Mengenal perbedaan mukjizat, karomah, irhas dan ma'unah
Sebenarnya, para ulama Ahlussunnah wal Jamaah telah memberikan penjelasan yang jelas berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk membedakan siapa yang menerimanya dan apa tujuannya. Memahami perbedaan antara Mukjizat, Karomah, Irhas, dan Ma’unah bukan hanya untuk menambah pengetahuan kita, tetapi juga untuk menjaga akidah agar tidak terjebak dalam pengkultusan makhluk atau tertipu oleh tipu daya setan yang mengaku sebagai keajaiban. Artikel ini akan menjelaskan satu per satu dengan sistematis, lengkap dengan bukti dan contohnya.
A. Mukjizat
1. Pengertian mukjizat
Kata "mukjizat" berasal dari bahasa Arab yang berarti melemahkan, dari kata 'ajaza yang artinya lemah. Dalam pandangan Islam, mukjizat adalah peristiwa luar biasa atau kemampuan istimewa yang tidak bisa dimiliki oleh manusia biasa, namun hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul atas izin Allah yang digunakan untuk memperkuat kebenaran seorang nabi dan/atau rasul dan membuktikan keabsahan pesan yang mereka bawa, sekaligus meruntuhkan argumen lawan-lawan atau musuh-musuh yang meragukan kebenarannya.
2. Ciri-ciri mukjizat
Mukjizat tidak hanya sekadar "peristiwa aneh". Dalam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, mukjizat memiliki peran penting dalam teologi. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang hal ini:
a. Kejadian yang sangat luar biasa
Secara istilah, mukjizat berarti "sesuatu yang membuat lemah." Ia dianggap luar biasa karena bisa membatalkan hukum alam yang biasanya berlaku dengan konsisten. Allah menciptakan alam dengan hukum sebab-akibat (sunnatullah), tetapi dalam mukjizat, Allah "menghentikan" hukum itu untuk sementara. Contohnya, bulan adalah benda langit yang padat dan utuh secara alami. Namun, dengan kekuasaan Allah, bulan pernah terbelah menjadi dua pada zaman Rasulullah sebagai sebuah keajaiban yang tidak bisa ditiru oleh kekuatan alam mana pun.
b. Berasal dari Allah
Penting untuk diketahui bahwa Nabi tidak memiliki sifat seperti Tuhan. Nabi adalah manusia biasa yang tidak bisa menciptakan keajaiban dengan kekuatannya sendiri. Mukjizat merupakan "tanda" yang diberikan Allah melalui para Nabi. Hal ini membedakan Nabi dari "dukun" atau "tukang sihir" yang mengklaim memiliki kekuatan pribadi atau bantuan dari jin. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا كَا نَ لِرَسُوْلٍ اَنْ يَّأْتِيَ بِاٰ يَةٍ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ
Artinya: "Tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah."(QS. Ar-Ra'd surah ke 13: Ayat 38).
c. Kejadiannya tidak dapat dinalar dengan akal sehat manusia
Mukjizat sering kali terlihat tidak masuk akal, tetapi tetap merupakan kenyataan. Pikiran manusia hanya bisa memahami hal-hal yang berulang atau biasa terjadi. Sementara itu, mukjizat adalah kejadian unik yang tidak dapat diulang di laboratorium atau dianalisis dengan rumus fisika biasa. Imam Al-Amidi menjelaskan bahwa mukjizat haruslah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, baik secara bersama-sama maupun sendirian, untuk menunjukkan bahwa itu adalah tindakan langsung dari Sang Pencipta.
d. Terjadi secara tiba-tiba
Mukjizat biasanya tidak direncanakan. Ia sering kali muncul sebagai jawaban untuk tantangan dari orang-orang yang meragukan kenabian, atau ketika para Nabi berada dalam situasi yang sangat sulit. Kehadirannya yang mendadak memberikan kejutan yang membuat lawan dakwah terdiam.
e. Tidak ada unsur kesengajaan
Nabi tidak pernah berlatih untuk melakukan mukjizat. Ini berbeda dengan pesulap yang berlatih ribuan kali atau atlet yang melatih kemampuan fisik mereka. Mukjizat terjadi secara langsung ketika Allah menginginkannya. Nabi Musa tidak pernah berlatih untuk mengubah kayu menjadi ular. Bahkan, dalam Al-Qur'an, diceritakan bahwa dia merasa takut saat melihat tongkatnya bergerak. Ini menunjukkan bahwa mukjizat bukanlah hasil dari keterampilan manusia.
f. Terjadi kepada Nabi dan Rasul
Dalam ajaran teologi Islam, mukjizat dianggap sebagai "tanda kenabian". Mukjizat ini tidak diberikan kepada orang biasa, tidak peduli seberapa taat mereka. Jika suatu kejadian luar biasa terjadi pada orang baik yang bukan seorang Nabi, maka itu disebut Karomah. Rasulullah menekankan hal istimewa ini dalam sabdanya: "Tidak ada seorang pun nabi kecuali telah diberikan kepadanya tanda-tanda (mukjizat) yang membuat manusia beriman kepadanya..." (HR. Bukhari No. 4.981 dan Muslim No. 152).
g. Pembuktian dari kebenaran ajaran Allah
Fungsi utama dari mukjizat adalah untuk menjadi bukti yang sah. Ketika seorang Nabi mengatakan, "Saya adalah utusan Allah," dan kemudian menunjukkan mukjizat, itu seperti Allah memberi tahu manusia, "Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku ini adalah benar." Imam Al-Iji dalam kitab Al-Mawaqif membandingkan mukjizat dengan seorang raja yang memberikan cincin stempelnya kepada seorang utusan agar rakyat yakin bahwa utusan tersebut membawa pesan resmi dari sang raja.
h. Berguna untuk melemahkan hujjah, maupun sanggahan kepada orang kafir yang mengingkarinya
Mukjizat bertujuan untuk "mengalahkan" lawan. Allah selalu memberikan mukjizat yang sesuai dengan keahlian yang dibanggakan oleh masyarakat pada masa itu agar mereka tidak bisa menghindar. Misalnya, karena kaum Quraisy sangat bangga dengan sastra dan puisi, Allah menurunkan Al-Qur'an yang keindahan bahasanya membuat bahkan penyair terbaik pun tidak berdaya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْ لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْاِ نْسُ وَا لْجِنُّ عَلٰۤى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰ نِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَا نَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا
Artinya: "Katakanlah, "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur'an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain."" (QS. Al-Isra' surah ke 17: Ayat 88).
