultanan Banjar adalah lada hitam, madu, rotan, emas, intan, damar, dan kulit binatang. Komoditas ini bahkan bisa diekspor ke luar negeri. Pada awal abad ke-17 M, Kerajaan Banjar juga terkenal dengan pembuatan kapal dan senjata seperti kapak, cangkul, golok, dan lain sebagainya.
Pada puncak Kesultanan Banjar juga terdapat seorang ulama besar bernama Muhammad Arsyad Abdullah al-Banjari. Dia dikirim untuk belajar di Mekah dan Madinah selama beberapa tahun. Setelah kembali ke Nusantara, Muhammad Arsyad Abdullah Al-Banjari mengajarkan Islam kepada Banjar. Ia juga menulis sebuah buku terkenal, yakni Sabil Al-Muhtadin dan Khaz Al-Ma'rifah.
Pada abad ke 18, terjadi perpindahan kekuasaan dari Sultan Tamjidullah l kepada Sultan Tahmidullah II. Hal tersebut berakibat pada perpecahan di kalangan internal Kesultanan. Karena Sultan Tamjidullah awalnya hanyalah seorang mangkubumi yang bertindak sebagai wali putra mahkota Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah atau Sultan Muhammadillah.
Kemudian Putra Sultan Muhammadillah Pangeran Amir meminta pamannya Arung Tarawe untuk menyerang Kesultanan Banjar dengan pasukan Bugis. Untuk mempertahankan tahtanya, Sultan Tamidullah II meminta bantuan VOC. Namun, pasukan Bugis berhasil dikalahkan. Meskipun demikian kesepakatan yang dibuat dengan VOC merusak adat kesultanan.
Pada tahun 1857, Belanda secara sepihak mengangkat Sultan Tamjidullah II al-Watsiq Billah sebagai raja. Hal ini juga ditentang oleh kerabat Kesultanan Banjar, karena Sultan Tamjidullah II adalah anak seorang selir sehingga dianggap tidak layak menjadi pewaris tahta. Padahal Pangeran Hidayatullah yang seharusnya mewarisi tahta masih hidup. Akibatnya Sultan Tamjidullah II melarikan diri dan terjadi kekosongan tahta yang kemudian diisi oleh residen Belanda von Bertheim.
Pangeran Hidayatullah mempercayakan Pangeran Antasari untuk mengumpulkan pasukan melawan Belanda selama perjalanannya. Namun beberapa kali upaya perlawanan gagal, sehingga Pangeran Hidayatullah diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Dengan demikian, Pangeran Antasari ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi perlawanan dan Sultan dari Kesultanan Banjar.
Pada tahun 1859 terjadi Perang Banjar. Pangeran Antasari dan 300 tentaranya menyerang tambang batu bara Belanda. Pangeran Antasari terus menyerang Belanda dengan bantuan para panglima dan pengikutnya.Meski berulang kali dibujuk Belanda untuk menyerah, Pangeran Antasari tetap teguh. Bahkan Belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa saja yang bisa membunuh Pangeran Antasari.
Pada tahun 1862, Pangeran Antasari gugur dalam pertempuran dan digantikan oleh Sultan Seman yang terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Namun, Sultan Seman gugur dalam pertempuran pada tahun 1905, mengakhiri sejarah Kesultanan Banjar.
Peninggalan Kesultanan Banjar antara lain:
- Makam Sultan Suriansyah
- Makam Sultan Mustain Billah
- Makam Sultan Inayatullah
- Masjid Jami Banjarmasin
- Masjid Kuin
11. Kesultanan Gowa-Tallo
Awalnya ada sembilan komunitas di wilayah Gowa yang dikenal dengan nama Bate Salapang atau Sembilan Bendera yakni Tambolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data, Agangjene, Bisei, Kalili, dan Sero. Dengan berbagai cara, baik damai maupun paksa, kesembilan komunitas tersebut membentuk Kerajaan Gowa pada tahun 1300 M dengan Tomanurung sebagai rajanya. Kerajaan Gowa pada mulanya masih menganut animisme.
