Saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan
Artikel ini akan membahas secara mendalam bahwa nasihat bukanlah kritik yang menjatuhkan, melainkan sebuah bentuk kepedulian yang tulus. Kita akan menjelaskan pengertian nasihat, dasar-dasarnya dalam Al-Qur'an dan Hadits, serta adab-adab penting agar ajakan kita dapat menyentuh hati tanpa merendahkan harga diri orang lain. Dari meja makan di rumah hingga ruang obrolan di media sosial, mari kita pelajari cara menjadi pemandu cahaya bagi sesama di tengah waktu yang terus berjalan.
A. Pengertian dan pentingnya saling mengingatkan
1. Apa itu nasihat?
Nasihat adalah saran, bimbingan, atau anjuran yang diberikan kepada seseorang dengan tujuan untuk membantu mereka dalam mengambil keputusan, mengatasi masalah, meningkatkan pemahaman, atau mencapai tujuan tertentu sebagai bentuk kepedulian yang tulus dan harapan baik dari pemberi kepada penerima, biasanya didasari oleh pengalaman, pengetahuan, atau pemikiran bijaksana dari orang yang memberikannya.
Nasihat yang membangun tidak menekankan pada kesalahan di masa lalu atau kekurangan seseorang. Sebaliknya, nasihat ini melihat ke depan, memberikan pandangan baru, dan membuka jalan untuk perbaikan. Misalnya, daripada mengatakan “Kamu selalu gagal dalam wawancara kerja,” nasihat yang lebih baik bisa berupa, “Mari kita tinjau strategi wawancaramu; mungkin ada beberapa hal yang bisa kita tingkatkan.” Ini adalah perubahan dari menyalahkan menjadi memberdayakan.
Tujuan utama dari nasihat adalah untuk membantu seseorang menjadi lebih baik, baik dalam tindakan, pemikiran, atau kehidupan mereka. Ini mirip dengan seorang pelatih yang memberikan strategi kepada atletnya. Pelatih tidak menyalahkan atas kekalahan, tetapi memberikan arahan agar pertandingan berikutnya bisa dimenangkan.
2. Perintah untuk beramar ma’ruf nahi munkar
Apa itu 'Amar'? 'Amar' berarti mengajak, memerintahkan, menganjurkan, atau menyeru. Lalu, apa itu 'Ma’ruf'? 'Ma’ruf' merujuk pada sesuatu yang baik, dikenal sebagai hal yang baik, diterima oleh akal sehat, dan sesuai dengan aturan agama Islam. Jadi, 'amar ma’ruf adalah mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan mempertahankan nilai-nilai positif, yang mencakup semua tindakan baik, nilai-nilai positif, akhlak yang baik, dan ibadah kepada Allah. Contoh dari ini termasuk jujur, adil, membantu orang lain, menghormati orang tua, shalat, puasa, berbagi, dan banyak lagi.
"Nahi" berarti melarang, mencegah, atau menghentikan sesuatu. Sementara itu, "munkar" merujuk pada hal-hal yang buruk, tidak baik, ditolak oleh akal sehat, dan bertentangan dengan ajaran Islam, mencakup semua tindakan jahat, maksiat, kezaliman, kerusakan, dan pelanggaran hukum agama. Contohnya termasuk berbohong, mencuri, menipu, mabuk, berjudi, melakukan kekerasan, dan korupsi. Jadi, nahi munkar berarti mencegah orang lain dari melakukan perbuatan buruk atau kemungkaran serta berusaha menghilangkan hal-hal negatif dari masyarakat.
Amar ma’ruf dan nahi munkar adalah tanggung jawab bersama (fardhu kifayah) bagi umat Islam. Apa artinya? Jika sudah ada sekelompok umat Islam yang melakukannya dengan baik, maka kewajiban itu hilang untuk orang lain. Misalnya, jika di suatu daerah sudah ada kelompok masyarakat atau organisasi yang aktif mengajak orang untuk berbuat baik dan mencegah keburukan (seperti organisasi dakwah, kepolisian, atau lembaga sosial), maka tanggung jawab individu lainnya menjadi lebih ringan.
Namun, jika tidak ada yang melakukan hal itu di suatu tempat, maka semua umat Islam yang mampu di tempat tersebut akan mendapatkan dosa. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran setiap Muslim dalam menjaga lingkungan sosial mereka. Kewajiban untuk melakukan amar ma’ruf dan mencegah munkar sangat penting dan mendasar bagi terwujudnya masyarakat yang baik dan beradab. Ada beberapa alasan utama mengapa hal ini demikian, yaitu:
a. Masyarakat terdiri dari sekelompok individu. Jika setiap orang atau kelompok hanya fokus pada diri sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan, kebaikan akan pudar dan kejahatan akan semakin berkembang. Amar ma’ruf nahi munkar berfungsi sebagai cara untuk melakukan “koreksi diri” di dalam masyarakat.