3. Jenis-jenis mukjizat
a. Mukjizat hissiyah atau kauniyah
Mukjizat hissiyah atau kauniyah adalah jenis mukjizat yang bisa dirasakan oleh panca indera, seperti dilihat, didengar, atau diraba, bersifat material dan biasanya diberikan kepada umat di masa lalu yang masih sangat tergantung pada bukti fisik yang terlihat dan hanya terjadi pada waktu tertentu, yaitu saat Nabi tersebut hidup, dan tidak bisa diulang kembali. Salah satu contohnya adalah tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular dan membelah laut.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَاَ وْحَيْنَاۤ اِلٰى مُوْسٰۤى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَا كَ الْبَحْرَ ۗ فَا نْفَلَقَ فَكَا نَ كُلُّ فِرْقٍ كَا لطَّوْدِ الْعَظِيْمِ
Artinya: "Lalu Kami wahyukan kepada Musa, "Pukullah laut itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar." (QS. Asy-Syu'ara' surah ke 26: Ayat 63).
b. Mukjizat maknawiyah atau aqliyah
Mukjizat maknawiyah adalah jenis mukjizat yang tidak dapat dirasakan melalui indera fisik, tetapi harus dipahami dengan pikiran, kecerdasan, dan hati, bersifat abadi dan akan ada sampai hari kiamat. Salah satu contohnya adalah Al-Qur'anul Karim. Keindahan bahasanya, kebenaran ramalannya, dan keajaiban ilmunya melebihi kemampuan akal manusia mana pun.
"Tidak ada seorang Nabi pun kecuali diberikan kepadanya mukjizat yang dengannya manusia beriman. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah Wahyu (Al-Qur'an) yang Allah wahyukan kepadaku. Maka aku berharap menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat." (HR. Bukhari No. 4.981 dan Muslim No. 152).
c. Mukjizat syakhsiyyah
Mukjizat syakhsiyyah adalah mukjizat yang berhubungan langsung dengan keistimewaan fisik atau pribadi Nabi itu sendiri, bertujuan untuk menunjukkan bahwa setiap aspek kehidupan seorang Nabi merupakan wujud kemuliaan dari Allah. Contohnya, keringat Rasulullah memiliki aroma harum yang lebih baik daripada minyak kasturi, dan para utusan-Nya diberi kekuatan fisik yang luar biasa oleh Allah. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Aku tidak pernah mencium bau parfum maupun minyak wangi yang lebih harum daripada aroma Rasulullah." (HR. Bukhari No. 3.561 dan Muslim No. 2.330).
d. Mukjizat salbiyyah
Kata "Salbiyah" berarti "menghapus atau menghilangkan" sifat dari sesuatu. Mukjizat salbiyyah adalah mukjizat yang membuat sesuatu yang biasanya bekerja sesuai hukum alam, tiba-tiba tidak berfungsi atau kehilangan kekuatannya atas perintah Allah. Salah satu contohnya adalah ketika api membakar Nabi Ibrahim. Secara alami, api itu panas dan bisa membakar, tetapi Allah menghilangkan sifat panasnya sehingga api menjadi dingin dan menyelamatkan beliau.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْنَا يٰنَا رُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰۤى اِبْرٰهِيْمَ
Artinya: "Kami (Allah) berfirman, "Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim,"" (QS. Al-Anbiya surah ke 21: Ayat 69).
Walaupun ada berbagai jenis mukjizat, semuanya memiliki satu tujuan yang sama: untuk menunjukkan bahwa para Nabi adalah utusan resmi dari Allah yang menyampaikan kebenaran yang sebenarnya.
B. Karomah
1. Pengertian karomah
Secara bahasa, kata "karomah" berasal dari salah satu nama Allah yang baik, yaitu Al-Karim, yang berarti Maha Mulia. Dalam arti bahasa, karomah berasal dari kata "karoma" yang juga berarti mulia. Karomah adalah peristiwa atau kejadian luar biasa yang tidak bisa dijelaskan oleh akal manusia biasa dan biasanya terjadi pada seorang wali Allah. Wali Allah adalah orang yang senang berbuat baik, mengikuti sunnah, dan memiliki keistiqomahan yang sangat baik.
2. Ciri-ciri karomah
a. Orang yang mendapat karomah bukanlah seorang Rasul/Nabi
Ini adalah batas yang jelas. Jika Nabi mengalami keajaiban, itu disebut Mukjizat. Namun, jika keajaiban terjadi pada pengikut setia Nabi, itu disebut Karomah. Imam Al-Laka’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah menjelaskan bahwa karomah adalah bukti kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi. Jadi, karomah dari wali sebenarnya merupakan "cabang" dari mukjizat yang dimiliki oleh Nabi tersebut.
b. Hanya dimiliki orang yang bertakwa
Karomah tidak akan diberikan kepada orang yang menyepelekan syariat. Orang yang menerima karomah adalah mereka yang memiliki iman yang kuat, taat pada perintah Allah, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَ لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ(٦٢) الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَا نُوْا يَتَّقُوْنَ(٦٣)
Artinya: "Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.(QS. Yunus surah ke 10: Ayat 62-63).
c. Tidak memiliki syarat khusus berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus
Tidak seperti sihir yang memerlukan sesajen atau mantra, karomah sering muncul secara tiba-tiba tanpa direncanakan. Seorang wali tidak "memesan" keajaiban itu melalui bacaan khusus untuk tujuan menunjukkan diri. Karomah murni adalah kehendak Allah (Ladunni), bukan hasil dari latihan kanuragan atau meditasi tertentu.
d. Terjadi pada seorang hamba yang Shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karomah tersebut) ataupun tidak
Seorang hamba yang baik sering kali tidak menyadari bahwa ia sedang dilindungi oleh karomah dari Allah. Contohnya adalah kisah Shilah bin Asyam, seorang Tabi'in. Ketika beliau shalat di hutan pada malam hari, seekor singa besar mendekatinya. Namun, beliau tetap tenang dan melanjutkan shalatnya tanpa merasa takut. Setelah selesai berdoa, beliau hanya berkata kepada singa itu, "Pergilah cari makanan di tempat lain," dan singa tersebut pun pergi dengan patuh. Beliau tidak merasa memiliki kekuatan luar biasa; ia hanya merasakan bahwa Allah sedang melindunginya.
e. Merasa dirinya tidak suci dan takut akan dosa
Wali Allah yang sejati merasa khawatir ketika menerima karomah. Mereka takut itu bisa jadi ujian atau jebakan. Mereka tidak pernah mengatakan, "Saya adalah wali." Misalnya, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani sering menangis karena takut jika kelebihan yang dimilikinya justru membuatnya jauh dari Allah.
