Muhammad Al Fatih || Sang penakluk Konstantinopel
Konstantinopel adalah ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, terletak di Semenanjung Bosphorus, antara Balkan dan Anatolia, menghubungkan Laut Hitam dan Laut Mediterania melalui Selat Dardanella dan Laut Aegea. Kota ini menghubungkan dua benua besar, Eropa dan Asia. Letaknya yang strategis membuat negara-negara, termasuk umat Islam, tertarik untuk menguasainya.
A. Sejarah kota Konstantinopel
Kota Konstantinopel, yang sebelumnya dikenal sebagai Byzantium, memiliki sejarah yang kaya dan memainkan peran sentral dalam perkembangan dunia kuno dan abad pertengahan. Byzas, pendiri kota ini, awalnya menamai kota tersebut Byzantium sekitar tahun 660 SM. Nama tersebut kemudian diubah menjadi Konstantinopel setelah Kaisar Romawi Konstantinus I memilihnya sebagai ibu kota Kekaisaran Romawi pada tahun 330 M.
Konstantinopel menjadi pusat keanekaragaman budaya, dan bangunan megah seperti Hagia Sophia dan Istana Topkapi mencerminkan keindahan seni dan arsitektur Bizantium. Kaisar Konstantinus I mempersembahkan gereja Hagia Sophia di Konstantinopel untuk Maria dan anak-anak Yesus dalam sebuah mosaik yang dikeluarkan oleh Konstantinus I untuk merayakan berdirinya Konstantinopel.
Selama 11 abad berikutnya, kota ini dikepung beberapa kali, namun hanya ditaklukkan sekali sebelumnya, yaitu pada Perang Salib Keempat pada tahun 1204. Tentara Salib kemudian mendirikan negara Latin di sekitar Konstantinopel, sementara Kekaisaran Bizantium terpecah menjadi negara-negara yang lebih kecil seperti Nicea, Epirus dan Trebizond.
Mereka berperang sebagai sekutu melawan kekuatan Latin, tetapi juga di antara mereka sendiri untuk memperebutkan takhta Byzantium. Bangsa Nicea akhirnya merebut Konstantinopel dari bangsa Latin pada tahun 1261 dan memulihkan Kekaisaran Bizantium di bawah dinasti Palaiologos. Setelah itu, kekaisaran semakin melemah karena harus menangkis serangan berturut-turut dari bangsa Latin, Serbia, Bulgaria, dan Turki Ottoman.
Hingga pada akhirnya Muhammad Al-Fatih tercatat dalam sejarah dunia dan dikenang hingga saat ini, pada tahun 1453, saat masih berusia 21 tahun, ia berhasil memimpin pasukan Tukri Usmani untuk merebut kota Konstantinopel dari Kekaisaran Bizantium. Padahal kota Konstantinopel pada masanya dikenal sebagai kota dengan benteng legendaris yang sangat sulit ditembus.
Sejarah Konstantinopel mencerminkan perubahan besar dalam peradaban manusia dan mencerminkan peran pentingnya dalam menyatukan peradaban Romawi dan Ottoman. Dengan sejarahnya yang panjang dan kompleks, Konstantinopel mempertahankan posisinya sebagai salah satu kota bersejarah terbesar di dunia, yang mencerminkan perjalanan peradaban sepanjang waktu.
B. Alasan penaklukan Konstantinopel
Alasan Muhammad Al-Fatih ingin menguasai Konstantinopel antara lain:
Pertama, adanya motivasi keimanan kepada Allah dan adanya motivasi oleh hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam yang menjanjikan kota itu akan ditaklukkan. Dalam hadits disebutkan bahwa, “Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukan, dan sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya”. (HR Ahmad)
Hal ini terjadi karena kaisar Romawi bertindak sewenang-wenang dan tujuannya adalah untuk menangkap kaum Muslim. Hal ini terlihat pada beberapa perang besar yang sengaja ditujukan untuk menyerang umat Islam. Seperti Perang Mu'tah, Perang Tabuk, Perang Yarmuk dan masih banyak lagi.
Kedua, Bukan penjajahan atau penaklukan, tapi pembebasan. Kolonisasi mengacu pada proses penguasaan suatu wilayah untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Sementara itu, dalam Islam, nilai yang dibawa oleh kekuatan penakluk Konstantinopel dikenal dengan konsep futuhat al islamiyah, yaitu perluasan wilayah dakwah Islam. Perlu diperhatikan bahwa wilayah ini akan diatur oleh hukum Islam yang mengedepankan kesejahteraan (tidak memaksakan kehendak beragama, keputusan memilih kelompok, dll).