b. Tanpa adanya upaya untuk mendorong kebaikan dan menghindari keburukan, kemungkaran dapat menyebar seperti penyakit. Hal-hal buruk seperti korupsi, narkoba, dan kezaliman dapat merusak tatanan sosial, menciptakan ketidakadilan, dan akhirnya menghancurkan masyarakat itu sendiri.
c. Ketika masyarakat aktif dalam amar ma’ruf nahi munkar, lingkungan akan menjadi lebih baik untuk kebaikan. Anak-anak dan generasi muda akan tumbuh dalam suasana yang menghargai nilai-nilai moral, sehingga mereka cenderung menjadi pribadi yang lebih baik.
d. Amar ma’ruf nahi munkar adalah bentuk kasih sayang sejati kepada sesama manusia. Saat kita mencegah seseorang dari melakukan hal buruk, kita sebenarnya sedang menyelamatkannya dari dosa, azab, atau akibat negatif di dunia maupun akhirat. Ini bukan soal menghakimi, melainkan tentang menyelamatkan.
e. Dalam masyarakat yang menerapkan amar ma’ruf nahi munkar, keadilan bisa ditegakkan dengan lebih mudah dan kebenaran menjadi lebih jelas. Orang-orang akan berani berbicara tentang kebenaran dan menolak ketidakadilan.
f. Umat Islam dikenal sebagai “umat terbaik” karena salah satu ciri khas mereka adalah menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Ini adalah identitas dan misi utama umat Islam di dunia.
B. Landasan saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan menurut Islam
Umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk mempunyai kelompok yang mendorong kebaikan (Al-Khair & Al-Ma'ruf) dan menghindari keburukan (Al-Munkar). Orang-orang yang melaksanakan tugas ini adalah mereka yang beruntung di dunia dan di akhirat. Keberuntungan ini lebih dari sekadar hal-hal materi, tetapi juga mencakup berkah dan ridho Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran surah ke 3: Ayat 104).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لْعَصْرِ(١)
اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ(٢)
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ(٣)
Artinya:
(1.)”Demi masa.”
(2.)”Sungguh, manusia berada dalam kerugian,”
(3.) “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr surah ke 103: Ayat 1-3).
Ayat pertama bersumpah dengan menggunakan "waktu" sebagai nama karena waktu adalah aset hidup yang sangat berharga. Waktu terus bergerak maju dan tidak bisa kembali lagi. Ayat kedua mengatakan bahwa banyak orang mengalami kerugian karena mereka membuang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna, berbuat dosa, atau aktivitas yang tidak memberikan manfaat. Ayat ini memberikan peringatan yang serius. Namun, ada pengecualian, yaitu resep untuk menghindari kerugian! Hanya ada empat kriteria yang dapat menyelamatkan manusia dari kerugian:
1. Iman (aamanuu)
Percayalah sepenuhnya kepada Allah, rasul-Nya, kitab-Nya, hari kiamat, dan semua ajaran Islam. Ini adalah dasar utama, keyakinan di dalam hati yang menjadi sumber dari segala kebaikan. Iman yang sejati akan mendorong kita ke langkah selanjutnya.
2. Amal shalih (Wa ‘amilush-shāliḥāti)
Melakukan kebaikan. Hanya memiliki iman tidaklah cukup; kita harus menunjukkan iman kita melalui tindakan nyata yang bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Ini termasuk ibadah seperti shalat, puasa, dan zakat, serta berinteraksi dengan baik dalam masyarakat seperti bersikap jujur, adil, dan saling membantu.
3. Saling menasihati dalam kebenaran (Wa tawāshau bil-ḥaqq)
Ini adalah poin penting yang kamu tanyakan! Kata “tawāshau” berarti saling memberikan pesan, saling berwasiat, atau saling menasihati. “Bil-ḥaqq” berarti kebenaran. Kebenaran ini berasal dari Allah (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi), keadilan, dan segala sesuatu yang benar. Jadi, ini tentang saling mengingatkan dan mendorong satu sama lain untuk melakukan hal-hal yang benar, adil, dan sesuai dengan ajaran Islam. Ini meliputi 'amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dan nahi munkar (mencegah keburukan), dengan penekanan pada penyampaian kebenaran.
4. Saling menasihati dalam kesabaran (Wa tawāṣau biṣhṣhabr)
Ini juga sangat penting. "Bishshabr" berarti kesabaran. Kesabaran ini memiliki banyak aspek, antara lain:
- Sabar dalam melaksanakan perintah Allah (ibadah).
- Sabar dalam menjauhi larangan Allah (menahan diri dari berbuat salah).
- Sabar saat menghadapi ujian, bencana, dan kesulitan hidup.
- Sabar dalam berdakwah dan berinteraksi dengan orang lain yang mungkin memiliki pendapat berbeda.