f. Tidak pernah melenceng dari ajaran Islam
Ini adalah "filter" yang paling penting. Jika seseorang bisa terbang atau berjalan di atas air tetapi tidak shalat, tidak menutup aurat, atau mengajak kepada kesyirikan, maka itu pasti SIHIR, bukan karomah. Imam Asy-Syafi'i mengatakan: "Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara, jangan percaya begitu saja sampai kalian menilai perbuatannya berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah."
g. Menyembunyikan karomah (kecuali mendesak)
Bagi para wali, karomah adalah sesuatu yang hanya mereka dan Allah ketahui. Mereka merasa malu jika orang lain mengetahuinya. Namun, dalam situasi tertentu, seperti saat membela agama, Allah membuat karomah itu muncul supaya orang lain bisa mendapatkan pencerahan. Mereka menunjukkan keajaiban itu dengan penuh kerendahan hati dan tidak merasa sombong.
h. Bertujuan menguatkan keimanan dan keislaman orang yang mendapat karomah
Allah memberikan karomah bukan untuk pamer, tetapi untuk meningkatkan keyakinan sang wali bahwa Allah selalu bersamanya. Dengan begitu, sang wali menjadi lebih semangat dalam beribadah. Dalam hadits disebutkan bahwa, "...Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat..." (HR. Bukhari No. 6.502).
Karomah adalah anugerah dari Allah untuk orang-orang yang mengesampingkan diri mereka demi Allah, bukan untuk mereka yang mencari keajaiban hanya untuk kepentingan pribadi.
3. Macam-macam karomah
a. Karomah hissiyyah
Ini adalah tingkat karomah yang tertinggi dan paling penting menurut para ulama besar, tetapi sering kali tidak disadari oleh orang biasa. Karomah hissiyyah adalah karomah berkaitan dengan kemuliaan hati, kekuatan iman, kedalaman pengetahuan, dan ketekunan dalam beribadah (istiqomah). Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu."" (QS. Fussilat surah ke 41: Ayat 30).
Imam Abu Ali al-Juzajani (dikutip dalam Risalah Qusyairiyah) menegaskan bahwa "jadilah engkau orang yang mencari istiqomah, jangan menjadi pencari karomah. Karena jiwamu sering kali menuntut karomah, sedangkan Tuhanmu menuntutmu untuk istiqomah." Misalnya, ada orang yang bisa menjaga shalat berjamaah di barisan terdepan selama 40 tahun tanpa henti, atau seorang ulama yang dapat menulis ratusan buku bermanfaat dalam waktu singkat (itu adalah berkah waktu).
b. Karomah ma’nawiyah
Ini adalah jenis karomah yang paling dikenal di masyarakat karena sifatnya yang luar biasa dan bisa dilihat secara langsung. Karomah ma’nawiyah adalah peristiwa luar biasa yang melanggar hukum alam fisik untuk membantu atau menghormati seorang wali Allah. Diantara contoh dari karomah ma’nawiyah adalah:
- Kisah Maryam binti Imran. Beliau bukan Nabi, tetapi setiap kali Nabi Zakaria masuk ke tempat ibadahnya, selalu ada buah-buahan musim panas meskipun sedang musim dingin, dan ada buah musim dingin saat musim panas. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَا بَ ۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَا لَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَـكِ هٰذَا ۗ قَا لَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَا بٍ
Artinya: "Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, "Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?" Dia (Maryam) menjawab, "Itu dari Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan." (QS. Ali 'Imran surah ke 3: Ayat 37).
- Kisah Khalid bin Walid menunjukkan bagaimana ia meminum racun yang sangat berbahaya, tetapi tubuhnya tidak terkena dampak apa pun karena izin Allah. Disebutkan bahwa "Tatkala Khalid bin Walid singgah di Al-Hirah, dikatakan kepadanya: 'Hati-hatilah terhadap racun, jangan sampai orang-orang asing itu memberimu minum (racun)'. Khalid berkata: 'Bawa kemari racun itu'. Maka dibawakanlah racun itu kepadanya. Khalid lalu berucap: 'Bismillah', (dalam redaksi lain disebutkan Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi syai-un fil ardhi walaa fis samaa-i wahuwas samii'ul 'aliim." (Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakan, baik di bumi maupun di langit, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)) kemudian ia menelannya, dan racun itu tidak membahayakannya sedikit pun. (Dala’ilun Nubuwwah karya Imam Al-Baihaqi jilid 6, halaman 313 Bab Ma Jaa fi Karamatil Auliya (Penjelasan mengenai karomah para wali)).
Karomah muncul bukan untuk pamer, melainkan sebagai tanda kemuliaan Islam. Tindakan Khalid bin Walid yang minum racun terjadi dalam konteks dakwah atau perang. Kita tidak boleh dengan sengaja meminum racun hanya untuk "mengujicoba" iman, karena itu dapat membahayakan diri kita sendiri. Imam Al-Dzahabi mencatat peristiwa ini sebagai salah satu bukti luar biasa dari karomah para sahabat (lihat Siyar A’lam an-Nubala, jilid 1, hlm. 376).
c. Karomah ilmiyah (kasyf)
Karomah ilmiyah, atau kasyf, adalah ketika Allah membuka rahasia atau memberikan "firasat" yang sangat jelas kepada seseorang tentang apa yang akan terjadi atau perasaan orang lain. Sebagai contoh, Umar bin Khattab, saat ia memberikan khutbah di Madinah, tiba-tiba berteriak untuk memberi perintah kepada pasukannya yang sedang bertempur di negeri Syam (Sariyah bin Zunaim) agar mereka naik ke atas gunung. Suara Umar bahkan terdengar sampai ke lokasi pertempuran yang jaraknya ribuan kilometer. Dalam hadits disebutkan bahwa, "Takutilah firasat orang mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah." (HR. Tirmidzi No. 3.127).
d. Karomah da'wiyah (untuk kepentingan dakwah)
Karomah da'wiyah adalah jenis karomah yang muncul untuk membungkam musuh agama atau meyakinkan orang agar mereka mau masuk Islam. Salah satu contohnya adalah kisah Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang tertidur selama 309 tahun tanpa makan dan minum. Mereka tinggal di dalam gua dan merupakan contoh nyata dari karomah yang Allah berikan untuk menjaga iman mereka. Kisah ini juga menjadi bukti (dakwah) bagi penduduk setempat tentang adanya hari kebangkitan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْـكَهْفِ وَا لرَّقِيْمِ ۙ كَا نُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا
Artinya: "Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) Ar-Raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?" (QS. Al-Kahf surah ke 18: Ayat 9).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Furqan baina Auliya’ir Rahman wa Auliya’isy Syaithan menjelaskan bahwa "Karomah diberikan Allah kepada hamba-Nya sebagai hujah (bukti) atas kebenaran agama atau karena besarnya kebutuhan hamba tersebut terhadap pertolongan Allah."
