Feminisme
Feminisme merupakan gerakan yang menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Gerakan ini dimulai pada abad ke-18 dan berkembang pesat pada abad ke-20, dimulai dengan promosi persamaan hak politik bagi perempuan. Feminisme bukanlah perjuangan melawan laki-laki, melainkan perjuangan melawan cara pandang laki-laki yang sudah begitu tertanam dalam pemikiran masyarakat sehingga dianggap benar. Feminisme bersifat politis dan menggabungkan gagasan egaliter dengan tindakan nyata untuk mendorong perubahan menuju kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.
A. Pengertian feminisme
Feminisme berasal dari kata dalam bahasa Prancis yakni feminin adalah kata sifat yang berarti “feminitas” atau menunjukkan ciri-ciri feminin. Feminisme adalah sekumpulan gerakan sosial, gerakan politik dan ideologi yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, menciptakan kesetaraan bagi kedua jenis kelamin dalam aspek politik, ekonomi, pribadi dan sosial. Feminisme melibatkan pandangan bahwa masyarakat mengutamakan perspektif laki-laki dan bahwa perempuan diperlakukan tidak adil dalam masyarakat tersebut.
Upaya untuk mengubah hal ini termasuk melawan stereotip gender dan menciptakan kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang setara dengan laki-laki. Gerakan feminis memperjuangkan dan terus mengkampanyekan hak-hak perempuan, termasuk hak untuk memilih, memegang jabatan politik, pekerjaan, upah yang adil, upah yang setara dan menutup kesenjangan upah gender, properti, pendidikan, kontrak, kesetaraan untuk menikah dan mengambil cuti melahirkan.
Beberapa cendikiawan menganggap kampanye ini sebagai perubahan sosial paling penting dalam sejarah, khususnya dalam hak-hak perempuan, khususnya di Barat. Di Barat, para feminis hampir diakui secara universal atas pencapaian mereka dalam hak pilih perempuan, bahasa yang netral gender, hak-hak reproduksi perempuan, dan banyak lagi. Meskipun gerakan feminis arus utama berfokus pada isu-isu perempuan, beberapa feminis, seperti Bell Hooks, berpendapat bahwa pembebasan laki-laki harus menjadi salah satu tujuan feminisme. Karena para feminis percaya bahwa laki-laki juga menderita karena peran gender tradisional yang berlaku di masyarakat.
B. Sejarah feminisme
Gerakan ini dimulai pada akhir abad ke-18 dan berkembang pesat pada abad ke-20 dengan suara-suara feminis yang menyerukan persamaan hak politik bagi perempuan. Esai tokoh feminis Mary Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Right of Woman dianggap sebagai salah satu tulisan feminis paling awal yang memuat kritik terhadap Revolusi Prancis yang hanya berlaku bagi laki-laki tetapi tidak bagi perempuan.
Satu abad kemudian di Indonesia, Raden Ajeng Kartini juga mengutarakan pemikirannya atas kritik terhadap keadaan perempuan Jawa yang tidak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan setara dengan laki-laki, selain mengkritisi kolonialisme Belanda. Kemudian pada abad ke-20, gerakan feminis banyak dipandang sebagai gerakan Critical Legal Studies yang banyak mengkritik logika hukum yang digunakan, sifat hukum yang manipulatif dan ketergantungannya pada politik, ekonomi, peran hukum dalam politik. Pembentukan pola hubungan sosial dan pembentukan hierarki melalui sistem hukum yang tidak mendasar.
Meskipun pandangan feminis berbeda-beda, satu hal yang menyatukan para feminis adalah keyakinan mereka bahwa masyarakat dan sistem hukum bersifat patriarki. Standar hukum yang diklaim netral dan obyektif seringkali hanya menjadi kedok pertimbangan politik dan sosial yang menggerakkan ideologi pengambil keputusan, namun ideologi pengambil keputusan seringkali tidak berpihak pada kepentingan perempuan.
