Mengambil hikmah dari kisah Luqman Al-Hakim

Kisah Luqman Al-Hakim merupakan salah satu kisah penuh hikmah dan hikmah berharga tentang Islam. Luqman dikenal sebagai sosok bijak yang banyak memberikan nasihat hidup kepada putranya. Kisahnya sering dijadikan inspirasi untuk mempelajari dan memahami prinsip-prinsip kehidupan yang bermakna. Pada artikel kali ini, kita akan mendalami kisah Luqman Al-Hakim dan bagaimana menerapkan nasehatnya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanakah kisahnya? Berikut pembahasannya.

Mungkin sebagian dari kita mengira ada banyak orang yang bernama Luqman. Namun, hanya satu Luqman yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Lebih tepatnya ayat 12-19 pada surah Luqman yang berbunyi:

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗ وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِ نَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِ نَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ(١٢) وَاِ ذْ قَا لَ لُقْمٰنُ لِا بْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَـظُلْمٌ عَظِيْمٌ(١٣) وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسٰنَ بِوَا لِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَا مَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَا لِدَيْكَ ۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ(١٤) وَاِ نْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَا حِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ وَّا تَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَا بَ اِلَيَّ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُ نَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ(١٥) يٰبُنَيَّ اِنَّهَاۤ اِنْ تَكُ مِثْقَا لَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَ رْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ(١٦) يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا نْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا صْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ ۚ (١٧) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّا سِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَ رْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرٍ(١٨) وَا قْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَا غْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَ صْوَا تِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ(١٩) 

Artinya:"Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), "Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui. Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.""(QS. Luqman surah ke 31: Ayat 12-19)

Menurut Ibnu Katsir, nama Luqman Al-Hakim adalah Luqman bin Unaqa' bin Sadun. Sementara itu, para ulama berbeda pendapat mengenai asal usul Luqman. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu yang berasal dari Habsyi. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa dia adalah seorang yang pendek, berhidung mancung, berasal dari wilayah Nubah. Ada juga yang mengatakan dia berasal dari Sudan.

Kata Al-Hikmah mempunyai beberapa arti diantaranya; meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, selalu benar dalam ucapan dan perbuatan, memperkuat sesuatu dengan ilmu dan amal, pengertian dan akal, atau mengetahui apa yang terjadi dan berbuat baik. Kata al-hikmah juga dapat diartikan sebagai rangkaian kata yang menjadi bahan renungan dan mengalir secara turun temurun. Untaian kata yang bisa membuat seseorang tidak hanya mencintai harta duniawi bisa disebut juga dengan Al-Hikmah.

Kesanggupan memahami hakikat sesuatu secara maksimal, atau rangkaian kata yang indah dan lengkap berisi dorongan terhadap sifat-sifat terpuji, ilmu dan akhlak mulia, atau segala sesuatu yang meningkatkan kualitas diri seseorang, itulah makna kata Al-Hikmah. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa al-hikmah berarti ilmu dan amal. Oleh karena itu, seseorang tidak dapat menyandang gelar “hakim” kecuali ia memiliki keduanya, yaitu ilmu dan amal.

Al-Hikmah adalah petunjuk jalan lurus menuju keselamatan dan kebenaran dengan beriman, berperilaku, berbicara dan berjalan menurut sudut pandang Tuhan Yang Maha Esa dan sudut pandang manusia. Demikianlah makna kata al-hikmah secara umum. Luqman Hakim mendapat keistimewaan menerima anugerah dari Allah berupa hikmah. Terlepas dari makna hikmah, jelas banyak kisah yang bisa diceritakan secara singkat tentang Luqman yang penuh hikmah. Di antara kisah-kisah tersebut adalah kisah Luqman Al-Hakim dan putranya.

Suatu ketika Luqman mengajari anaknya tentang kehidupan nyata di masyarakat, Luqman berkata: “Wahai anakku! Lakukanlah hal-hal yang membawa kebaikan bagi agamamu dan dunia. Teruslah melakukannya hingga kamu mencapai puncak kebaikan. Jangan pedulikan manusia. kata-kata dan hinaan karena tidak pernah ada kesempatan untuk membuat mereka semua merasa lega dan menerima. Tidak akan bisa pula menyatukan hati mereka." 

Luqman berencana mengajak putranya berjalan-jalan di tengah masyarakat untuk membuktikan bahwa sangat sulit untuk  membuat "legowo" semua orang. Bahkan bisa dikatakan hal itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Luqman kemudian memerintahkan putranya untuk membawakannya keledai.“Wahai anakku, bawakanlah aku seekor keledai dan kita akan membuktikannya.” Apapun yang dilakukan seseorang, selalu ada pihak yang menyalahkannya. Akan selalu ada orang yang tidak setuju. Kemudian perjalanan mereka segera dimulai.