C. Irhas
1. Pengertian irhas
Irhas berasal dari bahasa Arab dan merupakan bentuk masdar, yang berarti "fondasi", "landasan", atau "pendahuluan". Irhas adalah kejadian istimewa yang dialami oleh calon nabi dan rasul sebelum mereka diangkat menjadi nabi dan rasul, yang terjadi saat mereka masih kecil dan menunjukkan tanda-tanda kenabian, seperti pengalaman spiritual, mimpi-mimpi luar biasa, atau peristiwa-peristiwa diluar nalar manusia lainnya.
2. Ciri-ciri irhas
Irhas bukan hanya sebuah kejadian aneh di masa kecil, tetapi juga merupakan sebuah rencana Ilahi yang sangat teratur. Berikut adalah penjelasan mendetail tentang ciri-cirinya:
a. Bersifat eksklusif sebagai "stempel" calon nabi
Ciri utama Irhas adalah subjeknya. Irhas hanya diberikan kepada orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah untuk menjadi Nabi atau Rasul. Ini berfungsi sebagai "tanda pengenal" dari langit agar orang di sekitarnya menyadari bahwa ada keistimewaan pada individu tersebut sebelum mereka menjalani tugas besar.
Seperti halnya sebuah bangunan besar memerlukan pondasi yang kuat (Irhas dalam bahasa berarti pondasi), kenabian juga memerlukan bukti awal supaya ketika wahyu turun, masyarakat tidak terlalu terkejut. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitab Nuruzh Zhalam menjelaskan bahwa Irhas adalah sesuatu yang luar biasa yang muncul pada diri Nabi sebelum ia dinyatakan sebagai Nabi.
b. Terjadi pada fase pra-kenabian (masa pertumbuhan)
Waktu terjadinya Irhas sangat jelas, yaitu dari saat dikandung, saat lahir, hingga beberapa saat sebelum menerima wahyu pertama (pada usia 40 tahun untuk Rasulullah). Semua peristiwa luar biasa yang terjadi setelah wahyu datang disebut Mukjizat. Contohnya, ketika Rasulullah masih dalam kandungan, ibunya Aminah tidak merasakan berat seperti ibu hamil biasanya. Bahkan, dia melihat cahaya yang keluar dari dirinya dan menerangi istana-istana di negeri Syam.
c. Muncul sebagai bentuk penjagaan mutlak (inayah)
Allah memberikan Irhas untuk memastikan bahwa calon Nabi-Nya berkembang dengan aman, baik dari segi fisik maupun moral. Irhas sering berfungsi sebagai pelindung yang menjaga mereka dari ancaman kematian atau tindakan yang bisa merusak kesucian mereka. Contohnya adalah Nabi Musa, yang dihanyutkan ke sungai Nil. Secara logis, bayi itu seharusnya tenggelam atau menjadi mangsa hewan, tetapi Allah memerintahkan air untuk melindunginya sampai ia tiba di tangan istri Fir'aun.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَنِ اقْذِفِيْهِ فِى التَّا بُوْتِ فَا قْذِفِيْهِ فِى الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِا لسَّا حِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّيْ وَعَدُوٌّ لَّهٗ ۗ وَاَ لْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَـبَّةً مِّنِّيْ ۚ وَلِتُصْنَعَ عَلٰى عَيْنِيْ
Artinya: "(yaitu), letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS. Ta-Ha surah ke 20: Ayat 39).
d. Melibatkan fenomena alam yang "tunduk"
Irhas sering kali menunjukkan bahwa alam semesta, seperti awan, batu, pohon, dan hewan, sudah mengenali dan menghormati calon utusan Allah bahkan sebelum manusia menyadarinya. Ketika Nabi Muhammad berusia 12 tahun dan pergi berdagang ke Syam, Pendeta Bahira melihat ada awan yang selalu menaungi Nabi serta dahan-dahan pohon yang menunduk untuk memberinya bayangan saat beliau berteduh. Bahira berkata, "Aku mengenalnya melalui tanda-tanda yang terdapat dalam kitab-kitab kami." Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekkah yang memberi salam kepadaku sebelum aku diutus..." (HR. Muslim No. 2.277).
e. Kemampuan luar biasa yang muncul spontan
Irhas memberi calon Nabi kemampuan yang belum seharusnya dimiliki oleh manusia biasa. Tujuannya adalah untuk menutup keraguan atau tuduhan yang mengancam kesucian keluarga Nabi. Irhas memberikan calon Nabi kekuatan yang secara biologis tidak dimiliki oleh orang biasa pada waktunya. Ini bertujuan untuk mengatasi keraguan atau fitnah yang menyerang kehormatan keluarga Nabi.
Misalnya, Nabi Isa berbicara saat masih di buaian. Ini bukan karena belajar, tetapi murni sebuah mukjizat untuk menyelamatkan ibunya, Maryam, dari tuduhan berzina. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قَا لَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗ اٰتٰٮنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا
Artinya: "Dia ('Isa) berkata, "Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi," (QS. Maryam surah ke 19: Ayat 30).
f. Tidak tergantung pada doa sang calon nabi
Berbeda dengan beberapa mukjizat yang kadang muncul setelah Nabi berdoa, seperti saat Nabi Musa meminta air, irhas terjadi murni karena inisiatif Allah tanpa permintaan dari calon Nabi. Bahkan, calon Nabi yang masih kecil mungkin belum menyadari keajaiban tersebut. Ini menunjukkan bahwa menjadi Nabi adalah pilihan penuh dari Allah (hibah), bukan hasil dari usaha atau doa manusia.
g. Menjadi bukti historis bagi penulis sejarah
Irhas berfungsi sebagai catatan sejarah yang mendukung kebenaran kenabian di masa depan. Saat orang meragukan seorang Nabi, saksi-saksi dari masa kecilnya akan mengatakan, "Sejak kecil, banyak kejadian aneh terjadi padanya." Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa peristiwa luar biasa sebelum kenabian bertujuan untuk memberikan ketenangan hati bagi sang Nabi dan juga untuk memperkuat argumen para pengikutnya.
3. Bentuk-bentuk irhas
Irhas muncul dalam berbagai bentuk kejadian. Berikut adalah penjelasan lengkapnya beserta bukti dan contoh khususnya:
a. Kejadian luar biasa untuk melindungi calon Nabi dari bahaya
Bentuk ini menunjukkan bahwa Allah adalah pelindung utama bagi mereka yang dipilih menjadi Nabi. Seolah-olah alam dan semua keadaan harus tunduk agar calon Nabi dapat selamat hingga tugasnya dimulai. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mencatat cerita-cerita perlindungan ini sebagai tanda kemuliaan yang Allah berikan kepada kekasih-Nya (Khalilullah) sejak awal.