Patriarki dalam masyarakat dan peraturan perundang-undangan menjadi penyebab terjadinya subjugasi, dominasi dan ketidakadilan terhadap perempuan. Oleh karena itu, para feminis menuntut kesetaraan gender. Namun, kesetaraan gender tidak dapat dicapai kecuali jika struktur kelembagaan ideologis saat ini berubah.
Kaum feminis fokus menganalisis peran hukum dalam mempertahankan hegemoni patriarki. Kami berharap semua analisis dan teori yang disampaikan oleh para feminis dapat terwujud. Sebab segala upaya feminis tidak hanya sekedar menghiasi halaman sejarah perkembangan manusia, namun lebih pada upaya masyarakat untuk bertahan hidup. Kemunculan gerakan feminisme menjadi contoh bagaimana peraturan yang abstrak tidak mampu menyelesaikan kesenjangan gender.
C. Tujuan gerakan feminisme
Berikut adalah beberapa tujuan utama gerakan feminisme:
1. Memperjuangkan hak-hak perempuan dan menginginkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan
2. Membantu perempuan agar bebas menentukan nasib dirinya layaknya laki-laki
3. Membantu perempuan menjadi bagian dari sistem gender dan menginginkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan
4. Membantu perempuan bebas dari konsep pembatasan hak sosial, reproduksi, ekonomi, dan hukum
5. Membantu perempuan mengatasi sistem patriarki yang mengutamakan laki-laki dalam berbagai bidang.
Gerakan feminis juga bertujuan untuk mengubah perasaan dan kekhawatiran terhadap sahabat pena, seperti yang dilakukan Kartini. Selain itu, gerakan feminis bertujuan untuk menciptakan peluang dan melawan stereotip gender.
D. Teori feminisme menurut para ahli
Menurut para ahli, pengertian teori feminis adalah sebagai berikut:
1. June Hannam (2007:22)
Dalam buku Feminism, kata feminisme dapat diartikan sebagai: Pengakuan akan adanya ketimpangan kekuasaan antara kedua jenis kelamin, dimana peran perempuan yang berada di bawah laki-laki.
2. Marry Wallstonecraff
Dalam bukunya The Rights of Woman tahun 1972, ia mendefinisikan feminisme sebagai gerakan emansipasi perempuan, sebuah gerakan yang bersuara lantang tentang peningkatan status perempuan dan menolak perbedaan gender.
3. Rich (Djajanegara 2000:29)
berpendapat bahwa kritik sastra feminis radikal memperlakukan karya sastra terutama sebagai ekspresi cara hidup kita di masa lalu dan masa kini.
4. Geofe (Sugihastuti dan Suharto, 2005:61)
Feminisme merupakan kegiatan terorganisir yang memperjuangkan hak dan kepentingan perempuan. Jika perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, berarti perempuan bebas mendefinisikan dirinya seperti yang dilakukan laki-laki selama ini.
5. Fakih (2001:84– 98)
Feminisme memiliki beberapa empat aliran yang paling menonjol, yaitu feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis, dan feminisme sosial
E. Aliran feminisme
Feminisme memiliki delapan aliran dengan perspektif berbeda terhadap isu-isu sosial dan politik. Karena mereka berbeda pendapat, maka wajar jika di dalam kelompok feminis terdapat perbedaan pendapat mengenai topik yang berbeda. Apa sajakah itu? Berikut penjelasannya:
1. Liberal
feminisme liberal yang berfokus pada kebebasan individu perempuan. Pada masa-masa awal munculnya feminisme liberal, yaitu pada abad ke-19 dan ke-20, perjuangannya lebih terfokus pada hak-hak individu perempuan dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial. Feminisme liberal adalah pandangan yang menempatkan perempuan dalam kebebasan penuh dan individual. Aliran pemikiran ini berpendapat bahwa kesetaraan dan kebebasan individu didasarkan pada rasionalitas dan pemisahan dunia publik dan dunia privat.