Mengapa ini penting? Menjalani hidup sesuai ajaran Islam tidak selalu gampang. Kita menghadapi godaan, cobaan, dan tantangan. Karena itu, kita memerlukan dukungan dari orang lain agar tetap kuat dan sabar. Ketika kita saling menasihati untuk bersabar, kita sebenarnya saling menguatkan, mengingatkan agar tidak putus asa, dan tetap teguh di jalan Allah meskipun ada halangan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
وَا لْمُؤْمِنُوْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah swt. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah surah ke 9: Ayat 71).
Ayat di atas menunjukkan ciri-ciri orang yang beriman, yaitu saling membantu karena mereka adalah saudara. Tugas mereka adalah aktif mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan, yang merupakan tanggung jawab setiap Muslim. Selain itu, mereka juga melaksanakan shalat, membayar zakat, serta patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagai imbalannya, Allah menjanjikan rahmat dan keberkahan.
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Agama itu adalah nasihat.” Kami (para sahabat) bertanya, “Untuk siapa (wahai Rasulullah)?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh kaum Muslimin (umumnya).” (HR. Muslim no. 55).
Hadits di atas menjelaskan bahwa nasihat adalah inti atau dasar utama agama Islam. Nasihat di sini bukan hanya tentang memberikan saran, tetapi juga mencakup ketulusan hati, keinginan yang tulus, dan kesungguhan untuk kebaikan orang yang dinasehati. Ada beberapa aspek dari nasihat ini, yaitu:
Pertama, nasihat untuk Allah berarti kita harus ikhlas dalam mengesakan-Nya, beribadah hanya kepada-Nya, dan menjauhi segala bentuk syirik.
Kedua, nasihat untuk Kitab-Nya (Al-Qur’an) adalah percaya akan kebenarannya, membaca, memahami, dan mengamalkannya.
Ketiga, nasihat untuk Rasul-Nya yaitu membenarkan dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad serta mencintainya.
Keempat, nasihat untuk pemimpin muslim yaitu taat pada kebaikan mereka, mengingatkan mereka dengan cara yang baik jika mereka melakukan kesalahan, dan mendoakan yang terbaik bagi mereka.
Terakhir, nasihat untuk semua muslim adalah mencintai mereka seperti mencintai diri sendiri, mendoakan kebaikan bagi mereka, menasihati dengan baik jika mereka salah, dan menutupi aib mereka.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaklah dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.’” (HR. Muslim no. 49).
Hadits di atas menjelaskan bahwa jika ada tindakan yang salah, orang yang memiliki wewenang harus menghentikannya dengan cara yang nyata, seperti memisahkan orang yang berkelahi. Jika tidak bisa melakukannya, mereka harus mencegahnya dengan ucapan, seperti memberikan nasihat yang baik kepada teman yang berbohong. Jika seseorang tidak dapat mengubah tindakan yang salah melalui tindakan atau kata-kata, setidaknya mereka harus membenci perbuatan itu dalam hati. Membenci kemungkaran dalam hati adalah bentuk iman yang paling dasar. Seorang Muslim sejati perlu lebih aktif dalam mencegah kemungkaran; jika hanya membenci di hati, itu menunjukkan bahwa imannya masih lemah.
Dari Abu Mas’ud Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala pelakunya.” (HR. Muslim no. 1.893).
Hadits di atas memberikan petunjuk, nasihat, informasi, atau dorongan untuk melakukan kebaikan, seperti mengajarkan ilmu atau menyarankan sedekah. Seseorang yang menunjukkan jalan kebaikan akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya, tanpa mengurangi pahala dari pelaku. Pahala bagi pemberi petunjuk dan pelaku akan berlipat ganda. Berikut adalah beberapa contoh penerapannya:
* Seorang guru yang mengajarkan shalat kepada muridnya akan mendapatkan pahala setiap kali murid itu melaksanakan shalat.
* Seseorang yang menginspirasi temannya untuk berhijab akan mendapatkan pahala setiap kali temannya menjaga auratnya.
* Orang yang mendonasikan mushaf Al-Qur’an ke masjid akan mendapat pahala setiap kali mushaf itu dibaca.
C. Adab (etika) dalam saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan
Mengajak dan mengingatkan orang lain untuk berbuat baik ('amar ma’ruf) adalah tugas yang mulia dalam Islam. Namun, pelaksanaannya harus didasari oleh etika yang baik. Tanpa etika, niat baik bisa disalahartikan atau bahkan menimbulkan efek negatif. Etika ini membantu agar nasihat diterima dengan pikiran terbuka dan mencapai tujuannya, yaitu perbaikan. Berikut adalah penjelasannya:
1. Ikhlas karena Allah
Setiap tindakan yang kita lakukan harus didasari oleh niat yang tulus, yaitu mengharapkan ridho Allah. Kita tidak seharusnya berbuat untuk mendapatkan pujian, dianggap lebih baik, atau merasa lebih alim dari orang lain. Ketulusan dalam niat akan memunculkan energi positif dan keikhlasan, yang bisa dirasakan oleh orang yang kita nasihati. Jika niat kita bukan karena Allah, maka nasihat yang diberikan bisa terasa kurang berarti, terkesan arogan, atau bahkan manipulatif.
