Pandangan agama terhadap filsafat


Eksistensi filsafat sebagai suatu disiplin ilmu tampaknya telah dipertanyakan selama lebih dari 20 tahun. Ada banyak pendapat yang menjelaskan apa itu filsafat, namun pendapat tersebut tidak memuaskan semua orang. Faktanya, banyak orang yang menganggap filsafat adalah sesuatu yang serba rahasia, misterius dan aneh. Lalu apa yang dimaksud dengan filsafat? Bagaimana perkembangannya? Bagaimana pandangan agama terhadap filsafat? Itu semua akan dibahas disini.

A. Pengertian filsafat
Istilah "filsafat" berasal dari Bahasa Yunani, yaitu "philosophia", yang merupakan gabungan dari kata "philo" yang berarti 'cinta dalam arti yang luas', dan "sophia" yang berarti 'kebijakan atau pandai'. Filsafat adalah ilmu yang berfokus pada pemahaman hakikat segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk keberadaan, alasan, pengetahuan, nilai, pemikiran, dan bahasa.

Beberapa ahli mengartikan filsafat sebagai ilmu yang berusaha mencari alasan mendalam atas segala sesuatu berdasarkan pemikiran belaka. Filsafat juga dapat diartikan sebagai sikap seseorang yang sadar dan matang untuk memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan melihat segala sesuatu secara holistik.

B. Sejarah perkembangan filsafat
Sejarah filsafat pertama kali lahir pada zaman Yunani kuno. Lahirnya filsafat mengubah pola pikir masyarakat Yunani dan umat manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Pada mulanya masyarakat Yunani percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia disebabkan oleh pengaruh para dewa. Namun pada akhirnya, filsafat membuat pendekatan terhadap masyarakat menjadi lebih rasional.

Belakangan muncul filsafat dan ilmu pengetahuan yang membawa pembaharuan pada dunia yang lebih modern. Alam dan segala isinya yang tadinya ditakuti dan dihormati masyarakat, lambat laun mulai diakses dan dieksploitasi. Termasuk juga modernisasi ilmu pengetahuan, yang ditandai dengan perubahan alam semesta (makrokosmos) dan munculnya teori-teori yang mempelajari manusia dan makhluk hidup (mikrokosmos).

Dalam perkembangan filsafat terbagi menjadi tiga periode:

1. Periode Yunani kuno 
Teori-teori ilmiah yang muncul pada periode itu lebih mengacu pada teori-teori alam. Dari mana alam berasal dan bagaimana alam bekerja menjadi gagasan utama para filosof pada masa itu. Salah satu tokoh yang paling terkenal pada periode ini adalah Thales (625-545 SM). Salah satu teori Thales adalah segala sesuatu adalah air. Air adalah teori dasar dan mendasar. Ini karena air merembes ke segala sesuatu di dunia.

Tokoh lainnya adalah Heraklitos (540-480 SM). Berbeda dengan Thales, Heraklitos percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah api. Sebab, menurutnya, api merupakan simbol perubahan, segala sesuatu berubah dari dingin menjadi panas.

2. Periode abad pertengahan
Abad Pertengahan dikenal sebagai Kekristenan. Pada periode ini, model pemikiran yang awalnya antroposentri menjadi theosentris. Pada abad ini, semua filsafat yang ada digunakan untuk mendukung ajaran agama dan harus mendukung ajarannya. Dengan demikian, teori-teori yang muncul lebih bersifat teologis. Filsuf paling terkenal saat ini adalah Agustinus dan Thomas Aquinas.

3. Periode modern 
Pada periode ini, pandangan masyarakat terhadap pengetahuan sudah kembali ke Antroposentri. Namun teori-teori yang muncul menempatkan manusia sebagai pusat filsafat. Era ini disebut era kembalinya kebebasan berpikir masyarakat. 

Bidang minat yang muncul lebih luas antara lain di bidang seni, arsitektur, musik, sastra, teknologi dan ilmu pengetahuan. Beberapa aliran pemikiran muncul pada periode ini, antara lain rasionalisme, idealisme, positivisme, imperialisme, Kritisme, dan Marxisme.

C. Tokoh-tokoh filsafat
Berikut beberapa filsuf terkenal dan gagasannya:

1. Marcus Tullius Cicero  
Menurutnya, filsafat adalah ibu dari segala ilmu pengetahuan. Dia juga menulis De Natura Deorum. Menurutnya, pengertian filsafat adalah ars vitae (seni kehidupan), yang berarti pengetahuan tentang kehidupan.