Ketiga, Konstantinopel terletak di persimpangan Eropa dan Asia dan menguasai jalur perdagangan penting. Keberhasilan Ottoman dalam menaklukkan kota ini akan memberi mereka kendali ekonomi dan militer yang signifikan.
Keempat, Kesultanan Ottoman yang dipimpin oleh Sultan Mehmed II ingin melakukan ekspansi hingga ke Eropa. Penaklukan Konstantinopel merupakan langkah strategis dalam mencapai tujuan tersebut sekaligus menguasai jalur perdagangan penting.
C. Penaklukan Konstantinopel sebelum Muhammad Al Fatih
Jauh sebelum penguasa Ottoman Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, umat Islam melakukan beberapa upaya untuk menaklukkan wilayah Kristen tersebut. Namun upaya pendahulunya gagal.
Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan pada tahun 32 H/653 M. akhirnya di bawah pasukan yang dipimpin oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan, penguasa Suriah saat itu, yang menginvasi Asia Kecil melalui Bosphorus. Hal ini juga dilakukan oleh armada Muslim yang dipimpin oleh Busr bin Abi Artha'ah yang ingin membantu artileri Muslim bergerak dari Tripoli Barat ke Konstantinopel, namun upaya tersebut gagal.
Pada tahun 44 H/664 M Mu'awiyah bin Abi Sufyan melakukan penyerangan kedua terhadap Konstantinopel, namun upaya ini juga gagal Pada tahun 48 H/669 M, Mu’awiyah mencoba lagi. Ia mengirimkan pasukan dalam jumlah besar yang dipimpin oleh Sufyan Ibn Auf, yang didampingi oleh Yazid bin Mu'awiyah dan beberapa tokoh sahabat Muhajirin dan Anshar seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair dan Abu Ayyub al Anshari.
Pada saat yang sama, armada Muslim Busr ibn Artha'ah bergerak melalui Selat Dadanelle tanpa perlawanan. Pengepungan kota dan laut berlangsung selama tujuh tahun, tetapi tidak berhasil. Pasukan Islam mundur ke markas pada tahun 58 H/678 M.
Pada tahun 96 H/715 M, Sulaiman bin Abdul Malik diangkat menjadi khalifah. Ia pun berusaha menaklukkan Konstantinopel. Dia memerintahkan saudaranya Maslamah bin Abdul Malik meninggalkan Konstantinopel sebelum dia menaklukkannya. Pada awal tahun 98 H/716 M, Maslamah bergerak melintasi dataran tinggi Anatolia, menaklukkan kota-kota dan benteng-benteng Romawi, dan kemudian mulai mengepung kota Konstantinopel.
Pada kesempatan kedua, pada tanggal 2 Muharram 99H/15 Agustus 717 M, Maslamah kembali mengepung Konstantinopel. Namun beberapa minggu kemudian, yakni pada tanggal 10 Safar 99 H, muncul kabar wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.
Apalagi musim dingin telah tiba dan cuaca sangat ekstrim. Semua ini menyebabkan Maslamah dan pasukannya mundur dan kembali ke Suriah. Setelah itu, khalifah tidak melakukan upaya lebih lanjut untuk menaklukkan Konstantinopel, meskipun pasukannya mendekati kota tersebut lebih dari satu kali.
Pada tahun 165 H/783 M Harun al Rasyid menyerang Bizantium. Al Rasyid menyerbu dataran Anatolia hingga mencapai tepian Bosphorus dan kemudian mendirikan markasnya di Gunung Chrysopolis (Scutari), tepat di seberang Konstantinopel. Saat itu, Konstantinus VI yang masih muda memerintah Byzantium sedangkan ibunya, Eyrene memimpin roda pemerintahan. Pasukan Al Rasyid mampu mengalahkan musuh dan memaksa Eyrene menandatangani perjanjian damai, memberikan upeti tahunan kepada Dinasti Abbasiyah.
Pada tahun 789 H/1395 M. pada masa pemerintahan Sultan Bayazid. Saat itu, sultan membuat perjanjian dengan kaisar dan menuntut agar ia menyerahkan kota tersebut secara damai kepada umat Islam. Namun, kaisar menunda dan mencoba meminta bantuan negara-negara Eropa untuk mencegah tentara Muslim menyerang Konstantinopel.