Menurut feminis liberal, mereka berpendapat bahwa setiap orang mempunyai kemampuan berpikir dan bertindak rasional, sama seperti perempuan. Pendukung feminisme liberal adalah pandangan yang berasal dari teori pluralisme negara bahwa negara mempunyai kekuasaan dan tidak berpihak pada kepentingan kelompok yang berbeda. Feminis liberal sadar bahwa negara diperintah oleh laki-laki, yang diwujudkan dalam kepentingan sifat maskulin.
Feminisme liberal berupaya menyadarkan perempuan bahwa mereka adalah kelompok tertindas. Pengelolaan perempuan diiklankan sebagai tidak produktif dan perempuan dalam posisi subordinat. Teori ini didasarkan pada kebebasan dan persamaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga perempuan berhak mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki.
Feminisme liberal dibagi menjadi dua bagian: feminisme liberal egaliter dan feminisme liberal klasik. Bentuk pertama, yaitu feminisme egaliter liberal, lebih fokus pada peluang perempuan untuk setara dan adil dalam penggunaan sumber daya. Feminisme liberal klasik, sementara itu, lebih berfokus pada kebebasan hak-hak sipil individu, seperti hak untuk memiliki tanah, hak pilih perempuan, dan kebebasan berbicara.
2. Radikal
Feminisme radikal merupakan aliran feminisme yang fokus pada isu-isu inti terkait kesenjangan yang dialami perempuan. Terdapat dua perspektif berbeda dalam feminisme radikal, yaitu libertarian dan radikal budaya. Feminisme radikal libertarian pertama kali muncul antara tahun 1960an dan 1980an, dan gerakan ini berfokus pada berbagai pilihan pribadi perempuan mengenai seksualitas dan tubuh, baik heteroseksual, transgender, atau lesbian.
Feminisme radikal libertarian percaya bahwa identitas gender perempuan dapat menghalangi perempuan untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya, dan menganggap patriarki sebagai musuh utama perempuan. Pandangan ini tentu saja berbeda dengan aliran radikal lainnya, yaitu radikal budaya. Feminisme radikal budaya meyakini bahwa selain patriarki, laki-laki juga merupakan bagian dari sumber penindasan terhadap perempuan.
Para pendukung aliran feminisme ini beranggapan bahwa laki-laki mengontrol seksualitas perempuan semata-mata demi kepuasan laki-laki. Karena pendapat tersebut, banyak perempuan penganut feminisme radikal budaya memilih selibat, dan menjadi lesbian merupakan salah satu cara untuk melepaskan diri dari batasan yang dibangun oleh budaya heteroseksual yang berlaku di masyarakat. Feminisme radikal muncul sebagai reaksi terhadap budaya seksisme atau dominasi sosial seksual di Barat pada tahun 1960-an, terutama untuk memerangi kekerasan seksual dan maraknya pornografi pada masa itu.
3. Marxis sosialis
Marxisme Sosialis berfokus pada pembebasan perempuan dari kotak kelas, gender, patriarki, dan kapitalisme. Aliran ini diakibatkan oleh pekerja perempuan di rumah tangga dan sektor publik yang mengorganisir perubahan dalam urusan rumah tangga perempuan, sosialisasi pekerjaan rumah tangga, dan perawatan anak.
Feminisme Marxis Sosialis melihat subjek perempuan dalam kritik terhadap kapitalisme, yang berasumsi bahwa sumber penindasan terhadap perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan metode produksi. Teori Friedrich Engels kemudian berkembang menjadi landasan aliran sosialis Marxis, yang menyatakan bahwa status perempuan dilemahkan oleh konsep kekayaan pribadi atau kepemilikan pribadi. Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, menjelma menjadi kebutuhan pertukaran.