2. Socrates 
Dia adalah seorang filsuf yang percaya pada mempertanyakan segala sesuatu, termasuk keyakinannya. Ia percaya bahwa mengejar ilmu dan kebijaksanaan adalah hal terpenting dalam hidup.

3. Plato 
Dia adalah murid Socrates dan pendiri Akademi Athena. Ia percaya bahwa dunia yang kita lihat di sekitar kita hanyalah bayangan dari dunia nyata, yang hanya dapat dipahami melalui akal dan kontemplasi.

4. Aristoteles 
Dia adalah murid Plato dan guru Alexander the great. Ia percaya bahwa segala sesuatu di dunia memiliki tujuan dan pengetahuan dapat diperoleh melalui observasi dan pengalaman.

5. Pythagoras 
Dia adalah seorang matematikawan dan filsuf yang percaya bahwa segala sesuatu di alam semesta dapat dijelaskan dengan menggunakan angka. Dia juga percaya pada perpindahan jiwa.

6. Heraclitus
Ia percaya bahwa segala sesuatu terus berubah dan satu-satunya yang konstan adalah perubahan itu sendiri. Ia percaya bahwa segala sesuatu terus berubah dan satu-satunya yang konstan adalah perubahan itu sendiri. 

7. Parmenides
Ia dikenal sebagai orang pertama dalam sejarah filsafat yang mengembangkan bidang logika. Ia bahkan dianggap sebagai tokoh filsafat modern pertama. Ia percaya bahwa alam semesta tidak berubah dan perubahan hanyalah ilusi.

8. Democritus 
Ia percaya bahwa segala sesuatu di alam semesta terdiri dari partikel-partikel kecil yang tidak dapat dibagi lagi yang disebut atom. Ia banyak memberikan kontribusi di bidang estetika, matematika, biologi, antropologi dan ilmu-ilmu lainnya. Seperti banyak filsuf Yunani lainnya, dia juga percaya pada kemungkinan adanya banyak dunia.

9. Thales
Ia merupakan pendiri filsafat naturalisme yang meyakini bahwa segala sesuatu di alam semesta dapat dijelaskan oleh sebab-sebab alamiah. Ia juga terkenal karena meramalkan terjadinya gerhana matahari pada tahun 585 SM dan membawa konsep geometri dan penemuan lain dari Mesir ke Yunani.

10. Anaximenes
Ia percaya bahwa segala sesuatu di alam semesta terdiri dari udara, yang dapat dikompresi atau diperluas untuk membentuk zat yang berbeda. 

11. Zeno dari Elea
Ia adalah seorang filsuf yang terkenal dengan paradoksnya yang menantang gagasan gerak dan perubahan. 

12. Epicurus
Ia percaya bahwa tujuan hidup adalah untuk mencapai kebahagiaan dan kebahagiaan dapat dicapai dengan mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit.

13. Seneca 
Ia adalah seorang filsuf Stoa yang percaya pada pentingnya menjalani kehidupan yang bajik dan menerima apa yang ditakdirkan oleh takdir.

14. Immanuel Kant
Ia percaya bahwa pengetahuan diperoleh melalui akal dan ada prinsip moral universal tertentu yang berlaku untuk segala hal.

15. Friedrich Nietzsche
Ia percaya akan pentingnya individualisme dan penolakan terhadap nilai-nilai dan kepercayaan tradisional.

Ini hanyalah sedikit dari sekian banyak filsuf sepanjang sejarah yang telah berkontribusi dalam bidang filsafat.

D. Aliran filsafat 
Aliran filsafat merupakan pandangan dan gagasan yang berbeda dalam mengamati dunia dan kehidupan. Ada banyak aliran filsafat yang dikembangkan para filsuf sepanjang sejarah. Beberapa aliran filsafat yang terkenal adalah:

1. Idealisme
Istilah idealisme berasal dari kata “idea” yang artinya sesuatu yang hadir didalam jiwa. Idealisme adalah aliran pemikiran yang meyakini bahwa realitas atau aktualitas terdiri dari jiwa dan gagasan. Aliran ini menjadi awal yang sangat penting bagi perkembangan pemikiran manusia.

