Pendidikan Islam modern sesuai Al-Qur'an dan Sunnah
Artikel ini akan membahas bagaimana wahyu berfungsi sebagai panduan melalui penggabungan dua konsep utama yakni Aksara Nurani Karya yang merupakan proses pengembangan potensi dari penemuan jati diri hingga penciptaan karya, dan Tali Ilmu & Ridho yang berfungsi sebagai pedoman etika dalam menuntut ilmu dengan mengutamakan niat karena Allah, restu guru, dan konsistensi. Kombinasi ini bertujuan untuk menghasilkan generasi yang cerdas secara logika tetapi tetap kuat dalam akhlak dan keyakinan.
A. Konsep dan prinsip pendidikan Islam modern sesuai Al-Qur'an dan Sunnah
Konsep dan prinsip pendidikan Islam modern sesuai Al-Qur'an dan Sunnah antara lain:
1. Semua ilmu bersumber dari Allah
Dalam Islam, pengetahuan dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah. Prinsip utama pendidikan Islam modern adalah keyakinan bahwa Allah adalah Al-Alim (Maha Mengetahui). Semua bentuk pengetahuan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, berasal dari Sang Maha Mengetahui. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْ لَّوْ كَا نَ الْبَحْرُ مِدَا دًا لِّـكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَـنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَـنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), "Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."" (QS. Al-Kahf surah ke 18: Ayat 109).
Oleh karena itu, baik pengetahuan yang diperoleh dari laboratorium sains maupun pengetahuan yang datang dari wahyu Al-Qur'an, keduanya berasal dari satu sumber. Pendidikan Islam modern harus menghilangkan anggapan bahwa ilmu dunia itu "sekuler" dan ilmu agama itu "suci". Ketika seorang murid mempelajari biologi tentang sel, ia sebenarnya sedang melihat tanda-tanda kebesaran Allah (ayat kauniyah), sama seperti saat ia membaca surah Al-Baqarah (ayat qauliyah).
2. Keseimbangan antara ilmu agama dan umum
Keseimbangan (Tawazun) sangat penting. Dalam Islam, tidak ada pemisahan antara kebutuhan dunia dan akhirat saat kita menuntut ilmu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya: "Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash surah ke 28: Ayat 77).
Pendidikan Islam modern tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan bahwa seseorang hanya perlu pintar dalam mengaji tetapi tidak mengerti teknologi, atau menjadi ahli nuklir tetapi tidak tahu hukum ibadah. Prinsip utama yang dipegang adalah integrasi. Kurikulum disusun sedemikian rupa agar nilai-nilai ketuhanan terlihat dalam pelajaran matematika, fisika, dan ekonomi. Tujuannya adalah untuk menghasilkan ilmuwan yang beriman atau ulama yang memahami dunia sains, sehingga umat Islam bisa bersaing dengan baik tanpa kehilangan identitas spiritual mereka.
3. Mengambil inspirasi dari ayat pertama yang berarti membaca semesta dengan nama Allah
Perintah yang pertama dalam Islam adalah Iqra (Bacalah) karena pengetahuan harus disertai dengan kesadaran akan Tuhan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan," (QS. Al-'Alaq surah ke 96: Ayat 1).
Dalam konteks saat ini, "membaca" berarti melakukan penelitian, pengamatan, dan penjelajahan terhadap berbagai fenomena. Namun, bagian penting dari pernyataan itu adalah kelanjutan ayatnya, Bismi Rabbika (dengan nama Tuhanmu). Ini berarti bahwa semua penelitian ilmiah dan kemajuan dalam berpikir tidak seharusnya membuat manusia menjadi sombong atau menjadi ateis. Sebaliknya, hal tersebut harus meningkatkan rasa khasyyah (takut dan kagum) kepada Allah. Pendidikan modern membantu siswa untuk menumbuhkan rasa ingin tahunya dalam menjelajahi alam semesta sebagai bentuk ibadah.
4. Menjadikan akhlak dan adab sebagai tujuan utama
Tujuan utama pendidikan bukan hanya untuk mendapatkan gelar atau nilai di kertas. Rasulullah mengatakan bahwa beliau datang untuk menyempurnakan akhlak. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak." (HR. Ahmad dan Bukhari no. 273 dalam Adabul Mufrad).
