Kenali bahaya sampah plastik
Hampir setiap hari kita menggunakan wadah plastik untuk berbagai kebutuhan. Namun, tahukah Anda bahwa jenis plastik berbeda-beda dan dapat menimbulkan bahaya yang berbeda-beda? Apalagi plastik merupakan salah satu jenis sampah yang sulit terurai karena tahan puluhan bahkan ribuan tahun. Mengetahui dan memahami jenis-jenis plastik membantu kita dalam menggunakannya dengan lebih bijak sesuai dengan kebutuhan dan jumlah yang tepat.
Secara umum plastik masih sering digunakan dalam kemasan sekali pakai. Sayangnya, Indonesia belum menangani sampah plastik dengan baik. Oleh karena itu, seringkali menjadi masalah yang berdampak pada lingkungan. Kini sudah banyak masyarakat yang mulai mengurangi penggunaan sampah plastik. Selain itu, kampanye yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan bahan plastik semakin populer di masyarakat. Namun, yang terbaik adalah mengetahui segala sesuatu tentang sampah plastik sehingga tindakan untuk mengurangi dampaknya dapat dilakukan dengan tepat.
A. Pengertian plastik
Istilah plastik sendiri mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi sintetik. Plastik dibentuk melalui kondensasi organik atau penambahan polimer dan juga dapat disusun dari zat lain untuk meningkatkan kualitas plastik. Ada beberapa polimer alami yang mengandung plastik. Plastik dapat dibuat menjadi film atau serat sintetis.
Plastik dirancang dengan berbagai sifat seperti tahan panas, kekerasan, daya tahan dll. Dikombinasikan dengan kemampuan beradaptasi, komposisi umum dan bobot yang ringan, hal ini memastikan bahwa plastik dapat digunakan di hampir semua industri.
Plastik juga dapat merujuk pada benda apa pun yang mempunyai sifat berubah bentuk atau pecah akibat tegangan geser. Pellet atau bijih plastik siap untuk diproses lebih lanjut (injection moulding, ekstrusi, dll). Plastik adalah polimer; rantai panjang atom yang saling terhubung. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang atau “monomer”.
B. Sejarah plastik
Sejarah plastik di muka bumi dimulai oleh Alexander Parkes yang pertama kali memperkenalkan plastik pada tahun 1862 dalam sebuah pameran internasional di London, Inggris. Plastik penemuan Parkes yang disebut Parkesine terbuat dari bahan organik seperti selulosa. Parkes mengatakan penemuannya memiliki sifat seperti karet namun dengan biaya lebih rendah. Ia juga menemukan bahwa Parkesine dapat menjadi transparan dan dapat dibuat menjadi berbagai bentuk. Sayangnya temuannya tidak bisa dipublikasikan karena mahalnya bahan baku yang digunakan.
Pada tahun 1907, ahli kimia asal New York, Leo Baekeland menemukan bahan sintetis buatan manusia yang pertama. Dia mengembangkan resin cair yang disebut Bakelite. Bahan baru ini tidak terbakar, tidak meleleh atau larut dalam larutan asam asetat. Oleh karena itu, sekali material ini terbentuk, ia tidak dapat berubah. Bakelite dapat ditambahkan ke banyak bahan lain, seperti kayu lunak.
Pada tahun 1933, Ralph Wiley, seorang pekerja laboratorium di perusahaan kimia Dow, secara tidak sengaja menemukan jenis plastik lain, yaitu Polyvinylidene Chloride, atau biasa dikenal dengan Saran. Saran pertama kali digunakan untuk peralatan militer, namun kemudian diketahui bahwa bahan ini cocok digunakan pada kemasan makanan. Saran dapat ditempelkan pada hampir semua perabot, termasuk mangkuk, piring, wajan, dan bahkan lapisan Saran itu sendiri. Tidak mengherankan jika Saran tersebut digunakan untuk menyimpan makanan dengan cara yang menjaga kesegaran makanan.
Setelah itu, ditahun yang sama dua ahli kimia organik bernama E.W. Fawcett dan R.O. Saat bekerja di Imperial Chemical Industries Research Laboratory menemukan Polyethylene. Penemuan mereka berdampak besar pada dunia. Karena bahannya ringan dan tipis, bahan ini digunakan sebagai pelapis kabel bawah air dan sebagai isolator radar selama Perang Dunia II. Pada tahun 1940, penggunaan Polyethylene sebagai bahan isolasi mampu mengurangi berat radar sebanyak 600 pon atau sekitar 270 kg.
