Meneladani perjuangan dakwah Walisongo
Kali ini kita akan membahas tentang kampanye dakwah yang dilakukan oleh para Walisongo, sembilan orang yang membawa Islam ke pulau Jawa pada abad ke-14 dan ke-15. Walisongo dikenal sebagai pionir penyebaran Islam ke Indonesia dengan berbagai metode komunikasi yang disesuaikan dengan budaya setempat. Dengan menyoroti kisah perjuangan mereka, artikel ini bertujuan untuk menginspirasi pembaca untuk mengikuti semangat, kesabaran dan pemahaman mereka untuk menyebarkan nilai-nilai Islam di berbagai masyarakat.
A. Arti Walisongo
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian Walisongo. Yang pertama adalah Walisongo, yang menyatakan banyaknya wali yang berjumlah sembilan, atau songo dalam bahasa Jawa. Pendapat lain mengatakan bahwa kata songo berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lain mengatakan bahwa kata tsana berasal dari bahasa Jawa yang berarti tempat. Pendapat lain mengatakan Walisongo merupakan majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 M (808 H).
Konsep Walisongo atau Wali Sembilan dalam kosmologi Islam, sumber utamanya dapat ditelusuri dari konsep wali yang diyakini para penganut tasawuf mengandung sembilan tingkatan wali. Syaikh al-Akbar Muhyiddini Ibnu Araby dalam kitab Futuhat al-Makkiyah menjelaskan kurang lebih ada sembilan tingkatan perwalian dengan tanggung jawab pada masing-masing kewilayahan. Kesembilan tingkatan perwalian tersebut adalah:
1.) Wali Quthub dalah pemimpin dan penguasa para wali di seluruh alam semesta.
2) Wali Aimmah adalah pembantu Wali Quthub dan menggantikan kedudukannya jika wafat.
3) Wali Autad adalah wali penjaga empat penjuru mata angin.
4) Wali Abdal adalah wali penjaga tujuh musim.
5) Wali Nuqaba adalah wali penjaga hukum syariat.
6) Wali Nujaba adalah wali yang ada disetiap masa dengan jumlah delapan orang.
7) Wali Hawariyyun adalah wali pembela kebenaran agama, baik pembelaan dalam bentuk argumentasi maupun senjata.
8) Wali Rajabiyyun adalah wali yang karomahnya muncul setiap bulan Rajab.
9) Wali Khatam adalah wali yang menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan umat Islam
Setiap anggota Walisongo dikaitkan dengan nama Jawa yakni Sunan, yang artinya berarti "terhormat". Semasa hidupnya, sebagian besar wali juga dijuluki Raden karena berasal dari kalangan bangsawan. Masyarakat Jawa menghormati makam para wali sebagai tempat ziarah orang Jawa sebagai ungkapan syukur dan terimakasih atas jasa dan syafaat yang telah mereka lakukan selama hidup. Menurut tradisi Jawa, kuburan tersebut disebut pundhen.
Sebelum Walisongo datang ke Indonesia terdapat beberapa tokoh yang datang terlebih dahulu ke Indonesia untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam. Tokoh tersebut seperti Sayyid Maulana Husein Jamaluddin Azmatkhan al-Husaini, Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy, Khaliqul Idrus, Syekh Nurjati, Syekh Qurotul Ain, Syekh Bentong, Sayyid Ali Murtadha (Raden Santri Gresik), Muhammad Nurul Yaqin, Fatimah binti Maimun bin Hibatullah.
B. Asal usul Walisongo
1. Teori keturunan Hadramaut
Meskipun Walisongo masih diyakini sebagai keturunan Samarkand (Asia Tengah), Champa, atau tempat lain, namun tempat-tempat tersebut tampaknya merupakan jalur para misionaris daripada asal mereka, yang sebagian besar adalah Sayyid atau Syarif. Beberapa dalil yang dikemukakan Muhammad Al Baqir dalam bukunya Tariqah Menuju Kebahagiaan menegaskan bahwa Walisongo adalah keturunan Hadramaut (Yaman) antara lain:
a. Seorang islamolog dan ahli hukum asal bernama Lodewijk Willem Christiaan van den Berg yang mengadakan riset pada tahun 1884-1886 yang kemudian ditulis dalam bukunya berjudul Le Hadhramout et les colonies arabes dans l'archipel Indien (1886) dalam buku tersebut dikatakan bahwa adapun hasil nyata masuknya Islam ke Indonesia berasal dari kaum Sayyid dan Syarif. Melalui mereka Islam menyebar di kalangan raja-raja Hindu di Jawa dan lain-lain.
Selain suku-suku tersebut, masih ada suku Hadramaut lainnya yang bukan Sayyid dan Syarif, namun suku-suku tersebut tidak meninggalkan pengaruh sebesar Sayyid dan Syarif. Sebab, Sayyid dan Syarif merupakan keturunan dari Nabi Muhammad. Dikatakan pula dalam bukunya pada halaman halaman 192 dan 204 bahwa pada abad ke-15, orang Arab atau keturunannya tinggal di Jawa, yaitu. setelah masa Kerajaan Majapahit. Orang Arab bercampur dengan penduduk dan ada pula yang mempunyai status tinggi.
Mereka terhubung melalui koneksi dan keluarga tingkat yang lebih tinggi. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, karena kebanyakan dari mereka adalah keturunan Nabi Muhammad. Bangsa Arab Hadramaut membawa gagasan baru kepada orang Hindu, yang generasi Arab meneruskan jejak nenek moyang mereka. Abad ke-15 jauh lebih awal dibandingkan dengan abad ke-18 yang kedatangan gelombang selanjutnya yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al Habsyi, Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan masih banyak lagi marga Hadramaut yang lainnya.
b. Saat ini, sebagian besar Muslim Hadramaut menganut mazhab Syafii, serta di Sri Lanka, pantai barat India (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan india. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah, Pakistan, dan pedalaman India (non-pesisir), yang sebagian besar menganut Mazhab Hanafi.
c. Persamaan amalan Mazhab Syafi’i dan keutamaan Ahlul Bait seperti merayakan Maulid, membaca Diba dan Barzanji, berbagai sholawat Shalawat Nabi, Nur Nubuwwah dan masih banyak adat istiadat lainnya yang hanya ada di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Sri Lanka, Sulu dan Mindanao (Filipina), Malaysia dan Indonesia. Fathul Muin, kitab fiqih populer di Indonesia yang ditulis oleh Zainuddin Al Malabary dari Malabar, isinya memuat pendapat para Fuqaha dan para sufi. Hal ini mengacu pada sumber yang sama Hadramaut, karena Hadramaut merupakan sumber pertama dalam sejarah Islam yang memadukan fiqih Mazhab Syafi'i dengan amalan tasawuf dan mengutamakan Ahlul Bait.
d. Pada abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Walisongo, seperti Raden Patah dan Pati Unus, sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga sering digunakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu Azmatkhan atau Abdullah Khan bin Abdul Malik bin Alwi, cucu dari ulama besar Hadramaut Muhammad Shahib Mirbath abad ke-13. Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh di Asia Tenggara dan mempunyai putra dan cucu yang sering menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nuralam Akbar dan masih banyak lagi yang lainnya.
2. Teori keturunan Cina (Hui)
Sejarawan Slamet Muljana menimbulkan kontroversi dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu di Jawa (1968) dengan menyatakan bahwa para Walisongo adalah Muslim Tionghoa. Pendapat tersebut menimbulkan reaksi keras dari masyarakat yang meyakini Walisongo berasal dari Arab-Indonesia. Pemerintah orde baru melarang penerbitan buku tersebut. Referensi bahwa Walisongo yang berasal dari Tiongkok masih kontroversial hingga saat ini.
Referensi yang dimaksud hanya dapat diuji melalui sumber akademis Slamet Muljana yang mengacu pada tulisan Mangaraja Onggang Parlindungan yang kemudian merujuk pada seorang tokoh bernama Resident Poortman. Namun hingga saat ini identitas dan kredibilitas Resident Poortman sebagai sejarawan belum dapat diketahui, misalnya saja bila dibandingkan dengan Snouck Hurgronje dan L.W.C van den Berg.