Kerajaan Gowa pernah terbagi menjadi dua bagian setelah pemerintahan Tonatangka Lopi pada abad ke-15. Kedua putra Tonatangka Lopi, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero, memperebutkan tahta sehingga menyebabkan perang saudara. Setelah mengalahkan Batara Gowa, Karaeng Loe ri Sero mundur ke muara Sungai Tallo dan mendirikan Kerajaan Tallo. Selama bertahun-tahun, kedua kerajaan bersaudara ini tidak pernah akur.
Hingga akhirnya Gowa dan Tallo bersatu berdasarkan kesepakatan "dua raja tetapi satu rakyat" pada tahun 1665. Setelah penggabungan tersebut, kerajaan tersebut dinamakan Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar dengan sistem pembagian kekuasaan. Raja dipilih dari keluarga Gowa, sedangkan perdana menteri dari keluarga Tallo.
Saat Gowa-Tallo berkembang menjadi pusat perdagangan di wilayah timur Nusantara, para pedagang Muslim mulai berdagang di daerah tersebut. Singkat cerita pada abad ke 16 raja Kerajaan Gowa saat itu I Mangerangi Daeng Manrabbia masuk Islam ditangan Dato' Ri Bandang dan mengubah namanya Sultan Alauddin atas saran dari Dato' Ri Bandang. Sejak saat itu Kerajaan Gowa-Tallo berubah menjadi Kesultanan Gowa-Tallo.
Daftar raja Kerajaan Gowa:
- Tomanurung Bainea
- Tumassalangga Barayang
- I Puang Loe Lembang
- I Tuniata Banri
- Karampang ri Gowa
- Tunatangka' atau Tunarangka' Lopi
- Batara Gowa Tuniawanga ri Parallakkenna
- I Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
- I Daeng Matanre Karaeng Manguntungi
- Tumapa'risi' Kallonna
- I Mariogau Daeng Bonto Karaeng
- Lakiyung Tunipalangga
- I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta
- I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo'
- I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tunipasulu'
Daftar para Sultan dari Kesultanan Gowa-Tallo:
- Sultan Alauddin l (1593-1639 M)
- Sultan Malikussaid (1639-1653 M)
- Sultan Hasanuddin (1653-1669 M)
- Sultan Amir Hamzah (1669-1674 M)
- Sultan Mohammad Ali (1674-1677 M)
- Sultan Abdul Jalil (1677-1709 M)
- Sultan Ismail Muhtajuddin (1709-1711 M)
- Sultan Sirajuddin (1712 dan 1735 M)
- Sultan Najamuddin
- Sultan Abdul Chair (1735-1742 M)
- Sultan Abdul Kudus (1742-1753 M)
- Sultan Maduddin (1747-1795 M)
- Sultan Zainuddin (1767-1769 M)
- Sultan Abdul Hadi (1769-1778 M)
- Sultan Abdul Rauf (1778-1810 M)
- Sultan Muhammad Zainal Abidin (1825-1826 M)
- Sultan Abdul Kadir Aididin (1826-1893 M) - Sultan Muhammad Idris (1893-1895 M)
- Sultan Muhammad Husain (1895-1906 M)
- Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin (1906-1946 M)
- Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin (1956-1978 M)
- Sultan Alauddin II (2011-2020 M)
- Andi Kumala Andi Idjo (2020-sekarang)
Atas perintah Sultan Alauddin Kesultanan Gowa-Tallo memperluas wilayahnya ke Bone, Wajo dan Soppeng dengan usaha yang keras. Setelah Sultan Alauddin meninggal tahta beralih ke tangan Sultan Malikussaid.
Kesultanan Gowa-Tallo mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin mendapat julukan Ayam Jantan dari Timur. Pada masa kejayaannya, Kesultanan Gowa-Tallo dikenal sebagai Negara Maritim dan menjadi pusat perdagangan di kawasan timur Indonesia.
Banyak kapal dagang yang mengunjungi pelabuhan Sombaopu sehingga menjadikan pelabuhan tersebut sebagai pelabuhan transit yang maju. Ramainya pengunjung juga karena letaknya yang berada di tengah-tengah Maluku, Jawa, Kalimantan, dan Malaka. Selain itu, jatuhnya Malaka ke tangan Portugis dan kejatuhan Maluku ke tangan Belanda menyebabkan banyak pedagang pindah ke Makassar.