Setelah perang berakhir, plastik tersebut semakin populer dan kini digunakan untuk membuat botol minuman, kaleng, tas belanja atau kantong plastik, dan wadah makanan. Dimulai dengan kemasan roti, penggunaan plastik secara massal dimulai pada tahun 1974, ketika raksasa ritel Amerika seperti Sears dan Jordan Marsh mulai menggunakan kantong plastik sebagai alternatif kantong kertas. Pada tahun 1977, kantong plastik mulai digunakan di toko kelontong di Amerika Serikat dan Kanada.
Plastik merupakan material baru yang banyak dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20. Penggunaan bahan ini telah berkembang pesat, dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930an menjadi 150.000.000 ton/tahun pada tahun 1990an dan 220.000.000 ton pada tahun 2005. Bahan plastik kini digunakan di banyak negara Barat. 60 kg/orang/tahun di Eropa, 80 kg/orang/tahun di AS dan hanya 2 kg/orang/tahun di India.
C. Jenis-jenis plastik
Secara umum plastik dibedakan menjadi tujuh jenis tingkatan. Lalu apa saja jenis-jenis plasti? Berikut pembahasannya:
1. PETE (Polythylene Terephthalat) atau kode satu
PETE atau PET merupakan plastik yang sering digunakan sebagai kemasan makanan dan sering ditemukan pada berbagai botol air mineral dan makanan atau minuman. Plastik jenis ini hanya bisa digunakan satu kali saja dan tentunya tidak untuk digunakan berulang kali.
2. HDPE (High-Density Polyethylene) kode dua
HDPE merupakan salah satu jenis plastik yang biasa ditemukan pada berbagai jenis botol, seperti botol susu, botol deterjen, botol sampo, pelembab, botol minyak, mainan, dan beberapa kantong plastik. Plastik jenis ini bisa dikatakan paling aman untuk digunakan kembali atau didaur ulang. Proses daur ulang plastik jenis ini tidak memerlukan bahan atau biaya yang mahal. Namun, HDPE direkomendasikan untuk satu kali penggunaan saja, karena pelepasan senyawa antimon trioksida meningkat seiring berjalannya waktu.
3. PVC (Polyvinyl Chlorida) kode tiga
Plastik PVC merupakan salah satu jenis plastik yang bersifat lunak, fleksibel dan dapat didaur ulang. Bahan makanan, botol minyak sayur, pipa plastik, komponen kabel komputer dan IT, serta mainan anak seperti pelampung renang seringkali dibuat dari plastik jenis ini. Namun jenis ini dikhawatirkan mengandung berbagai racun yang dapat mengkontaminasi makanan.
4. LDPE (Low-Density Plyethylene) atau kode empat
LDPE banyak ditemukan pada kemasan pakaian, tas layanan dry cleaning, kemasan buah segar dan botol pelumas dengan toksisitas rendah dibandingkan plastik lainnya. Namun sayang sekali, karena plastik tersebut tidak didaur ulang. Pasalnya, LDPE daur ulang digunakan sebagai bahan pembuatan ubin.
5. PP (Polypropylene) atau kode lima
Plastik PP kuat, ringan dan tahan panas. Plastik jenis ini dapat melindungi material bagian dalam dari berbagai gangguan luar seperti kelembapan. Selain untuk kemasan makanan, plastik ini juga digunakan sebagai ember, kotak margarin, yogurt, peluit, tali, insulasi dan kaleng cat plastik karena dianggap aman untuk digunakan kembali dan dapat didaur ulang.
6. PS (Polystyrene) atau kode enam
Polystyrene atau styrofoam merupakan salah satu plastik murah, ringan dan mudah dibentuk yang sering kita jumpai di lingkungan. Plastik ini sering digunakan pada minuman ringan, karton telur, kotak bekal dan kemasan bahan yang diangkut dalam jarak jauh. Namun sangat disarankan untuk menghindari penggunaan plastik jenis ini karena dapat memicu penyakit kanker, gangguan pada sistem reproduksi tubuh dan masih banyak gangguan kesehatan lainnya. Plastik polistiren juga dapat melepaskan stirena jika bersentuhan dengan makanan dan minuman, terutama saat panas.