Karakter adalah hasil nyata dari pendidikan yang sukses. Jadi, pendidikan modern harus menjadikan karakter sebagai tujuan utama. Imam Malik rahimahullah mengatakan: "Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu." Ilmu tanpa adab hanya akan menghasilkan orang cerdas yang bisa menipu atau merusak. Pendidikan Islam modern menekankan pentingnya sikap jujur, amanah, dan santun pada siswa, karena itulah hasil nyata dari ilmu yang bermanfaat.
5. Menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan atau guru yang wajib dijadikan panutan
Dalam pendidikan Islam saat ini, metode pengajaran yang paling efektif adalah meniru cara Rasulullah. Nabi Muhammad menjadi contoh terbaik dalam metode dan sikap mendidik. Dia mengajarkan dengan cara berdialog, menggunakan perumpamaan, menunjukkan bahasa tubuh yang baik, dan yang terpenting adalah memberikan teladan (uswatun hasanah). Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا
Artinya: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab surah ke 33: Ayat 21).
Prinsip ini menegaskan bahwa pendidik di zaman sekarang tidak cukup hanya sebagai "pemberi informasi", tetapi harus menjadi contoh yang integritasnya terlihat oleh siswa. Hubungan antara guru dan murid seharusnya dibangun atas dasar kasih sayang, bukan rasa takut.
6. Mengakomodasi perbedaan setiap individu
Islam mengakui bahwa setiap orang dilahirkan dengan sifat dan kemampuan yang unik (Multiple Intelligences). Rasulullah bersabda, "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah..." (HR. Bukhari no. 1.358 dan Muslim no. 2.658).
Prinsip pendidikan masa kini tidak mengharuskan "ikan untuk memanjat pohon". Para guru perlu peka terhadap minat dan cara belajar setiap siswa. Beberapa anak unggul dalam logika, sementara yang lain lebih baik dalam bahasa atau seni. Pendidikan Islam modern memberi kesempatan bagi setiap orang untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan bakat masing-masing. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya bagi pendidik untuk memperhatikan tingkat pemahaman dan bakat setiap siswa agar pelajaran dapat diterima dengan baik.
7. Menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi umat Islam di era modern
Pendidikan harus sesuai dengan masalah yang dihadapi masyarakat di zaman sekarang. Dalam kaidah fikih, dinyatakan bahwa "perubahan hukum dipengaruhi oleh perubahan waktu, tempat, keadaan, dan adat." (Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam I’lamul Muwaqqi’in). Pendidikan Islam tidak boleh terisolasi. Ia perlu peka terhadap isu-isu terkini seperti cyberbullying, kecerdasan buatan (AI), krisis iklim, dan tantangan ekonomi digital. Kurikulum harus mampu memberikan solusi untuk masalah yang dihadapi masyarakat saat ini. Jika pendidikan Islam hanya membahas teks-teks dari masa lalu tanpa menawarkan jawaban untuk tantangan di masa depan, maka generasi muda akan meninggalkannya.
8. Metode pembelajaran harus bervariasi dan mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
Islam menolak taklid buta, yaitu mengikuti sesuatu tanpa dasar yang jelas, dan mendorong penggunaan akal. Al-Qur'an sering mengajak manusia untuk berpikir dengan pertanyaan seperti "Apakah kamu tidak berpikir?" atau "Apakah kamu tidak merenungkan?". Pendidikan Islam modern menjauh dari metode hafalan tanpa pemahaman. Para murid didorong untuk bertanya "mengapa" dan "bagaimana". Berpikir kritis merupakan bagian penting dari ijtihad intelektual. Kreativitas dan inovasi sangat dianjurkan agar umat Islam tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta dan penemu.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ (١٩٠) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ (١٩١)
Artinya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Ali 'Imran surah ke 3: Ayat 190-191).
9. Melibatkan peran orangtua atau wali murid, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain bukan hanya guru dan murid saja
Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah saja. Prinsip-prinsip modern menekankan pentingnya kerjasama dalam "Tri Sentra Pendidikan". Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya... seorang laki-laki (ayah) adalah pemimpin di keluarganya..." (HR. Bukhari no. 7.137 dan Muslim no. 1.829).
Orangtua adalah tempat belajar yang pertama, sekolah menjadi pusat pendidikan formal, dan masyarakat berfungsi sebagai tempat eksperimen sosial. Pendidikan Islam modern mendorong adanya komunikasi dua arah antara guru dan orang tua supaya nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tetap terjaga ketika anak berada di rumah atau bergaul dengan teman-temannya.
10. Memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas jangkauan pendidikan
Pendidikan Islam modern menggunakan teknologi bukan sebagai tujuan utama, tetapi sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi dan jangkauan. Aplikasi belajar, perpustakaan digital, dan media sosial digunakan untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam dengan lebih luas dan menarik. Teknologi membuat proses belajar menjadi lebih visual, interaktif, dan tidak terikat pada ruang kelas fisik. Dalam kaidah fikih disebutkan, "Al-Wasilatu laha hukmul maqasid" (Sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya). Jadi, jika teknologi digunakan dalam pendidikan, maka hukumnya menjadi mulia.
11. Membekali peserta didik dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan umat
Islam
Islam sangat menghargai usaha dan kemandirian dalam ekonomi. Pendidikan modern seharusnya memberikan siswa keterampilan hidup dan semangat kewirausahaan. Tujuannya adalah agar lulusan pendidikan Islam dapat menciptakan lapangan kerja, mendorong ekonomi umat, dan memiliki sikap sebagai pemberi, sehingga mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat, melainkan penggerak kesejahteraan.
12. Menumbuhkan kesadaran peserta didik tentang pentingnya menjaga kelestarian alam
Manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin di bumi dan bertanggung jawab menjaga kelestariannya, bukan merusaknya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَ رْضِ بَعْدَ اِصْلَا حِهَا
Artinya: "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik." (QS. Al-A'raf surah ke 7: Ayat 56).
Pendidikan Islam saat ini mengajarkan bahwa merusak alam adalah sebuah kesalahan, dan menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan. Para murid belajar tentang konsep Eco-Islam, seperti cara menghemat air, mengelola sampah, dan melindungi hewan. Semua ini dianggap sebagai wujud dari kasih sayang untuk seluruh alam.
13. Melakukan pengembangan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman
Dunia berubah dengan cepat. Pendidikan Islam modern mengikuti prinsip Belajar Sepanjang Hayat. Sekolah dan lembaga pendidikan tidak boleh merasa sudah sempurna; mereka harus terus berinovasi, melakukan penelitian, dan mengembangkan kurikulum agar tetap relevan. Semangat untuk belajar terus-menerus ini berasal dari ajaran Islam yang menyatakan bahwa mencari ilmu dimulai dari lahir hingga akhir hayat.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa belajar adalah kewajiban yang berlaku untuk semua usia. Beliau terus mencari pengetahuan dan pengalaman spiritual sampai akhir hidupnya untuk meningkatkan kualitas pemikirannya. Imam Al-Muzani, yang merupakan murid Imam Syafi'i, menceritakan bahwa dia telah membaca buku Ar-Risalah karya gurunya sebanyak 500 kali. Setiap kali membaca, dia selalu menemukan pemahaman baru. Ini menunjukkan prinsip Continuous Improvement dalam proses belajar.
14. Melakukan evaluasi secara berkala terhadap kurikulum, metode pembelajaran, dan hasil belajar peserta didik
Prinsip terakhir adalah Muhasabah (Evaluasi). Sekolah harus secara teratur menilai seberapa baik metode pengajaran dan kualitas lulusannya. Apakah tujuan dalam membentuk akhlak sudah tercapai? Apakah siswa memiliki pengetahuan yang cukup? Evaluasi ini harus dilakukan dengan jujur dan terbuka agar pendidikan dapat terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)," (QS. Al-Hasyr surah ke 59: Ayat 18).
B. Tujuan pendidikan modern sesuai Al-Qur'an dan Sunnah
Tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya untuk menghasilkan tenaga kerja atau ahli teknologi, tetapi juga untuk membentuk manusia secara utuh. Dalam konteks modern yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah, kita bisa merinci tujuan pendidikan menjadi beberapa poin berikut ini:
1. Membentuk insan kamil (manusia paripurna)
Tujuan utama pendidikan Islam adalah untuk membentuk Insan Kamil, yaitu manusia yang seimbang antara akal, hati, dan tubuhnya. Pendidikan bertujuan untuk mengembalikan manusia ke keadaan fitrahnya yang sempurna. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
Artinya: "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," (QS. At-Tin surah ke 95: Ayat 4).
Di zaman sekarang, seorang Muslim diharapkan memiliki kecerdasan intelektual (IQ), kematangan emosional (EQ), dan kejernihan spiritual (SQ). Pendidikan bertujuan agar seseorang mengenali penciptanya, sehingga semua ilmu yang dimiliki dapat digunakan untuk menyembah Allah. Imam Al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa tujuan belajar adalah untuk mencapai kesempurnaan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah (at-taqarrub ilallah), bukan hanya untuk mengejar status duniawi.