Contohnya, ketika Raja Namrud memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki, Ibu Nabi Ibrahim menyembunyikannya di dalam sebuah gua. Dengan kekuasaan Allah, Ibrahim kecil tidak merasa lapar karena ia bisa menghisap jari-jarinya yang mengeluarkan madu dan susu. Ia juga tumbuh jauh lebih cepat dari bayi biasa sehingga berhasil lolos dari pencarian tentara Namrud.
b. Fenomena alam yang menyambut kelahiran calon Nabi
Kejadian ini biasanya sangat besar dan mengubah tatanan dunia saat itu. Ini berfungsi sebagai tanda dari alam bahwa pemimpin umat manusia telah lahir. Pada malam kelahiran Rasulullah, Danau Sawa di daerah Persia (sekarang Irak/Iran) mengering. Danau yang dianggap suci dan luas itu tiba-tiba kehilangan semua airnya dalam satu malam. Ini menjadi peringatan bagi orang-orang Persia bahwa zaman kesyirikan mereka akan segera berakhir. Imam Al-Baihaqi mencatat dalam Dala’ilun Nubuwwah (2/126) melalui jalur Abu Nu’aim, bahwa fenomena ini menandakan runtuhnya kekuatan-kekuatan kafir di dunia.
c. Calon nabi diberikan kelebihan yang tidak dimiliki anak seusianya
Calon Nabi memiliki kemampuan berpikir, kekuatan fisik, atau kedewasaan mental yang luar biasa dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Misalnya, Nabi Yahya mendapatkan kebijaksanaan (ilmu dan pengetahuan) serta kemampuan untuk memahami kitab suci saat masih kecil. Ketika teman-teman sebayanya mengajak bermain, Yahya kecil berkata, "Kita tidak diciptakan hanya untuk bermain."
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰيَحْيٰى خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍ ۗ وَاٰ تَيْنٰهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
Artinya: ""Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh." Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak," (QS. Maryam surah ke 19: Ayat 12).
d. Mendapatkan mimpi yang benar-benar terjadi keesokan harinya (Ru'ya Shadiqah)
Enam bulan sebelum mendapatkan wahyu di Gua Hira, Rasulullah sering bermimpi tentang hal-hal yang benar-benar terjadi keesokan harinya dengan sangat tepat. Karena itu, beliau mulai menyukai waktu sendirian (tahannuts) untuk merenungkan rahasia alam. Dari Aisyah Radhiyallahu 'Anhu beliau berkata: "Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam adalah mimpi yang benar dalam tidur. Beliau tidaklah bermimpi melainkan mimpi itu datang (menjadi kenyataan) seperti cahaya subuh." (HR. Bukhari No. 3 dan Muslim No. 160).
e. Mendengar bisikan atau salam dari benda mati
Allah membuka rahasia bagi calon Nabi agar mereka dapat mendengar suara dari benda-benda yang tampaknya tidak hidup. Ini bertujuan untuk memberi semangat kepada calon Nabi, menunjukkan bahwa ia didukung oleh semua makhluk. Contohnya adalah pohon yang bergerak atau membungkuk saat Rasulullah ingin buang air atau beristirahat, supaya beliau tidak terlihat oleh orang lain dan menjaga kehormatan beliau. Dari Jabir bin Samurah, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekkah yang dulu selalu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Nabi, sungguh aku mengenalnya sekarang." (HR. Muslim No. 2.277).
D. Ma'unah
1. Pengertian ma'unah
Ma'unah datang dari bahasa Arab yang berasal dari kata 'aana - ya'uunu - 'awnan, yang berarti pertolongan atau bantuan. Ma’unah adalah jenis pertolongan luar biasa dari Allah yang diberikan kepada siapa saja, tidak hanya kepada nabi, wali, atau calon nabi yang muncul saat seseorang menghadapi kesulitan hidup, seperti saat berada dalam situasi sulit, sembuh dari penyakit, atau bahkan selamat dari bahaya yang tampaknya tak bisa dihindari.
2. Ciri-ciri ma'unah
a. Diberikan kepada orang mukmin biasa yang shalih
Ma’unah tidak mengharuskan penerimanya menjadi seorang Nabi, seperti halnya Mukjizat, atau seorang Wali yang terkenal, seperti Karomah. Siapa saja bisa menerima Ma’unah selama mereka tetap menjaga iman kepada Allah. Para ulama menjelaskan bahwa "pertolongan" di dunia ini termasuk Ma’unah yang muncul saat diperlukan. Sebagai contoh, seorang Muslim yang tekun beribadah bisa tiba-tiba selamat dari kecelakaan yang seharusnya mematikan dan sulit dipercaya bisa selamat.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّا لَنَـنْصُرُ رُسُلَنَا وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَ شْهَا دُ
Artinya: "Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat)," (QS. Ghafir surah ke 40: Ayat 51).
b. Terjadi di saat kondisi mendesak atau kritis
Ciri utama Ma’unah adalah faktor "keterdesakan". Ma’unah muncul sebagai jawaban dari Allah ketika seseorang tidak lagi mampu menolong dirinya sendiri. Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam Tuhfatul Murid menjelaskan bahwa Ma’unah adalah bantuan yang datang untuk menyelamatkan orang dari bahaya yang mengancam. Contohnya adalah kisah seorang musafir di padang pasir yang kehabisan air dan hampir mati karena kehausan, lalu tiba-tiba ia menemukan sumber air di tempat yang seharusnya kering.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا (٢) وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ(٣)
Artinya: "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS. At-Thalaq surah ke 65: Ayat 2-3).
d. Tidak menimbulkan rasa sombong, melainkan syukur
Orang yang menerima Ma’unah biasanya merasa sangat rendah di depan Allah. Mereka menyadari bahwa keselamatan mereka sepenuhnya berasal dari "tangan" Allah, bukan karena kehebatan diri mereka sendiri. Jika seseorang merasa hebat setelah mendapatkan keselamatan, itu bukanlah Ma’unah yang sejati.
