Johannes van den Bosch || "Juru Selamat" Kerajaan Belanda dari kebangkrutan
Artikel berjudul "Johannes van den Bosch || "Juru Selamat" Kerajaan Belanda dari Kebangkrutan" membahas tentang peran Johannes van den Bosch dalam menyelamatkan Kerajaan Belanda dari kebangkrutan. Van den Bosch diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1830 setelah sistem tersebut dicetuskan. Bagaimana biografinya? Berikut pembahasannya.
Johannes van den Bosch lahir di Herwijnen, Belanda pada tanggal 2 Februari 1780. Ia merupakan anak dari Johannes van den Bosch Sr., seorang dokter. dan Adriana Poningh. Pada tahun 1797, Van den Bosch masuk tentara Republik Batavia atas permintaannya sendiri dan dikirim ke Batavia (Jakarta) sebagai letnan.
Setelah pindah ke Batavia, van den Bosch menjadi ajudan yang dekat dengan para gubernur jenderal. Ia juga terlibat dalam urusan komersial dan politik di Hindia Belanda (Indonesia), hal ini membuatnya dengan cepat cepat naik pangkat menjadi kolonel.
Namun pada tahun 1808, Van den Bosch berselisih dengan Gubernur Jenderal yang baru, Herman Willem Daendels. Karena masalah ini, Van den Bosch diberhentikan dengan hormat dari pangkat kolonel dan dikirim kembali ke Belanda bersama keluarganya pada tahun 1810. Sayangnya, ia ditangkap oleh Inggris dalam perjalanan dan dijadikan tawanan hingga tahun 1812.
Setibanya di Belanda, Johannes van den Bosch bergabung dengan pemerintahan sementara yang bertugas memulihkan otoritas Wangsa Oranye bernama William Frederick. Van den Bosch kemudian ditugaskan kembali dengan pangkat kolonel di angkatan darat ketika Belanda berada di bawah Wangsa Orange.
Pada tahun 1818, Van den Bosch menjadi lebih aktif dalam mengurus masyarakat dengan mendirikan Society of Humanitarianism untuk membantu masyarakat miskin yang terkena dampak Perang Napoleon. Kemudian pada tahun 1827 Van den Bosch kembali diperintahkan untuk mengembalikan kendali Belanda atas Hindia Barat sebagai Komisaris Jenderal.
Pada bulan Desember tahun yang sama, dia tiba di Curacao. Selama delapan bulan ke depan, Van den Bosch fokus pada peningkatan perekonomian dengan mendorong perdagangan dan sektor perbankan. Tak lama setelah kembali ke Belanda pada tahun 1828, Van den Bosch naik pangkat menjadi letnan jenderal.
Mendekati tahun 1830, kondisi perekonomian Belanda, baik di tanah air maupun di daerah jajahannya, sangat kacau. Saat itu perbendaharaan sedang kosong, salah satunya karena biaya perang di daerah jajahannya, salah satunya perang Diponegoro atau dengan negara lain. Perekonomian Belanda yang sedang terpuruk memerlukan solusi cepat untuk memulihkan perekonomiannya.
Johannes van den Bosch kemudian menjadi juru selamat Belanda dari kebangkrutan dengan menyarankan agar daerah jajahan menanam tanaman yang akan dijual di pasar dunia untuk memulihkan kembali perekonomian pemerintah Belanda. Gagasan Van den Bosch ini kemudian dikenal dengan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel.
Pemerintah Belanda menyetujui usulan tersebut sehingga Johannes van den Bosch diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-43 pada tahun 1830. Sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tugas utama Van den Bosch adalah menerapkan sistem tanam paksa untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya untuk mengisi perbendaharaan Belanda.
Van den Bosch menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda hingga tahun 1833. Sistem tanam paksa kemudian dihapuskan setelah banyak kritik karena dianggap terlalu membuat sengsara rakyat di Hindia Belanda. Walau bagi Belanda gagasan Van den Bosch berhasil menggemukkan perekonomian Belanda. Pada tanggal 18 Mei 1834, Johannes van den Bosch kembali ke Belanda dan diangkat menjadi Menteri Urusan Daerah Jajahan.
Pada tahun 1835 ia menjadi bangsawan Belanda dengan gelar Baron. Van den Bosch adalah seorang pro-kolonialis yang menindas rakyat jajahan yang membuat sengsara untuk menghasilkan lebih banyak uang bagi pemerintah Belanda. Pada tahun 1839, salah satu kebijakannya dianggap tidak jelas dan dikritik habis-habisan oleh dewan. Namun atas jasanya kepada negara, Johannes van den Bosch tetap dianugerahi gelar "Graaf" yakni gelar resmi tertinggi di Belanda.
Kemudian, pada tanggal 1 Januari 1840, ia mengundurkan diri dari jabatan menterinya dan diberi gelar Count van den Bosch dan gelar kehormatan Menteri Negara. Pada tahun 1842, Van den Bosch menjadi anggota Tweede Kamer (Dewan Perwakilan untuk Belanda Selatan). Johannes van den Bosch meninggal karena sakit di Den Haag, Belanda, pada tanggal 28 Januari 1844.
Penulis: Maulana Aditia
Komentar
Posting Komentar