“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1.907).
2. Memilih waktu dan tempat yang tepat
Nasihat atau ajakan untuk berbuat baik akan lebih berhasil jika disampaikan pada waktu dan tempat yang tepat. Pilihlah saat-saat ketika mereka merasa tenang, santai, dan dapat berkonsentrasi untuk mendengarkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl surah ke 16: Ayat 125).
Makna hikmah di atas adalah menggunakan kebijaksanaan, pengetahuan, dan pemahaman mendalam tentang kondisi orang yang kita ajak bicara, serta kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kita tidak boleh bertindak sembarangan atau emosional. Sebaiknya gunakan argumen yang logis dan sesuai. Berikan nasihat dengan kata-kata lembut, sopan, menyentuh hati, tanpa menyakiti perasaan orang lain, dan penuh kasih sayang. Hindari penggunaan kata-kata kasar atau sikap menghakimi.
Jika perlu berdebat atau berdiskusi, lakukanlah dengan cara yang paling sopan, etis, dan berbasis argumen, bukan dengan emosi, hinaan, atau kekerasan. Tujuan utama adalah mencari kebenaran, bukan sekadar menang. Tugas kita hanyalah menyampaikan pesan dan berusaha sebaik mungkin. Hasilnya apakah seseorang mendapatkan petunjuk atau tidak adalah urusan Allah. Ini penting agar kita tidak merasa putus asa atau sombong. Dakwah bukan hanya soal apa yang kita sampaikan, tetapi juga bagaimana cara kita menyampaikannya.
3. Menggunakan bahasa yang lembut, santun, dan tidak menyakiti hati
Cara kita menyampaikan sesuatu sangatlah penting. Gunakan kata-kata yang baik, sopan, dan penuh rasa empati. Jangan menggunakan nada yang menghakimi, merendahkan, atau menggurui orang lain. Nasihat yang disampaikan dengan cara kasar atau sombong biasanya akan ditolak, meskipun isinya benar. Tujuan kita adalah untuk membuka hati orang lain, bukan menutupnya. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk berbicara dengan lembut bahkan kepada Firaun yang sangat jahat. Terlebih lagi ketika berbicara dengan sesama Muslim.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِذْهَبْ اَنْتَ وَاَ خُوْكَ بِاٰ يٰتِيْ وَلَا تَنِيَا فِيْ ذِكْرِى(٤٢) اِذْهَبَاۤ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰى(٤٣) فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى(٤٤)
Artinya:
(42.) “Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku;”
(43.) “pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas;”
(44.) “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”” (QS. Ta-Ha surah ke 20: Ayat 42-44).
4. Memahami kondisi psikologis orang yang dinasehati atau diajak kepada kebaikan
Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan keadaan emosional yang unik. Sebelum memberikan saran, penting untuk memahami posisi mereka, perasaan mereka saat ini, atau alasan di balik tindakan mereka. Saran yang sesuai dengan kondisi psikologis seseorang akan lebih mudah diterima dan relevan.
Rasulullah memberikan nasihat kepada setiap orang berdasarkan tingkat pemahaman dan masalah yang mereka hadapi. Ada yang memerlukan motivasi, ada juga yang butuh teguran keras (tapi tetap pada tempatnya), sementara yang lain mungkin membutuhkan pendekatan yang lebih lembut.
5. Memberi contoh terlebih dahulu (qudwah hasanah)
Tindakan lebih penting daripada kata-kata. Jika kita ingin mengajak orang lain untuk berbuat baik atau menjauhi hal-hal buruk, kita harus terlebih dahulu menunjukkan contoh yang baik. Nasihat dari seseorang yang tidak melakukan apa yang dia katakan akan terasa kosong dan tidak tulus. Nabi Muhammad adalah contoh terbaik dalam segala hal, termasuk dalam menyampaikan ajaran agama.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab surah ke 33: Ayat 21).
6. Menasihati secara pribadi, bukan di depan umum yang bisa mempermalukan
Kesalahan atau aib seseorang sebaiknya dinasehati secara empat mata, jauh dari keramaian. Mempermalukan seseorang di depan umum akan merusak harga dirinya, menimbulkan rasa dendam, dan membuat nasihat sulit diterima. Tujuan nasihat adalah perbaikan, bukan penghinaan. Imam Syafi’i berkata: “Siapa yang menasihatimu secara rahasia, berarti dia telah menasihatimu. Dan siapa yang menasihatimu di hadapan umum, berarti dia telah mempermalukanmu.”
7. Tidak menyebarluaskan aib orang lain
Saat kita menemukan kekurangan atau kesalahan orang lain, kita sebaiknya tidak menyebarkannya atau menjadikannya bahan obrolan. Tujuan dari nasihat adalah untuk membantu orang tersebut memperbaiki diri, bukan untuk menghakimi mereka di depan umum. Menyembunyikan aib orang lain merupakan perilaku terpuji dalam Islam.