Seorang sejarawan Belanda masa kini yang mempelajari sejarah Islam di Indonesia, yaitu Martin van Bruinessen, tidak pernah menyebut nama Poortman dalam bukunya yang menurutnya sangat detail dan menggunakan banyak referensi. Salah satu ulasan H.J. de Graaf, Th.G.Th. Pigeaud, M.C. Ricklefs berjudul Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries (Muslim Tionghoa di Jawa pada Abad ke-15 dan ke-16) oleh Russell Jones. Di sana ia juga mencurigai keberadaan Poortman. Jika orang tersebut ada dan tidak mempunyai nama lain, hal itu harus dibuktikan dengan mudah, karena tulisan Parlindungan mempunyai cerita yang cukup lengkap.
C. Nama dan kisah perjuangan dakwah Walisongo
1. Sunan Gresik
Sunan Gresik mempunyai nama asli Maulana Malik Ibrahim. Beliau lahir di. Kashran, Persia. Sunan Gresik dikenal pula dengan sebutan kakek bantal. Sunan Gresik merupakan keturunan ke- 22 Rasulullah dari jalur Husain bin Ali dan Fatimah binti Muhammad. Pada tahun 1371, Sunan Gresik tiba di Jawa bersama saudaranya Maulana Mahpur, Sayyid Yusuf Mahrab dan 40 orang sahabat. Mereka datang ke Pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam melalui perdagangan.
Desa Sembalo menjadi sasaran pertama, lokasinya berada di dekat desa Leran di Kabupaten Gresik atau sekitar 9 km sebelah utara kota Gresik. Tempatnya tidak jauh dari makam Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 1082 M (475 H). Saat itu, Gresik merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Majapahit yang dihuni oleh umat Hindu dan Buddha. Pada masa penyebaran agama Islam, Sunan Gresik pertama kali memulai berdagang, membuka toko, mengurus kebutuhan pokok masyarakat dan menjualnya dengan harga murah di Desa Rumo dekat pelabuhan.
Melalui perdagangan, beliau dapat berinteraksi dengan berbagai kalangan, para pedagang, pemberi modal, pemilik kapal, dan entitas lain yang terkait dengan perdagangan. Beliau juga mempelajari bahasa daerah tersebut untuk memperlancar komunikasi dan dakwahnya sehingga Sunan Gresik dapat beradaptasi dengan masyarakat dalam waktu yang relatif singkat dengan mengikuti upacara pernikahan dan acara lainnya. Bahkan, ia menjadi juru damai ketika ada dengan orang-orang yang sedang berkonflik.
Sunan Gresik tidak menentang keras agama dan kepercayaan penduduk pribumi dalam kesehariannya. Beliau berusaha menyampaikan keindahan dan kebaikan yang dibawa Islam. Karena keseriusan dan tanggung jawabnya dalam menyebarkan agama Islam, ia mendapat kepercayaan dari masyarakat, dan atas Taufik dan hidayah Allah, satu demi satu mereka masuk Islam. Setelah dakwahnya di desa Sembalo berhasil, ia pindah ke Kota Gresik dan tinggal di desa Sawo.
Setelah beberapa waktu beliau mendakwahkan Islam ke istana Majapahit. Beliau kemudian menemui raja Majapahit dan menyampaikan kebenaran tentang agama Islam. Kedatangannya di pusat kerajaan Majapahit disambut baik, meski raja Majapahit belum siap memeluk Islam. Berkat hubungan bisnis yang baik, Sunan Gresik diangkat menjadi Syahbandar pelabuhan di Gresik dan diperbolehkan menyebarkan agama Islam di Gresik.
Raja Brawijaya kemudian memberikan Sunan Gresik sebidang tanah di luar kota Gresik yang kemudian dikenal dengan Desa Gapura. Di sini kemudian Sunan Gresik mendirikan pesantren dan menyebarkan kebenaran Islam. Hubungan baik Sunan Gresik dengan keluarga kerajaan yang menunjukkan sikap santun, arif dan bijaksana menjadikannya sebagai penasihat raja dan guru bagi para pangeran. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Gresik mulai tertarik menerima Islam karena sifat Sunan Gresik yang santun, dermawan, dan toleran.
Kondisi inilah yang mendorongnya untuk membangun Masjid Pesucian yang kini dikenal dengan nama Masjid Maulana Malik Ibrahim yang terletak di Desa Leran, Kecamatan Manyar, pesisir utara Gresik.
Selain untuk ibadah, masjid Pesucian juga digunakan sebagai tempat belajar para mubaligh, santri dan masyarakat, dan lahirlah pesantren pertama nusantara di sana. Sunan Gresik tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu teknik pengairan sawah dan tambak, dengan tujuan untuk memajukan perekonomian masyarakat pesisir di sepanjang pantai utara Gresik.
Ketika Sunan Gresik selesai membangun di Leran dan menata tempat tinggal untuk kajian agama, Sunan Gresik wafat pada tanggal 8 April 1419 M. Makamnya kini berada di desa Gapura di Gresik, Jawa Timur. Saat ini jalan menuju makam disebut Jalan Malik Ibrahim. Terdapat inskripsi Arab pada makamnya. Inskripsi Arab pada makamnya adalah sebagai berikut.
"Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para sultan dan wazir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi'ul Awwal 822 Hijriyah."
2. Sunan Ampel
Sunan Ampel mempunyai nama asli Sayyid Ali Rahmatullah atau lebih dikenal dengan Raden Rahmat lahir pada tahun 1401 M di Kerajaan Champa. Sunan Ampel merupakan putra dari Syekh Maulana Ibrahim As-samaraqandi dan Dewi Candrawulan. Beliau juga merupakan keponakan dari Dyah Darawati. Sedangkan untuk nasab Sunan Ampel bersambung nasabnya dengan Rasulullah dari jalur Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad.
Sebelum datang ke Pulau Jawa, Sunan Ampel menetap di Palembang pada tahun 1440 M. Selama di Palembang, Raden Rahmat menjadi tamu Arya Damar selama dua bulan dan berusaha menyampaikan Islam kepada raja muda Palembang. Arya Damar yang sudah terlanjur tertarik dengan Islam dan hampir masuk Islam. Namun ia tak berani mengambil risiko menghadapi tindakan rakyatnya yang masih melekat pada keyakinan lama, namun ia tak terang-terangan mewartakan keislamannya. Menurut cerita masyarakat setempat, setelah memeluk Islam, Arya Damar mengambil nama Ario Abdillah.
Sunan Ampel datang ke Pulau Jawa pada tahun 1443 M, bersama ayah dan saudara tuanya yang bernama Ali Musada (Ali Murtadho) dan saudara sepupunya yang bernama Raden Burereh (Abu Hurairah) yang sebelumnya tinggal di Champa. Kedatangannya ke Pulau Jawa karena undangan dari Raja Majapahit kala itu untuk memperbaiki perilaku rakyat Majapahit yang buruk dan pada waktu itu juga Kerajaan Majapahit sedang mengalami kemunduran.
Mereka mendarat di Tuban. Setelah tinggal di Tuban beberapa lama hingga ayahnya meninggal, Sunan Ampel berangkat ke Majapahit menemui bibinya. Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Ampel juga memberikan pengaruh cukup kuat di Kerajaan Majapahit. Meskipun raja Majapahit pada masa itu menolak unthuk memeluk agama Islam, namun Sunan Ampel mendapatkan kebebasan dalam memberikan pembelajaran tentang agama Islam bagi masyarakat Majapahit, asalkan tidak memberikan pakaian apapun.
Selang beberapa waktu, Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri penguasa Tuban, Tumenggung Arya Teja. Pernikahan mereka menghasilkan anak dan cucu yang menjadi generasi penerus dakwah beliau. Sejak saat itu, gelar pangeran dan raden ditambahkan pada nama depan Sunan Ampel. Bahkan Sunan Ampel juga dianggap sebagai keluarga kerajaan Majapahit dan semakin disegani oleh seluruh masyarakat di wilayah tersebut.
Dalam perkembangan Islam, Sunan Ampel berperan penting dalam terbentuknya hubungan kekerabatan melalui perkawinan para penyebar agama Islam dengan putri-putri penguasa Majapahit. Strategi ini lambat laun memperkuat Islam dan mendapat dukungan dari para penguasa. Hubungan kekeluargaan dan jaringan antara penguasa dan penyebar Islam membuat Islam menyebar dengan cepat ke berbagai daerah melalui peran Walisongo.