Laki-laki mungkin mengendalikan produksi untuk tujuan pertukaran dan sebagai akibatnya mereka mengendalikan hubungan sosial dalam masyarakat. Pada saat yang sama, perempuan direduksi menjadi properti. Sistem produksi yang dihasilkan kemudian berorientasi pada keuntungan, yang berujung pada terbentuknya kelas sosial seperti borjuis dan proletar. Jadi ketika kapitalisme runtuh, struktur masyarakat yang ada bisa diperbaiki dan penindasan terhadap perempuan bisa dihilangkan.
Para pendukung feminisme Marxis sosialis berpendapat bahwa negara adalah kapitalis, negara bukan sekedar institusi tetapi juga bentukan interaksi dan hubungan sosial. Kaum Marxis berpendapat bahwa negara mempunyai kemampuan untuk menjaga kesejahteraan masyarakat, namun di sisi lain negara juga bersifat kapitalis yang juga menggunakan sistem perbudakan perempuan sebagai pekerja.
4. Psikoanalis gender
Psikoanalis gender muncul sebagai bentuk perlawanan pada tokoh-tokoh Psikoanalis yaitu Sigmund Freud. Sigmund Freud pernah mengatakan bahwa wanita mengalami penis envy atau cemburu terhadap laki-laki karena perempuan tidak memiliki penis sehingga membuat perempuan merasa minder dengan laki-laki. Aliran tersebut menantang klaim dan gagasan Freud, dengan mengatakan bahwa penindasan yang dialami perempuan dipengaruhi oleh struktur sosial dan tidak benar-benar terkait dengan biologi perempuan.
5. Eksistensialis
Eksistensialisme merupakan aliran feminisme yang masuk dalam feminisme gelombang kedua dan terbentuk sekitar tahun 1940an. Genre ini sangat mendukung perempuan, karena mereka bebas mendefinisikan makna keberadaan perempuan di dunia ini. Feminisme eksistensialis menghimbau perempuan untuk menjadikan dirinya sebagai subjek yang mereka inginkan, bukan sekadar menjadi objek.
6. Pasca modern
Aliran pasca modern dikenal juga dengan sebutan feminisme di kalangan akademis, gerakan ini lebih sulit dipahami dan dianggap tidak terlibat dalam perjuangan revolusioner yang sebenarnya seperti boikot, protes, dan demonstrasi. Aliran ini membalikkan situasi dengan merayakan penindasan yang sudah diterima.
Meski aliran-aliran sebelumnya menolak konsep dominasi gender dalam masyarakat, namun aliran pasca modern justru menerima kembali feminitas perempuan sebagai gender yang hadir dalam masyarakat, yang menandakan perbedaan perempuan dalam cara hidup, keterbukaan, pemikiran, perbedaan dan keragaman. Salah satu daya tarik aliran aliran pasca modern adalah menulis dan meneliti ilmu pengetahuan dan informasi, mengutamakan tulisan perempuan, karena salah satu sumber penindasan terhadap perempuan adalah melalui bahasa.
7. Multikutural dan global
Aliran ini memandang perempuan sebagai makhluk yang heterogen, namun memiliki persinggungan berbeda terkait status sosial, usia, dan lainnya. Setiap kelompok perempuan mungkin mengalami bentuk penindasan yang berbeda-beda serta pengalaman dan identitasnya yang berbeda.
8. Ekofeminisme
Aliran terakhir lebih fokus pada hubungan spiritual perempuan dengan ekologi di sekitarnya. Posisi perempuan dianggap sebagai perawat yang lebih membutuhkan dan lebih dekat dengan kodrat serta lebih sensitif dibandingkan laki-laki.
F. Tokoh feminisme terkenal
1. Mary Wollstonecraft
Penulis dan filsuf Inggris serta pembela hak-hak perempuan pada abad ke-18 dengan karyanya yang terkenal A Vindication of the Rights of Woman. Bukunya membahas pentingnya pendidikan bagi perempuan dan peran perempuan di negara ini sebagai pengasuh anak dan mitra laki-laki. Dalam bukunya, Wollstonecraft juga menekankan bahwa perempuan adalah manusia yang mempunyai hak dasar yang sama dengan laki-laki.