Pada kesempatan pertama, Luqman duduk di atas keledai dan memerintahkan putranya berjalan menuntun keledai tersebut. Hal ini kemudian dilihat oleh sebagian orang yang menganggapnya aneh. Orang-orang yang menganggap hal ini aneh langsung memaki Luqman. Mereka berkata: “Seorang anak kecil menggiring keledai sementara orangtuanya duduk dengan nyaman di atas keledai tersebut. Betapa arogan dan orangtua ini." Setelah mendengar makian tersebut, Luqman berkata: “Anakku, cobalah dengarkan apa yang mereka katakan.”

Luqman lalu menyuruh anaknya giliran menaiki keledai itu. Sementara itu, giliran Luqman yang berjalan menuntun keledainya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan hingga bertemu dengan kelompok lain. Meski Luqman dan putranya kini telah berganti posisi, reaksi yang sama tetap mereka terima. Orang-orang yang merasa aneh dengan apa yang mereka lihat berkomentar: “Lihat, ada seorang anak kecil sedang menunggangi seekor keledai, seorang orangtua menuntunnya dengan berjalan kaki. Sungguh betapa buruknya akhlak anak ini.” Mendengar komentar orang-orang itu, Luqman lalu berkata kepada putranya, “Anakku, dengar apa yang mereka katakan?"

Keduanya melanjutkan perjalanannya. Kali ini mereka berdua menunggangi seekor keledai. Mereka terus berjalan hingga melewati sekelompok orang yang duduk di pinggir jalan. Sekali lagi, orang-orang ini merespons dengan komentar negatif. “Dua orang mengendarai keledai bersama-sama, meskipun mereka tidak sakit. Mereka bisa berjalan. Ah, betapa mereka tidak kasihan pada binatang,” sindir seseorang yang melihat Luqman. “Lihat apa yang mereka katakan, anakku,” Luqman kembali menasihati putranya. Meski dihina orang, Luqman dan putranya tetap melanjutkan perjalanan.

Kali ini Luqman dan putranya berjalan menggiring seekor keledai. Mereka mendapat komentar negatif kembali ketika berpapasan dengan orang lain. "Subhanallah! Lihat, dua orang laki-laki sedang menggiring seekor keledai bersama-sama, padahal keledai itu sehat dan kuat. Kenapa mereka tidak menungganginya saja? Ah, betapa bodohnya mereka," kata salah satu massa. Setelah mendengar komentar tersebut, Luqman berkata kepada putranya: "Dengar apa yang mereka katakan? Bukankah aku sudah memberitahumu? Lakukan apa yang baik untukmu dan jangan pedulikan orang lain. Aku harap kamu bisa belajar dari perjalanan ini."

Sesampainya di rumah Luqman, beliau kembali memberikan nasehat yang sangat bermanfaat. Luqman berkata: “Sesungguhnya ada orang yang suka mengomentari perbuatan orang lain. Namun orang yang berakal berbuat sesuatu menurut perintah Allah semata-mata karena kita mencari keridhaan Allah dan bukan keridhaan manusia. Carilah rezeki yang halal agar tidak menjadi orang fakir, sesungguhnya tidaklah fakir kecuali tiga hal yang menimpanya, yaitu lemahnya keyakinan (iman) terhadap agamanya, lemahnya akalnya (orang yang mudah ditipu dan dimanipulasi) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya),dan ketiganya yang paling buruk adalah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."

Dari kisah Luqman Al-Hakim diatas dapat kita ambil beberapa kesimpulan diantaranya yaitu:
1. Kita pernah bisa membuat semua orang suka dengan apa yang kita lakukan;
2. Kita harus senantiasa bersyukur;
3. Kita dilarang menyekutukan Allah;
4. Kita harus berbakti kepada orangtua;
5. Kita jangan pernah sombong;
6. Didirikanlah sholat;
7. Seburuk-buruk suara adalah suara keledai;
8. Jangan hiraukan perkataan buruk dari orang lain terhadap diri kita;
9. Carilah rezeki yang halal.

Penutup:
Kisah Luqman Al-Hakim mengandung banyak hikmah banyak yang dapat disalurkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengindahkan nasehat dan keteladanan Luqman, kita bisa belajar pentingnya kesabaran, kebijaksanaan dan keikhlasan dalam menghadapi sesama. Dengan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam cerita ini, kita dapat mengembangkan karakter yang lebih baik dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Semoga bermanfaat. Sekian dan terimakasih.

Penulis: Maulana Aditia 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhi suudzon dan tingkatkan husnudzon

Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul

Peduli terhadap hewan dan lingkungan sekitar