Dalam hadits disebutkan bahwa, “Janganlah kamu saling mendengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan janganlah sebagian kamu menjual atas penjualan sebagian yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim itu adalah saudara bagi Muslim lainnya, dia tidak menzaliminya, tidak menelantarkannya, dan tidak meremehkannya. Takwa itu di sini (seraya menunjuk dada tiga kali). Cukuplah keburukan seseorang apabila dia meremehkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2.564).
Bagian “tidak meremehkannya” dan “haram kehormatannya” juga mencakup tidak menyebarkan aib.
8. Bersabar dan tidak memaksa ketika ajakan kebaikan atau nasihat belum diterima
Setelah kita memberikan nasihat dengan cara yang baik, kita perlu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua orang akan segera menerima atau berubah. Memaksa, marah, atau merasa putus asa ketika nasihat tidak diterima adalah sebuah kesalahan. Teruslah berdoa untuk kebaikan mereka dan tetaplah berbuat baik.
Dalam berdakwah, setelah memberikan nasihat dengan cara yang baik, kita harus menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua orang akan langsung menerima atau berubah. Memaksa, marah, atau putus asa saat nasihat ditolak adalah kesalahan. Teruslah mendoakan kebaikan bagi mereka dan terus lakukan hal-hal baik.
D. Implementasi saling mengingatkan dalam kehidupan sehari-hari
1. Dalam lingkungan keluarga
Keluarga adalah kelompok terdekat dan paling penting di mana kita mulai menerapkan hal ini. Penting bagi orangtua untuk memberikan pendidikan agama sejak usia dini. Contohnya orangtua yang mengingatkan anak mereka untuk shalat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, berbicara jujur, tidak berbohong, menjaga kebersihan, dan tidak boros. Mereka juga melarang anak menonton konten yang tidak pantas atau berkumpul dengan teman-teman yang memberikan pengaruh buruk.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا نْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا صْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ ۚ
Artinya: “Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman surah ke 31: Ayat 17).
Nasihat kepada orangtua harus selalu diiringi dengan doa dan kesantunan tertinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا(٢٣) وَا خْفِضْ لَهُمَا جَنَا حَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا(٢٤)
Artinya:
(23.) “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(24.) “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”” (QS. Al-Isra’ surah ke 17: Ayat 23-24).
2. Dalam lingkungan pertemanan dan lingkungan sosial
Contohnya mengingatkan teman yang terlambat shalat, memberi nasihat kepada teman yang suka bergosip, mengajak teman untuk ikut belajar agama, atau menghentikan teman dari berbuat curang. Semua ini dilakukan dengan cara yang pribadi, lembut, dan penuh perhatian atau mengingatkan tetangga agar menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, ikut dalam kegiatan gotong royong, atau melaporkan tindakan yang mengganggu kepada RT/RW dengan cara yang benar. Di tingkat yang lebih luas, kita bisa mencegah praktik-praktik buruk yang merusak lingkungan sosial (seperti perjudian dan narkoba) dengan cara yang sah dan damai.
"Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang mukmin." (HR. Abu Dawud no. 4.918).
3. Dalam lingkungan profesional (kantor/pekerjaan)
Misalnya, mengingatkan teman kerja untuk selalu menjaga etika profesional. Mereka harus menghindari korupsi atau kecurangan, bersikap jujur saat bekerja, tidak menunda-nunda tugas, dan membantu rekan yang sedang mengalami kesulitan. Seorang bawahan dapat mengingatkan atasan jika ada kebijakan yang dianggap tidak adil atau tidak sesuai dengan syariat. Hal tersebut sebaiknya disampaikan dengan cara yang sopan dan pribadi. Atasan memiliki tanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan memastikan bahwa bawahannya bekerja sesuai dengan prosedur dan syariat yang berlaku.
4. Dalam interaksi digital (media sosial)
Waktu yang dihabiskan di media sosial sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak merugikan, seperti saling memberikan nasihat yang benar. Contohnya, memberikan tanggapan yang positif pada postingan teman, membagikan informasi yang edukatif dan berguna, mengingatkan tentang berita palsu dengan fakta-fakta yang benar, atau menyarankan pengguna lain untuk tidak terlibat dalam ujaran kebencian dan gosip di media sosial. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari no. 6.018).