Diantara pendakwah Islam yang memiliki hubungan dengan penguasa Majapahit antara lain:
a. Raden Usen (mubaligh asal Rusia selatan) dinikahkan dengan putri Arya Baribin, Adipati Madura;
b. Syekh Waliyul Islam dinikahkan dengan Putri Ratna Sambodi (anak Lembu Mirudha atau dikenal Mbah Gunung Bromo, Adipati Pasuruan);
c. Syekh Maulana Garib dinikahkan dengan Niken Sundari (putri dari Mahodara, Patih Majapahit);
d. Adik Murtosiyah (putri Sunan Ampel) dinikahkan dengan Raden Paku atau Sunan Giri dan putrinya Mas Murtosimah dinikahkan dengan Raden Patah, Adipati Demak.
Dalam menjalankan dakwaannya, Sunan Ampel menyampaikan ajaran Islam yang disampaikan secara damai, moderat dan toleran serta mengadaptasi tradisi masyarakat yang ada yang mengandung nilai-nilai Islam. Sebelum kedatangan para pendakwah Islam, Majapahit mengenal tentang sraddha, hari peringatan orang mati, yaitu upacara memperingati kematian seseorang pada tahun ke-12.
Setelah kedatangan Misi Islam Champa yang dipimpin oleh Sunan Ampel, rakyat Majapahit memulai tradisi kenduri dan memperingati kematian seseorang pada hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000. Dalam pelaksanaannya masyarakat berkumpul mengunjungi keluarga yang ditinggalkan dan acara diisi dengan dzikir, tahlil dan doa. Tradisi keagamaan ini bukan berasal dari ajaran Hindu-Buddha, melainkan merupakan tradisi keagamaan Islam Champa yang diperkenalkan oleh Sunan Ampel.
Suatu ketika Sunan Ampel berkelana ke Ampel. Dimulai dari Trowulan melewati Desa Krian Wonokromo hingga Desa Kembang Kuning. Dalam setiap perjalanannya, ia tak lupa berdakwah. Sunan Ampel bahkan membagikan kipas berbahan akar tanaman kepada warga sekitar. Orang hanya perlu mengucapkan syahadat untuk mendapatkan kipas tersebut. Dan sejak saat itu, jumlah pengikut Sunan Ampel mulai bertambah seiring berjalannya waktu.
Sebelum Sunan Ampel datang ke kawasan Ampel, ia juga membangun langgar atau musala sederhana di kawasan Kembang Kuning. Kawasan Kembang Kuning hanya berjarak sekitar delapan kilometer dari kawasan Ampel. Langgar itu kemudian berkembang menjadi besar dan megah dan berlanjut hingga saat ini. Saat ini, tempat suci tersebut disebut Masjid Rahmat.
Daerah bernama Ampel Denta dengan kondisi berawa ini merupakan pemberian raja Majapahit kepada Sunan Ampel. Ketika Sunan Ampel berada di wilayah Ampel, langkah pertamanya adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Masjid itu bernama Masjid Ampel. Arsitektur masjid memadukan arsitektur Hindu-Buddha dan khazanah Islam untuk tujuan dakwah. Pola atap masjid yang tumpang tindih adalah budaya Hindu-Budha dan Islam. Tiangnya masih kuat hingga saat ini.
Selain itu Sunan Ampel mendirikan dan mengembangkan pesantren model Maulana Malik Ibrahim di daerah Gresik selama berada di daerah tersebut. Sedangkan konsep monastik digunakan dalam bentuk pesantren yang saat itu sudah banyak dikenal di masyarakat Jawa. Di tempat ini Sunan Ampel mengajari murid-muridnya membaca Al-Qur'an, Syari'ah dan Tasawuf. Meski Sunan Ampel menganut mazhab Hanafi, namun beliau memberikan pelajaran yang sangat sederhana kepada murid-muridnya, terutama dalam penamaan keyakinan dan ibadah.
Metode dakwah yang dilakukan Sunan Ampel cukup singkat dan cepat. Sebab, Sunan Ampel menggunakan metode dakwah Moh Limo yang artinya tidak melakukan lima hal yang buruk. Adapun falsafah Moh Limo milik Sunan Ampel ialah:
a. Moh main yang memiliki arti tidak mau berjudi;
b. Moh ngombe yang memiliki arti tidak mau mabuk;
c. Moh maling yang memiliki arti tidak mau mencuri;
d. Moh madat yang memiliki arti tidak mau menghisap candu;
e. Moh madon yang memiliki arti tidak mau melakukan zina.
Dalam perjalanan hidupnya dan penyebaran agama Islam, Sunan Ampel dikenal sebagai sosok yang sangat peka beradaptasi dengan lingkungan setempat. Cara yang beliau gunakan adalah dengan menerima siapapun, baik bangsawan maupun rakyat jelata, yang ingin belajar kepadanya. Meskipun Sunan Ampel menganut Madzhab Hanafiyah, namun Sunan Ampel masih sangat toleran terhadap madzhab lain. Dengan rasa toleransi yang begitu tinggi, murid-muridnya berhasil mendapatkan cara pandang baru dan pengikut yang banyak.
Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Masjid Agung Demak. Kemudian pengikut yang meneruskan perjuangan dakwahnya di Kota Demak adalah Raden Zainal Abidin yang dikenal dengan nama Sunan Demak, dia adalah anak dari istrinya Dewi Karimah. Dengan demikian putra Raden Zainal Abidin yang terakhir tercatat sebagai Imam Masjid Agung disebut Raden Zakaria (Pangeran Sotopuro). Sunan Ampel wafat pada tahun 1481. Beliau wafat di Demak. Namun beliau dimakamkan di kota Surabaya, Jawa Timur. Makamnya terletak di Masjid Ampel.
3. Sunan Bonang
Sunan Bonang mempunyai nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Beliau lahir di Surabaya pada tahun 1425 M. Beliau juga merupakan keturunan Rasulullah dari jalur Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad. Sunan Bonang belajar agama langsung dari ayahnya, Sunan Ampel. Belajar Agama di Pesantren Sunan Ampel bersama Raden Paku, Raden Patah dan Raden Kusen.
Beliau juga mengenyam pendidikan agama di Aceh, berguru kepada Maulana Ishak saat singgah untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah. Kegemarannya terhadap seni dan sastra membawanya banyak belajar seni budaya Jawa, sastra Jawa, tambang-tambang Macapat yang populer saat itu bersama ibunya yang paham sastra Jawa. Beliau mengawali dakwahnya di Kediri namun mengalami kegagalan.
Kemudian Sunan Bonang pindah ke Demak atas panggilan dari Sultan Demak yakni Raden Patah dan mengangkatnya menjadi imam Masjid Demak. Namun, Sunan Bonang kemudian mengundurkan diri menjadi imam Masjid Demak dan pindah ke Desa Bonang, Lasem. Kemudian mendirikan Zawiyah (tempat khusus ibadah) dan tempat menyendiri (khalwat) bagi para pengamal tasawuf. Beliau juga mendirikan Pesantren Watu Layar disana. Sunan Bonang dikenal sebagai seorang promotor Islam yang menguasai ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur dan pencak silat.
Luasnya ilmu yang dimilikinya tercermin dari kitab-kitab yang dijadikan sumber referensi ketika menulis aksara primbon Bonang. Naskah ini memuat ajaran tasawuf dari kitab klasik ulama sufi seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Talkhis Al-Minhaj karya Imam Nawawi, Abu Thalib Al-Makki dan ulama lainnya. Selain itu Sunan Bonang juga menulis tentang ilmu tasawuf yang lebih mendalam yaitu karyanya yang berjudul Suluk Wujil yang berupa tembang dalam sastra Jawa. Karya ini masih disimpan di perpustakaan Universitas Leiden di Belanda.
