Pengaruh Bullying dan Pandangan Islam Mengenai Bullying

Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas tentang Pengaruh Bullying dan Pandangan Islam Mengenai Bullying. Pasti sebagian dari kita pernah mendengar bullying, bullying dapat terjadi dimana saja dan terjadi kepada siapa saja entah anak-anak, remaja bahkan orang dewasa. Lalu apa pengertian dari bullying itu sendiri? Mari kita bahas!

A. Pengertian bullying  
Bullying disebut juga perundungan,
Secara etimologi bullying memiliki arti penggertak, orang yang mengganggu yang lemah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bullying adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok orang yang lebih kuat untuk menindas pihak orang yang lebih lemah secara sengaja baik berupa perkataan, perbuatan/ fisik, Nonverbal langsung maupun tidak langsung ataupun melalui internet dengan tujuan menyakiti pihak yang lebih lemah tersebut dan dilakukan secara terus-menerus sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tak berdaya. Bullying lebih sering terjadi pada anak-anak dan remaja. Lalu bagaimana pengertian para ahli tentang bullying? Berikut pemaparannya.

1. Menurut American Psychatric Association (APA) 
Bullying adalah perilaku agresif yang dikarakteristikkan dengan tiga kondisi yaitu: (a) perlikaku negative yang bertujuan untuk merusak atau membahayakan (b) perilaku yang diulang selama jangka waktu tertentu (c) adanya ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan dari pihak-pihak yang terlibat. Beberapa kondisi tersebut lebih mengacu pada yang dapat menjadikan korban trauma, cemas dan sikap-sikap yang membuat tidak nyaman.

2. Menurut Olweus (2005)
Bullying adalah sebuah tindakan atau perilaku agresif yang disengaja, yang dilakukan oleh sekelompok orang atau seseorang secara berulang-ulang dan dari waktu ke waktu terhadap seorang korban yang tidak dapat mempertahankan dirinya dengan mudah atau sebagai sebuah penyalahgunaan kekuasaan/kekeraan secara sistematik.

3. Menurut Coloroso (2007) 
Bullying merupakan tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Tindakan penindasan ini dapat diartikan sebagai penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya.

4. Menurut Sullivan (2011)
Bullying adalah tindakan agresi atau manipulasi atau pengucilan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan berulang-ulang oleh individu atau kelompok kepada individu atau kelompok lain.

B. Peran dalam bullying
Ada 4 peran yang muncul saat terjadi bullying, yaitu:

1. Bullies (pelaku bullying)
Seseorang atau sekelompok orang yang secara fisik ataupun non fisik melukai orang lain (pihak yang lebih lemah) secara teratur menerus. Pelaku bullying bisa siapa saja entah itu teman, sebaya, orang lebih tua bahkan orang yang tidak dikenal.

2. Victim (korban bullying)
Seseorang yang menerima bullying dari bullies bak secara fisik maupun non fisik. Sering kali merasa takut, cemas, dan terisolasi. Mereka mungkin memiliki kesulitan dalam bersosialisasi atau mempertahankan pertemanan.

3. Bully-victim 
Pihak yang terlibat dalam bullying namun juga merupakan korban dari bullying. Sering kali merasa bingung dan terjebak dalam situasi yang sulit. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi dan perilaku mereka.

4. Netral
Pihak yang tidak terlibat dalam bullying. Orang-orang yang menyaksikan bullying tetapi tidak ikut terlibat, baik sebagai pelaku maupun korban. Perilaku saksi sangat penting. Mereka dapat:
- Mendukung pelaku dengan tertawa, ikut menyiksa, atau tidak melakukan apa-apa.
- Mendukung korban dengan mencoba membantu, menghibur, atau melaporkan kejadian tersebut.
- Tetap netral dengan tidak melakukan apa-apa dan hanya mengamati.

 C. Faktor penyebab bullying
Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya bullying antara lain : 

1. Perbedaan ukuran Fisik, jenis kelamin, status sosial, kemampuan berkomunikasi bahkan sudut pandang atau pendapat 
Setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, perbedaan itulah yang sering dijadikan sebagai alasan seseorang melakukan bullying. Anak yang lebih besar atau lebih kuat secara fisik sering kali menjadi pelaku bullying karena merasa memiliki kekuatan untuk mengendalikan orang lain. Stereotip gender sering kali menjadi pemicu bullying. 

Misalnya, anak laki-laki mungkin merasa perlu menunjukkan kejantanan dengan mengintimidasi anak perempuan. Anak yang kesulitan berkomunikasi atau memiliki perbedaan dalam kemampuan belajar sering kali menjadi sasaran bullying. Selain itu juga, terkadang dalam menyikapi sesuatu kita mempunyai pendapat yang berbeda, namun tak jarang ada orang yang tidak setuju dengan pendapat kita namun orang tersebut tidak mampu membantahnya secara ilmiah. Sehingga ia merundung pihak yang berbeda pendapat dengannya.

2. Pernah menyaksikan dan mengalami kekerasan dari orang di sekitarnya
Menyaksikan bahkan mengalami kekerasan dari orang di sekitarnya terutama dirumah berisiko melakukan tindakan bullying kepada orang lain. Korban bullying sering kali menjadi pelaku bullying pada orang lain sebagai bentuk pelampiasan.