E. Manfaat dan tantangan saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan
1. Manfaat saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan
a. Mendapatkan pahala dari Allah
Setiap kali kita mengajak orang untuk berbuat baik atau mencegah mereka dari berbuat buruk, kita sedang mengikuti perintah Allah. Allah menjanjikan hadiah besar bagi hamba-Nya yang patuh. Bahkan, hadiah ini bisa bertambah banyak. Contohnya, jika pembaca mengingatkan teman untuk shalat dan dia akhirnya melakukannya, kamu akan mendapat pahala yang sama dengan pahala shalat temanmu, tanpa mengurangi pahala yang didapat oleh teman pembaca itu.
b. Menjaga keberkahan masyarakat
Saat kebaikan disebarkan dan keburukan dihindari, masyarakat akan menjadi lebih bersih, adil, dan damai. Lingkungan yang baik akan mendatangkan berkah dari Allah, berupa peningkatan dalam semua aspek kehidupan, baik secara materi maupun spiritual. Sebaliknya, jika kemungkaran dibiarkan, bencana dan kerusakan bisa melanda seluruh masyarakat.
Contohnya adalah sebuah kampung di mana warganya rajin melakukan shalat berjamaah, tidak ada pencurian, dan saling membantu (karena saling mengingatkan dan menjaga), biasanya akan hidup lebih tenang dan merasa rezekinya lebih berkah. Berbeda dengan lingkungan yang dipenuhi maksiat; masalah sosial dan kekacauan biasanya lebih sering terjadi di sana. Al-Qur’an dan Hadits banyak menyebutkan bahwa kebaikan bersama membawa rahmat, sementara keburukan bersama mendatangkan azab.
c. Membangun tali persaudaraan (ukhuwah) yang kuat
Saat kita memperhatikan kebaikan teman-teman kita, dan mereka juga memperhatikan kita, maka ikatan persaudaraan yang kuat akan terbentuk. Saling memberi nasihat dengan kasih dan ketulusan justru akan membuat hubungan menjadi lebih dekat, bukan menjauh. Misalnya, seorang teman yang berani memberikan nasihat (dengan cara yang baik) saat kita melakukan kesalahan adalah teman sejati yang peduli. Hubungan persahabatan seperti ini akan lebih kuat daripada hanya berteman di saat-saat menyenangkan.
d. Menyelamatkan diri dan orang lain dari dosa
Dengan mencegah kemungkaran, kita tidak hanya melindungi orang lain dari melakukan dosa (dan kemungkinan akibatnya), tetapi juga menjaga diri kita sendiri dari bahaya dosa itu. Saat kemungkaran menyebar, efek buruknya dapat mempengaruhi semua orang, termasuk mereka yang tidak berbuat apa-apa. Misalnya, jika kamu melihat seseorang mencoba mencuri dan berhasil menghentikannya, kamu sudah menyelamatkan dia dari dosa mencuri dan kemungkinan hukuman. Kamu juga melindungi diri sendiri dan masyarakat dari dampak kejahatan tersebut.
2. Tantangan saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan
a. Sulitnya mengendalikan emosi saat menasihati atau dinasehati
Baik orang yang memberi nasihat maupun yang menerima, emosi dapat menjadi penghalang. Orang yang memberikan nasihat mungkin merasa emosional jika nasihatnya ditolak atau dianggap sepele. Di sisi lain, orang yang mendengarkan nasihat bisa merasa tersinggung, marah, atau malu, sehingga sulit untuk menerima saran tersebut. Misalnya, ketika kamu menasihati teman yang sering terlambat salat, dia malah marah dan bertanya, "Kenapa itu urusanmu?". Atau saat kamu dinasehati karena sering datang terlambat, kamu merasa, "Ah, dia juga sama saja." Oleh karena itu, mengendalikan emosi sangatlah penting.
b. Adanya rasa takut atau malu untuk menasihati
Banyak orang merasa canggung atau takut untuk memberi nasihat karena khawatir akan menyakiti perasaan, merusak persahabatan, atau dianggap menggurui. Rasa malu dan ketakutan ini bisa menjadi penghalang besar. Misalnya, kamu tahu temanmu sering menunda shalat, tetapi kamu merasa malu atau takut dibilang mengajari, jadi kamu memilih untuk tidak berkata apa-apa. Sebenarnya, jika kamu menyampaikan dengan cara yang baik, mungkin temanmu bisa berubah.
d. Respons negatif atau penolakan
Walaupun nasihat diberikan dengan cara yang baik, tidak ada jaminan orang lain akan menerimanya. Beberapa orang mungkin merespons dengan negatif, seperti marah, menolak, atau bahkan menjadi musuh. Ini adalah ujian bagi orang yang memberi nasihat. Contohnya, para nabi dan rasul juga menghadapi penolakan saat mereka menyampaikan pesan mereka, bahkan dari orang-orang di sekitar mereka. Jika mereka yang mulia saja ditolak, apalagi kita. Seseorang yang ingin memberi tahu tentang bahaya merokok bisa saja dimarahi oleh perokok.