Ma’unah yang sebenarnya justru membuat hubungan hamba dengan Allah semakin dekat. Ini karena pertolongan (Ma’unah) dari Allah selalu mengikuti amal baik yang dilakukan oleh hamba-Nya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: "Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba itu suka menolong saudaranya." (HR. Muslim No. 2.699).
e. Bersifat spontan dan tidak dapat dipelajari
Sama seperti Karomah, Ma’unah tidak dapat diperoleh melalui latihan fisik, puasa yang aneh, atau mantra. Ma’unah adalah hadiah langsung dari Allah yang diberikan secara tiba-tiba. Imam Al-Qusyairi dalam bukunya Al-Risalah al-Qusyairiyyah menegaskan bahwa semua kejadian luar biasa yang datang dari Allah tidak bisa dipelajari dengan trik atau sihir.
f. Tidak memiliki tujuan untuk menantang orang lain
Tidak seperti Mukjizat yang bertujuan untuk menakut-nakuti lawan, Ma’unah berfokus pada kesejahteraan dan keselamatan hamba. Orang yang menerima Ma’unah biasanya ingin peristiwa itu tetap rahasia. Misalnya, seorang mukmin yang tetap tenang dan selamat saat menghadapi intimidasi dari orang jahat, hanya karena Allah mengalihkan perhatian orang jahat tersebut darinya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَ غْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ
Artinya: "Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat." (QS. Ya-Sin surah ke 36: Ayat 9).
Allah memiliki kekuatan untuk mengalihkan perhatian dan penglihatan orang-orang yang jahat. Seorang mukmin yang berada di hadapan musuh bisa saja "tidak terlihat" atau diabaikan oleh orang yang memiliki niat jahat, karena Allah telah menutup hati dan mata musuh tersebut.
3. Bentuk-bentuk ma'unah
a. Ma’unah keselamatan dari musibah maut
Ini adalah bentuk yang paling umum kita dengar, di mana seseorang selamat dari kecelakaan atau bencana besar yang seharusnya merenggut nyawa mereka. Ketakwaan bisa menjadi alasan Allah memberikan "jalan keluar" untuk keselamatan di dunia. Misalnya, ada orang yang ketinggalan pesawat yang kemudian mengalami kecelakaan, atau seseorang yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan saat gempa selama berhari-hari tetapi tetap hidup tanpa cedera serius.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَيُنَجِّيْ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا بِمَفَا زَتِهِمْ ۖ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوْٓءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Artinya: "Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka. Mereka tidak disentuh oleh azab dan tidak bersedih hati." (QS. Az-Zumar surah ke 39: Ayat 61).
b. Ma’unah kecukupan dalam keterbatasan (barakah)
Ma’unah ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang muncul secara ajaib ketika seseorang berada dalam kesulitan ekonomi, tetapi tetap jujur dan berserah diri. Misalnya, ada sebuah keluarga yang hanya memiliki sedikit makanan, namun makanan itu cukup untuk mengenyangkan banyak tamu yang datang. Atau bisa juga terjadi rezeki mendadak saat tagihan tiba-tiba harus dibayar tanpa diduga sebelumnya.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, memudahkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk." (HR. Tirmidzi No. 2.467).
c. Ma’unah keteguhan hati (ma’unah bathiniyah)
Ini adalah bantuan dari Allah yang memberikan ketenangan pikiran luar biasa ketika seseorang menghadapi intimidasi, fitnah, atau ancaman yang menakutkan. Keteguhan hati saat menghadapi ujian berat di dunia adalah dukungan besar untuk menjaga keyakinan. Misalnya, seorang mukmin yang tetap tenang dan berani mengucapkan kebenaran di depan atasan yang zalim, atau seseorang yang tetap kuat dalam iman meskipun dipaksa untuk murtad dengan ancaman senjata.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا لْقَوْلِ الثَّا بِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰ خِرَةِ ۚ
Artinya: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat..." (QS. Ibrahim surah ke 14: Ayat 27).
d. Ma’unah perlindungan dari gangguan jahat (hijab)
Ma’unah adalah cara di mana Allah membuat musuh atau orang yang punya niat jahat jadi "lupa," "tidak melihat," atau tiba-tiba mengubah pikiran sehingga niat jahat mereka tidak terwujud. Contohnya, seorang perampok bisa merasa takut dan kabur saat melihat calon korbannya, meskipun korban tidak melawan. Atau, ada juga orang yang berhasil lolos dari kejaran orang jahat karena tiba-tiba "tersembunyi" dari pandangan musuhnya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاِ ذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰ نَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِا لْاٰ خِرَةِ حِجَا بًا مَّسْتُوْرًا
Artinya: "Dan apabila engkau (Muhammad) membaca Al-Qur'an, Kami adakan suatu dinding yang tidak terlihat antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat," (QS. Al-Isra' surah ke 17: Ayat 45).
Walaupun ayat ini berbicara tentang Rasulullah, para ulama menjelaskan bahwa orang yang beriman dan menerapkan ajaran Al-Qur'an dapat memperoleh "dinding/hijab" Ma'unah ketika menghadapi orang-orang kafir atau jahat.
e. Ma’unah kemudahan dalam ibadah
Terkadang, Ma’unah muncul sebagai kemudahan dalam menjalankan ketaatan yang sangat sulit bagi orang lain. Misalnya, seseorang yang secara fisik lemah tetapi mampu berjalan jauh untuk beribadah tanpa merasa lelah, atau seseorang yang tiba-tiba bisa berbicara dengan lancar saat berdakwah, padahal biasanya ia adalah orang yang gagap atau pemalu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa bantuan Allah kepada seorang mukmin untuk menjalankan kewajibannya di tengah berbagai rintangan adalah bagian dari pertolongan (Ma’unah) Allah yang seharusnya disyukuri.
Ma’unah merupakan tanda kasih sayang Allah dan bukan berarti orang tersebut pasti sudah menjadi wali. Hal ini penting agar pendengar tetap rendah hati dan tidak merasa "sakti" ketika menerima pertolongan luar biasa tersebut.
E. Perbedaan mukjizat, karomah, irhas dan ma'unah
1. Penerimanya (Siapa yang Mendapatkannya?)
Perbedaan utama terletak pada orang-orang yang dipilih Allah untuk menunjukkan kejadian tersebut. Mukjizat hanya diberikan kepada Nabi dan Rasul yang sudah diutus secara resmi. Irhas diberikan kepada calon Nabi atau Rasul ketika mereka masih kecil atau sebelum mendapatkan wahyu. Karomah diberikan kepada Wali Allah, yaitu orang-orang yang sangat baik dan dekat dengan Allah. Ma’unah diberikan kepada setiap orang mukmin biasa yang taat dan membutuhkan bantuan.
2. Waktu terjadinya
Waktu terjadinya peristiwa ini menentukan jenisnya dalam ajaran akidah. Irhas terjadi sebelum Nabi diangkat (sebelum kenabian dimulai). Sementara itu, mukjizat muncul setelah Nabi diangkat hingga beliau wafat. Di sisi lain, karomah dan ma’unah berlangsung setelah Nabi Muhammad meninggal sampai hari kiamat (selama masih ada orang yang beriman di dunia).