Plato juga menjelaskan prinsip-prinsip aliran ini. Menurutnya, realitas yang paling mendasar adalah gagasan. Namun kenyataan yang dilihat masyarakat hanyalah bayangan dari gagasan itu sendiri. Cara berpikir seperti ini tentu memandang kenyataan yang terlihat sebagai sesuatu yang tidak begitu penting.

Mereka menerimanya hanya jika kenyataan dikaitkan dengan gagasan. Namun gagasan idealisme ini merupakan gagasan yang paling dapat diterima oleh para tokoh dan filosof, salah satunya Descartes. Ia sepakat bahwa unsur yang berhubungan dengan jiwa merupakan unsur yang lebih penting dibandingkan benda yang terlihat.

2. Rasionalisme
Rasionalisme adalah aliran pemikiran yang Menitikberatkan alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya. Bagi para tokohnya, akal adalah aset terpenting yang dimiliki manusia dalam memperoleh, menemukan, dan menguji pengetahuan.

Mereka juga beranggapan bahwa akal dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dalam hidup. Semua masalah dapat diselesaikan dan diselesaikan dengan bantuan akal. Tokoh rasionalisme yang terkenal adalah Rene Descartes. Ia disebut sebagai bapak filsafat modern.

Aliran ini muncul dari salah satu pertanyaannya: “Apa metode dasar yang digunakan orang untuk melakukan refleksi?” Dalam pertanyaan ini, ia menemukan alasan sebagai salah satu hal dasar yang digunakan orang ketika memikirkan sesuatu. 

3. Emperisme
Kata empirisme berasal dari bahasa Yunani yang berarti pengalaman indrawi atau pengalaman observasi melalui panca indera. Empirisme merupakan aliran yang sangat berlawanan dengan rasionalisme. Aliran ini lebih menitikberatkan pada pengalaman-pengalaman yang diterima seseorang sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Menurut para tokohnya, pengetahuan berasal dari pengalaman. Jadi panca indera adalah sumber keteraturan utama yang paling jelas dan paling pasti. Segala sesuatu yang diketahui orang bergantung pada bagaimana mereka menggunakan panca inderanya, mulai dari mendengar, melihat, menyentuh, dan berbicara.

Tokoh empirisme juga menolak anggapan bahwa manusia mempunyai hakikat pengetahuan dalam dirinya. Menurut aliran ini, pengetahuan tidak dapat terbentuk tanpa pengalaman. Selain itu aliran ini juga dibentuk oleh Francis Bacon dan Thomas Hobbes yang berpandangan bahwa segala ilmu pengetahuan dapat dibentuk dengan memadukan pengalaman manusia.

4. Dualisme
Dualisme adalah aliran pemikiran yang mengatakan bahwa realitas terdiri dari dua akar yang terpisah dan bertentangan. Masing-masing akar itu bersifat unik dan tidak dapat dihilangkan. Dengan demikian, berbagai tokoh menegaskan bahwa aliran ini merupakan aliran yang menghubungkan jiwa dan raga. 

tokoh yang membentuk pemikiran tersebut adalah Thomas Hyde. Ketika berpikir dasar adalah substansi dan pemikiran merupakan suatu hal yang berbeda dan keduanya saling melengkapi sehingga membentuk pengetahuan.

5. Positivisme
Aliran ini lahir pada abad ke-19 dan pemikirannya didasarkan pada ilmu-ilmu yang bersumber dari apa yang diketahui, pasti dan nyata. Positivisme berfokus pada fakta aktual dan mengecualikan
hal-hal di luar realitas dan realitas yang tidak terlihat. 

Aliran ini sangat dekat dengan aliran empirisme, yaitu sama-sama meyakini bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman indrawi. Sesuai dengan karakternya, manusia tidak pernah mengetahui apa pun selain apa yang dilihatnya. Berdasarkan fakta nyata, orang tidak mengetahui apa pun di balik fakta tersebut kecuali mereka melihatnya.

Pendiri aliran ini adalah Henri de Saint Simon yang kemudian dikembangkan oleh muridnya August Comte. Landasan pemikiran ini adalah memahami pengetahuan bahwa manusia harus menarik hubungan sebab akibat. Hingga hukum-hukum yang membentuk pengetahuan tersebut. Dalam proses pencarian ini, manusia menemukan berbagai fakta nyata dalam pengetahuan tersebut.

6. Realisme
Realisme adalah aliran ilmu pengetahuan. Menurut aliran ini, ia mempertanyakan objek pengetahuan manusia. Realisme mengatakan bahwa objek pengetahuan yang diyakini orang, misalnya, berada di luar orang itu sendiri.