Pada saat yang sama, tentara Mongol di bawah komando Timur Leng menyerang wilayah kekuasaan Ottoman. Penghancuran dilakukan oleh kekuatan Timur Leng. Peristiwa tersebut memaksa Sultan Bayazid menarik pasukannya dari pengepungan Konstantinopel dan kemudian menghadapi pasukan Mongol.
Dia secara pribadi memimpin sisa-sisa pasukannya untuk menghadapi pasukan Mongol, berkecamuk dalam Pertempuran Angkara yang sangat terkenal, di mana Bayazid ditangkap dan meninggal sebagai tawanan pada tahun 1402. Akibatnya, pemerintahan Ottoman terguncang dan pikiran serta upaya untuk menaklukkan kota Konstantinopel terhenti dalam jangka waktu yang cukup lama.
Ketika kekuasaan Ottoman dipulihkan, semangat jihad kembali berkobar pada masa pemerintahan Murad II pada tahun 824 H/1451. Upaya penaklukan Konstantinopel berulang kali dilakukan. Bahkan pada masa pemerintahannya, tentara Islam berhasil mengepung kota tersebut beberapa kali.
Kaisar Bizantium saat itu berusaha menciptakan fitnah di kalangan umat Islam dengan membantu orang-orang yang memberontak terhadap sultan. Cara itu terbukti efektif mengganggu konsentrasi kekuatan Murad II untuk menaklukkan Konstantinopel. Dengan demikian, pasukan Ottoman tidak dapat mewujudkan cita-cita Murad II.
D. Penaklukan Konstantinopel pada masa Muhammad Al Fatih
1. Mengenal Muhammad Al Fatih
Muhammad Al Fatih atau Mehmed II lahir di Edirne, Turki pada tanggal 30 Maret 1432. Ia merupakan putra dari Sultan Murad II dan Huma Valide Hatun. Ketika dia berumur 11 tahun, ayahnya mengirimnya untuk memerintah Amasya sebagai gubernur.
Hal ini sesuai dengan tradisi Kesultanan Utsmaniyah, di mana para pangeran yang cukup umur diutus untuk memerintah wilayah tersebut sebagai persiapan untuk suatu hari nanti menjadi sultan. Murad II juga banyak mengirimkan guru untuk mendidik Muhammad Al Fatih, salah satunya adalah Molla Gurani.
Pada bulan Agustus 1444, setelah membuat perjanjian damai dengan suatu wilayah, Murad II memutuskan untuk turun tahta dan menyerahkan kepemimpinan kepada Muhammad Al Fatih. Muhammad Al Fatih naik tahta Ottoman pada usia 12 tahun. Sejak usianya masih sangat muda, ia memerintah dengan banyak bantuan dari perdana menteri dan para orang-orang terdekatnya.
Pada masa-masa awal kekuasaannya, bangsa Hongaria di bawah pimpinan John Hunyad menyerang Kesultanan Utsmaniyah. Saat itu, pasukan Hongaria melanggar perjanjian dan menyerang Muhammad Al Fatih karena dipengaruhi oleh Kardinal Julian Cesarini, utusan Paus Martinus V.
Tak siap menghadapi pasukan Hongaria, Muhammad Al Fatih meminta ayahnya kembali naik takhta. Meski menolak, Murad II kembali naik takhta pada tahun 1446 dan memerintah hingga kematiannya pada tahun 1451. Setelah kematian Murad II, Muhammad Al Fatih yang berusia 19 tahun kembali ke tampuk kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.
2. Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Muhammad Al Fatih
Ketika Muhammad Al Fatih mewarisi tahta ayahnya pada tahun 1451, usianya baru 19 tahun. Hal ini menyebabkan orang-orang Eropa berasumsi bahwa penguasa muda Ottoman bukanlah ancaman terhadap hegemoni Kristen di Balkan dan Laut Aegea. Bahkan orang-orang Eropa merayakan penobatan Muhammad Al Fatih, berharap kurangnya pengalamannya akan menyesatkan Ottoman.
Namun siapa sangka pada tahun 1452, Muhammad Al Fatih mulai melaksanakan rencananya dengan membangun benteng di Bosphorus, beberapa kilometer sebelah utara Konstantinopel. Pada bulan Oktober 1452, Mehmed mengerahkan pasukan ke Peloponnese untuk mencegah Thomas dan Demetrius membantu saudara mereka Konstantinus XI dalam invasi di masa depan.