F. Cara menguatkan diri untuk saling mengingatkan
1. Memperdalam ilmu agama
Semakin kita memahami ajaran agama, semakin percaya diri kita saat ingin memberi nasihat atau mengajak orang lain. Pengetahuan adalah bekal kita untuk mengenali mana yang benar dan salah menurut Islam, serta cara menyampaikannya dengan bijaksana. Ilmu agama membantu kita memahami dalil (bukti dari Al-Qur’an dan Hadits) untuk setiap kebaikan yang kita dorong atau kemungkaran yang kita hindari. Hal ini membuat nasihat kita lebih bernilai dan tidak hanya sekadar pendapat pribadi.
Ilmu juga mencakup pemahaman tentang adab dalam berdakwah, psikologi manusia, dan cara berkomunikasi yang efektif agar nasihat diterima dengan baik.
Seseorang yang berpengetahuan akan merasa lebih tenang dan yakin karena tahu bahwa ia mengikuti jalan yang benar dan menyampaikan kebenaran dari Allah. Contohnya, seorang guru mengaji yang mengerti tajwid dan tafsir akan lebih percaya diri saat mengajarkan muridnya cara membaca Al-Qur’an. Teman yang sering mengikuti kajian agama juga akan lebih tepat dan bijaksana saat menasihati temannya yang mengalami masalah karena ia memiliki dasar ilmu.
2. Berlatih menerima dan memberi nasihat dengan hati lapang
Kita perlu belajar untuk menerima saran dari orang lain dengan sikap terbuka, tanpa merasa tersinggung atau malu. Jika kita bisa menerima masukan, maka kita akan lebih mudah dan nyaman saat memberikan saran kepada orang lain. Kita harus melatih diri agar tidak egois dan mengakui bahwa kita juga bisa melakukan kesalahan. Menerima saran menunjukkan kerendahan hati dan keinginan untuk memperbaiki diri. Ini akan membantu membangun mental yang kuat ketika kita harus menasihati orang lain.
Latihlah diri untuk berbicara dengan lembut, memilih kata-kata yang tidak menghakimi, dan fokus pada solusi, bukan kesalahan. Kita bisa memulai dari hal-hal kecil atau dengan orang-orang terdekat yang sudah kita percayai. Jika kita terbiasa dengan budaya saling memberi dan menerima nasihat, kita tidak akan merasa terlalu terbebani atau stres saat melakukannya.
Misalnya, seorang karyawan yang dapat menerima kritik positif dari atasannya tanpa marah, akan lebih mudah memberikan masukan baik kepada bawahannya. Dalam sebuah kelompok kajian, anggotanya biasa saling mengingatkan jadwal salat atau hal-hal baik lainnya, sehingga komunikasi menjadi lebih efektif dan nyaman.
3. Memohon kekuatan dan hidayah agar dimudahkan dalam menjalankan kewajiban ini
Kita perlu menyadari bahwa kemampuan untuk memberikan nasihat yang baik dan keberhasilan dalam memberikan nasihat adalah anugerah dari Allah. Kita harus terus berdoa meminta bantuan-Nya agar diberikan kekuatan, kebijaksanaan, dan kemudahan dalam menjalankan tugas ini. Kita harus ingat bahwa kita adalah hamba yang lemah, dan hanya Allah yang bisa memberi kekuatan dan petunjuk kepada hati manusia.
Dengan bersandar pada Allah, rasa takut akan penolakan atau kesulitan akan berkurang karena kita tahu Allah selalu bersama kita. Doa kita dapat membuka jalan bagi hidayah bagi orang yang kita nasihati, karena hidayah sepenuhnya milik Allah. Misalnya, saat merasa ragu atau takut untuk menasihati teman, mintalah kepada Allah agar diberi keberanian dan kebijaksanaan dalam menyampaikan pesan tersebut. Seorang dai atau ustadz selalu memulai dakwahnya dengan doa, berharap agar kata-katanya bisa menyentuh hati dan memberikan manfaat.
4. Bergaul dengan orang-orang shalih yang juga peduli dengan kebaikan
Lingkungan pergaulan sangat berpengaruh pada diri kita. Ketika kita bergaul dengan orang-orang yang juga peduli pada kebaikan, kita akan merasa termotivasi, mendapatkan dukungan, dan lebih kuat dalam menjalankan kewajiban saling mengingatkan. Orang-orang yang baik akan saling memperkuat, memberikan masukan positif, dan tidak membawa kita ke arah yang buruk. Mereka menjadi sistem dukungan yang baik untuk kita. Kita dapat belajar banyak dari cara orang saleh memberi nasihat, bagaimana mereka berinteraksi, dan cara mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik.
Nabi mengingatkan tentang bahaya dari pergaulan yang buruk yang bisa menyeret kita ke arah negatif. Sebaliknya, pergaulan yang baik akan membantu kita untuk berkembang. Misalnya, bergabung dengan komunitas masjid, kelompok pengajian, atau organisasi sosial yang fokus pada kebaikan. Di tempat-tempat tersebut, kamu akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki visi sama dan saling mendukung satu sama lain. Seseorang yang ingin berhenti merokok akan lebih mudah melakukannya jika dikelilingi oleh teman-teman yang tidak merokok dan aktif mengajaknya untuk berpartisipasi dalam kegiatan positif.