Struktur sosial masyarakat Makassar terdiri dari bangsawan yang disebut karaeng, orang biasa yang disebut maradeka, dan budak yang disebut atoi. Perkembangan kerajaan di bidang sosial pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam, sehingga banyak santri yang belajar agama Islam di Banten.
Namun semua kejayaan itu tak bertahan lama. Kejadian bermula ketika VOC datang ke Makassar yang berusaha memonopoli perdagangan dan membujuk agar Makassar tidak menjual beras kepada Portugis. Sultan Hasanuddin yang anti terhadap pengaruh asing langsung menolak permintaan VOC tersebut.
Mengetahui permintaannya ditolak, VOC marah yang berakibat pada Perang Makassar pada 1666 M. Berkali-kali VOC menyerbu Kesultanan Gowa-Tallo namun selalu mengalami kegagalan hingga membuat posisinya terdesak. Tahu bahwa posisinya terdesak, VOC kemudian mengadu domba Kesultanan Bone yang merupakan bawahan Kesultanan Gowa-Tallo dengan Kesultanan Gowa-Tallo.
Taktik VOC tersebut berhasil, VOC dan penguasa Bone waktu itu yakni Arung Palakka berhasil menghancurkan Makassar. Akhirnya Kesultanan Gowa-Tallo dapat ditundukkan. Sultan Hasanuddin dipaksa untuk menyerah dan menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 yang sangat merugikan Kesultanan Gowa-Tallo namun Sultan Hasanuddin harus tetap menerima isi perjanjian tersebut.
Setelah menandatangani perjanjian tersebut Sultan Hasanuddin digantikan oleh Sultan Amir Hamzah. Perjanjian Bongaya ini merupakan awal kemunduran dari Kesultanan Gowa-Tallo. Pasalnya, para sultan setelah Sultan Hasanuddin bukanlah sultan yang mandiri dalam menentukan politik negara.
Peninggalan Kesultanan Gowa-Tallo:
- Benteng Sumba Opu
- Benteng Rotterdam
- Balla Lompoa
- Kompleks Pemakaman Raja Gowa dan Tallo
- Masjid Tua Katangka
- Makam Syekh Yusuf Tajul Khalwati
12. Kesultanan Ternate
Ternate dikenal sebagai penghasil rempah-rempah sejak zaman dahulu, sehingga penduduknya banyak berhubungan dengan pedagang Arab, Melayu, atau Cina. Sejarah berdirinya Kerajaan Ternate berawal dari adanya empat desa yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala marga yang disebut Momole. Keempat desa tersebut kemudian bersepakat untuk membentuk sebuah kerajaan raja dan rakyatnya masih menganut animisme.
Seiring dengan maraknya perdagangan, ancaman bajak laut semakin mengkhawatirkan. Setelah dipertimbangkan setuju untuk menunjuk Momole Ciko sebagai raja mereka pada 1257 M dengan gelar Baab Manshur Malamo. Hikayat Ternate menyebutkan bahwa pada saat Kolano Marhum berkuasa, seorang ulama Jawa yang alim bernama Maulana Husein datang dan mengajarinya membaca Alquran dan menulis huruf Arab. Hal ini semakin menambah ketertarikan raja, keluarga kerajaan, dan penduduk Ternate untuk masuk Islam.
Kolano Marhum menjadi raja Ternate pertama yang memeluk Islam, sedangkan putranya Zainal Abidin yang memerintah dari tahun 1486 hingga 1500 M mulai menegakkan syariat Islam. Setelah menjadi kesultanan raja yang bergelar Kolano berubah menjadi sultan.