Berbekal senjata baru dan lebih baik, kekuatan 80.000 Muslim di bawah pimpinan Muhammad Al Fatih melancarkan serangan pada tanggal 6 April 1453 terhadap 8.000 tentara Kristen di bawah kaisar Bizantium ke-57 Konstantinus XI. Pemuda berusia 21 tahun yang haus akan kejayaan ini berhasil menerobos tembok pertahanan kota dengan pasukannya yang besar.
Setelah pengepungan selama 53 hari, Konstantinopel akhirnya jatuh pada tanggal 29 Mei 1453, menandai runtuhnya kekuasaan Bizantium dan berakhirnya Abad Pertengahan. Setelah menaklukkan kota tersebut, Mehmed II menjadikan Konstantinopel sebagai ibu kota Ottoman yang baru, menggantikan Adrianople.
3. Dampak jatuhnya Konstantinopel ke tangan Muhammad Al Fatih
Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Ottoman, juga dikenal sebagai Mehmet II, mempunyai dampak yang signifikan terhadap negara-negara Eropa dan kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa dampak utamanya:
a. Kesulitan dalam perdagangan
Jatuhnya Konstantinopel menimbulkan kesulitan bagi bangsa Eropa dalam perdagangan, khususnya di Konstantinopel. Hal ini disebabkan adanya kontrol ketat terhadap umat Kristiani dan ditutupnya jalur perdagangan antara Laut Mediterania dan Lisbon.
b. Pengambilan wilayah strategis
Konstantinopel yang merupakan ibu kota Kekaisaran Romawi Timur menjadi pusat kekuasaan Turki Ottoman. Ibukotanya berganti nama menjadi Islambul, yang berarti "tahta Islam".
c. Pengembangan peradaban Islam
Jatuhnya Konstantinopel memungkinkan umat Islam mengembangkan peradaban Islam dan menduduki wilayah strategis seperti Konstantinopel. Hal ini membuat negara-negara sekitarnya, termasuk negara-negara Islam, sangat ingin menguasainya.
d. Terdorongnya bangsa Eropa untuk menjelajahi samudera
Jatuhnya Konstantinopel mempengaruhi Indonesia mendorong orang-orang Eropa untuk mencari rempah-rempah di nusantara belahan bumi timur lainnya. Baca juga: Sejarah Perjalanan Indonesia (Kedatangan Bangsa Barat || Awal imperialisme dan kolonialisme bangsa Barat ke Indonesia)
Secara keseluruhan, jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani memberikan dampak yang signifikan terhadap masyarakat Eropa dan dunia termasuk Indonesia.
E. Pelajaran yang dapat diambil dari penaklukan Konstantinopel
Penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453 oleh Sultan Mehmed II alias Muhammad Al Fatih memberikan beberapa pelajaran berharga. Pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa ini:
1. Kesabaran dan tekad dalam penaklukan Konstantinopel merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati. Pengepungan tersebut berlangsung selama 52 hari, yang menunjukkan pentingnya ketekunan dalam mencapai tujuan.
2. Persiapan yang matang
Muhammad Al Fatih melakukan persiapan matang sebelum menyerang Konstantinopel. Ia mempelajari sejarah, melatih pasukan terbaik dan menggunakan teknologi tercanggih pada masanya.
3. Kepemimpinan yang kuat penaklukan Konstantinopel menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang kuat dan efektif. Sultan Al Fatih dianggap sebagai pemimpin yang mampu memimpin prajuritnya dengan baik dan memiliki visi yang jelas.
4. Penggunaan teknologi dan strategi militer
Muhammad Al Fatih menggunakan teknik dan strategi militer canggih pada masanya, termasuk meriam raksasa dan pembuatan terowongan, yang menunjukkan pentingnya inovasi dalam peperangan.
Penutup:
Muhammad Al Fatih diabadikan sebagai tokoh besar yang mampu menaklukkan kota bersejarah, membuka lembaran baru dalam sejarah Islam dan sangat mempengaruhi pergantian kekuasaan di wilayah tersebut. Mungkin ini saja yang dapat penulis sampaikan pada pembahasan kita kali. Kurang lebihnya mohon maaf. Sekian dan terimakasih telah berkunjung ke blog ini.
Penulis: Maulana Aditia
Komentar
Posting Komentar