3. Kurangnya perhatian dari orangtua
Hubungan yang erat antara orangtua dan anak sangatlah penting mengapa demikian? Hal tersebut dikarenakan hubungan yang erat antara keduanya diharapkan anak dapat memiliki rasa empati dan kasih sayang. Namun jika anak dan orangtua yang tidak mempunyai hubungan yang erat, anak akan merasa kurang diperhatikan oleh orangtua mungkin akan mencari perhatian dengan cara yang negatif, seperti melakukan bullying demi untuk menjadi terkenal. Mereka akan menunjukkan sifat ingin memerintah, mengontrol dan menuntut orang lain demi popularitas dan pengakuan dari orang lain. Orangtua yang kurang memperhatikan perilaku anak-anaknya mungkin tidak menyadari jika anak mereka terlibat dalam bullying. 

4. Kurangnya perhatian lingkungan sekolah atau instansi pendidikan terhadap Bullying
Menurut para ahli banyak siswa siswi di sekolah atau instansi menganggap bullying adalah hal yang biasa, sehingga mereka terus melakukannya hal ini dikarenakan kurangnya perhatian dari lingkungan sekolah. Bahkan, mohon maaf terkadang saya melihat orangtua dan guru mereka membiarkan terjadinya bullying dan menganggap itu adalah sesuatu yang wajar atau hanya sekedar bercanda tapi apa yang dilakukan pelaku bullying jauh dari kata bercanda. Jika sekolah tidak memiliki lingkungan yang inklusif dan toleran, bullying cenderung lebih mudah terjadi. Jika pihak sekolah tidak mengambil tindakan tegas terhadap kasus bullying, pelaku akan merasa bahwa perilakunya dibenarkan.

5. Pengaruh teman sebaya dan media massa
Media massa, seperti film, televisi, dan video game, sering kali menampilkan kekerasan sebagai sesuatu yang normal atau bahkan menarik. Hal ini dapat memengaruhi perilaku anak-anak. Namun, tidak semua tayangan yang ada di media massa menyajikan tayangan yang bermanfaat dan sesuai umur. Banyak tayangan di media massa yang berisi kekerasan yang mendorong seseorang melakukan apa yang dicontohkan dalam tayangan tersebut. 

Media massa dan internet membuka peluang baru untuk melakukan bullying secara online. Tidak hanya media massa, namun teman sebaya juga bisa menjadi faktor penyebab bullying. Mengapa demikian? Sebab, anak-anak sering kali merasa perlu menyesuaikan diri dengan kelompok teman sebaya untuk merasa diterima. Jika kelompok teman tersebut memiliki budaya bullying, anak tersebut mungkin ikut terlibat untuk menghindari penolakan. Anak-anak cenderung meniru perilaku teman-temannya, terutama jika perilaku tersebut dianggap keren atau menarik.

6. Rasa iri dan dengki
Rasa iri dan dengki dapat muncul dikarenakan korban mempunyai hal yang istimewa yang sebenarnya sama istimewanya dengan pelaku bullying. Seseorang yang merasa iri atau dengki pada keberhasilan atau kelebihan orang lain mungkin melakukan bullying untuk menjatuhkan mereka.

7. Tidak percaya diri dan tidak mempunyai empati 
Seseorang yang melakukan bullying merasa dapat membuat mereka mempunyai kekuatan atau dominasi. Anak yang tidak percaya diri cenderung menutupi rasa kurang percaya diri yang mereka miliki dengan berbohong mengenai kemampuan dirinya. Saat melihat korban, pelaku bullying kurang memiliki rasa empati, bahkan sebagian justru merasa senang melihat orang lain takut. Semakin korban merasa takut maka pelaku akan semakin senang melakukan aksinya. Anak-anak yang egois cenderung hanya memikirkan diri sendiri dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.

 D. Jenis-jenis Bullying
Jenis bullying antara lain:
1. Bullying secara fisik
Bullying secara fisik adalah bullying yang melibatkan tindakan agresif menggunakan kontak fisik untuk menyakiti atau mengintimidasi korban. Ini adalah bentuk bullying yang paling terlihat dan sering kali mudah diidentifikasi. Contoh:
- Memukul, menendang, mendorong, atau mencubit korban.
- Mencuri atau merusak barang-barang milik korban.
- Mendorong atau menjatuhkan korban.
- Mengunci korban di suatu ruangan.

2. Bullying verbal 
Bullying verbal adalah bullying melibatkan penggunaan kata-kata atau pernyataan lisan dan tertulis untuk menyakiti atau merendahkan korban yang sering kali meninggalkan luka emosional yang mendalam bagi korban. Contoh:
- Mengejek, mengolok-olok, atau menghina korban.
- Memberikan nama panggilan yang menyakitkan atau merendahkan.
- Mengancam atau menakut-nakuti korban dengan kata-kata.
- Menyebarkan gosip atau rumor negatif tentang korban.