Daftar para raja Kerajaan Ternate:
- Baab Mashur Malamo (1257 - 1277 M)
- Jamin Qadrat (1277 - 1284 M)
- Komala Abu Said (1284 - 1298 M)
- Bakuku (Kalabata) (1298 - 1304 M)
- Ngara Malamo (Komala) (1304 - 1317 M)
- Patsaranga Malamo (1317 - 1322 M)
- Cili Aiya (Sidang Arif Malamo) (1322 - 1331 M)
- Panji Malamo (1331 - 1332 M)
- Syah Alam (1332 - 1343 M)
- Tulu Malamo (1343 - 1347 M)
- Kie Mabiji (Abu Hayat I) (1347 - 1350 M)
- Ngolo Macahaya (1350 - 1357 M)
- Momole (1357 - 1359 M)
- Gapi Malamo I (1359 - 1372 M)
- Gapi Baguna I (1372 - 1377 M)
- Komala Pulu (1377 - 1432 M)
- Marhum (Gapi Baguna II) (1432 - 1486 M)
Daftar para Sultan dari Kesultanan Ternate:
- Sultan Zainal Abidin (1486 - 1500 M)
- Sultan Bayanullah (1500 - 1521 M)
- Sultan Abu Hayat II (1521 - 1529 M)
- Sultan Hidayatullah atau Sultan Dayalu (1529 - 1533 M)
- Sultan Tabariji (1533 - 1534 M)
- Sultan Khairun Jamil (1535 - 1570 M)
- Sultan Baabullah Datu Syah (1570 - 1583 M)
- Sultan Said Barakat Syah (1583 - 1606 M)
- Sultan Mudaffar Syah I (1607 - 1627 M)
- Sultan Hamzah (1627 - 1648 M)
- Sultan Mandarsyah (1648 - 1650) dan (1655 - 1675 M)
- Sultan Manila (1650 - 1655 M)
- Sultan Sibori (1675 - 1689 M)
- Sultan Said Fatahullah (1689 - 1714 M)
- Sultan Amir Iskandar Zulkarnain Syaifuddin (1714 - 1751 M)
- Sultan Ayan Syah (1751 - 1754 M)
- Sultan Syah Mardan (1755 - 1763 M)
- Sultan Jalaluddin (1763 - 1774 M)
- Sultan Harunsyah (1774 - 1781 M)
- Sultan Achral (1781 - 1796 M)
- Sultan Muhammad Yasin (1796 - 1801 M)
- Sultan Muhammad Ali (1807 - 1821 M)
- Sultan Muhammad Sarmoli (1821 - 1823 M)
- Sultan Muhammad Zain (1823 - 1859 M)
- Sultan Muhammad Arsyad (1859 - 1876 M)
- Sultan Ayanhar (1879 - 1900 M)
- Sultan Muhammad Ilham atau Kolano Ara Rimoi (1900 - 1902 M)
- Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1902 - 1915 M)
- Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah (1929 - 1975 M)
- Sultan Haji Mudaffar Syah II (1975 – 2015 M)
- Sultan Syarifuddin Syah (2015-2019 M)
- Sultan Hidayatullah Syah bin Mudaffar Syah (2021-sekarang)
Kesultanan Ternate pernah mengalami perang saudara antara dua faksi kesultanan, Ternate dan Tidore. Perang ini berlangsung sekitar 150 tahun dan berakhir pada tahun 1654 setelah Perjanjian Batu Angus. Kesultanan Ternate juga pernah menjalin hubungan dengan negara-negara seperti Portugis, Belanda dan Inggris. Namun hubungan ini tidak selalu berjalan mulus dan sering muncul konflik.
Kerajaan Ternate berkembang pesat pada abad ke-15, terutama dalam perdagangan dan pelayaran berkat melimpahnya rempah-rempah. Namun stabilitas kerajaan terancam ketika Portugis mulai memasuki tanah Ternate. Portugis mendirikan Benteng Sao Paolo di Ternate dan melakukan monopoli perdagangan disana. Portugis juga Menggunakan misi tersebut sebagai kedok upaya mereka untuk melemahkan Ternate, beberapa kerajaan kecil yang sudah masuk katolik didorong untuk melawan Ternate, dan orang-orang Muslim di kerajaan kecil tersebut dipaksa untuk pindah agama.