Aliran realisme terbagi menjadi dua kelompok antara lain: 
a. Golongan realisme nasional.
Realisme jenis ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu realisme klasik dan realisme religius. Kedua aliran, baik klasik maupun religius, berasal dari filsafat Aristoteles. Namun terdapat perbedaan mendasar antara kedua aliran pemikiran tersebut.

Bedanya, realisme klasik biasanya datang langsung dari pandangan Aristoteles, sedangkan realisme religius tidak datang langsung dari pandangan Aristoteles. Hal ini berkembang pada filsafat Thomas Aquinas, seorang filsuf Kristen yang kemudian dikenal dengan nama Thomisme. Kedua pandangan tersebut sepakat bahwa dunia material itu nyata dan ada di luar siapapun yang memperhatikannya. 

Penganut paham Thomisme berpendapat bahwa jiwa merupakan suatu hal yang penting, meskipun tidak senyata tubuh. Oleh karena itu, aliran ini juga meyakini bahwa jiwa dan raga diciptakan oleh Tuhan. Thomisme juga percaya bahwa pengetahuan diperoleh melalui wahyu, pengalaman, dan pemikiran. Penganut realisme religius percaya bahwa aturan keselarasan di alam semesta diciptakan oleh Tuhan, jadi kita harus mempelajarinya.

b. Golongan Aliran Realisme Alam atau Ilmiah.
Golongan aliran ini merupakan perkembangan ilmu pengetahuan alam. Aliran realisme alami bersifat skeptis dan eksperimental. Kedudukan aliran ini adalah bahwa dunia di sekitar kita adalah nyata, sehingga salah satu tugas ilmu pengetahuan adalah mempelajari seluruh isinya, dan ini bukanlah tugas filsafat.

Tugas filsafat tidak lain adalah koordinasi mengenai konsep-konsep dan juga penemuan ilmu pengetahuan yang bermacam-macam. Menurut aliran ini, alam mempunyai sifat yang tetap, memang terjadi perubahan, namun perubahan tersebut sesuai langsung dengan hukum alam yang bersifat tetap dan membuat alam semesta tetap berjalan sesuai dengan tatanannya yang teratur.

7. Humanisme
Aliran ini terbagi menjadi dua arah, humanisme individu dan humanisme sosial. Humanisme individu mengutamakan kebebasan berpikir, berpendapat dan berbagai aktivitas kreatif. Sedangkan, humanisme sosial berarti pendidikan seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan hubungan interpersonal. 

Contoh aliran ini adalah keyakinan bahwa orang tertarik pada suatu kelompok atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai kesejahteraan atau hubungan sosial.

8. Kritisme
Kritisme merupakan gabungan dua pandangan yaitu rasionalisme dan empirisme. Empirisme mengambil keputusan yang bersifat sintetik dan tidak absolut, sedangkan rasionalisme mengambil keputusan yang bersifat analitis. 

Berpikir merupakan proses pengambilan keputusan yang terdiri dari subjek dan predikat. Misalnya pernyataan “anak itu cantik” merupakan pernyataan sintetik yang diperoleh setelah kejadian karena hubungan keduanya didasarkan pada pengalaman indrawi. 

9. Konstruktivisme
Pandangan ini dikemukakan oleh Giambattista Vico pada tahun 1710, bahwa pengetahuan manusia merupakan hasil konstruksi individu melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan.

Misalnya, pernyataan bahwa planet-planet berputar mengelilingi Matahari dan bahwa Matahari serta planet-planet lain berputar mengelilingi Bumi harus dianggap benar, namun pernyataan tersebut tidak dapat begitu saja dianggap sebagai dua tanda berbeda dari dunia yang sama.

Keberhasilan argumen ini bergantung pada bagaimana seseorang dapat secara bersamaan memahami bahwa pernyataan-pernyataan ini benar dan bertentangan satu sama lain dan bahwa, setelah dipahami, yang satu tidak dapat dianggap benar sementara yang lain salah. 

Aliran pemikiran ini muncul dari perbedaan cara kita memahami dan memandang dunia. Dalam konteks ilmu pengetahuan, aliran pemikiran filsafat berkaitan dengan ilmu pengetahuan, seperti realisme, rasionalisme, empirisme, dan positivisme. Walaupun, masyarakat tanpa sadar menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari.