2. Menanamkan adab sebelum ilmu (karakter mulia)
Pendidikan Islam modern menekankan pentingnya Adab sebelum Ilmu. Tujuan dari pendidikan adalah agar setiap siswa memiliki perilaku yang baik terhadap Allah, orang lain, dan alam semesta. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab (budi pekerti) mereka." (HR. Ibnu Majah, No. 3.671).
Ilmu pengetahuan tanpa adab hanya akan menghasilkan kerusakan, seperti korupsi atau kerusakan lingkungan. Jadi, tujuan utama pendidikan adalah agar siswa memiliki integritas, kejujuran, dan rasa malu. Ibnu Mubarak rahimahullah pernah mengatakan, "Aku belajar tentang adab selama tiga puluh tahun dan ilmu selama dua puluh tahun. Mereka (para salaf) lebih dulu mempelajari adab sebelum menuntut ilmu." (Kitab Ghayatun Nihayah).
3. Mewujudkan Khalifah fil Ardh (pemimpin yang memakmurkan bumi)
Tujuan dari pendidikan adalah untuk mempersiapkan manusia agar bisa menjalankan peran sebagai Khalifah, yang berarti wakil Allah di bumi. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat," (QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 30).
Dalam konteks zaman sekarang, pendidikan harus mampu melahirkan para ahli dalam bidang sains, kesehatan, teknologi, dan ekonomi yang menggunakan keahlian mereka untuk kebaikan umat manusia, bukan untuk menindas. Pendidikan mengajarkan bahwa mengelola dunia adalah bagian dari ibadah.
4. Mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adatun darain)
Berbeda dengan pendidikan sekuler yang hanya menekankan keberhasilan di dunia, pendidikan Islam modern memiliki tujuan agar manusia berhasil di dunia dan tetap selamat di akhirat. Pendidikan ini mengajarkan siswa untuk mandiri secara ekonomi (profesional) sambil tetap menjalankan kewajiban kepada Allah. Ini mencerminkan doa "Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah." Syekh Muhammad Abduh menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah membebaskan pikiran dari mengikuti tanpa berpikir dan memberikan umat pengetahuan modern supaya Islam dapat berjaya kembali di dunia sebagai bekal untuk akhirat.
5. Menjaga fitrah manusia
Setiap anak lahir dengan fitrah, yaitu potensi untuk baik dan benar. Tujuan dari pendidikan adalah menjaga agar fitrah ini tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif di dunia digital. Pendidikan bertindak sebagai pelindung yang membantu anak tetap mengenal jati diri kemanusiaannya yang suci dan sejalan dengan nilai-nilai keagamaan.
6. Membangun masyarakat yang adil dan beradab
Pendidikan Islam bertujuan untuk mengubah masyarakat. Tujuannya bukan hanya untuk keberhasilan pribadi, tetapi juga untuk membangun komunitas yang saling membantu, toleran, dan berkomitmen pada keadilan. Melalui pendidikan, individu mendapatkan keterampilan sosial yang dapat membantu mengatasi masalah kemiskinan dan kebodohan di lingkungan mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran surah ke 3: Ayat 104).
C. Cara menerapkan pendidikan Islam modern sesuai Al-Qur'an dan Sunnah
Menggunakan pendidikan Islam modern yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah berarti kita tetap menggunakan teknologi, tetapi menjadikan wahyu sebagai pedoman utama. Cara kita melakukannya bukan dengan mengubah ajaran agama, tetapi dengan menyesuaikan cara penyampaiannya agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Berikut adalah langkah-langkah praktis dan rinci untuk menerapkannya:
1. Menghapus sekat agama dan sains
Cara utama adalah menghapus batas antara "pelajaran agama" dan "pelajaran umum". Saat siswa belajar Matematika tentang peluang, guru dapat menghubungkannya dengan konsep takdir. Ketika membahas Biologi mengenai tubuh manusia, guru bisa menambahkan ayat yang menunjukkan kebesaran Allah dalam penciptaan manusia. Tujuannya adalah agar murid menyadari bahwa belajar sains juga merupakan bagian dari mengenal Allah (Ma’rifatullah).