Mengetahui apa yang dilakukan Portugis jelas Sultan Khairun Jamil marah. Kemudian Kerajaan-kerajaan kecil yang memberontak itu satu persatu berhasil dikalahkan, selain itu Sultan Khairun juga mengirimkan beberapa armadanya untuk membantu Demak dan Aceh menyerang Portugis di Malaka. Benteng tempat kedudukan gubernur Portugis di Ternate dikepung sementara posisi Portugis di tempat lain diserang.
Sultan Khairun sengaja menahan diri untuk tidak menghancurkan pusat Portugis Maluku di Ternate, dengan harapan Portugis menyadari kesalahannya dan berdamai dengan Ternate. Namun Portugis tetap batu dan akhirnya kedudukan Portugis di Maluku berhasil dipukul mundur.
Kesultanan Ternate dan pasukan Portugis menandatangani perjanjian damai pada tanggal 27 Februari 1570. Perjanjian ini dibuat setelah perang yang dimenangkan oleh kedua belah pihak secara bergantian. Portugis diwakili oleh oleh Lopez de Mesquita sebagai Gubernur Portugis. Pada saat yang sama, Kesultanan Ternate diwakili oleh Sultan Khairun.
Namun saat menghadiri perjanjian tersebut Sultan Khairun Jamil dan beberapa pengawalnya dibunuh oleh Portugis atas perintah dari Lopez de Mesquita. Hal itu dilakukan agar rakyat Maluku Putus Harapan dan terpecah belah, namun Portugis salah besar justru akan mendatangkan malapetaka bagi Portugis di Maluku.
Sepeninggal Sultan Khairun Jamil tahta beralih ke tangan Sultan Baabullah Datu Syah. Mengetahui ayahnya telah dibunuh oleh Portugis Sultan Baabullah Datu Syah bersama rakyatnya menyerang Portugis dan berhasil mengalahkannya pada 1577 M. Akhirnya Portugis menepi dan mendirikan koloni di Timor Leste pada 1702.
Pada pemerintahan Sultan Baabullah Kesultanan Ternate berhasil mencapai puncak kejayaannya. Pada masa pemerintahannya wilayah Kesultanan Ternate meliputi Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Timur, Sulawesi Tengah, bagian selatan Kepulauan Filipina, bahkan sampai Kepulauan Marshall di Pasifik. Atas pencapaiannya tersebut Sultan Baabullah mendapat gelar Yang Dipertuan di 72 pulau artinya Penguasa 72 Pulau.
Kesultanan Ternate dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan lada dengan negara-negara Eropa seperti Portugal, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Para pedagang Eropa ini membawa barang-barang seperti kain, kaca, dan logam dari Eropa dan menukarnya dengan rempah-rempah yang diproduksi oleh Kesultanan Ternate. Hal ini membuat Kesultanan Ternate menjadi salah satu Kesultanan terkaya saat itu.
Selain itu, Kesultanan Ternate juga dikenal sebagai pusat pembuatan kapal dan kerajinan tangan seperti kain tenun dan ukiran kayu. Namun setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Kesultanan Ternate kehilangan kekuasaannya dan perdagangan rempah-rempah tidak lagi menjadi sumber ekonomi yang penting. Saat ini perekonomian Kerajaan Ternate lebih terfokus pada sektor pariwisata dan pertanian, khususnya padi dan kelapa.
Sepeninggal Sultan Baabullah, Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Said Barakat Syah. Tak lama kemudian Spanyol berani menyerang dan berhasil merebut Benteng Gamulamu pada tahun 1606 M. Kehidupan politik Kesultanan Ternate semakin kacau ketika VOC datang dan memenangkan persaingan dengan negara barat lainnya. Sejak saat itu VOC memiliki hak monopoli dagang dan mulai membangun benteng di Ternate. Pada akhir abad ke-17, Kesultanan Ternate berada dibawah kendali VOC secara sepenuhnya.