E. Cabang filsafat
Ada beberapa filsafat, masing-masing berfokus pada aspek pengetahuan dan realitas yang berbeda. Beberapa cabang utama filsafat adalah:

1. Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat ini berfokus pada hakikat pengetahuan, bagaimana kita memperolehnya, dan apa yang dianggap sebagai keyakinan yang dibenarkan. Ini berkaitan dengan pertanyaan seperti "Apakah pengetahuan itu?" dan "Bagaimana kita mengetahui apa yang kita ketahui?"

2. Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari sifat dasar realitas, seperti hubungan antara pikiran dan materi, substansi dan sifat, kemungkinan dan realitas. Ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "Apa hakikat keberadaan?" dan "Apa realitas hakikinya?"

3. Etika
Etika adalah cabang filsafat yang membahas prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral serta bagaimana orang harus berperilaku dalam berbagai situasi. Ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "Apa hal yang benar untuk dilakukan?" dan "Apa ciri-ciri kebaikan dan kejahatan?"

4. Logika
Logika adalah cabang filsafat yang membahas prinsip-prinsip penalaran dan argumentasi yang benar. Ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "Apa yang membuat suatu argumen valid?" dan "Bagaimana membedakan argumen yang baik dan buruk?"

5. Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang membahas hakikat keindahan, seni, dan rasa. Ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "Apa hakikat seni?" dan "Apa yang membuat sesuatu menjadi indah?"

6. Filsafat Pikiran
Filsafat Pikiran adalah cabang filsafat yang membahas hakikat pikiran dan hubungannya dengan tubuh. Ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "Apakah kesadaran itu?" dan "Bagaimana hubungan pikiran dan pengalaman kita dengan tubuh fisik kita?"

7. Filsafat bahasa
Filsafat bahasa adalah cabang filsafat yang membahas hakikat, makna, dan hubungan bahasa dengan dunia. Ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan "Apa hubungan antara kata-kata dan hal-hal yang diwakilinya?" dan "Bagaimana kita memahami dan mengkomunikasikan makna?"

8. Filsafat Agama 
Filsafat agama adalah cabang filsafat yang membahas hakikat agama, keyakinannya, dan kaitannya dengan bidang ilmu pengetahuan dan realitas lain. Ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "Apakah Tuhan itu ada?" dan "Apa hakikat iman?"

9. Filsafat Ilmu 
Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang membahas hakikat pengetahuan ilmiah, metode dan keterbatasannya. Ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "Apa metode ilmiahnya?" dan "Bagaimana kita membedakan sains dari pseudosains?"

10. Filsafat hukum
Filsafat hukum adalah cabang filsafat yang membahas hakikat, asal usul dan hubungan hukum dengan moralitas dan keadilan. Ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "Apa tujuan hukum?" dan "Bagaimana kita seharusnya menafsirkan dan menerapkan prinsip-prinsip hukum?"

11. Filsafat Sejarah
Filsafat sejarah adalah cabang filsafat yang membahas hakikat sejarah, penafsirannya, dan kaitannya dengan bidang ilmu pengetahuan dan realitas lain. Ini berkaitan dengan pertanyaan seperti “Apa tujuan mempelajari sejarah?” dan "Bagaimana kita memahami dan menafsirkan peristiwa sejarah?"

F. Metode filsafat
Metode filsafat adalah suatu cara bertindak berdasarkan suatu sistem kaidah tertentu, berdasarkan obyek-obyek formal yang ditetapkan menurut pendapat dan perkembangan filsafat itu sendiri. Beberapa metode filsafat telah dikembangkan oleh para filsuf. Berikut contoh metode filosofis yang ditemukan:

1. Metode Positivisme
Metode Positivisme adalah metode yang menekankan pada aspek pengetahuan faktual, yakni mendalami atau Menganalisis yang hanya didasarkan pada fakta dan data faktual, dan sesuatu yang masih belum jelas dikesampingkan seperti ilmu ghaib dan metafisik.

2. Metode Fenomenologi
Metode Fenomenologi adalah metode yang berfokus pada mengamati dan mendeskripsikan pengalaman manusia secara langsung tanpa menghakimi atau menafsirkan. 

3. Metode Kritis
Metode Kritis adalah metode yang digunakan dalam bahasa filsafat untuk mencari kejelasan argumentasi dengan menganalisis logika formal dan filsafat bahasa.