3. Bullying nonverbal
Bullying nonverbal adalah bullying yang melibatkan tindakan tanpa menggunakan kata-kata langsung tetapi tetap bertujuan untuk menyakiti atau mengintimidasi korban. Bullying ini mempunyai 2 jenis, yakni:

a.) Bullying nonverbal langsung (direct nonverbal bullying): tindakan nonverbal yang secara langsung ditujukan kepada korban dan jelas bersifat mengancam atau merendahkan. Contoh:
- Melototi atau memberikan tatapan sinis kepada korban.
- Mengucilkan atau menjauhi korban secara terang-terangan di depan umum.
- Merusak atau menyembunyikan barang.

b.) Bullying nonverbal tidak langsung (indirect nonverbal bullying): tindakan nonverbal yang bertujuan untuk menyakiti korban melalui manipulasi sosial atau pengucilan. Contoh:
- Menyebarkan rumor atau desas-desus melalui catatan atau isyarat tanpa berbicara langsung kepada korban.
- Mengucilkan korban dari kelompok dengan memberikan isyarat kepada orang lain untuk tidak berinteraksi dengan korban.
- Menulis pesan-pesan merendahkan atau mengancam dan menempelkannya di tempat yang bisa dilihat korban tanpa berinteraksi langsung.

4. Cyber bullying
Cyber Bullying adalah bentuk bullying yang terjadi melalui teknologi digital, seperti media sosial, pesan teks, email, atau platform daring lainnya, dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, dan sering kali memiliki dampak yang luas karena sifatnya yang bisa menyebar dengan cepat. 

Contoh:
- Mengirim pesan teks atau email yang menyakitkan atau mengancam.
- Menyebarkan rumor atau foto/video memalukan tentang korban di media sosial.
- Membuat akun media sosial palsu untuk mengolok-olok atau menghina korban.
- Mempermalukan korban dari grup daring atau forum.
- Melakukan doxing (menyebarkan informasi pribadi korban secara daring tanpa izin).

5. Prejudicial bullying
Prejudicial bullying adalah bullying yang didasarkan pada prasangka atau stereotip negatif terhadap kelompok tertentu yang diidentifikasi oleh karakteristik seperti ras, etnis, agama, jenis kelamin, disabilitas, atau karakteristik lainnya, bertujuan untuk merendahkan atau mengintimidasi korban karena keanggotaan mereka dalam kelompok tersebut.

Contoh:
- Menggunakan julukan atau hinaan rasis (keyakinan bahwa ras adalah penentu utama sifat atau kemampuan manusia dan bahwa perbedaan ras menghasilkan superioritas suatu ras tertentu) dan seksis (keyakinan bahwa satu jenis kelamin (biasanya laki-laki) lebih superior dan menyebabkan diskriminasi atau stereotip berdasarkan jenis kelamin) .
- Membuat lelucon atau komentar merendahkan tentang kelompok tertentu.
- Mengecualikan atau memperlakukan korban secara berbeda karena latar belakang mereka.
- Melakukan vandalisme atau merusak properti yang terkait dengan kelompok tertentu.

6. Pelecehan seksual
Pelecehan seksual adalah perilaku yang bersifat seksual, tidak diinginkan, dan membuat korban merasa tidak nyaman, terhina, atau terintimidasi. Dalam konteks bullying, pelecehan seksual sering kali dilakukan berulang kali dan melibatkan penyalahgunaan kekuasaan. Contoh:
- Membuat komentar atau lelucon yang bersifat seksual dan tidak pantas.
- Menyentuh, meraba, atau mencium korban tanpa persetujuan mereka.
- Memperlihatkan materi-materi pornografi atau seksual yang tidak diinginkan.
- Mengirim pesan teks atau gambar yang bersifat seksual dan mengganggu.
- Mengancam atau memberikan imbalan terkait dengan permintaan seksual.

E. Dampak bullying
1. Dampak yang dirasakan korban
a. Mengalami gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, merasa sedih dan kesepian
Bullying menciptakan lingkungan yang penuh tekanan dan ketakutan bagi korban. Kondisi ini dapat memicu atau memperburuk masalah kesehatan mental. Gangguan kecemasan muncul karena korban terus-menerus merasa waspada dan khawatir akan menjadi target bullying lagi. Depresi dapat timbul akibat perasaan tidak berdaya, kehilangan harapan, dan harga diri yang rendah. Rasa sedih dan kesepian muncul karena korban merasa terisolasi, tidak dipahami, dan tidak memiliki tempat yang aman.

Contoh:
- Seorang siswa yang terus-menerus diejek dan diancam oleh teman sekelasnya menjadi sangat cemas setiap kali harus pergi ke sekolah, sering merasa mual, jantung berdebar-debar, dan sulit berkonsentrasi.
 - Seorang remaja yang menjadi korban cyber Bullying merasa sangat malu dan terisolasi. Ia menarik diri dari teman-temannya, sering menangis tanpa alasan yang jelas, dan kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukainya.

b. Mengalami perubahan pada pola makan dan pola tidur
Stres dan trauma akibat bullying dapat mengganggu regulasi tubuh, termasuk nafsu makan dan siklus tidur. Beberapa korban mungkin kehilangan nafsu makan sama sekali, sementara yang lain mungkin mencari kenyamanan dengan makan berlebihan. Begitu pula dengan tidur, korban mungkin mengalami insomnia (sulit tidur), tidur berlebihan, atau mimpi buruk yang berulang kali. 

Contoh:
- Seorang anak yang sering diolok-olok karena berat badannya di sekolah menjadi tidak nafsu makan dan berat badannya terus menurun.
- Seorang karyawan yang menjadi korban bullying di tempat kerja menjadi sulit tidur di malam hari karena terus memikirkan kejadian yang dialaminya. Ia merasa lelah dan tidak berenergi sepanjang hari.

c. Berkurangnya ketertarikan terhadap hobi dan aktivitas yang disenangi
Bullying dapat merusak rasa percaya diri dan motivasi korban. Mereka mungkin merasa malu, tidak berharga, atau takut gagal, sehingga kehilangan minat pada hal-hal yang dulunya mereka nikmati. Energi dan fokus mereka mungkin terserap oleh upaya untuk menghindari bullying atau mengatasi dampak emosionalnya. 