Kepiawaian Sunan Bonang sebagai dalang dalam pertunjukan wayang memungkinkannya untuk memasukkan dakwah Islam melalui kesenian populer pada masanya dengan memasukkan pesan-pesan dakwah Islam ke dalam pertunjukannya. Pengetahuan dan kemampuan Sunan Bonang dalam memahami sastra Jawa dan berperan sebagai dalang. Beliau juga terlibat dalam penyempurnaan pertunjukan, seperti penyempurnaan komposisi gamelan, penambahan lagu, penambahan ricikan (kuda, gajah, harimau, garuda, kereta, dan rampongan), perubahan tembang Jawa, menciptakan Gending jawa dan penemu alat musik Bonang.
Selain sebagai penyebar agama Islam, Sunan Bonang juga dikenal sebagai orang yang pandai mencari sumber air di tempat yang sulit air. Dalam perbincangan dengan sosok Buto Locaya yang selalu mengkritik upaya dakwah Sunan Bonang, terlihat jelas bahwa sosok Buto Locaya tidak mampu menghadapi kesaktian Sunan Bonang. Juga tokoh Nyai Pluncing yang rupanya adalah seorang bhairawi yang merupakan pengikut ajaran ilmu hitam Calon Arang yang berhasil dikalahkan oleh Sunan Bonang. Sunan Bonang akhirnya wafat pada 1525 M di Tuban, Kesultanan Demak dan dimakamkan di barat alun-alun Kota Tuban.
4. Sunan Drajat
Sunan Drajat memiliki nama asli Raden Qosim Syarifuddin. Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, tepatnya Sunan Drajat adalah adik dari Sunan Bonang. Beliau lahir di Surabaya dan wafat di Lamongan pada 1470 di Surabaya, Majapahit. Sunan Drajat juga mempunyai nama lain seperti Maulana Hasyim, Raden Syarifuddin, Pangeran Kadrajat dan Sunan Mayang Madu. Sunan Drajat menuntut ilmu agama kepada ayahnya Sunan Ampel.
Sunan Ampel kemudian mengutusnya ke Cirebon untuk memperdalam ilmu agamanya bersama Sunan Gunung Jati. Keberangkatannya ke Cirebon untuk menuntut ilmu agama mempertemukannya dengan istrinya, Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Setelah menikah dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat tinggal di Kadrajat dan dipanggil Pangeran Kadrajat atau Pangeran Drajat. Setelah beberapa tahun berdakwah di Kadrajat, Sunan Drajat kembali ke Ampel Denta. Namun ayahnya memintanya untuk menyebarkan Islam ke pesisir barat Gresik.
Dalam perjalanan laut menuju Gresik, kapal Sunan Drajat dihantam gelombang besar dan pecah di tengah laut. Atas pertolongan dari Allah, ikan cucut dan ikan talang menolong Sunan Drajat hingga mendarat di suatu tempat bernama Jalag, sebuah desa di Banjarwati. Sesepuh desa Kyai Mayang Madu dan Mbah Banjar pun menyambut baik kedatangannya. Beliau pun mengajar dan menikah di Jalag, menjadikan Surau sebagai tempat mengaji dan mengajarkan agama Islam.
Beliau dikenal dalam dakwahnya sebagai sosok yang mampu berkomunikasi melalui seni. Ia juga dikenal sering mementaskan Wayang dan berperan sebagai dalang seperti kakaknya. Sunan Drajat menyampaikan ajaran agama Islam melalui seni dan budaya agar masyarakat dapat menerima Islam dengan baik. Dalam dakwahnya, Sunan Drajat juga dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial yang peduli terhadap fakir miskin dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat baru serta memberikan pemahaman terhadap ajaran Islam.
Motivasinya lebih terfokus pada etika kerja keras, kemurahan hati untuk mengentaskan kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan. Sunan Drajat tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga pembangunan rumah, alat-alat yang digunakan untuk mengangkut orang seperti usungan dan joli. Upaya ke arah itu dimudahkan ketika Sunan Drajat diberi wewenang mengatur daerah otonomnya.
Dalam penyampaian dakwahnya kepada masyarakat Sunan Drajat memperkenalkan pepali pitu (tujuh ajaran dasar), yang didalamnya mencakup tujuh falsafah dasar hidup. Dilihat dari nasehat dan petuahnya yang dikenal masyarakat dengan sebutan pepali pitu, menunjukkan bahwa beliau peduli terhadap masyarakat bawah, dakwahnya sangat populer dan terintegrasi dengan baik di masyarakat.
Berikut merupakan isi dari pepali pitu.
1. Memangun resep tyasing Sasoma (kita selalu membuat senang hati orang lain)
2. Jroning suka kudu éling lan waspada (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
3. Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
4. Mèpèr Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
5. Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).
6. Mulya guna Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan shalat lima waktu)
7. Mènèhana teken marang wong kang wuta, Mènèhana mangan marang wong kang luwé, Mènèhana busana marang wong kang wuda, Mènèhana ngiyup marang wong kang kodanan. (Berilah tongkat pd orang buta, berilah makan pd orang yg lapar, berilah pakaian pd orang yg telanjang, berilah tempat berteduh pada orang yg kehujanan) (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)
Sebagai penghargaan atas keberhasilannya dalam menyebarkan Islam dan usahanya mengentaskan kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang sejahtera bagi warganya, ia diberi gelar Sunan Mayang Madu Raden Patah Sultan Demak pada tahun 1520 M. Pada masa tuanya, Sunan Drajat tinggal di Dalem Wulur, suatu tempat tinggi di sebelah selatan desa Drajat. Di sini dia menghabiskan hidupnya dengan berkhotbah. Sunan Drajat wafat pada tahun 1533 M di Lamongan, Kesultanan Demak dan dimakamkan di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Makam Sunan Drajat dapat diakses dari Surabaya atau Tuban melalui Jalan Raya Pos (Anyar-Panarukan), Kota Lamongan 50 menit dengan mobil.
5. Sunan Kudus
Sunan Kudus memiliki nama asli Syekh Ja'far Ash-Shadiq dan merupakan putra dari Sunan Ngundung atau Raden Usman Haji bin Ali Murtadho dan Dewi Sri binti Ahmad Wilwatikta. Beliau lahir pada 9 September 1500 M. Sunan Kudus merupakan keturunan Rasulullah dari jalur Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad.
Sunan Kudus belajar agama kepada ayahnya, Sunan Ngundung. Selain itu, ia juga berguru kepada Kyai Telinsing Muslim Tionghoa yang bernama asli Ling Sing. Mubaligh tersebut tiba bersamaan dengan datangnya Laksamana Cheng Ho ke Pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam melalui anak buahnya yang tersebar ke berbagai daerah. Sunan Kudus juga belajar di Ampel Denta, memperdalam keimanan Islam bagi kepada penerus Pesantren Sunan Ampel. Beliau juga melakukan perjalanan ke berbagai negara dari Hindustan hingga Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Sunan Kudus pernah diangkat menjadi Senopati atau panglima Kesultanan Demak menggantikan ayahnya Sunan Ngundung. Beliau bertugas memperluas wilayah Kesultanan Demak sebagai pusat perkembangan Islam pada masa Majapahit akhir. Beliau juga diangkat menjadi imam utama Masjid Agung Demak. Jabatan lain yang disandangnya di Demak, Sunan Kudus diangkat sebagai hakim, kedudukannya lebih tinggi dari imam masjid.
Namun ketika terjadi perselisihan di Kesultanan Demak dan Sultan Trenggono meninggal dunia, beliau memutuskan pindah ke Kudus untuk mengembangkan dakwah Islam yang santun. Di Kudus, beliau tidak lagi mengurusi urusan pemerintahan sehingga bisa konsentrasi menjalankan dakwah Islam. Daerah Kudus dulunya bernama Desa Tajug yang merupakan daerah dakwah Kyai Telinsing. Tokoh ini aktif menyebarkan dakwah Islam, selain itu Kyai Telinsing juga mengajar pertukangan dan seni ukir. Jadi ketika Sunan Kudus pindah dari Demak ke Tajug, sebagian warga sudah masuk Islam.