3. Tujuan dan fungsinya
Mengapa Allah memperlihatkan keajaiban-keajaiban itu? Tujuannya bervariasi. Mukjizat berfungsi sebagai tantangan dan bukti yang jelas bagi orang-orang yang tidak percaya bahwa seseorang adalah utusan resmi Allah. Irhas menjadi tanda pengenal agar orang-orang di sekitar menyadari keistimewaan calon Nabi sejak awal. Karomah adalah bentuk pemuliaan dari Allah kepada kekasih-Nya agar mereka semakin yakin dalam beribadah. Ma’unah merupakan bantuan murni bagi seorang mukmin agar terhindar dari bencana atau kesulitan hidup.
4. Sifat pengakuannya (tantangan)
Mukjizat perlu ditampilkan dengan jelas karena berfungsi sebagai bukti untuk mengajak orang percaya. Nabi sering kali menantang lawan-lawannya dengan mukjizat ini. Di sisi lain, karomah biasanya disembunyikan oleh wali karena mereka takut menjadi sombong, kecuali dalam situasi mendesak untuk berdakwah. Sementara itu, irhas dan ma’unah terjadi secara alami tanpa niat untuk menantang siapa pun. Ma'unah adalah urusan pribadi antara seorang hamba dan Allah demi keselamatannya.
5. Keberlanjutan (durasinya)
Mukjizat dan irhas hanya berlaku untuk Nabi tersebut. Setelah beliau meninggal, mukjizat fisik seperti membelah laut tidak bisa dilakukan lagi oleh orang lain, kecuali Al-Qur'an yang merupakan mukjizat abadi. Sementara itu, karomah dan ma’unah bersifat dinamis dan tetap ada. Selama masih ada orang yang taat dan beriman, Allah akan terus memberikan karomah kepada para wali dan ma'unah kepada orang-orang beriman yang sedang dalam kesulitan hingga akhir zaman.
Semua peristiwa ini berasal dari satu sumber yang sama, yaitu Allah. Perbedaan nama hanya menunjukkan cara kita mengenali posisi seseorang di hadapan Allah.
F. Sikap kita terhadap mukjizat, karomah, irhas dan ma'unah
1. Mengimani dengan sepenuh hati (tasdiq)
Langkah pertama adalah meyakini bahwa peristiwa luar biasa itu benar-benar terjadi atas izin Allah. Menolak mukjizat atau karomah yang sudah jelas dalam dalil sama dengan meragukan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa di atas segala hukum alam. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: "Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 106).
2. Menjadikan mukjizat sebagai penguat tauhid
Setiap kali kita membaca cerita tentang mukjizat atau irhas, tujuan kita bukan untuk memuja Nabi secara berlebihan, tetapi untuk menyadari betapa hebatnya Allah yang memberikan mukjizat itu. Mukjizat adalah bukti bahwa ajaran para Nabi adalah benar. Setiap keajaiban yang ditunjukkan oleh Nabi dimaksudkan agar manusia percaya bahwa Allah adalah satu-satunya penguasa alam semesta.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰ فَا قِ وَفِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَـقُّ ۗ
Artinya:"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar." (QS. Fussilat surah ke 41: Ayat 53).
3. Mengutamakan istiqomah di atas karomah
Bagi seorang muslim, hidup tidak hanya untuk menjadi "sakti" atau mencari karomah. Para ulama mengingatkan bahwa tetap konsisten dalam menjalankan kewajiban jauh lebih berharga daripada bisa terbang di udara atau berjalan di atas air. Imam Abu Yazid Al-Busthami berkata: "Jika kalian melihat seseorang diberi karomah hingga bisa duduk bersila di udara, janganlah tertipu sampai kalian melihat bagaimana ia melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan menjaga batasan syariat."
4. Waspada terhadap istidraj (tipu daya)
Kita perlu pintar membedakan antara keajaiban yang datang dari Allah dan tipuan dari setan (Istidraj). Jika seseorang terlihat memiliki kemampuan luar biasa tetapi tidak melaksanakan shalat atau melanggar aturan agama, maka itu adalah Istidraj. Ini berarti kemampuan tersebut diberikan Allah untuk menjauhkan orang itu semakin jauh dari kebenaran. Misalnya, Dajjal dapat menurunkan hujan dan menghidupkan orang mati, tetapi itu adalah ujian terbesar, bukan suatu karomah.
Allah mengingatkan kita bahwa Dia bisa memberikan kesenangan atau kelebihan kepada orang-orang yang tidak percaya atau berbuat dosa hanya untuk menjebak mereka lebih dalam lagi. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَا بَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتّٰۤى اِذَا فَرِحُوْا بِمَاۤ اُوْتُوْۤا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِ ذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
Artinya: "Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (QS. Al-An'am surah ke 6: Ayat 44).
5. Menghindari sikap mengkultuskan individu
Ketika kita melihat seseorang yang mendapatkan karomah atau ma’unah, kita tidak boleh menganggap orang itu sebagai sosok yang suci atau menyembahnya. Kita harus ingat bahwa mereka adalah hamba Allah yang masih terikat pada hukum halal dan haram. Dalam Islam, meskipun kedudukan seorang wali atau Nabi sangat tinggi, mereka tetap manusia dan tidak boleh disembah atau dianggap memiliki kekuasaan sendiri di luar kehendak Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْ اِنِّيْ لَاۤ اَمْلِكُ لَـكُمْ ضَرًّا وَّلَا رَشَدًا
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu."" (QS. Al-Jinn surah ke 72: Ayat 21).
Jika seorang Nabi tidak memiliki kekuatan sendiri, maka seorang wali yang mendapatkan karomah juga tidak pantas untuk dipuja atau dianggap sebagai penentu nasib manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan dalam Al-Furqan bahwa wali Allah tidaklah bebas dari dosa seperti Nabi, jadi kita tidak boleh mengikuti mereka dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat.
6. Menjaga rahasia dan selektif dalam bercerita (hifzhul asrar)
Kita harus bersikap bijak terhadap fenomena yang luar biasa. Mengisahkan karomah atau ma’unah kepada orang-orang yang tidak siap secara iman atau yang tidak mengerti ilmu agama dapat membawa dampak negatif. Tidak semua orang bisa memahami hal-hal yang bersifat supranatural. Jika kita menceritakannya kepada orang yang hatinya dipenuhi dengan keburukan atau hanya berpikir dengan cara materi, mereka akan menolak dan merendahkan ajaran agama.
Kita harus berhati-hati saat berbagi pengalaman spiritual atau ma'unah. Ini sesuai dengan atsar (ucapan) Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang tercantum dalam Shahih Bukhari: "Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka pahami. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?' (HR. Bukhari No. 127).