Contoh Sehari-hari:
- Seorang siswa yang dulunya sangat antusias bermain basket menjadi enggan untuk bergabung dengan tim sekolah setelah terus-menerus diejek oleh anggota tim lain.
- Seorang remaja yang gemar melukis tidak lagi memiliki semangat untuk berkarya setelah hasil karyanya dijadikan bahan bullying oleh teman-temannya di media sosial.

d. Menurunnya prestasi akademik
Bullying dapat mengganggu kemampuan korban untuk belajar dan berkonsentrasi. Rasa takut, cemas, dan sedih dapat menyita perhatian mereka di kelas. Mereka mungkin juga sering absen sekolah untuk menghindari pelaku bullying, yang pada akhirnya akan berdampak negatif pada nilai dan pemahaman materi pelajaran. 

Contoh: 
- Seorang siswa yang menjadi korban bullying di perjalanan ke sekolah menjadi takut berangkat sekolah dan sering membolos. Akibatnya, ia ketinggalan pelajaran dan nilainya menurun.
- Seorang mahasiswa yang terus-menerus direndahkan oleh teman sekelompoknya menjadi tidak termotivasi untuk mengerjakan tugas kuliah dan kualitas pekerjaannya menurun.

e. Tidak percaya diri
Bullying secara sistematis merusak harga diri dan keyakinan korban terhadap diri sendiri. Pesan-pesan negatif dan perlakuan merendahkan yang mereka terima secara berulang kali dapat membuat mereka internalisasi keyakinan bahwa mereka memang tidak berharga, bodoh, atau tidak disukai. 

Contoh: 
- Seorang anak yang sering diolok-olok karena penampilannya mulai merasa malu dengan dirinya sendiri dan menghindari interaksi sosial.
- Seorang remaja yang menjadi korban cyber Bullying merasa sangat buruk tentang dirinya sendiri dan percaya bahwa semua yang dikatakan orang tentangnya di internet adalah benar.

f. Suka menyendiri
Korban bullying sering kali menarik diri dari interaksi sosial sebagai mekanisme pertahanan diri. Mereka mungkin merasa tidak aman, malu, atau takut menjadi target bullying lagi jika berinteraksi dengan orang lain. Mereka mungkin juga merasa tidak dipahami oleh teman-teman atau orang dewasa di sekitar mereka. 

Contoh: 
- Seorang siswa yang sering diganggu saat istirahat lebih memilih untuk menghabiskan waktu sendirian di perpustakaan atau di kelas.
- Seorang karyawan yang menjadi korban bullying di tempat kerja menjadi enggan untuk berpartisipasi dalam acara sosial kantor dan lebih memilih untuk makan siang sendirian.

g. Memiliki rasa balas dendam kepada pelaku bullying
Perasaan marah, frustrasi, dan tidak berdaya akibat bullying dapat memicu keinginan untuk membalas dendam. Korban mungkin merasa bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan bullying dan memulihkan harga diri mereka adalah dengan melakukan hal yang sama atau lebih buruk kepada pelaku. 

Contoh:
- Seorang siswa yang terus-menerus dipukuli oleh teman sekelasnya mulai merencanakan cara untuk membalas dendam saat pelaku lengah.
- Seorang remaja yang fotonya diedit dan disebarkan secara daring oleh temannya merasa sangat marah dan bertekad untuk melakukan hal yang sama kepada pelaku.

h. Sulit mempercayai orang lain
Pengalaman bullying, terutama jika tidak ada orang dewasa atau teman sebaya yang membantu atau melindungi, dapat merusak kemampuan korban untuk mempercayai orang lain. Mereka mungkin menjadi curiga, waspada, dan takut untuk membuka diri karena khawatir akan disakiti atau dikhianati lagi. 

Contoh:
- Seorang anak yang pernah diolok-olok oleh teman-teman dekatnya menjadi sulit untuk percaya pada teman-teman barunya dan cenderung menjaga jarak.
- Seorang individu yang mengalami bullying di tempat kerja oleh rekan kerjanya menjadi sangat tidak percaya pada rekan kerja yang lain dan selalu merasa curiga terhadap niat mereka.

i. Memiliki keinginan untuk bunuh diri
Dalam kasus yang paling ekstrem, dampak psikologis bullying yang berkepanjangan dan intens dapat menyebabkan korban merasa putus asa, tidak memiliki harapan, dan melihat bunuh diri sebagai satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan mereka. Pikiran dan percobaan bunuh diri adalah konsekuensi serius yang memerlukan perhatian dan intervensi segera.

Contoh:
- Seorang remaja yang terus-menerus diintimidasi secara daring dan di sekolah merasa tidak ada jalan keluar dari penderitaannya dan mulai berpikir tentang mengakhiri hidupnya.
- Seorang individu yang mengalami bullying berat di tempat kerja merasa sangat tertekan dan tidak berdaya hingga muncul keinginan untuk bunuh diri.

j. Masalah kesehatan
Stres kronis akibat bullying dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik korban. Ini dapat bermanifestasi dalam berbagai keluhan seperti sakit kepala, sakit perut, masalah pencernaan, kelelahan kronis, penurunan sistem kekebalan tubuh (sehingga lebih rentan terhadap penyakit), dan masalah kesehatan lainnya yang terkait dengan stres. 