7. Bahan Plastik Lain (BPA, Polycarbonate, dan LEXAN) ata kode tujuh
Kategori plastik dengan kode 7 lebih sering digunakan pada pembuatan aksesoris kendaraan atau pabrik lainnya. Namun plastik ini juga digunakan sebagai bahan baku botol bayi dan kemasan makanan, sebenarnya tidak disarankan karena mengandung zat atau senyawa seperti BPA (bisphenol A) yang dapat mengganggu hormon tubuh.
D. Penggolongan plastik
Plastik dapat juga digolongkan seperti berikut ini:
1. Berdasarkan sifat fisiknya
- Termoplastik yaitu jenis plastik yang dapat didaur ulang atau dibentuk kembali dengan cara dipanaskan. Contoh: polietilen (PE), polistiren (PS), polikarbonat (PC) dan ABS.
- Termoset, yaitu jenis plastik yang tidak dapat didaur ulang atau dibentuk kembali. Pemanasan ulang merusak molekul. Contoh: resin epoksi, Bakelit, resin melamin dan urea-formaldehida.
2. Berdasarkan kinerja dan penggunaannya
- Plastik komoditas, yaitu plastik dengan sifat mekanik buruk dan tidak tahan panas. Ini digunakan dalam produk elektronik, botol makanan dan minuman. Contoh: PE, PS, ABS, PMMA dan SAN.
- Plastik teknik yaitu tahan panas, suhu kerja di atas 100 °C dan plastik dengan sifat mekanik yang baik. Ini digunakan dalam industri otomotif dan komponen elektronik. Contoh: PA, POM, PC dan PBT.
- Plastik teknik khusus, yaitu plastik dengan suhu kerja di atas 150 °C dan sifat mekanik yang sangat baik (ketahanan tarik di atas 500 Kgf/cm²). Penggunaannya pada komponen pesawat terbang. Contoh: PSF, PES, PAI dan PAR.
3. Berdasarkan jumlah rantai karbonnya
- 1-4 Gas (LPG dan LNG).
- 5-11 Cair (bensin).
- 9-16 Cairan dengan viskositas rendah.
- 16-25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli dan gemuk).
- 25-30 padat (parafin dan lilin).
- 1000-3000 (polistiren dan polietilen).
4. Berdasarkan sumbernya
- Polimer alami yaitu kuli binatang, kayu, kapas, karet alam dan rambut.
- Polimer sintetis yaitu sejenis plastik yang terbentuk secara alami namun dibuat dengan proses buatan (karet sintetis. Polimer alami yang dimodifikasi antara lain seluloid dan cellophane (bahan dasarnya adalah selulosa tetapi telah diubah secara radikal sehingga kehilangan sifat kimia dan fisik aslinya). Contohnya adalah nilon, poliester, polipropilena, dan polistiren.
5. Berdasarkan proses manufaktur plastik
- Injeksi molding, yaitu bijih plastik (pelet) yang dicairkan dalam tabung berpemanas ulir yang diinjeksikan ke dalam cetakan.
- Ekstrusi, yaitu bijih plastik (pellet) yang dicairkan dengan sekrup dalam tabung yang dipanaskan, yang terus menerus didorong melalui lubang hingga membentuk penampang yang kontinu.
- Thermoforming yakni plastik lembaran atau dipanaskan ditekan ke dalam cetakan.
- Tiupan molding yaitu biji plastik (pellet) yang dilebur dalam tabung yang dipanaskan terus menerus dengan sekrup, diekstrusi ke dalam tabung (paris) kemudian ditiup ke dalam cetakan.
E. Pengertian sampah plastik
Sampah plastik adalah segala barang bekas atau tidak terpakai yang bahannya terbuat dari bahan kimia yang tidak dapat diperbaharui. Sebagian besar sampah plastik yang digunakan sehari-hari biasanya dimasukkan ke dalam kemasan. Dalam praktiknya, kantong plastik masih sering digunakan sebagai wadah sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan sampah. Bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik biasanya berasal dari minyak bumi, gas alam, dan batu bara.
Sejak tahun 1950, 8,3 miliar ton sampah plastik telah dihasilkan, dan sekitar 60% plastik berakhir di tempat pembuangan sampah atau di lingkungan alam. Tanpa disadari, penggunaan plastik mungkin sudah menjadi zona nyaman bagi banyak orang. Kemasan dan tas plastik yang mudah ditemukan juga menjadi pilihan praktis saat berbelanja. Bagi perusahaan industri, harga bahan plastik juga relatif murah dibandingkan bahan lainnya.