Para ulama menggambarkan bahwa para wali Allah sangat melindungi karomah mereka seperti seorang wanita menjaga rahasia haidnya. Mereka khawatir jika cerita tentang karomah tersebut disampaikan tanpa alasan yang sesuai syar'i, maka pahala dari ketaatan mereka bisa hilang atau ternodai oleh munculnya rasa bangga diri (ujub).
7. Hanya diceritakan untuk kepentingan dakwah dan ibrah
Anda dapat menjelaskan fenomena ini hanya jika ada tujuan yang jelas, seperti:
- Menguatkan iman seseorang yang sedang meragukan.
- Memberikan harapan kepada orang yang merasa putus asa.
- Menjelaskan kebenaran agama di depan orang-orang yang menentang, seperti fungsi Mukjizat.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاَ مَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Artinya: "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)." (QS. Ad-Duha surah ke 93: Ayat 11).
Ulama menjelaskan bahwa "menyatakan nikmat" harus dilakukan dengan niat bersyukur dan disampaikan kepada orang yang sesuai, bukan untuk pamer. Jika kita cerita tanpa dasar ilmu kepada sembarang orang, ada risiko masyarakat umum akan mengira itu seperti sihir atau praktik perdukunan yang bisa merusak akidah.
8. Senantiasa berdoa memohon ma'unah
Karena ma’unah tersedia untuk setiap orang yang beriman, kita diajarkan untuk selalu mengandalkan Allah, terutama ketika menghadapi masalah dalam hidup. Doa merupakan kunci utama untuk mendapatkan ma’unah dalam kehidupan sehari-hari kita. "Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau merasa lemah." (HR. Muslim No. 2.664).
Penutup:
Sebagai penutup, kita perlu menyadari bahwa semua fenomena luar biasa, baik itu mukjizat dari para Nabi maupun ma’unah bagi orang biasa, sepenuhnya merupakan kuasa Allah. Semua hal ini tidak diberikan untuk membuat kita terpesona oleh keajaibannya, tetapi untuk meningkatkan ketundukan kita kepada Sang Pencipta.
Seorang mukmin yang bijak tidak akan menghabiskan waktu mencari karomah atau mengejar kejadian aneh hanya demi pengakuan. Seperti yang dikatakan oleh para ulama: "Al-Istiqomah khairun min alfi karomah, (Istiqomah lebih baik daripada seribu karomah) " yaitu tetap konsisten dalam menjalankan syariat Allah jauh lebih baik daripada seribu karomah. Semoga pemahaman yang tepat tentang Mukjizat, Karomah, Irhas, dan Ma’unah ini membuat kita lebih bijaksana dalam menghadapi fenomena di sekitar kita, selalu rendah hati, dan yang terpenting, tetap berjalan di jalan tauhid yang murni.
Sumber referensi:
1. Al-Qur'an
- QS. Ar-Ra'd surah ke 13: Ayat 38.
- QS. Al-Isra' surah ke 17: Ayat 88.
- QS. Asy-Syu'ara' surah ke 26: Ayat 63.
- QS. Al-Anbiya surah ke 21: Ayat 69.
- QS. Yunus surah ke 10: Ayat 62-63.
- QS. Fussilat surah ke 41: Ayat 30.
- QS. Ali 'Imran surah ke 3: Ayat 37.
- QS. Al-Kahf surah ke 18: Ayat 9.
- QS. Ta-Ha surah ke 20: Ayat 39.
- QS. Maryam surah ke 19: Ayat 30.
- QS. Maryam surah ke 19: Ayat 12.
- QS. Ghafir surah ke 40: Ayat 51.
- QS. Ya-Sin surah ke 36: Ayat 9.
- QS. At-Thalaq surah ke 65: Ayat 2-3.
- QS. Az-Zumar surah ke 39: Ayat 61.
- QS. Al-Isra' surah ke 17: Ayat 45.
- QS. Ibrahim surah ke 14: Ayat 27.
- QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 106.
- QS. Al-An'am surah ke 6: Ayat 44.
- QS. Fussilat surah ke 41: Ayat 53.
- QS. Ad-Duha surah ke 93: Ayat 11.
- QS. Al-Jinn surah ke 72: Ayat 21.
2. Hadits nabi
- HR. Bukhari No. 4.981 dan Muslim No. 152.
- HR. Bukhari No. 3.561 dan Muslim No. 2.330.
- HR. Tirmidzi No. 3.127.
- HR. Bukhari No. 6.502.
- HR. Bukhari No. 3 dan Muslim No. 160.
- HR. Muslim No. 2.277.
- HR. Tirmidzi No. 2.467.
- HR. Muslim No. 2.699.
- HR. Bukhari No. 127.
3. Kitab para ulama Ahlussunnah wal jamaah
- Dala’ilun Nubuwwah karya Imam Al-Baihaqi.
- Al-Furqan baina Auliya’ir Rahman wa Auliya’isy Syaithan karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
- Al-Risalah al-Qusyairiyyah karya Imam Al-Qusyairi.
- Siyar A’lam an-Nubala karya Imam Al-Dzahabi.
- Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah karya Imam Al-Lalaka’i.
- Tuhfatul Murid Syarh Jauharatut Tauhid karya Imam Ibrahim al-Bajuri.
- Madarijus Salikin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
- Madarijus Salikin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
- Jami’ Karamat al-Awliya karya Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani.
- Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyyah karya Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi.
- Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir.
4. Buku
- Akidah Islam karya Sayyid Sabiq.
- Pribadi Muhammadi karya Prof. Dr. Hamka.
- Karomah Para Wali karya Syaikh Majdi Muhammad Asy-Syahawi.
- Pertolongan Allah dalam Al-Qur'an karya Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah.
- Mukjizat dan Karomah: Menyingkap Rahasia di Balik Kejadian Luar Biasa karya Syaikh Abdul Hadi Al-Kharsah.
- Islam: The Way of Revival karya Sayyid Abul A'la Maududi.
5. Artikel/jurnal/makalah
- Studi Komparatif antara Mukjizat, Karomah, dan Ma’unah dalam Teologi Islam oleh Dr. Hamdan.
- Karakteristik Irhas pada Masa Kecil Nabi Muhammad ﷺ: Tinjauan Psikologi Perkembangan oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat.
- Menyikapi Fenomena Supranatural: Antara Rasionalitas dan Spiritualitas oleh Prof. Amin Abdullah.
- Kriteria Keajaiban dalam Islam: Mukjizat, Karomah, Ma’unah, dan Istidraj oleh Dr. Anis Malik Thoha.
- Eksistensi Karomah Wali dalam Pandangan Ahlussunnah Wal Jama’ah oleh Muhammad Ridwan.
Penulis: Maulana Aditia
Baca juga:
Komentar
Posting Komentar