Peninggalan Kesultanan Ternate:
- Istana Kesultanan Ternate
- Masjid Jami Kesultanan Ternate
- Kompleks pemakaman Sultan Ternate
- Benda-benda peninggalan di Museum Kesultanan Ternate (alat-alat perang, singgasana raja, Al-Qur'an tulisan tangan raja)
- Benteng Tolukko
13. Kesultanan Tidore
Menurut tradisi sejarah, keempat kerajaan di Maluku Utara, termasuk Ternate dan Tidore, memiliki akar yang sama. Raja pertama Tidore, Syahjat atau Muhammad Naqil, yang naik tahta pada tahun 1081 M, adalah saudara dari Mashur Malamo, raja pertama Kerajaan Ternate.
Sejak berdirinya pada tahun 1081 hingga pemerintahan raja keempat, agama dan pusat kekuasaan Kesultanan Tidore tidak dapat ditentukan. Hingga masa pemerintahan Kolano Balibunga, sumber sejarah Kesultanan Tidore mulai sedikit terungkap keberadaannya. Bahkan, Kesultanan Tidore telah mengalami beberapa kali pergantian ibukota kerajaan karena berbagai alasan. Ibukota terakhir berada di Limau Timore, kemudian berganti nama menjadi Soa-Sio hingga saat ini.
Daftar Sultan dari Kesultanan Tidore:
- Kolano Syahjati atau Muhammad Naqil bin Jaffar Assidiq
- Kolano Bosamawange Kolano Syuhud atau Subu
- Kolano Balibunga
- Kolano Duko adoya
- Kolano Kie Matiti
- Kolano Seli
- Kolano Matagena
- Kolano Nuruddin (1334-1372 M)
- Kolano Hasan Syah (1372-1405 M)
- Sultan Ciriliyati atau Djamaluddin (1495-1512 M)
- Sultan Al Mansur (1512-1526 M)
- Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain (1526-1535 M)
- Sultan Kiyai Mansur (1535-1569 M)
- Sultan Iskandar Sani (1569-1586 M)
- Sultan Gapi Baguna (1586-1600 M)
- Sultan Mole Majimo atau Zainuddin (1600-1626 M)
- Sultan Ngora Malamo atau Alauddin Syah (1626-1631 M)
- Sultan Saiduddin (1631-1642 M)
- Sultan Saidi (1642-1653 M)
- Sultan Mole Maginyau atau Malikiddin (1653-1657 M)
- Sultan Saifuddin atau Jou Kota (1657-1674 M)
- Sultan Hamzah Fahruddin (1674-1705 M) - Sultan Abdul Fadhlil Mansur (1705-1708 M)
- Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia (1708-1728 M)
- Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan (1728-1757 M)
- Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin (1757-1779 M)
- Sultan Patra Alam (1780-1783 M)
- Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar (1784-1797 M)
- Sultan Nuku (1797-1805 M)
- Sultan Zainal Abidin (1805-1810 M)
- Sultan Motahuddin Muhammad Tahir (1810-1821 M)
- Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah (1821-1856 M)
- Sultan Achmad Syaifuddin Alting (1856-1892 M)
- Sultan Achmad Fatahuddin Alting (1892-1894 M)
- Sultan Achmad Kawiyuddin Alting atau Shah Juan (1894-1906 M)
- Sultan Zainal Abidin Syah (1947-1967 M)
- Sultan Djafar Syah (1999-2012)
- Sultan Husain Syah (2012-sekarang)
Setelah Sultan Djamaluddin meninggal, tahta beralih ke tangan Sultan Al Mansur. Pada masa pemerintahan Sultan Al Mansur wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore berkembang ke wilayah selatan pulau Halmahera dan kawasan Papua bagian barat.
Pada masa inilah pengaruh asing masuk ke Maluku Utara. Pada tahun 1521, Sultan Al Mansur menjadikan Spanyol sebagai sekutu untuk mengimbangi Kesultanan Ternate yang sebelumnya bersekutu dengan Portugis. Spanyol menarik diri pada tahun 1663 ketika Portugal memprotes pelanggaran Perjanjian Tordesillas.
Dengan absennya Spanyol, Tidore menjadi sasaran VOC. Pada 1667 M Sultan Saifuddin dilakukan perjanjian dengan VOC untuk mencegah kerugian dan kerusakan, isi perjanjian tersebut adalah:
- VOC mengakui hak-hak dan kedaulatan Kesultanan Tidore atas Kepulauan Raja Ampat dan Papua daratan.
