Memahami ikhlas sebagai kunci kecemerlangan hidup
Banyak orang mencari kunci kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu konsep yang sering dilontarkan adalah “ikhlas”. Ikhlas atau melakukan sesuatu dengan tulus diyakini sebagai kunci terpenting menuju kecemerlangan dalam hidup. Pada kesempatan kali ini menjelaskan secara mendalam mengapa memahami keikhlasan itu penting, bagaimana pengaruhnya terhadap berbagai aspek kehidupan seseorang, dan bagaimana kita bisa mengamalkannya dalam rutinitas sehari-hari. Dengan memahami konsep keikhlasan, diharapkan pembaca dapat meraih hasil yang lebih bermakna dan kebahagiaan yang lebih dalam dalam hidupnya.
A. Pengertian ikhlas
Kata ikhlas dalam bahasa Arab berasal dari kata khalasha yang artinya taqiyah asy-syai wa tahdzibul atau mengosongkan dan membersihkan sesuatu. Sedangkan kata ikhlas secara etimologis berarti suci (murni, bening, bebas dari najis dan pengotor, baik materil maupun immateri). Sedangkan keikhlasan dalam terminologi ikhlas berarti kejujuran dalam keyakinan atau akidah dan perbuatan yang ditujukan hanya kepada Allah. Orang yang hatinya ikhlas disebut Mukhlis yang ikhlas dan tidak mempunyai sifat Riya.
Para ulama juga mendefinisikan ikhlas menurut versinya masing-masing. Berikut ini merupakan definisi ikhlas menurut para ulama.
1. Muhammad Abduh
Ikhlas adalah ikhlas beragama untuk Allah dengan selalu menghadap kepada-Nya, dan tidak mengakui kesamaan-Nya dengan makhluk apapun dan bukan dengan tujuan khusus seperti menghindarkan diri dari malapetaka atau untuk mendapatkan keuntungan serta tidak mengangkat selain dari-Nya sebagai pelindung.
2. Abdul Karim bin Hawazin Al-Qusyairi
Ikhlas adalah peninggalan al-Haqq dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan. Dia dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada Allah semata tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukan untuk makhluk, tidak untuk mencari pujian manusia atau makna-makna lain selain pendekatan diri pada Allah. Bisa juga diartikan penjernihan perbuatan dari campuran semua makhluk atau pemeliharaan sikap dari pengaruh-pengaruh pribadi.
3. Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari
Arti dari kata ikhlas yaitu melakukan amal ibadah semata-mata ditujukan kepada Allah sebagai satu-satunya zat yang mempunyai hamba. Di dalam hal itu dikenal dengan adanya berbagai tingkatan, yang mana sesuai dengan taufiq yang diberikan oleh Allah Ta’ala pada seorang hamba.
4. Buya Hamka
Ikhlas memiliki makna bersih dan tidak ada campuran. Ibarat emas, ikhlas adalah emas yang tulen, tidak ada campuran perak sedikit pun. Pekerjaan yang bersih pada sesuatu itu berarti ikhlas.
5. Ali Mahmud
Ikhlas adalah meninggalkan amal karena manusia adalah makhluk yang riya, beramal karena manusia adalah perbuatan syirik, tapi jika Allah menyelamatkanmu dari keduanya itu artinya ikhlas.
Penting untuk dipahami apa arti sikap ikhlas agar terhindar dari ibadah atau amal shalih selain dari tujuan Allah. Ikhlas merupakan sikap yang harus dimiliki oleh seluruh umat Islam. Banyak umat Islam yang tidak mendapatkan manfaat apa pun dari amalan tersebut. Sebab, amalannya kurang keikhlasan hatinya yang hanya menghendaki keridhaan Allah. Ikhlas merupakan salah satu faktor diterimanya ibadah seseorang.