Kepindahannya ke Kudus membuatnya mendapat gelar Sunan Kudus. Persatuan terhadap masyarakat setempat lebih diutamakan pada awal dakwahnya ke Kudus oleh beliau dengan menghormati pemeluk agama lain. Beliau melarang penyembelihan sapi pada saat ibadah kurban. Hal ini dilakukan sebagai bentuk toleransi terhadap ajaran agama lain yang menganggap sapi sebagai hewan terhormat dan suci. Selain itu larangan itu bukan karena dilarang menurut Islam, melainkan karena penyembelihan sapi pada masa itu dapat menyinggung kerajaan yang dipimpin Pangeran Pancowati.
Kearifan yang digunakan Sunan Kudus mengundang Pangeran Pancowati pada pertanyaan apakah ada larangan penyembelihan sapi dalam Islam. Sunan Kudus kemudian menjawab bahwa sapi bukanlah hewan yang diharamkan dalam Islam, namun pelarangan tersebut karena menghormati orang yang menganggap sapi sebagai hewan yang dihormati. Peristiwa inilah yang menjadi alasan Pangeran Pancowati masuk Islam dan menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada Sunan Kudus.
Sunan Kudus melakukan hal unik dalam dakwahnya hingga menarik perhatian pemeluk agama lain yang berkumpul di depan masjid. Misalnya suatu hari Sunan Kudus membeli seekor sapi bernama Kebo gumiran dari pedagang asing dan mengikat sapi tersebut di luar. Umat Hindu-Buddha yang tertarik dengan apa yang dilakukan Sunan Kudus. Sunan Kudus bercerita tentang sapi waktu kecil. Beliau hampir mati kehausan, seekor lembu datang dalam keadaan kehausan lalu menyusui hingga dapat segar kembali, ketika dewasa beliau melarang masyarakat untuk menyakiti sapi demi menghormati sapi.
Setelah Sunan Kudus meninggalkan Demak dan menetap di Kudus, beliau mulai berdakwah membangun Masjid Agung Kudus yang besar dan indah, menurut artikel, masjid tersebut dibangun pada tahun 956 H/1549 M. Arsitektur unik Menara Kudus menggambarkan kompromi antara Islam dan arsitektur lokal bergaris Hindu. Ketinggian bangunan menara adalah 18 meter dan alas perseginya berukuran 10×10 meter. Dihiasi dengan 32 piring keramik bergambar. 20 buah biru berlukiskan orang, unta dan kurma. 12 bagian sisanya berwarna putih dengan berlukiskan bunga.
Untuk menarik perhatian umat Hindu-Buddha, Sunan Kudus memikat mereka dengan arsitektur menara dan bendungan di sekitarnya. Padasan dibangun dengan 8 buah pancuran dan diberi patung. Dalam ajaran Buddha, patung merupakan simbol kepercayaan mereka. Ada 8 ajaran yang disebut Asta sahingka marga (mengajarkan bagaimana berperilaku dalam hidup) cepat atau lambat banyak umat Hindu Budha yang memeluk Islam hingga Kudus menjadi kota penting dalam penyebaran Islam. Untuk menggugah simpati masyarakat, Sunan Kudus juga mempunyai kebiasaan menyelenggarakan acara Bedug Dandangan, Sunan Kudus berkali-kali menabuh bedug untuk memanggil jamaah ke masjid dan mengumumkan hari pertama puasa kepada masyarakat.
Tradisi ini terjadi di beberapa daerah di Indonesia, serta di Pulau Jawa dan daerah lainnya. Sunan Kudus juga menggubah lagu Maskumambang dan Mijil. Tembang Mijil berisi cerita tentang dunia roh sebelum lahirnya manusia, sedangkan tembang Maskumambang berisi pesan religi tentang lahirnya manusia. Tembang digunakan sebagai media dakwah yang mudah diterima oleh khalayak. Pada 5 Mei 1550 M Kudus, pada masa Kesultanan Demak. Sunan Kudus meninggal dunia saat menjadi imam shalat subuh di Masjid Menara Kudus. kemudian dimakamkan di kawasan Masjid Menara Kudus.
6. Sunan Giri
Sunan Giri mempunyai nama asli Raden Paku, lahir pada tahun 1442 M di Kerajaan Blambangan. Beliau merupakan putra dari Syekh Maulana Ishak putra Syekh Jumadil Kubro dan ibunya bernama Dewi Sekardadu putra Bhre Wirabhumi penguasa Blambangan. Ayahnya merupakan keturunan Rasulullah dari jalur Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad.
Saat masih dalam kandungan ibunya, mertuanya Bhre Wirabhumi mengusir ayahnya, Syekh Maulana Ishak karena tidak mau menerima ajaran Syekh Maulana Ishak untuk masuk Islam. Ketika Syekh Maulana Ishak kembali ke Pasai, Dewi Sekardadu jatuh sakit dan meninggal setelah melahirkan seorang putra. Selang beberapa hari, Gresik terkena wabah penyakit. Bhre Wirabhumi memerintahkan cucunya untuk yang masih bayi dibuang ke laut karena dianggap mendatangkan bencana.
Kemudian setelah itu, seorang awak kapal menemukan sebuah peti yang tersangkut di kapal milik Nyi Ageng Pinatih yang merupakan seorang saudagar kaya di Gresik yang sedang berlayar di Bali. Bayi tersebut diberikan kepada Nyi Ageng Pinatih kemudian bayi tersebut diangkat sebagai anak dan diberi nama Jaka Samudra. Pada usia 7 tahun, Jaka Samudra menimba ilmu di Pesantren Ampel Denta. Sunan Ampel mengganti nama Jaka Samudra menjadi Raden Paku. Beliau mempelajari berbagai disiplin ilmu agama, Al-Qur'an, Hadits, Fikih dan Tasawuf di bawah bimbingan Sunan Ampel.
Raden Paku diberi gelar Muhammad Ainul Yaqin karena beliau cukup cerdas dalam memperoleh ilmu agama. Beliau kemudian menikah dengan putri Sunan Ampel bernama Mas Murtosiyah. Setelah menempuh pendidikan di pesantren selama beberapa tahun, Muhammad Ainul Yaqin berangkat ke Makkah bersama Sunan Bonang. Melewati Aceh, mereka berdua bertemu dengan Syekh Maulana Ishak dan disarankan untuk memperdalam ilmu agama terlebih dahulu. Setelah beberapa tahun menuntut ilmu, keduanya disarankan kembali ke Pulau Jawa untuk mengabdi pada masyarakat.
Saat beliau kembali ke Gresik bersama dua orang abdinya bernama Syekh Koja dan Syekh Grigis dengan membawa pesan dari Syekh Maulana Ishak bahwa Muhammad Ainul Yaqin di kemudian hari sedang mencari tempat yang memiliki jenis tanah yang sama dengan tanah pemberian ayahnya. Saat mencari tanah itu, Muhammad Ainul Yaqin menjalankan usaha milik ibu angkatnya, Nyi Ageng Pinatih. Perjalanan bisnisnya tidak hanya dilakukan ke Pulau Jawa, namun juga ke tempat lain seperti Makassar.
Salah satu proses Islamisasi melalui pendidikan yang disampaikan oleh Sunan Gir adalah upaya menjadikan lembaga pendidikan Siwa-Buddha yang disebut mandala, asrama dan dukuh menjadi pesantren. Pada masa Majapahit, dukuh tersebut dijadikan sebagai tempat pertapaan untuk melatih para calon pendeta, kemudian bersama Walisongo, dukuh tersebut diubah menjadi pesantren dan para muridnya disebut santri. Santri berasal dari kata sashtri yang berarti orang suci yang mempelajari kitab suci. Dalam perjalanannya berbagai ilmu pengetahuan, agama, seni, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya diajarkan di pesantren.
Kemasyhuran dan pengembaraan Muhammad Ainul Yaqin sebagai pemuda yang mengelola usaha ibu angkatnya sambil menyebarkan agama Islam ke berbagai daerah membuat Sunan Giri dikenal luas hingga santri-santrinya tidak hanya datang dari Pulau Jawa, bahkan dari Makassar, Lombok dan Sumbawa, Flores, Ternate, Tidore dan Hitu. Sebaran santri di wilayah tersebut menunjukkan kemajuan dan perkembangan pesantren yang mulai menarik minat masyarakat pada saat itu.