- Kesultanan Tidore memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah dalam wilayahnya kepada VOC.
Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Pada masa pemerintahannya Kesultanan Tidore berhasil menguasai pulau Halmahera, Buru, Seram dan sebagian besar pulau di lepas pantai barat Papua.
Sultan Nuku juga dikenal sebagai Sultan yang paling bersungguh-sungguh dalam melawan Belanda. Sultan Nuku bahkan mampu menyatukan Ternate dan Tidore untuk melawan Belanda, dibantu oleh Inggris. Bertahun-tahun ia berusaha mengusir penjajah dari seluruh Maluku. Akhirnya Belanda menyerah pada 21 Juni 1801 M. Dengan demikian, daerah Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo kembali merdeka dari pemerintah asing.
Rakyatnya memandang Sultan Nuku sebagai sosok yang mampu mengubah masa lalu kelam Maluku menjadi era baru, penuh kemauan dan kemampuan untuk bangkit dari segala keterikatan dan ketertindasan. Pada masa pemerintahan Sultan Nuku juga, Kesultanan Tidore menjadi sangat besar dan disegani seluruh wilayah, termasuk bangsa Eropa.
Sistem pemerintahan Kesultanan Tidore dulunya terdiri dari tiga bagian, yaitu raja, bangsawan, dan rakyat jelata. Raja Tidore memiliki kekuasaan tertinggi dan dikelilingi oleh sekelompok bangsawan yang memegang jabatan penting dalam pemerintahan seperti pimpinan militer, menteri dan pejabat lainnya. Rakyat biasa diperintah oleh bangsawan dan raja, tetapi mereka memainkan peran penting dalam ekonomi dan infrastruktur.
Selain itu, Kesultanan Tidore menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Maluku dan negara-negara Eropa. Hubungan ini dilakukan melalui perjanjian dagang dan kerjasama politik dengan kerajaan lain, serta melalui perdagangan rempah-rempah dengan negara-negara Eropa
Kesultanan Tidore dikenal sebagai pusat penting perdagangan rempah-rempah di wilayah Maluku. Rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan kapulaga merupakan produk utama yang diperdagangkan antara Kesultanan Tidore dengan negara-negara Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Dalam perdagangan rempah-rempah, Kesultanan Tidore bersaing dengan Kesultanan Ternate yang juga kaya akan rempah.
Selain perdagangan rempah-rempah, Kesultanan Tidore juga kaya akan sumber daya alam seperti emas, perak, kayu cendana, dan mutiara. Kesultanan Tidore juga mengembangkan pertanian, perikanan, dan kerajinan tangan sebagai sumber mata pencaharian masyarakatnya.
Di bidang pertanian, masyarakat Tidore dikenal sebagai petani yang ahli dalam menanam padi, jagung, singkong dan sayuran. Di bidang perikanan, masyarakat Tidore hidup dengan menangkap ikan di laut dan juga budidaya ikan ditambak. Kerajinan tangan seperti anyaman, tenun ikat, dan kerajinan kayu juga menjadi sumber mata pencaharian mata pencaharian masyarakat Tidore.
Dalam perdagangan rempah-rempah dan sumber daya alam lainnya Kesultanan Tidore menggunakan sistem barter dengan negara eropa, namun sistem barter kemudian ditinggalkan kemudian Kesultanan Tidore menggunakan sistem uang sebagai alat tukar barang. Kesultanan Tidore mulai menggunakan emas, perak, dan koin yang dikeluarkan oleh negara-negara Eropa.
Sepeninggal Sultan Nuku pada tahun 1805 Tidore kembali diincar oleh Belanda karena kekayaannya. Keadaan ini didukung oleh kondisi Kerajaan Tidore yang Terus-Menerus dalam konflik internal. Kemudian, Kerajaan Tidore jatuh ke tangan Belanda dan bergabung dengan Republik Indonesia saat Indonesia merdeka.
