Meriam cetbang || Senjata api mematikan dari Kerajaan Majapahit ||

Perkembangan teknologi secara berkala sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Penyebabnya adalah kebutuhan manusia yang terus bertambah seiring berjalannya waktu, seperti pertanian, perkebunan, bahkan peperangan. Salah satu inovasi teknologi yang mampu menentukan jalannya sejarah dunia selama ini adalah ditemukannya bubuk mesiu sebagai bahan peledak.

Menurut sejarawan, alkemis Tiongkok menemukan sifat eksplosif bubuk mesiu sejak tahun 850 Masehi. Bubuk mesiu dibuat dari kombinasi kalium nitrat, belerang, dan arang. Bubuk hitam tersebut awalnya digunakan dalam kembang api dan petasan, tetapi kemudian juga digunakan dalam senjata api. Meriam dan granat termasuk senjata pertama yang menggunakan bubuk mesiu. Bubuk mesiu kemudian menyebar ke Eropa, Jepang, Jawa dan banyak tempat lainnya.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, kerajaan-kerajaan di nusantara sudah mempunyai senjata api bernama cetbang (Cet-Bang). Meriam jenis ini diproduksi dan digunakan pada masa Kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan nusantara berikutnya. Bentuk senjata ini berbeda dengan meriam Eropa dan Timur Tengah pada umumnya. Di belakang meriam perunggu itu ada sebuah bilik dan tabung peluru. Itu sebabnya cetbang disebut juga meriam coak

Teknologi mesiu kemungkinan sampai ke Majapahit pada masa invasi tentara Kubilai Khan di bawah pimpinan Yikomusu, yang bekerja sama dengan Raden Wijaya dalam mengalahkan Kertanagara pada tahun 1293. Mengenai sejarah penyerangan pasukan Mongol sudah kita bahas pada bagian akhir Kerajaan Kediri dan awal berdirinya Kerajaan Majapahit pada pembahasan "Sejarah Perjalanan Indonesia (Masa Kerajaan Hindu-Buddha)"

Saat itu tentara Mongol menggunakan meriam (pao) untuk menyerang pasukan Daha. Dari situlah orang Jawa mengembangkan meriamnya. Dalam Prasasti Sekar disebutkan bahwa cetbang diproduksi di Rajekwesi, Bojonegoro, sedangkan bubuk mesiu sebagian besar diproduksi di Swatantra Biluluk. 

Ada pendapat yang menyatakan bahwa Kerajaan Majapahit mendominasi Nusantara karena teknologi penempaan perunggunya yang unik dan kemampuan produksi massal melalui industri rumahan yang dimasukkan ke dalam gudang senjata utama. Kerajaan Majapahit juga memelopori produksi dan penggunaan senjata api secara massal sehingga menjadi bagian umum dalam peperangan pada masanya. 

Meriam biasa digunakan oleh Angkatan Laut Kerajaan Majapahit, bajak laut, dan kerajaan lain di nusantara. Ukuran cetbang Majapahit bervariasi antara 1-3 meter. Meriam 3 meter biasanya dipasang pada kapal perang Majapahit yang disebut Jong Majapahit. Namun, sebagian besar senjata tersebut kaliber kecil (30-60 mm). Meriam ini ringan dan mudah dipindahkan, sebagian besar dapat dibawa dan ditembakkan oleh satu orang.

Meriam ini dipasang pada garpu putar (cagak). Bagian bawahnya dipasang pada lubang atau soket di kota mara (dinding atas) kabin kapal dan pada dinding benteng. Sebatang kayu didorong ke dalam lubang di bagian belakang meriam dengan menggunakan rotan. Panglima angkatan laut Majapahit yang terkenal menggunakan cetbang di angkatan laut Majapahit adalah Mpu Nala.

Ketenaran Mpu Nala pada masa Majapahit diketahui melalui Prasasti Sekar, Prasasti Manah I Manuk (Bendosari), Prasasti Batur, Prasasti Tribhuwana, dan Kakawin Nagarakretagama yang menyebutnya sebagai Rakryan Tumenggung (panglima perang). Dalam Kakawin Nagarakretagama, Mpu Nala diberi gelar "Wiramandalika". Gelar ini diberikan atas jasanya dalam perluasan wilayah Majapahit.

Cetbang dipasang sebagai meriam tetap atau sebagai meriam putar. Yang kecil bisa dengan mudah dipasang di wadah kecil yang disebut penjajap dan lancaran. Senjata ini digunakan sebagai senjata anti infanteri, bukan senjata anti kapal. Saat itu hingga abad ke-17, para prajurit laut Nusantara berperang di kapal (balai). Dengan peluru scattershot meriam seperti itu tentu akan sangat efektif saat ditembakkan pada kumpulan prajurit.