B. Dalil tentang ikhlas
Allah memerintahkan kepada hambanya untuk selalu beribadah kepadanya dengan keikhlasan dan ketaatan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّاۤ اَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِا لْحَقِّ فَا عْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ
Artinya:"Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya."(QS. Az-Zumar surah ke 39: Ayat 2)
Kemudian dalam ayat lain dan masih dalam surah yang sama, yang berbunyi:
قُلْ اِنِّيْۤ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ(١١) وَاُ مِرْتُ لِاَ نْ اَكُوْنَ اَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ(١٢) قُلْ اِنِّيْۤ اَخَا فُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَا بَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ(١٣) قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهٗ دِيْنِى (١٤)
Artinya:"Katakanlah, "Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri. Katakanlah, "Sesungguhnya aku takut akan azab pada hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku." Katakanlah, "Hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.""(QS. Az-Zumar surah ke 39: Ayat 11-14)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
هُوَ الْحَيُّ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَا دْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya:"Dialah yang hidup kekal, tidak ada Tuhan selain Dia; maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam."(QS. Ghafir surah ke 40: Ayat 65)
Keikhlasan bertempat dalam hati seseorang, dalam hadits disebutkan bahwa, Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi Dia hanya melihat hati dan amalmu”. (HR Muslim)
Nabi Muhammad menyampaikan perumpamaan tentang amal yang didasari keikhlasan di dalam hati, bagaikan bejana. Dari Mu'awiyah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:“Sesungguhnya amalan itu seperti bejana. Jika bagian bawahnya baik maka baik pula bagian atasnya. Jika bagian bawahnya rusak, bagian atasnya pun rusak”. (HR Ibnu Majah)
Dari Umar Bin Khaththab Radhiyallahu 'Anhu ia berkata; Aku mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Amal itu tergantung dengan niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa berhijrah dengan niat kepada Allah dan RasulNya, maka ia mendapatkan balasan hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa berhijrah dengan niat kepada keuntungan dunia yang akan diperolehnya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)
C. Unsur-unsur ikhlas
Berikut merupakan unsur-unsur dari ikhlas.
1. Niat;
2. Mengikhlaskan niat;
3. Dapat dipercaya.
Pahami bahwa segala sesuatu mencerminkan dan tercampur hal lain. Maka jika dia suci dari campuran dan suci dari segala sesuatu, niscaya Dia bisa disebut bersih atau khalis. Pada saat yang sama, untuk menjadi suci dan bersih, perbuatannya harus ikhlas.
D. Tingkatan ikhlas
Para ulama tasawuf membedakan akhlak tersebut ke dalam tiga tingkatan, yaitu:
1. Ikhlas Awam
Dalam beribadah kepada Allah bermula dari rasa takut akan azab Allah dan tetap mengharapkan pahala duniawi. Seperti halnya orang yang menunaikan shalat Dhuha untuk mendapatkan pahala dan juga memudahkannya dalam mencari rezeki. Lalu ada pula orang yang menunaikan shalat tahajud karena ingin memuluskan urusan dunianya.
2. Ikhlas Khawas
Akhlak ini mempunyai motivasi untuk menerima pahala dari Allah. Dengan demikian, orang yang beramal shalih akan mendapat sesuatu dari Allah di akhirat, seperti terhindar dari siksa neraka dan masuk surga Allah.
3. Ikhlas Khawas al-Khawas
Ikhlas Khawas al-Khawas adalah bentuk ketundukan hamba kepada Allah, yang mengandung kesadaran penuh bahwa hamba harus mengabdi kepada Allah dengan melakukan amal dan ibadah yang dilakukan karena ia benar-benar mencari keridhaan Allah. Amal ibadah yang dilakukan oleh Mukhlis semata-mata karena keridhaan Allah, tanpa adanya keinginan untuk mencari perhatian atau ketenaran dihadapan makhluk lain, baik berupa pujian atau sejenisnya.
Imam Al-Ghazali berkata:"Setiap manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu, dan orang yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal (dengan ilmunya), dan orang yang beramal juga binasa kecuali mukhlis (dalam amalnya). Akan tetapi, orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal."
E. Ciri-ciri ikhlas
Berikut merupakan ciri-ciri ikhlas.
1. Tidak senang dipuji
Pujian merupakan salah satu ujian bagi orang yang beramal shalih. Bisa saja seseorang menjadi sombong. Itulah sebabnya orang yang ikhlas tidak pernah menyukai pujian dari siapapun.
2. Tidak berambisi menjadi pemimpin
Salah satu keuntungan menjadi seorang pemimpin adalah dihormati dan disegani oleh banyak orang. Dengan kepemimpinan, seseorang akan lebih mudah menjadi sombong dan merasa paling benar. Namun, berbeda dengan orang dengan sifat ini, mereka pendiam dan kalem serta tidak menyebut dirinya pemimpin. Misalnya saja mencalonkan diri sebagai pengurus RT, RW atau yang lainnya.
3. Mendengarkan nasihat
Orang yang ikhlas akan senantiasa mendengarkan nasihat dari siapapun.
4. Menganggap hinaan pujian dan pujian sama saja
Kewajiban seorang muslim adalah menaati perintah Allah yang merupakan salah satu tanda mengabdi kepada Allah. Seringkali apa yang dilakukan orang dipuji bahkan tidak disukai oleh orang disekitarnya. Bagi Mukhlis, pujian dan hinaan itu sama saja. Mereka tidak memikirkannya karena hanya mengetahui niat orang-orang disekitarnya.