2. Betty Frieredan
Penulis, aktivis, dan feminis Amerika yang mempengaruhi kebangkitan feminisme gelombang kedua dengan bukunya The Feminine Mystique.
3. Raden Ayu Adipati Kartini Djojoadhiningrat
Pahlawan nasional Indonesia yang memulai pendidikan perempuan Jawa untuk mewujudkan hak-hak perempuan. Lahir dari keluarga bangsawan di Jepara, ia bercita-cita untuk bersekolah di sekolah tinggi, namun pihak keluarga tidak mengizinkannya bersekolah di sana. Korespondensi Kartini dengan feminis Belanda diterbitkan oleh postmodern J.H. Abendano dengan judul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.
4. Malala Yousafzai
Seorang wanita muda dari Pakistan yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada usia 17 tahun, menjadi peraih Nobel termuda. Malala banyak menulis tentang pengalamannya sebagai pelajar di kampung halamannya di Lembah Swat, Pakistan, yang dikuasai oleh Taliban dan melarang anak perempuan bersekolah. Tulisannya di blog BBC berujung pada ancaman yang berujung pada kematian percobaan pembunuhan dirinya oleh Taliban pada 9 Oktober 2012.
5. Gloria Jean Watkins (Bell hooks)
Seorang penulis, profesor, feminis, dan aktivis sosial asal Amerika Serikat. Tulisan Bell berfokus pada ras, kapitalisme, gender, dan, katanya, kemampuan mereka untuk menghasilkan dan melanggengkan sistem penindasan dan kekuasaan kelas. Ia menerbitkan lebih dari 30 buku dan banyak artikel ilmiah, tampil di film dokumenter dan berpartisipasi dalam kuliah umum. Karyanya berkaitan dengan ras, kelas, gender, seni, sejarah, seksualitas, media dan feminisme. Pada tahun 2014, ia mendirikan Bell Hooks Institute di Berea College, Berea, Kentucky.
G. Pengaruh gerakan feminisme dalam berbagai aspek kehidupan
Gerakan feminis telah menjadi kekuatan penting dalam membentuk berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Di bidang politik, feminisme telah mendorong perubahan politik untuk mencapai kesetaraan gender, mendorong partisipasi perempuan dalam kepemimpinan, dan meningkatkan kesadaran akan hak-hak perempuan.
Secara sosial, gerakan ini menciptakan ruang diskusi yang lebih terbuka mengenai norma gender dan peran tradisional. Perubahan ini tidak hanya memberikan perempuan lebih banyak pilihan dalam hidupnya, namun juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya menghormati keberagaman gender dalam masyarakat.
Secara ekonomi, feminisme berupaya menjembatani kesenjangan gender dalam upah dan peluang karier. Perempuan semakin mempunyai akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi laki-laki, yang pada gilirannya berdampak positif terhadap pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
Selain itu, gerakan ini mempunyai dampak besar terhadap budaya populer, dengan menciptakan narasi yang lebih inklusif dan meningkatkan kesadaran akan stereotip gender yang ada. Seni, media, dan hiburan semakin mencerminkan keragaman karakter dan penggambaran narasi, sehingga membantu mengubah pandangan masyarakat tentang peran dan nilai gender. Dengan demikian, pengaruh gerakan feminis tidak hanya terbatas pada satu bidang saja, namun merambah ke seluruh bidang kehidupan sehingga menimbulkan perubahan positif yang memperkuat perjuangan kesetaraan gender.