Peninggalan Kesultanan Tidore:
- Istana Kerajaan Tidore (Kadato Kie)
- Masjid Sultan Tidore
- Benteng Torre
- Benteng Tahula
G. Pengaruh agama Islam terhadap kehidupan masyarakat Indonesia
1. Pemerintahan
Sebelum Islam masuk ke Indonesia masih banyak kerajaan Hindu-Budha dengan kebijakan politik yang berbeda. Salah satunya adalah bentuk dinasti dalam suatu kerajaan berdasarkan garis keturunan seorang raja.
Setelah Islam masuk ke Indonesia, kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha digantikan oleh kesultanan-kesultanan Islam. Dalam Kesultanan di Indonesia menggunakan gelar sunan, sultan, susuhunan, panembahan, dan maulana. Dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak hanya namanya yang berubah, tetapi juga beberapa model pemerintahan berubah sesuai ajaran Islam.
2. Sosial Kemasyarakatan
Pada masa Hindu-Budha masyarakat Indonesia menganut sistem kasta namun setelah Islam masuk ke Indonesia sistem kasta mulai pudar. Pengaruh lain yakni adanya penggunaan nama khas Arab seperti Muhammad, Ali hingga Hasan digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Sebelum Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia menggunakan kalender Hindu yang disebut kalender sakka. Namun, pada masa Sultan Agung Mataram diciptakan kalender Jawa menggunakan tahun Hijriyah.
3. Pendidikan
Masuknya agama Islam ke Indonesia berpengaruh terhadap munculnya pesantren atau lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Bahkan hingga saat ini, pendidikan dalam bentuk pondok pesantren masih banyak dijumpai di berbagai tempat di seluruh Indonesia. Contohnya Pesantren Alkahfi Somalangu, yang terletak di Sumberdadi, Kebumen, Jawa Tengah yang berdiri pada Rabu, 4 Januari 1475 M atau 25 Sya’ban 879 H oleh Sayid as-Syekh Muhammad 'Ishom al-Hasani.
4. Arsitektur dan Kesenian
Islam memperkenalkan tradisi baru pada arsitektur di Indonesia, yaitu pembangunan masjid dan istana. Arsitektur masjid yang dibangun di Indonesia menggunakan atap berundak dan jumlahnya selalu ganjil.
Islam juga mengenalkan seni kaligrafi, yaitu melukis bentuk-bentuk indah berupa kata-kata atau kalimat. Kaligrafi ini diukir pada berbagai bahan seperti dinding masjid, batu nisan, kain tenun, kayu dan yang paling sederhana adalah kertas.
Dalam seni tari, unsur Islam mempengaruhi tarian yang ada. Misalnya tari Seudati dari Aceh dengan syair sholawat nabi. Tak ketinggalan wayang yang digunakan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga untuk mendakwahkan kisah-kisah Islami.
6. Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab dapat menyebar lebih cepat. Hampir semua lapisan masyarakat, tidak peduli bangsawan atau rakyat biasa bisa mempelajari bahasa Arab tidak seperti bahasa sansekerta yang hanya bisa dipelajari oleh para brahmana saja.
Perkembangan bahasa Arab di Indonesia juga dibarengi dengan beberapa karya sastra yang indah dan menarik yang berkembang pada masa Kesultanan dalam berbagai bentuk hikayat, babad, syair dan suluk. Contohnya Babad Tanah Jawi, Hikayat 1001 Malam, Suluk Sukarsa dan sebagainya.
7. Adat istiadat
Adat istiadat yang berkembang di Indonesia sangat dipengaruhi oleh budaya Islam. Namun, beberapa budaya yang ada tetap dilestarikan dengan modifikasi yang sejalan dengan ajaran Islam. Hal ini kemudian menyebabkan terjadinya akulturasi budaya Islam dengan budaya sebelumnya. Contohnya pengucapan salam dan doa yang diucapkan saat melakukan tradisi atau acara tertentu di Indonesia, halalbihalal, kupatan, Sekaten dan masih banyak lagi.
8. Ekonomi
Beberapa pengaruh budaya Islam dalam bidang ekonomi dan perdagangan tampak pada kewajiban membayar zakat, sedekah, dan menyantuni anak yatim.
Penulis : Maulana Aditia
Komentar
Posting Komentar