5. Melupakan perbuatan baiknya dan hak perbuatan baiknya
Ketika seseorang melakukan perbuatan baik seperti membantu orang lain, Mukhlis biasanya lupa dan tidak mengingatnya lagi. Oleh karena itu, orang yang ikhlas tidak akan berkata-kata enteng dan tidak membicarakan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya di masa lalu. Selain itu, ketika seseorang berbuat baik, biasanya ia menuntut haknya. Misalnya, jika seseorang memberikan makanan kepada anak yatim, maka ia mengharapkan pujian dan doa dari anak-anak tersebut. Sikap seperti ini tidak bisa digolongkan ikhlas. Karena mereka tetap menuntut hak perbuatan baiknya.
F. Tips agar ikhlas dalam beramal
Saat beramal, keikhlasan adalah kunci terpenting untuk menerima keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun seringkali sulit bagi manusia untuk mencapai tingkat keikhlasan yang diinginkan. Berikut beberapa tip untuk membantu Anda menjadi lebih ikhlas dalam beramal.
1. Niatkan amal hanya untuk Allah;
2. Pikirkan tentang tujuan akhir;
3. Perbanyak istighfar;
4. Rahasiakan perbuatanmu;
5. Berdoa secara teratur untuk keikhlasan;
6. Merenungkan Al-Qur'an dan Hadits;
7. Berkawan dengan orang Shalih.
Baca juga: Berkawan dengan orang Shalih
Dengan menerapkan tips-tips di atas dan meneliti sumber-sumber terpercaya, semoga kita semua dapat mencapai keikhlasan dalam beramal shalih, yang merupakan kunci terpenting keberkahan dan kebahagiaan hidup di dunia dan dunia yang akan datang.
G. Hubungan antara hidup ikhlas dan sederhana
Kehidupan yang penuh keikhlasan dan kesederhanaan merupakan landasan untuk mencapai kedamaian batin dan keberkahan dalam hidup. Keduanya berkaitan erat dan menjadi landasan kokoh bagi seseorang untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Mari kita lihat lebih dekat hubungan antara hidup ikhlas dan sederhana.
Hidup ikhlas berarti melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas, hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Membebaskan manusia dari jebakan riya' (pamer) dan sum'ah (mendengar pujian), mengarahkannya untuk fokus pada hubungannya dengan Sang Pencipta. Sedangkan hidup sederhana mengajarkan kita untuk mengurangi nafsu terhadap hal-hal duniawi dan hidup hemat dalam segala hal. Kesederhanaan membantu seseorang terhindar dari godaan keserakahan dan materialisme serta menguatkan keikhlasan dalam beramal.
Hubungan antara hidup ikhlas dan sederhana adalah bahwa hidup ikhlas dan sederhana mendorong fokus pada hal-hal penting dalam hidup, seperti ibadah, hubungan sosial yang baik, dan pencapaian spiritual. Hidup sekadar membantu menghindari kecenderungan mencari kemewahan dan kemuliaan duniawi, yang dapat melemahkan keikhlasan dalam beramal shalih. Keduanya membantu seseorang untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan material dalam hidup. Hidup sederhana memungkinkan seseorang untuk fokus pada pencapaian spiritual tanpa terlalu tergoda oleh keinginan duniawi yang berlebihan.
H. Manfaat dan keutamaan ikhlas
1. Manfaat ikhlas
a. Memperoleh pahala dari Tuhan;
b. Hati menjadi tenang dan ibadah menjadi lancar;
c. Menjadi pemaaf;
d. Tidak mudah marah dan dikendalikan oleh amarah;
e. Selalu dicintai dan dihargai;
f. Jauh dari sifat-sifat yang kotor seperti kesombongan, riya', dan iri hati;
g. Hati selalu terbuka dan terasa ringan selama hidup;
h. Selalu mensyukuri nikmat Allah dan menerima Qadha dan Qadar Allah; Baca juga: Mengimani dan menerima Qadha' dan Qadar
i. Menjadi karakter yang hebat dan kuat;
j. Memperoleh kemuliaan disisi Allah.
2. Keutamaan ikhlas
a. Perintah langsung dari Allah;
b. Syarat utama diterimanya ibadah;
c. Cermin dari hati manusia;
d. Sifat dasar Nabi dan Rasul;
e. Pokok dari semua perbuatan.
Penutup:
keikhlasan atau ketulusan niat dan tindakan merupakan faktor penting dalam mencapai kesempurnaan dalam hidup. Kejujuran bermanfaat baik secara mental dan emosional, memungkinkan seseorang untuk fokus pada tujuan yang lebih besar, mengurangi stres, dan meningkatkan hubungan dengan orang lain. Kebahagiaan dan kesuksesan yang lebih besar dapat diraih dengan memahami dan menerapkan konsep keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari. Sekian dan terimakasih.
Penulis: Maulana Aditia
Komentar
Posting Komentar