H. Peran media sosial dalam memajukan gerakan feminis modern
Media sosial telah menjadi kekuatan pendorong yang tidak dapat disangkal dalam memperkuat dan mempercepat gerakan feminis modern. Melalui Facebook, Twitter, Instagram dan platform lainnya, gerakan ini mempunyai banyak ruang untuk mengekspresikan isu kesetaraan, menggalang dukungan dan membangun komunitas yang kuat. Salah satu dampak positif media sosial adalah memperluas jangkauan pesan-pesan feminis.
Kampanye dan aksi aktivis dapat menyebar dengan cepat dan menjangkau khalayak yang lebih luas dibandingkan melalui saluran tradisional. Hal ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai ketidaksetaraan gender dan memobilisasi dukungan di seluruh dunia. Media sosial juga memberikan ruang bagi individu, terutama perempuan, yang sebelumnya tidak memiliki platform bersuara.
Melalui hashtag dan kampanye online, kisah dan pengalaman pribadi banyak perempuan disorot, sehingga memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas yang dihadapi perempuan dalam berbagai konteks.Selain itu, platform media sosial telah menjadi alat yang ampuh untuk mengorganisir protes, kampanye, dan acara feminis. Hal ini memungkinkan koordinasi yang cepat dan efektif, membangun massa yang kritis untuk menuntut kesetaraan, dan menekan lembaga-lembaga dan pemerintah untuk melakukan perubahan positif.
Namun, peran media sosial dalam gerakan feminis juga membawa tantangan, seperti penyebaran informasi yang salah dan potensi memperkuat stereotip gender. Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk memiliki tingkat literasi digital yang tinggi dan kemampuan menyaring informasi. Secara keseluruhan, media sosial telah membuka pintu baru dalam perjuangan kesetaraan gender. Dengan menyediakan platform yang kuat untuk berbagi cerita, membangun solidaritas dan memobilisasi dukungan, media sosial terus memainkan peran penting dalam memajukan gerakan feminis modern.
I. Kritik terhadap feminisme
Salah satu kritik utama terhadap feminisme adalah keragaman pendekatannya. Beberapa kritikus berpendapat bahwa gerakan ini terlalu fokus pada perspektif Barat dan kurang memberikan perhatian pada konteks budaya yang berbeda. Kritik ini menunjukkan bahwa feminisme dapat menjadi wahana untuk mempromosikan nilai-nilai Barat tanpa mempertimbangkan keunikan masing-masing masyarakat.
Selain itu, beberapa orang berpendapat bahwa feminisme terkadang terperosok dalam polarisasi gender, sehingga menyebabkan ketegangan antara perempuan dan laki-laki. Kritik ini menekankan perlunya menemukan keseimbangan yang sehat antara mencapai kesetaraan gender dan menjaga keharmonisan dalam hubungan gender.
Kritik terhadap feminisme juga meluas ke kehidupan ekonomi. Beberapa orang berpendapat bahwa gerakan ini terlalu berfokus pada isu-isu spesifik, seperti kesenjangan lapangan kerja dan kesenjangan upah, tanpa mempertimbangkan tantangan ekonomi yang dihadapi berbagai kelompok perempuan.
Ketika mengkritik feminisme, penting untuk dicatat bahwa banyak feminis sendiri yang secara aktif terlibat dalam permasalahan ini. Tujuannya adalah untuk memperluas cakupan gerakan ini menjadi lebih inklusif dan mempertimbangkan keragaman budaya dan kondisi ekonomi yang berbeda. Kritik terhadap feminisme dapat memberikan kontribusi konstruktif jika bertujuan untuk memperbaiki dan mereformasi gerakan dengan tujuan mencapai kesetaraan gender yang lebih besar dan adil.
Pada kesempatan kali ini penulis tidak memberikan kesimpulan menurut pendapat penulis melainkan penulis memberikan kesempatan kepada pembaca untuk memberikan kesimpulan setelah membaca keseluruhan artikel dari penulis.
Penulis: Maulana Aditia
Bacaan terkait: Stop kekerasan pada anak-anak dan wanita
Komentar
Posting Komentar