Semasa berdakwah, beliau tidak hanya mengembangkan sistem pesantren yang diikuti santri-santrinya di berbagai bidang, namun juga mengembangkan pendidikan masyarakat terbuka dengan menciptakan berbagai permainan anak-anak, misalnya jelungan dan jamuran. Jelungan merupakan permainan dimana anak-anak berperan sebagai pemburu dan orang lain menjadi sasaran perburuan. Sedangkan jamuran merupakan permainan tradisional yang melibatkan 4-12 anak dan dimainkan pada malam hari saat bulan purnama.
Dalam Jelungan, mereka terlindungi dari kejaran pemburu dengan berpegangan pada batang pohon pertama yang mereka temukan. Pada dasarnya pemenang akan bersembunyi sedangkan yang kalah berusaha mencari pemain lain tanpa harus meninggalkan pangkalan atau batang pohon terlalu jauh. Tujuan dari permainan ini adalah penganut agama Islam yang ketat dilindungi dari godaan setan, yang dilambangkan sebagai pemburu.
Sedangkan pada permainan jamuran, cara bermainnya dilakukan dengan membentuk lingkaran seperti jamur. Permainan ini melibatkan nyanyian dalam bentuk tembang dan diakhiri dengan apa yang mengerjakan apa yang disuruh oleh anak yang jadi. Permainan ini melambangkan pentingnya kerja sama, kepedulian, dan menumbuhkan kedekatan dengan teman. Sunan Giri juga membuat tambang-tambang permainan anak seperti Padhang Wulan, Jor, Gula-Ganti danCublak-Cublak Suweng.
Sunan Giri meninggal pada tahun 1506 di Giri Kedaton dan dimakamkan di Dusun Kedhaton, Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebonmas, Kabupaten Gresik. Tahun 1505, tahun dibangunnya gerbang makam, tertulis di gerbang tersebut. Perjuangan Sunan Giri dalam dakwahnya dilanjutkan oleh Pangeran Zainal Abidin alias Sunan Dalem dengan gelar Sunan Giri II dan puncak kejayaan Giri Kedaton adalah ketika Pangeran Pratikha yang dikenal dengan Sunan Prapen naik tahta memimpin Giri Kedaton yang melanjutkan dakwah Islamnya ke berbagai wilayah Kutai, Goa, Sumbawa, Bima, Lombok bahkan Maluku.
7. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga memiliki nama asli Syekh Raden Syahid, beliau merupakan putra dari Adipati Tuban bernama Tumenggung Wilwatikta atau Aria Teja atau Abdurahman dan Dewi Nawangarum. Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450 di Tuban Majapahit. Ayahnya merupakan keturunan arab yang bersambung dengan Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah.
Dimasa remajanya, Raden Syahid menjadi seorang ahli ilmu silat dan remaja yang kontroversial di mata masyarakat Tuban. Di sisi lain, Raden Syahid bergaul dengan masyarakat awam meski beliau merupakan anak seorang bangsawan. Rupanya, beliau melihat korupsi pejabat publik yang memungut upeti dari rakyat biasa. Melihat keadaan tersebut, Raden Syahid menyadari bahwa para pejabat secara sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya dengan mengambil paksa sebagian hartanya untuk diberikan kepada fakir miskin.
Ayahnya mengetahui perbuatan Raden Syahid dan diusir dari Kadipaten Tuban dan tinggal di hutan Jati Sari. Orang-orang disekitarnya mengenalnya dengan julukan lokajaya. Terjadi perubahan drastis pada kepribadiannya ketika Raden Syahid merampas tongkat yang berkilau seperti emas milik Sunan Bonang. Sunan Bonang menyayangkan sikap baiknya yang memberi rakyat jelata dari hasil pengambilan paksa orang lain. Sunan Bonang kemudian menasehatinya bahwa “ibarat berwudhu dengan air kencing” yang mempunyai niat baik namun dilakukan dengan perbuatan kotor.
Sunan Bonang pun menunjukkan karomahnya dengan mengubah pohon aren menjadi emas. Kejadian tersebut membuat Raden Syahid menyesali perbuatannya, kemudian berguru pada Sunan Bonang dan menjadi anggota Walisongo, hingga kemudian mendapat julukan Sunan Kalijaga. Beliau mulai berdakwah di Desa Kalijaga, Cirebon untuk membuat masyarakat Indramayu dan Pamanukan masuk Islam. Dari sini pula ia mendapat gelar Sunan Kalijaga.
Setelah sekian lama berdakwah, Sunan berpisah dari Kalijaga untuk mengasingkan diri di Pulau Upih di Malaka, Malaysia, dan kemudian melanjutkan dakwahnya selama bertahun-tahun, mendakwahkan Islam di Cirebon. Mulanya Sunan Kalijaga menyamar sebagai marbot Masjid Sang Cipta Rasa. Di masjid inilah beliau bertemu dengan Suna Gunung Jati. Beliau kemudian menikah dengan adik perempuan Sunan Gunung Jati, Syarifah Zaenab. Dari pernikahan itu lahirlah Nyai Ratu Mandoko, ibunda Sultan Hadiwijaya.
Pada masa Majapahit, pertunjukan dikaitkan dengan ritual keagamaan Hindu-Buddha yang berkaitan dengan tempat suci, hari dan waktu yang ditentukan, pemain yang ditunjuk, sesaji, dan pakaian khusus. Kesenian wayang diyakini sudah ada sejak tahun 930 M dan berasal dari budaya Jawa. Pertunjukan Wayang merupakan pertunjukan ritual Ramayana dan Mahabharata yang melibatkan upacara spiritual untuk menghindari bencana alam gaib, sehingga memposisikan dalang sebagai orang suci atau pendeta.
Melihat peluang tersebut Sunan Kalijaga berdakwah melalui kearifan lokal tersebut. Kemudian Sunan Kalijaga dan Walisongo lainnya merubah sedikit seni pertunjukan wayang berdasarkan aturan yang disepakati bersama, diantaranya adalah:
1. Seni wayang perlu diteruskan sesuai dengan perubahan-perubahan sesuai zaman;
2. Bentuk wayang berupa arca-arca dirubah;
3. Merubah cerita dewasa menjadi cerita yang mengandung jiwa Islam;
4. Cerita wayang berisi iman, ibadah, akhlak dan sopan santun;
5. Pagelaran wayang diselenggarakan dengan tata cara sopan santun jauh dari maksiat.
Misalnya saja salah satu perubahan cerita yang diterapkan oleh Walisongo adalah kisah para dewa dan dewi yang menjadi berhala diubah menjadi silsilah keturunan Nabi Adam melalui Nabi Syits dan tokoh-tokoh yang disembah oleh ajaran Kapitayan seperti Semar, Petruk , Gareng dan Bagong tampil sebagai punakawan yang mampu mengalahkan dewa-dewi Hindu. Sunan Kalijaga menunjukkan kepiawaiannya sebagai dalang dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, dari wilayah Pajajaran hingga Majapahit.
Sebagai imbalan dari warga yang memanggilnya dalang pertunjukan, imbalannya hanya dua kalimat syahadat dan tidak dipungut biaya sama sekali, membuat Islam berkembang dan meluas di nusantara. Sunan Kalijaga juga mendesain pakaian dan alat pertanian. Sunan Kalijaga juga menggunakan Tembang sebagai alat dakwah. Orang Jawa sangat familiar dengan beberapa tembang seperti Rumeksa ing wengi dan lir ilir yang mengandung ajaran spiritual.
Pada masa pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga turut serta langsung dalam pembangunan Masjid Agung Demak. Selain sebagai tempat ibadah, masjid yang berbentuk atap limas bertingkat tiga ini juga memiliki budaya arsitektur Islam dan Hindu-Buddha yang merupakan kearifan lokal pelestarian budaya Indonesia. Melalui pendekatan budaya dalam wayang, tembang dan akulturasi arsitektur masjid. Sunan Kalijaga berhasil merebut simpati dan tempat terbaik di hati para pengikutnya. Hal ini membuktikan bahwa proses Islam Indonesia yang memadukan budaya lokal dan Islam telah berlangsung lama.
Sunan Kalijaga wafat pada tanggal 17 Oktober 1592 M. Beliau dimakamkan di Kadilangu, Demak. Sunan Kalijaga merupakan tokoh yang hidup lebih dari 100 tahun dan mengalami beberapa masa seperti Kerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang, Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Mataram. Banyak orang dari seluruh Indonesia mengunjungi makamnya hingga saat ini. Masyarakat yang tinggal di Kadilangu, Demak memperingati Haul Sunan Kalijaga setiap tanggal 10 Muharram.