Contoh Sehari-hari:
- Seorang siswa yang sering di-bully di sekolah sering mengeluh sakit perut dan sakit kepala sebelum berangkat sekolah.
- Seorang karyawan yang mengalami mobbing di tempat kerja sering merasa sangat lelah meskipun sudah cukup tidur dan sering mengalami masalah pencernaan.

k. Trauma
Bullying yang parah, berulang, dan melibatkan kekerasan fisik atau emosional yang ekstrem dapat menyebabkan trauma psikologis. Trauma dapat mengakibatkan gejala seperti flashback (ingatan yang muncul tiba-tiba dan terasa nyata tentang kejadian bullying), mimpi buruk, kewaspadaan berlebihan (hypervigilance), respons ketakutan yang berlebihan, dan kesulitan dalam mengatur emosi. Dalam beberapa kasus, korban bullying dapat mengembangkan Post-traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pasca trauma (menghidupkan kembali trauma, mengalami kilas balik atau mimpi buruk dan mungkin merasa mati rasa atau terpisah dari diri mereka sendiri). 

Contoh:
- Seorang remaja yang pernah mengalami bullying fisik yang disertai ancaman kekerasan sering kali mengalami flashback dan merasa panik saat berada di tempat yang mengingatkannya pada kejadian tersebut.
- Seorang individu yang menjadi korban pelecehan seksual saat bullying mungkin mengalami mimpi buruk berulang kali tentang kejadian tersebut dan menjadi sangat takut pada sentuhan fisik.

2. Dampak yang dirasakan pelaku bullying
a. Penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan terlarang
Beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi antara perilaku bullying dengan peningkatan risiko penyalahgunaan zat di kemudian hari. Pelaku bullying mungkin menggunakan narkoba atau obat-obatan terlarang sebagai mekanisme koping untuk mengatasi masalah emosional, merasa lebih berkuasa, atau karena pengaruh lingkungan pergaulan yang juga terlibat dalam penyalahgunaan zat. Perilaku agresif dan anti sosial yang mendasari bullying juga dapat menjadi faktor risiko untuk terlibat dalam perilaku berisiko lainnya, termasuk penyalahgunaan zat.

Contoh:
- Seorang remaja yang dikenal sering melakukan bullying di sekolah juga mulai terlibat dalam penggunaan ganja dan minuman keras bersama teman-temannya yang lain.
- Seorang dewasa yang memiliki riwayat bullying di masa mudanya mungkin menggunakan obat-obatan terlarang untuk mengatasi perasaan marah atau tidak aman.

b. Rentan berkelahi
Perilaku bullying itu sendiri adalah bentuk agresi. Anak-anak dan remaja yang melakukan bullying cenderung memiliki tingkat agresi yang lebih tinggi dan lebih mungkin terlibat dalam perkelahian fisik di luar konteks bullying. Mereka mungkin melihat kekerasan sebagai cara yang efektif untuk menyelesaikan masalah atau mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pola perilaku agresif ini dapat berlanjut hingga dewasa. Contoh:
- Seorang siswa yang sering memukul dan mendorong teman-temannya di sekolah juga terlibat dalam perkelahian dengan anak-anak lain di lingkungan rumahnya.
- Seorang remaja yang menjadi pemimpin kelompok bully di sekolah juga sering terlibat dalam tawuran antar geng.

c. Memiliki risiko berhubungan seks di usia muda
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa pelaku bullying, terutama laki-laki, mungkin memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam perilaku seksual berisiko di usia muda. Hal ini mungkin terkait dengan kecenderungan mereka untuk mengambil risiko, kurangnya empati, atau kebutuhan untuk mendominasi dan mengontrol orang lain. Perilaku bullying dan aktivitas seksual dini keduanya dapat menjadi manifestasi dari masalah penyesuaian sosial dan emosional. Contoh:
- Seorang remaja laki-laki yang dikenal sering melakukan bullying terhadap teman-teman perempuannya juga mulai aktif secara seksual di usia yang lebih muda dibandingkan teman-teman sebayanya.
- Pelaku cyber Bullying yang menyebarkan foto-foto pribadi korban mungkin juga memiliki sikap yang tidak sehat terhadap seksualitas dan persetujuan.

d. Melakukan tindakan kekerasan
Perilaku bullying itu sendiri adalah bentuk kekerasan, baik fisik maupun emosional. Pelaku bullying menunjukkan kecenderungan untuk menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk mencapai tujuan mereka. Pola perilaku ini dapat berlanjut dan meningkat menjadi tindakan kekerasan yang lebih serius di kemudian hari, termasuk kekerasan dalam hubungan, kekerasan kriminal, dan bentuk-bentuk agresi lainnya.

Contoh:
- Seorang anak yang sering memukul dan menendang teman-temannya di sekolah mungkin juga tumbuh menjadi orang dewasa yang kasar terhadap pasangannya atau terlibat dalam perkelahian fisik.
- Seorang remaja yang melakukan bullying verbal yang ekstrem dan mengancam mungkin kemudian terlibat dalam tindakan kekerasan yang lebih serius.

e. Dosa
Pernyataan “dosa” memiliki konteks moral dan agama. Dari sudut pandang etika dan banyak ajaran agama, bullying dianggap sebagai perilaku yang salah dan merugikan orang lain. Tindakan menyakiti, merendahkan, dan mengintimidasi sesama dianggap melanggar prinsip-prinsip moral dasar seperti kasih sayang, empati, dan menghormati martabat manusia. Konsekuensi dari “dosa” ini, dalam konteks agama, bisa berupa hukuman spiritual atau perasaan bersalah dan penyesalan.