Ketika kekuasaan Majapahit merosot, banyak ahli meriam perunggu yang tidak puas dengan kondisi Kerajaan Jawa, mengungsi ke Brunei, Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Kepulauan Filipina. Hal ini menyebabkan meluasnya penggunaan meriam cetbang. Meriam ini terutama digunakan di kapal dagang untuk perlindungan bajak laut.

Pada masa pasca Majapahit, meriam turunan cetbang nusantara (khususnya Sumatera dan Malaya) secara umum terbagi menjadi dua jenis yaitu lila dan rentaka. Meriam Lila lebih kecil dari meriam Eropa namun memiliki desain yang menarik. Banyak digunakan di Kesultanan Melayu, Semenanjung Malaya, Sumatra dan Kalimantan. 

Meriam Lila digunakan di kapal dagang dan kapal perang pemerintah untuk mengusir bajak laut dan juga dalam peperangan laut. Meriam Lila juga digunakan dan dimainkan dalam upacara-upacara seperti pengangkatan seorang raja, penyambutan tamu-tamu penting, lamaran calon pengantin, dan kematian orang penting.

Menurut orang Portugis yang tiba di Malaka pada abad ke-16, sudah terdapat perkampungan besar pedagang Jawa. Secara swadaya orang Jawa di Malaka membuat meriamnya sendiri. Saat itu, keberadaan meriam di kapal dagang sama pentingnya dengan layar. Saat itu, hampir seluruh kerajaan di wilayah tersebut memiliki meriam. 

Rentaka banyak digunakan di Indonesia, Malaysia dan Filipina pada abad ke-16. Senjata ini merupakan meriam kecil (smoothbore) dan diisi dari lubang moncong laras (muzzle loading), namun yang paling awal diisi dari belakang (breech-loaded). 

Pada tahun 1511, Afonso de Albuquerque dan pasukannya merebut 3.000 meriam, 2.000 terbuat perunggu, dan 1.000 terbuat besi di Malaka, yang teknik produksinya sangat baik bahkan tidak dapat ditandingi oleh Portugis. Saat itu, orang Portugis menyebut meriam Jawa dengan sebutan "Berço". Istilah ini juga digunakan untuk semua senjata putar isian belakang (beech-loading swivel gun). Orang Spanyol menyebutnya Verso.

Pada tahun 1528, Sultan Trenggono dari Demak menghadiahkan Fatahillah sebuah meriam besar bernama Ki Jimat atas keberhasilannya menaklukkan Banten dan Sunda Kelapa. Sekelompok ahli teknis dari Turki dan Aceh yang dipimpin oleh Coje Geinal (Khoja Zainal), seorang mualaf Portugis dari Algarve, ikut serta dalam produksi meriam besar ini.

Pada abad ke-16, pengaruh teknik dari Eropa mencapai pembuatan meriam. Pengaruhnya sebagian besar datang dari Kesultanan Turki Usmani. Cetbang Majapahit digunakan dan diimprovisasi hingga masa Kesultanan Demak. Meriam ini digunakan dalam penyerangan kerajaan Demak ke Malaka. Bijih besi yang digunakan untuk membuat meriam Jawa didatangkan dari wilayah Khurasan, Iran utara, sehingga dikenal dengan nama wesi kurasani.

Saat ini masih terdapat meriam cetbang yang masih tersimpan baik di Indonesia maupun diluar negeri, berikut diantaranya:

1. Museum Talaga Manggung, Majalengka, Jawa Barat. Berbagai cetbang masih terawat dengan baik. Adanya ritual mandi pusaka, termasuk cetbang, menjadikan cetbang sangat terawat.

2. Museum Fatahillah memiliki meriam coak yang dilabeli sebagai "Meriam Cirebon", Pada dudukan tetap yang berornamentasi. Ukuran pajangannya adalah PxLxT 234x76x79 cm.

3. Museum Bali, Denpasar, Bali. Meriam Bali kategori cetbang ini terdapat di pelataran Museum Bali.

4. Museum Luis de Camoes di Makau mempunyai cetbang yang sangat berornamen. Tahun pembuatannya tidak diketahui.

5. Metropolitan Museum of Art, New York, Amerika Serikat. Meriam yang tersimpan disana diperkirakan berasal dari abad ke-15, terbuat dari perunggu dan berdimensi panjang 37,4375 inci (95,1 cm). (id.m.wikipedia.org)

Itulah tadi pembahasan kita pada kesempatan kali ini. Kurang lebihnya penulis mohon maaf, sekian dan terimakasih.

Penulis : Maulana Aditia 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhi suudzon dan tingkatkan husnudzon

Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul

Peduli terhadap hewan dan lingkungan sekitar