8. Sunan Muria
Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said. Beliau merupakan putra dari Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Sunan Muria belajar ilmu agama dan metode dakwah dari Sunan Kalijaga yang merupakan ayah sekaligus gurunya. Beliau juga pernah berguru kepada Sunan Ngerang bersama Sunan Kudus dan Adipati Pathak Warak.
Saat berguru kepada Sunan Ngerang, konon suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas putrinya Dewi Roroyono yang usianya sudah dua puluh tahun. Muridnya seperti Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak Mandalika dari Jepara, Kapa dan adiknya Gentiri diundang. Saat Dewi Roroyono dan adiknya Roro Pujiwati keluar untuk mempersembahkan makanan dan minuman, hati Adipati Pathak Warak terpikat oleh kecantikan putri sang guru. Ia memandang Dewi Roroyono dengan mata tak berkedip.
Putri Sunan Ngerang itu telah membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila dan melakukan tindakan tidak pantas terhadap putri gurunya itu. Bahkan, pada malam hari, Dewi Roroyono dibawa lari ke Mandalika. Sewaktu Sunan Ngerang mengetahui bahwa putrinya diculik oleh Pathak Warak, ia berikrar akan menikahkan putrinya itu dengan siapa saja yang berhasil membawanya kembali. Setelah melalui berbagai rintangan yang berat termasuk melumpuhkan Adipati Pathak Warak, membinasakan Kapa dan Gentiri yang berkhianat. Raden Umar Said berhasil membawa kembali Dewi Roroyono. Kemudian Dewi Roroyono dijodohkan dengan Sunan Muria oleh Sunan Ngerang.
Sunan Muria berdakwah dalam masyarakat yang tetap menganut agama Hindu dan Budha serta tetap mempunyai tradisi Jawa yang kuat. Tradisi keagamaan tidak serta merta dimusnahkan, namun mendapat warna Islami dan berkembang menjadi tradisi keagamaan baru yang bernilai Islam. Era dakwah beliau adalah dengan berdirinya Masjid Demak. Sunan Muria ditunjuk sebagai muadzin shalat Jumat pada peresmian kedua Masjid Agung Demak.
Beliau pun ikut serta dalam terpilihnya Raden Patah sebagai Sultan pertama Kesultanan Demak dan menjadi pendukung setia Kesultanan Demak. Istana Kesultanan Demak memberikan perlindungan khusus kepada Sunan Muria, terbukti dengan adanya tujuh makam prajurit dan abdi dalem Demak yang mengelilingi makam Sunan Muria. Sunan Muria dikenal sebagai pecinta seni dan budaya. Gaya hidup masyarakat sekitar Muria menunjukkan keselarasan antara Islam dan budaya lokal. Peran mengembangkan Islam di Jawa adalah sebagai berikut.
a.) Sunan Muria mempertahankan tradisi-tradisi lama dalam berhubungan dengan masyarakat, tidak berubah sepanjang tidak melanggar nilai-nilai Islam, seperti melaksanakan upacara tingkeban atau mitoni. Tradisi Tingkeban merupakan upacara perayaan kehamilan ketujuh. Acara diisi dengan pembacaan berbagai surah Al-Qur'an, dzikir dan doa.
b.) Menambahkan upacara pada tradisi lama dengan tradisi baru. Misalnya saja memasukkan nilai-nilai dan ajaran Islam ke dalam praktik perkawinan yang berjalan sehingga meskipun ada budaya Jawa, namun syarat-syarat perkawinan ditentukan berdasarkan ajaran Islam.
c.) Mengganti beberapa unsur lama dengan tradisi baru. Bagaimana mengubah tujuan pembakaran dupa dalam slametan. Pada praktik sebelumnya, slametan atau sesajen dilakukan kepada makhluk halus, sehingga dakwah para wali mengubah tujuan slametan untuk mencari berkah dan pertolongan Allah, seperti halnya tradisi bancakan, atau makan besar dengan tumpeng dalam acara slametan dengan tumpeng yang sebelumnya dipersembahkan ke tempat-tempat angker diubah menjadi kenduri, yaitu upaya mengirimkan doa kepada leluhur dengan doa Islam di rumah yang mengadakan tradisi.
Seperti halnya metode dakwah Walisongo lainnya, Sunan Muria menyampaikan pertunjukan wayang gubahan Sunan Kalijaga dengan menggunakan pendekatan seni dan budaya, menyusun isi cerita, mengubah lingkungan budaya dan tradisi keagamaan yang dominan di masyarakat, serta menyampaikan pesan-pesan tauhid dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, seperti Pakem Ramayana yang diislamkan, masyarakat langsung mengira bahwa cerita Ramayana dan Mahabharata versi Walisongo itu benar. Begitu pula dalam cerita wayang, tokoh Bhima yang sebelumnya diberi sifat kejam dan kasar yang disebut Werkudara (Serigala), mendapat pencerahan spiritual ketika bertemu dengan Dewa Ruci dan menjadi pribadi yang baik dan jujur.
Sunan Muria memilih tinggal di pinggiran, jauh dari kota dan pusat kekuasaan. Sunan Muria menyebarkan agama Islam ke daerah Tayu, Pati, Juana, Kudus dan lereng Gunung Muria. Beliau berinteraksi dengan masyarakat pinggiran. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa Sunan Muria bersifat sederhana dan rendah hati. Sunan Muria meninggal pada tahun 1560 M, makamnya terletak di Gunung Muria, terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah, dan berada lebih dari 1.600 Mdpl.
9. Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati memiliki asli Syarif Hidayatullah, lahir pada tahun 1448 M. Ayahnya bernama Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam dan ibunya bernama Nyai Rara Santang, Putri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran (yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Syarifah Mudaim). Beliau merupakan keturunan dari Rasulullah dari jalur Zainal Kabir, keturunan Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad.
Pada masa remajanya Syarif Hidayatullah tumbuh menjadi sosok yang gemar membaca hingga suatu saat ia menemukan pesan dari ayahnya bahwa ia harus mempelajari ilmu Nabi, namun beliau memperoleh ilmu tersebut dengan melakukan perjalanan ke satu arah dan itulah awal titik perjalanannya mencari ilmu. Keinginannya untuk memperdalam ilmu agama membuatnya menjadikan menimba ilmu di Makkah sebagai tujuan utamanya, dimana ia berangkat ke Makkah dengan izin ibunya, meskipun ayahnya meninggal saat beliau masih kecil.
Di Makkah, Syarif Hidayatullah belajar di bawah bimbingan Syekh Tajudin al-Qurthubi selama dua tahun. Segera setelah itu, ia berangkat ke Mesir untuk belajar kepada ulama Syafi'i Syekh Muhammad Athāillah al-Syâdzili, yang dengannya Syarif Hidayatullah belajar tarekat Syadziliyah. Saat berusia 27 tahun sekitar tahun 1475, Syekh Athâillah disuruh kembali ke Nusantara dan belajar kepada Syekh Maulana Ishak di Pasai, Aceh untuk memperdalam ilmu agama dan tasawuf. Dalam pengembaraannya, beliau melanjutkan perjalanan ke Karawang Jawa Barat untuk menemui Syekh Bentong, kakek Raden Fatah dari Kesultanan Demak.
Perjalanan menuntut ilmu Syarif Hidayatullah berlanjut di Kudus di bawah bimbingan seorang ulama bernama Datuk Barul. Setelah lulus, beliau disarankan pergi ke Ampel Denta untuk menemui Sunan Ampel di Gresik. Di sini Sunan Ampel bertemu dengan Walisongo antara lain; Bersama Sunan Giri, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan dan beliau ditugaskan untuk misi dakwah di Cirebon.
Cirebon merupakan kabupaten berpenduduk muslim pertama di Jawa Barat. Nama Cirebon lahir setelah Pangeran Cakrabumi dan Ki Gedheng Alang-Alang membuka sebuah desa di kawasan Lemah Wungkuk. Desa ini berkembang menjadi kota pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang asing dari berbagai daerah dan mancanegara seperti Tiongkok, Arab, Persia, Mesir, dan India. Saat mulai berdakwah, Syarif Hidayatullah berperan sebagai guru agama menggantikan Syekh Datuk Kahfi di Gunung Sembung.