Contoh:
- Seorang individu yang beragama mungkin merasa bersalah dan berdosa setelah menyadari dampak negatif dari tindakan bullying yang pernah dilakukannya terhadap orang lain.
- Ajaran agama sering kali menekankan pentingnya memperlakukan orang lain dengan baik dan melarang segala bentuk kekerasan dan penindasan. Melakukan bullying dianggap bertentangan dengan ajaran tersebut.

F. Ciri-ciri korban bullying
Banyak dari kita yang tidak mengetahui ciri-ciri seseorang yang menjadi korban bullying, berikut merupakan ciri-cirinya.

1. Sering membolos sekolah
Ini terjadi Dikarenakan seorang anak tidak nyaman berada disekolah karena terus-menerus dibully.

2. Prestasi belajar menurun
Selain sering membolos, ciri berikutnya adalah prestasi belajar yang menurun ini dikarenakan kehilangan minat pada belajar. 

3. Melakukan tindakan yang merugikan tubuhnya
Seorang anak yang mendapatkan perilaku bullying entah dimana pun itu otomatis ia akan mendapat banyak sekali tekanan. Dan akan melakukan segala cara untuk melampiaskan tekanan tersebut, contohnya saja menyakiti diri sendiri (self harm) 

4. Mengalami perubahan pola makan dan pola tidur
Anak yang mengalami bullying akan memikirkan hal yang membuat ia takut sehingga pola tidur dan pola makannya kacau. Seperti terlalu banyak makan atau tidur ataupun malah kehilangan nafsu makan dan insomnia. 

5. Terdapat luka atau gejala fisik 
Biasanya ini terjadi jika seorang anak mengalami Bullying secara fisik. Misalnya memar akibat pukulan, sakit perut, sakit kepala dan sebagainya.

Itulah tadi beberapa ciri-ciri jika seorang anak mengalami Bullying. Namun, banyak orang tua yang tidak tahu jika anaknya mengalami Bullying. Mengapa orang tua tidak mengetahui jika anaknya merupakan korban bullying? Ini karenakan sang anak tidak mau memberitahukan yang ia alami kepada orang tuanya. Mengapa demikian? 

1. Takut jika orang tua malah menganggapnya lemah
2. Orang tua terlalu sibuk dengan urusannya
3. Orang tua tidak peduli terhadap keluh kesah anaknya
4. Takut membuat orangtua khawatir
5. Introvet

G. Contoh kasus bullying di Indonesia 
Indonesia menduduki peringkat ke 5 dalam kasus perundingan. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yakni dari tahun 2013 sampai 2023 terdapat 46.943 pengaduan kekerasan terhadap anak sekitar 45% adalah pengaduan terhadap bullying. Diantara korban bullying tersebut bahkan ada yang depresi hingga bunuh diri berikut merupakan beberapa contoh kasus bullying di Indonesia.

 1. Dibully hingga patah tulang hidung 
Kasus ini dialami oleh Siswa SMA Di Pekanbaru yang berinisial FA. Korban dibully teman-temannya disekolah, diketahui pelaku berinisial M dan R. Paman korban mengatakan tidak hanya dibully, korban juga diancam dan diperas. Korban sudah bersekolah di sekolah tersebut selama 5 bulan dan selama disekolah, pelaku merampas uang jajan korban dan pelaku mengancam agar korban agar tidak mengadu ke orang tuanya. Selain dibully hingga mengalami patah hidung, korban juga dipaksa mengaku bahwa dirinya terjatuh. Kejadian ini terjadi pada Selasa (5/11/2020) sekitar pukul 11.00 WIB. 

Pelaku memukul korban dengan bingkai foto yang terbuat dari kayu, kemudian pelaku menarik kepala korban dan dibenturkan ke lantai hingga korban mengalami patah tulang. Kapolresta Pekanbaru AKBP Nandang mu'min Wijaya mengemukakan kasus bullying tersebut berawal dari bercanda. Diduga ada perkataan yang tidak bisa diterima oleh terlapor sehingga tersinggung dan melakukan kekerasan. Tak terima dengan apa yang dilakukan pelaku orang tua korban melaporkan kejadian tersebut kepada polisi.

2. Depresi berat karna dibully
Kasus selanjutnya adalah seorang siswa SDN Wirosari, Kabupaten Grobogan  berinisial RS kelas 6 SD  mengalami depresi berat diduga menjadi korban bullying oleh teman-temannya sejak kelas 4 SD. Kejadian berawal Saat RS duduk di kelas 4 SD, saat itu sedang jam istirahat RS bermain sepak bola di dalam kelas dan bola yang ditendang olehnya tidak sengaja mengenai jam dinding hingga jatuh ke lantai, jam dinding pecah. Orang tua RS diminta mengganti dengan uang sebesar Rp.300.000 oleh pihak sekolah, namun orang tua RS belum menggantinya. 