F. Bahaya sampah plastik bagi kehidupan
Berikut beberapa ancaman utama sampah plastik terhadap kehidupan:
1. Ancaman terhadap hewan laut
Sampah plastik yang dibuang ke laut seringkali menjadi jebakan maut bagi hewan laut seperti penyu, ikan, dan mamalia laut. Mereka dapat tersangkut di dalamnya atau memakan potongan plastik, yang dapat menyebabkan cedera internal atau kematian.
2. Kontaminasi air dan tanah
Plastik yang terurai secara perlahan menghasilkan mikroplastik yang terserap ke dalam air tanah dan laut. Hal ini mencemari air minum, merusak ekosistem perairan dan mencemari sumber daya alam yang penting bagi kehidupan.
3. Gangguan terhadap makhluk darat
Sampah plastik juga memberikan dampak negatif terhadap kehidupan hewan darat. Hewan darat seperti burung dan mamalia sering kali terjerat atau menelan sampah plastik, sehingga dapat menyebabkan cedera atau bahkan kematian.
4. Kesehatan manusia
Mikroplastik yang terakumulasi di lingkungan juga dapat masuk ke rantai makanan manusia melalui makanan laut yang terkontaminasi. Hal ini meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan hormonal, kerusakan organ, dan penyakit lainnya.
5. Kerusakan ekosistem
Membanjirnya plastik ke lingkungan mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Mereka menghalangi sirkulasi air, menghalangi sinar matahari yang diperlukan untuk fotosintesis dan merusak habitat alami berbagai spesies.
F. Solusi untuk mengurangi bahaya sampah plastik terhadap kehidupan
Sampah plastik telah menjadi masalah serius yang mengancam lingkungan dan kehidupan manusia. Dampak negatifnya yang luas mencakup pencemaran laut, kerusakan ekosistem, dan risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Namun, ada beberapa solusi yang bisa diterapkan untuk mengurangi risiko sampah plastik bagi kehidupan:
1. Pendidikan dan kesadaran masyarakat
Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya sampah plastik sangatlah penting. Pendidikan mengenai pengurangan, daur ulang, dan pengolahan sampah plastik harus diberikan sejak dini, baik di sekolah maupun melalui kampanye sosial.
2. Penggunaan alternatif ramah lingkungan
Mengganti produk plastik dengan alternatif ramah lingkungan seperti kertas, kaca, logam atau bahan biodegradable dapat mengurangi jumlah sampah plastik yang dihasilkan.
3. Kebijakan pengelolaan sampah
Menerapkan kebijakan ketat terkait pengelolaan sampah plastik, termasuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai, mengenakan pajak atau denda kepada produsen dan pengguna plastik, dan menciptakan infrastruktur daur ulang yang lebih efisien.
4. Inovasi teknologi
Pengembangan teknologi daur ulang dan penanganan sampah plastik menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini. Investasi dalam penelitian dan pengembangan solusi teknis inovatif seperti bioplastik ekologis dan proses daur ulang yang efisien sangat dibutuhkan.
5. Peningkatan tanggung jawab produsen
Produsen plastik harus bertanggung jawab atas siklus hidup produknya, mulai dari desain ramah lingkungan hingga pembuangan dan daur ulang sampah plastik. Pengenalan sistem tanggung jawab produsen dapat mendorong produsen untuk lebih peduli terhadap dampak lingkungan dari produk mereka.
6. Pendekatan kolaboratif
Masalah sampah plastik tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah, industri, masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah penting untuk pengembangan dan penerapan solusi komprehensif.
Dengan menerapkan solusi-solusi ini bersama-sama, kami berharap dapat mengurangi bahaya terhadap kehidupan yang disebabkan oleh sampah plastik dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Penutup:
Penggunaan plastik secara berlebihan telah menimbulkan dampak negatif yang serius terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Sampah plastik dapat mencemari air, udara, dan tanah, merusak ekosistem laut, serta membahayakan hewan laut dan manusia yang mengonsumsi makanan laut yang terkontaminasi plastik. Oleh karena itu, penting untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendaur ulang plastik, dan mencari alternatif ramah lingkungan untuk mengatasi masalah sampah plastik ini. Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak pembaca untuk bijak dalam penggunaan sampah plastik. Mungkin ini saja yang dapat penulis sampaikan pada pembahasan kita kali ini. Kuranglebihnya penulis mohon maaf. Sekian dan terimakasih telah berkunjung ke blog ini.
Penulis: Maulana Aditia
Komentar
Posting Komentar