4. Metode Intuitif
Metode Intuitif adalah metode yang digunakan untuk memperoleh pemahaman mendalam melalui intuisi atau pemahaman langsung.

5. Metode Skolastik 
Metode Skolastik adalah metode yang digunakan untuk studi filsafat yang sistematis dan logis, seringkali untuk memahami dan menafsirkan teks-teks klasik.

6. Metode Matematis
Metode Matematis adalah metode yang menggunakan pemikiran dan bahasa matematika untuk memahami dan menjelaskan konsep-konsep filosofis.

7. Metode Empiris
Metode Empiris adalah metode yang berfokus pada pengalaman dan pengamatan sebagai sumber pengetahuan.

8. Metode Transendental
Metode Transendental adalah metode yang digunakan untuk memahami hakikat realitas melalui pemikiran dan refleksi.

9. Metode Dialektis
Metode Dialektis adalah Metode yang melibatkan terjadinya dan pertukaran pendapat antara dua atau lebih pihak untuk mencapai pemahaman yang lebih baik.

10. Metode Historis
Metode Historis adalah metode yang mempelajari filsafat dengan memperhatikan konteks sejarah dan perkembangan pemikiran. 

Metode ini senantiasa berubah dan berkembang seiring dengan perkembangan filsafat itu sendiri. Meski disebut pengembangan, bukan berarti penemuan terkini adalah metode terbaik. 
Dalam dunia filsafat spekulatif, tidak ada metode yang terbaik, yang ada hanyalah metode yang tepat. Cocok digunakan untuk kebutuhan filsafat tertentu atau kembali ke keefektifan filsuf itu sendiri dalam menggunakan metode tersebut.

G. Dampak mempelajari filsafat
Mempelajari filsafat mempunyai dampak positif dan negatif terhadap pengaruh filsafat. 

Berikut adalah beberapa dampak positif mempelajari filsafat:
1. Melatih berpikir rasional dan kritis.
2. Membuka lanskap pemikiran baru dan ide-ide kreatif untuk menyelesaikan setiap permasalahan.
3. Menumbuhkan kemampuan membedakan hakikat mana yang benar dan mana yang salah.
4. Menghargai perbedaan dan menghindari diri dari memutlakan kebenaran.
5. Membantu dalam memahami konsep dasar untuk mengenal kehidupan sebagaimana yang dicita-citakan.
6. Meningkatkan kemampuan dalam memahami karya-karya besar untuk mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, seni, pemerintahan dan bidang lainnya.
7. Membantu menjaga toleransi terhadap perbedaan, baik itu perbedaan pendapat.

Berikut beberapa dampak negatif mempelajari filsafat:
1. Membuat orang menjadi ateis jika salah dalam mempelajarinya.
2. Dianggap kurang belajar untuk dipelajari.
3. Orang yang mempelajari filsafat dianggap orang aneh.
4. Filsafat dapat mendorong penalaran kita ketika kita dipengaruhi oleh teori-teori filsafat tertentu dan tidak mempunyai prinsip-prinsip dasar dalam berfilsafat.
5. Dapat mengarahkan seseorang untuk menanyakan pertanyaan tentang apa yang sedang dilakukan Tuhan yang seharusnya tidak ditanyakan.

H. Pandangan agama terhadap filsafat
Berikut beberapa ulasan yang terdapat pada sumber yang disediakan: 
1. Agama banyak hubungannya dengan hati, sedangkan filsafat banyak hubungannya dengan pikiran.
2. Agama diawali dengan keimanan, sedangkan filsafat dan ilmu pengetahuan diawali dengan keragu-raguan.
3. Filsafat berupaya mengungkap kebenaran, seperti halnya agama, berupaya mengungkap kebenaran agar keduanya tidak terpisah atau tertukar.
4. Menurut Imam Al-Ghazal, filsafat dan agama merupakan dua entitas dan eksistensi yang terpisah, sedangkan Ibnu Rusyd berusaha menegaskan bahwa filsafat dan agama merupakan hal yang berkaitan.

Dari sumber-sumber tersebut dapat disimpulkan bahwa pandangan agama terhadap filsafat bisa berbeda-beda dan tidak selalu sama antar agama. Namun beberapa pandangan berasumsi bahwa filsafat dan agama saling berkaitan dan saling berhubungan.

Penulis: Maulana Aditia 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhi suudzon dan tingkatkan husnudzon

Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul

Peduli terhadap hewan dan lingkungan sekitar