Sejak saat itu RS selalu dibully bahkan pernah disekap oleh teman sekelasnya. Tidak hanya itu RS juga mengalami perundungan dalam bentuk yang lain seperti rambutnya dijambak, diludahi, disiram air, dan kekerasan lain. Orang tua RS sudah konfirmasi ke pihak sekolah, tetapi respon pihak sekolah tidak baik bahkan ayah RS diusir saat itu. Akibat bullying itulah pribadi RS berubah, RS sering mengurung diri, takut takut bertemu orang hingga tidak mau lagi bersekolah. 

Keluarganya menghabiskan banyak dana untuk memeriksakan kondisi psikis anaknya mulai dari dokter syaraf hingga psikiater mengatakan bahwa RS mengalami depresi. Padahal penghasilan orang tua RS pas-pasan, ayah RS yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan dan ibunya seorang penjual kerupuk. Namun, saat dikonfirmasi pihak sekolah membantah adanya bullying dan menganggap ini hanya kejadian gaduh antar siswa. Orang tua tidak tahu persis kejadiannya dan hanya menerima laporan anaknya. Bantahan tersebut disampaikan langsung oleh kepala sekolah SDN Wirosari.
 
3. Dibully karena sepatu
Jika tadi dikarenakan jam dinding kasus bullying kali ini terjadi karena sepatu. Kasus ini terjadi pada Seorang siswi SD di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Bandung barat bernama Nabilla dibully oleh teman-temannya karena masalah sepatu. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (6/4/2019) sekitar pukul 13.00 WIB. Menurut kesaksian guru yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa Awalnya Nabilla dan teman-temannya hanya bercanda layaknya anak-anak pada umumnya, karena sepatu Nabilla terduduki dan terinjak temannya. 

Menurut penuturan wali kelas Nabilla tinggal bersama kakek dan neneknya yang bernama Cece(70 tahun) dan Ira(70 tahun) dikarenakan orang tua Nabilla berpisah dan meninggalkan Nabilla sejak bayi. Dalam sebuah video percakapan antara Nabilla dan temannya, Nabilla sepatu yang ia beli dengan hasil keringatnya sendiri dari mengumpulkan rongsokan usai pulang sekolah selama beberapa jam. Video tersebut viral dan Nabilla menuai simpati dari masyarakat. Mereka tergerak hatinya untuk mendonasikan uang untuk Nabilla.

4. Jari diamputasi akibat dibully
Kasus kali ini jauh lebih parah dari kasus sebelumnya. Kali ini korban harus kehilangan jarinya karena dibully. Hal ini dialami oleh MS seorang siswa kelas VII SMPN 16 kota Malang, Jawa timur diduga menjadi korban bullying oleh sejumlah teman-temannya. Korban terpaksa diamputasi jarinya akibat ulah teman-temannya. Korban kerap menangis dan syok usai kehilangan jarinya. Polresta Malang menaikkan status dari penyelidikan ke penyidikan. 15 orang saksi diperiksa dalam kasus ini. 
 
Kapolresta Malang Kombespol Leonardus Simarmata mengungkapkan, korban diangkat beramai-ramai, kemudian tubuh korban dibanting ke paving dalam kondisi telentang. Aksi tersebut dilakukan saat jam istirahat sekolah. Bahkan korban dibanting ke pohon yang lebih kecil dengan cara yang sama. Teman-temannya mengaku hanya bercanda, 7 orang teman korban tersebut terancam hukuman pidana.

5. Siswa SD bunuh diri akibat sering dibully
Kasus kali ini merupakan kasus terparah diantara kasus-kasus diatas. Hal ini dialami oleh MR siswa SD berusia 11 tahun di Kecamatan Pesanggrahan, Banyuwangi, Jawa timur tewas karena  bunuh diri pada Kamis (2/3). Kasi Humas Polresta Banyuwangi Iptu Agus Winarno mengungkapkan bahwa korban diduga depresi karena kerap dirundung oleh teman sebayanya lantaran korban seorang anak yatim. Korban setiap pulang sekolah selalu menangis dan dongkol bahkan sebelum meninggal korban pun sering murung sepulang sekolah. 

Atas peristiwa ini Iptu Agus Winarno menghimbau kepada masyarakat untuk mencegah terjadinya bullying baik secara verbal, fisik maupun sosial, didunia nyata maupun didunia Maya. Korban bullying dapat menjadi tidak nyaman, sakit hati dan tertekan. Selain itu, perbuatan bullying dapat merugikan diri sendiri karena bisa terkena jerat hukum pidana.
      
Itulah tadi beberapa kasus bullying yang terjadi di Indonesia. 

H. Pandangan Islam tentang bullying
Kita telah mengetahui banyak hal tentang bullying, mulai dari pengertian hingga kasus bullying di Indonesia. Bullying mempunyai dampak yang sangat buruk sekali tidak hanya kepada korban namun juga pelaku, mulai dari depresi hingga bunuh diri. Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai bullying ini? 
         