Sunan Gunung Jati melakukan upaya dakwahnya, awalnya sebagai guru agama, membuka pondok dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Beliau dikenal dengan nama Maulana Jati. Strategi dakwahnya dilakukan dengan menjalin hubungan dengan orang-orang berpengaruh di Cirebon melalui pernikahan. Beliau pertama kali menikah dengan Nyai Babadan, putri Ki Gedeng Babadan, yang menyebarkan pengaruhnya dari Gunung Sembung hingga Babadan dan kemudian melanjutkan dakwah di Banten.
Usaha dakwahnya sangat berhasil di kedua tempat tersebut karena dekat dengan masyarakat pedesaan sehingga memudahkan untuk mempelajari hakikat masyarakat sebelum beliau tampil sebagai penguasa di pusat pemerintahan. Di Cirebon, Syarif Hidayatullah menikah dengan Nyi Ratu Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana, penguasa Cirebon. Ketika Pangeran Cakrabuana memerintah Cirebon, ia diangkat menjadi tumenggung dengan gelar Susuhunan Jati yang wilayahnya meliputi pesisir Sunda, dan menjadi Panetep Panatagama (sebagai Menteri Agama). Ketika Pangeran Cakrabuana meninggal, kekuasaan di tanah Cirebon berpindah kepada menantunya, Sunan Gunung Jati.
Di bawah kepemimpinannya, beliau memprioritaskan pengembangan agama Islam melalui dakwah dengan melakukan hal-hal berikut.
a) Pelopor pembangunan Masjid Jami' di beberapa bawahan Cirebon sebagai pusat kegiatan keagamaan;
b) Pembangunan fasilitas umum dan infrastruktur;
c ) Pembangunan transportasi darat, laut, dan sungai;
d) Pembentukan pasukan Jayabaya;
e) Menjalin hubungan dengan kerajaan Demak dan Banten.
Keberhasilan Sunan Gunung Jati mendirikan pemerintahan Islam di Cirebon dan Banten membuat Islam meluas, berkembang dan menyebar dengan pesat ke seluruh Sunda. Selain sebagai ulama yang mengetuai syariat dan tasawuf, kedudukannya sebagai waliyyul amri atau penguasa Cirebon juga mempunyai kepentingan ekonomi dan politik terhadap perkembangan Islam di Cirebon, Sunda Kelapa, Banten, dan Jawa Barat. Pengaruhnya meluas hingga ke Banten ketika ia menikah dengan adik Adipati Kuwunganten dan keturunannya menghasilkan Sultan Banten.
Sunan Gunung Jati mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Kedudukannya sebagai Pandhita penguasa atau raja Cirebon pada tahun 1479 dan sebagai pemimpin para wali Jawa membuat penyebaran agama Islam khususnya di Jawa Barat semakin cepat menyebar dan menyebar hingga ke desa-desa yang jauh. Sunan Gunung Jati wafat pada tanggal 19 September 1568 di Kesultanan Cirebon. Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun. Kepemimpinan Cirebon untuk sementara dipegang oleh Fatahillah selama 2 tahun, yaitu dari tahun 1568 hingga kematiannya pada tahun 1570 M. Tahta Cirebon diwarisi oleh cicitnya Zainul Arif yang naik takhta pada usia 23 tahun dengan gelar Panembahan Ratu l.
Sunan Gunung Jati kemudian dimakamkan di komplek pemakaman bukit Gunung Jati, yang sekarang dikenal dengan nama Astana Gunung Sembung. Nama Syarif Hidayatullah kemudian diabadikan menjadi nama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta di daerah Tangerang Selatan, Banten. Sedangkan nama Sunan Gunung Jati diabadikan menjadi nama Universitas Islam negeri di Bandung, yaitu Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati dan Korem 063/Sunan Gunung Jati di Cirebon.
D. Nilai keteladanan yang dapat diambil dari perjuangan dakwah Walisongo
Berikut adalah beberapa nilai yang dapat dipetik dari perjuangan dakwah Walisongo.
1. Ketabahan dan keberanian
Walisongo menunjukkan tekad dan keberanian menyebarkan ajaran Islam meski menghadapi tantangan dan rintangan yang besar. Mereka tidak takut menghadapi keberagaman budaya dan kepercayaan, namun bertekad menyampaikan pesan agama dengan berani.
2. Keteladanan
Para Walisongo memberikan teladan yang kuat dengan kehidupannya yang shalih dan berakhlak mulia. Mereka tidak hanya sekedar berdakwah, namun juga menerapkan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya sehingga dapat memberikan pengaruh positif kepada orang lain.
3. Kesabaran dan kehangatan
Dakwah Walisongo memerlukan kesabaran yang besar dalam menghadapi tantangan dan rintangan. Mereka tidak hanya berkampanye untuk Islam, tetapi juga menunjukkan kehangatan dan empati terhadap komunitas yang mereka layani, memenangkan hati masyarakat dengan pendekatan yang lembut dan penuh kasih sayang.
4. Kerjasama dan toleransi
Walisongo mewujudkan semangat kerja sama dan toleransi antar umat beragama. Meski berasal dari latar belakang etnis dan budaya yang berbeda, namun mereka bahu membahu menyebarkan dakwah Islam tanpa menghilangkan keragaman budaya yang ada.
5. Komitmen terhadap pendidikan
Walisongo sangat memperhatikan pentingnya pendidikan untuk menyebarkan ajaran Islam. Mereka mendirikan pesantren dan mempromosikan pendidikan agama Islam dan pengetahuan umum sehingga masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan kualitas hidup mereka.
6. Keterbukaan dan adaptasi
Walisongo tidak menutup diri terhadap perubahan zaman atau budaya baru. Mereka mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi sosial dan politik, namun tetap menjaga nilai-nilai inti Islam dalam dakwahnya.
7. Kesederhanaan dan kepedulian SosialWalisongo hidup sederhana dan tidak terikat pada harta duniawi. Mereka lebih memilih mengabdikan diri pada masyarakat dan membantu pihak yang membutuhkan, sehingga tercipta suasana kepedulian sosial yang kuat di kalangan umat Islam.
Misi Walisongo menjadi landasan kuat bagi perkembangan Islam di Indonesia dan meninggalkan nilai-nilai berharga bagi umat Islam. generasi selanjutnya. Berkat kegigihan, keteladanan, kerjasama dan komitmen mereka terhadap dunia pendidikan, kita bisa terinspirasi oleh perjuangan mereka membangun masyarakat yang lebih baik dan harmonis.
Penutup:
Perjuangan dakwah Walisongo adalah bagian integral dari sejarah Indonesia yang memberikan inspirasi dan pelajaran berharga bagi kita saat ini. Dari usaha mereka dalam menyebarkan ajaran Islam di Nusantara, kita dapat menemukan beberapa nilai yang patut untuk diteladani. Dari ketabahan dan keberanian mereka dalam menghadapi tantangan, hingga kesabaran dan kehangatan dalam memenangkan hati masyarakat, perjuangan dakwah Walisongo menunjukkan betapa pentingnya pendekatan yang lembut dan penuh kasih sayang dalam menyebarkan pesan agama.
Kerja sama antarumat beragama, komitmen pada pendidikan, keterbukaan terhadap perubahan, serta kesederhanaan dan kepedulian sosial juga merupakan nilai-nilai yang dapat kita petik dari perjalanan mereka. Dengan meneladani perjuangan dakwah Walisongo, kita diingatkan akan pentingnya kesabaran, kerja sama, dan komitmen dalam menjalankan tugas-tugas agama dan sosial kita. Melalui pendekatan yang menghargai keragaman, keberanian dalam menghadapi tantangan, dan komitmen pada nilai-nilai moral, kita dapat mewujudkan masyarakat yang lebih harmonis, inklusif, dan beradab, sebagaimana yang diamanatkan oleh ajaran Islam yang mereka perjuangkan.
Penulis: Maulana Aditia
Komentar
Posting Komentar