Penutup:
Sebagai penutup, kita perlu menyadari bahwa saling mengingatkan adalah bagian penting dari masyarakat yang sehat. Ini merupakan bentuk dari doa "Ihdinas-siratal-mustaqim" yang kita panjatkan setiap hari, sebagai usaha bersama agar kita semua tetap berada di jalan yang benar. Memang ada tantangan seperti ego dan penolakan dari orang lain, tetapi manfaat yang kita peroleh, mulai dari pahala yang mengalir hingga keberkahan lingkungan, jauh lebih besar untuk diabaikan.
Pada akhirnya, tujuan kita bukanlah untuk menang dalam debat atau terlihat lebih baik dari orang lain. Tujuan utama kita adalah mendapatkan ridha Allah bersama-sama. Dengan menambah ilmu, memperbaiki sikap, dan selalu menjaga niat tulus, kita bisa mengubah teguran kecil menjadi kesempatan hidayah yang besar. Mari kita jadikan diri kita sahabat yang saling menjaga, tidak hanya di dunia ini, tetapi juga hingga ke surga-Nya kelak.
Referensi:
1. Al-Qur'an:
- QS. An-Nahl surah ke 16 ayat 125.
- QS. Ali Imran surah ke 3 ayat 104 dan 110.
- QS. Al-Ma'idah surah ke 5 ayat 78-79.
- QS. Al-‘Asr surah ke 103: Ayat 1-3.
- QS. At-Taubah surah ke 9: Ayat 71.
- QS. An-Nahl surah ke 16: Ayat 125.
- QS. Ta-Ha surah ke 20: Ayat 42-44.
- QS. Al-Ahzab surah ke 33: Ayat 21.
- QS. Luqman surah ke 31: Ayat 17.
- QS. Al-Isra’ surah ke 17: Ayat 23-24
- QS. Al-Hujurat surah ke 49: Ayat 10.
- QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 44.
2. Hadits Nabi:
- HR. Bukhari No. 2.493.
- HR. Muslim no. 49.
- HR. Muslim no. 1.893.
- HR. Muslim no. 55.
- HR. Muslim no. 2.564.
- HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1.907
- HR. Abu Dawud no. 4.918.
- HR. Muslim no. 91.
3. Kitab para ulama Ahlussunnah wal jamaah:
- Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka.
- Jami' al-Ulum wal-Hikam karya Ibnu Rajab Al-Hanbali.
- Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali
- Mufradat Alfadh al-Qur'an karya Ar-Raghib al-Isfahani.
- Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi.
- Adabul 'Alim wal Muta'allim karya KH. Hasyim Asy'ari.
- As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam.
- Al-Fawaid karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
- Adab al-Suhbah karya Imam As-Sullami.
- Al-Hisbah fil Islam karya Ibnu Taimiyah.
4. Artikel/jurnal/makalah:
- The Feedback Fallacy oleh Marcus Buckingham & Ashley Goodall di Harvard Business Review (2019).
- Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Antara Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial oleh Moh. Wardi.
- Relevansi Fardhu Kifayah dalam Mewujudkan Keadilan Sosial oleh Prof. Dr. H. Mohammad Atho' Mudzhar.
- Etika Menasihati dalam Perspektif Hadis Nabi oleh Nuruddin.
- Komunikasi Persuasif dalam Dakwah: Tinjauan Psikologi Komunikasi oleh Siti Masitoh.
- Dakwah Cultural: Strategi Mengajak Kebaikan di Masyarakat Urban oleh Prof. Dr. Didin Hafidhuddin.
- The Ethics of Criticism in Islamic Thought karya Zulkifli bin Mohamad al-Bakri (Mantan Mufti Malaysia).
- Pola Komunikasi Keluarga dalam Perspektif Islam oleh Dr. Caswiyanti.
- Management: An Islamic Perspective oleh Rafiq Issa Beekun.
- Etika Komunikasi Netizen di Media Sosial dalam Perspektif Islam oleh H. Syamsul Yakin.
- Peran Hisbah dalam Kontrol Sosial Masyarakat Muslim oleh M. Abdul Manan.
5. Buku:
- Mindset: The New Psychology of Success karya Carol S. Dweck.
- Coaching for Performance" karya Sir John Whitmore.
- Fiqh ad-Da'wah karya Syekh Mustafa Masyhur.
- Etika Muslim Sehari-hari karya Al-Habib Najmuddin bin Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki (Ulama besar Aswaja kontemporer).
- Etika Komunikasi Islam karya Syukrianto AR.
- Seni Berinteraksi dengan Orang Lain (Fannul-Ta'amul Ma'an-Nas) karya Syekh Muhammad al-'Arifi.
- Tarbiyatul Aulad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam) karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan.
6. Fatwa MUI
Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial.
Penulis: Maulana Aditia
Baca juga:
Komentar
Posting Komentar