Dalam Islam manusia merupakan makhluk paling mulia. Hukum Islam lahir didasarkan pengagungan terhadap Tuhan dan perintah untuk memuliakan manusia dengan menjunjung tinggi akhlak. Sementara bullying, berisi caci maki, umpatan, ujaran kebencian, sumpah serapah, hinaan, olok-olok,  menyakiti secara fisik, dsb merupakan perbuatan yang keji. Apalagi bullying dilakukan di depan umum. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِ يْمَا نِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."(QS. Al-Hujurat surah ke 49: Ayat 11)
        
Dalam ayat diatas jelas, memperkuat haramnya perbuatan bullying. Karena merupakan perbuatan yang keji. Selain itu juga, bisa jadi yang dibully jauh lebih mulia daripada yang membully. Bullying tidak boleh dilakukan dengan alasan apapun. Oleh karena itu pelaku bullying harus meminta maaf kepada korban bullying dan bertobat kepada Allah dengan taubat nasuha. Dan apabila tidak meminta maaf kepada korban bullying dan bertobat kepada Allah dengan taubat nasuha maka pelaku bullying termasuk orang yang zalim.

Dalam Al-Qur’an Allah juga mengecam orang-orang yang suka mengumpat dan mencela orang lain. Perilaku ini termasuk dalam bullying verbal dan nonverbal, di mana pelaku merendahkan dan menyakiti hati korban melalui ucapan dan tindakan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَيْلٌ لِّـكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

Artinya: “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela,” (QS. Al-Humazah surah ke 104: Ayat 1).

Seorang muslim yang baik adalah yang tidak menyakiti muslim lainnya dengan perkataan (lisan) maupun perbuatan (tangan). Bullying melibatkan keduanya, baik verbal maupun fisik. Dalam hadits disebutkan bahwa, “Seorang muslim adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah akan menjauhkan api neraka dari wajahnya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad).

Hadits diatas secara tidak langsung melarang bullying dengan menekankan pentingnya membela kehormatan sesama muslim. Membiarkan atau bahkan melakukan bullying adalah bentuk merusak kehormatan orang lain. 

1. Edukasi tentang Bullying
Semua orang, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga masyarakat luas perlu memahami apa itu bullying, bentuk-bentuknya, dan dampaknya. Sekolah, komunitas, dan organisasi dapat mengadakan program edukasi yang melibatkan diskusi, role-playing, atau penyebaran materi informatif. Manfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi tentang bullying dan kampanye anti-bullying.

2. Lingkungan yang Inklusif
Ciptakan lingkungan yang menghargai perbedaan, baik itu perbedaan ras, agama, gender, orientasi seksual, atau kemampuan. Dorong adanya keberagaman dalam kelompok dan komunitas. Pastikan semua individu merasa memiliki nilai yang sama dan diperlakukan dengan adil.

3. Berikan dukungan kepada anak 
Berikan waktu dan ruang bagi korban untuk menceritakan pengalamannya tanpa menghakimi. Yakinkan korban bahwa mereka tidak sendiri dan tindakan yang mereka alami tidaklah benar. Arahkan korban untuk mendapatkan bantuan profesional jika diperlukan, seperti konselor atau psikolog.

4. Laporkan saat anda dibully 
Buatlah jalur pelaporan yang jelas dan mudah diakses bagi korban bullying. Terapkan sanksi yang tegas terhadap pelaku bullying untuk memberikan efek jera. Pastikan tindakan yang diambil konsisten dan adil.

5. Buat kebijakan yang tegas 
Buatlah aturan yang jelas tentang apa yang dianggap sebagai bullying dan konsekuensinya. Semua pihak terkait, seperti sekolah, tempat kerja, dan organisasi, harus berkomitmen untuk menegakkan kebijakan anti-bullying. Evaluasi secara berkala efektivitas kebijakan yang telah diterapkan.

6. Perlu adanya peran orangtua dan guru 
Orangtua dan guru harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak. Jalin komunikasi yang baik antara orang tua, guru, dan anak-anak untuk mendeteksi tanda-tanda bullying sedini mungkin. Jadilah contoh yang baik bagi anak-anak dengan menunjukkan sikap yang sopan, menghargai, dan empati.

7. Gunakan teknologi 
Manfaatkan teknologi untuk memantau aktivitas online anak-anak dan mendeteksi tanda-tanda bullying di dunia maya. Ajarkan anak-anak tentang penggunaan internet yang aman dan cara menghadapi cyberbullying. Bekerja sama dengan platform media sosial untuk mencegah penyebaran konten yang mengandung unsur bullying.

8. Evaluasi 
Lakukan evaluasi secara berkala untuk mengukur efektivitas program pencegahan bullying yang telah diterapkan. Identifikasi area yang perlu diperbaiki dan lakukan penyesuaian terhadap program yang ada. 
 
Penutup:
Melalui tulisan ini penulis meminta untuk kepada siapapun yang membaca tulisan ini menghentikan segala tindakan bullying terhadap siapapun. Mengingat bullying mempunyai dampak yang sangat fatal sekali. Penulis juga meminta kepada pembaca untuk membagikan tulisan ini kepada siapapun. Para pelaku bullying penulis mengajak kalian bertaubat dan meminta maaf kepada orang yang kalian bully serta tidak mengulangi lagi perbuatan BEJAT kalian.

Para korban bullying jangan takut bila kalian dibully laporkan ke orangtua, guru, kepala sekolah kalau perlu polisi. Penulis juga memohon bantuan kepada orangtua, guru, kepala sekolah dan aparat penegak hukum untuk memberantas bullying sesuai kemampuan anda. MARI KITA BERSATU PERANGI BULLYING. Sekian dan terimakasih atas kunjungan dan partisipasinya.


Penulis: Maulana Aditia 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhi suudzon dan tingkatkan husnudzon

Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul

Peduli terhadap hewan dan lingkungan sekitar