2. Digitalisasi materi pembelajaran yang beradab
Menggunakan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan pemahaman agama. Kita bisa memakai aplikasi simulasi manasik haji yang berbasis VR (Virtual Reality), memanfaatkan animasi untuk menceritakan kisah Nabi (Sirah Nabawiyah), atau menggunakan platform interaktif untuk belajar tajwid. Namun, penting untuk diingat bahwa penggunaan teknologi harus disertai dengan etika digital agar teknologi tidak menjadi jalan menuju kemaksiatan.
3. Metode pembelajaran dialogis dan berpikir kritis
Berhenti menggunakan metode hafalan yang tidak efektif dan beralihlah ke cara diskusi aktif seperti yang diajarkan oleh Rasulullah. Guru memberikan masalah nyata, contohnya: bagaimana hukum transaksi digital? Lalu, guru mengajak siswa untuk berdiskusi mencari solusi berdasarkan prinsip-prinsip Al-Qur'an. Hal ini akan membantu mengembangkan daya nalar (Aql) murid. Tujuan utamanya adalah bahwa karakter tidak bisa diajarkan hanya dengan teori, tetapi harus "ditularkan" melalui contoh perilaku.
4. Pendidikan berbasis karakter dan keteladanan (uswah)
Pendidikan modern harus tetap fokus pada hubungan yang baik antara guru dan murid. Seorang guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga berperan sebagai mentor. Guru adalah contoh pertama dalam hal kejujuran, disiplin, dan kasih sayang sebelum meminta hal tersebut dari murid-muridnya. Tujuannya adalah bahwa karakter tidak bisa diajarkan hanya dengan teori; ia harus "ditularkan" melalui tindakan.
5. Menghargai bakat anak
Sistem pendidikan saat ini perlu memahami bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Sekolah seharusnya mendukung berbagai minat, seperti coding, seni, olahraga, atau menghafal Al-Qur'an. Tidak semua anak harus menjadi ahli di bidang yang sama. Tujuannya adalah agar setiap Muslim bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat sesuai dengan keahlian terbaik yang diberikan oleh Allah kepada mereka.
6. Sinergi pendidikan berbasis komunitas
Mengaitkan pendidikan di sekolah dengan peran orang tua di rumah sangat penting. Kita bisa membuat grup komunikasi yang rutin atau menggunakan aplikasi untuk memantau antara guru dan orang tua. Ini akan membantu memastikan bahwa nilai-nilai yang diajarkan di sekolah juga diterapkan dengan konsisten di rumah.
D. Mengapa harus menerapkan pendidikan Islam modern sesuai Al-Qur'an dan Sunnah?
1. Membendung arus sekularisme dan kemerosotan moral
Dunia saat ini menghadirkan tantangan berupa pemisahan antara kehidupan sehari-hari dan nilai-nilai keagamaan (sekularisme). Tanpa pendidikan Islam yang bisa menyesuaikan diri, siswa mungkin akan berpikir bahwa agama hanya ada di masjid atau saat mereka belajar tentang agama.
Pendidikan Islam modern mengajarkan bahwa setiap aktivitas, mulai dari pemrograman komputer hingga penelitian medis, adalah bentuk ibadah. Ini membantu mencegah munculnya "kepribadian ganda," di mana seseorang tampak taat beragama tetapi tidak jujur dalam pekerjaan mereka.
2. Kewajiban fardhu kifayah dalam penguasaan teknologi
Dalam kajian fikih, memenuhi kebutuhan masyarakat adalah suatu kewajiban. Jika umat Islam tidak memiliki ahli teknologi, dokter spesialis, atau pakar ekonomi syariah yang berkualitas, maka mereka akan sepenuhnya bergantung pada bangsa lain yang mungkin memiliki nilai-nilai yang berbeda.
Pendidikan ini bertujuan agar umat Islam bisa menjadi "pencipta peradaban", bukan hanya "pengguna". Kita memerlukan dokter yang menghafal Al-Qur'an sehingga dapat merawat pasien dengan penuh kasih sayang, dan kita juga membutuhkan ahli IT yang memahami hukum privasi dalam Islam untuk melindungi data umat.
3. Menjawab keraguan intelektual (syubhat) di era informasi
Saat ini, sangat mudah untuk menemukan pandangan yang meragukan keberadaan Tuhan atau kebenaran syariat di media sosial. Pendidikan Islam tradisional, yang hanya fokus pada hafalan, sering kali kesulitan menjawab pertanyaan kritis dari generasi Z. Di sisi lain, pendidikan Islam modern menggunakan logika dan sains untuk menunjukkan kebenaran wahyu.
Ketika anak-anak bertanya, "Mengapa babi haram?" atau "Bagaimana alam semesta terbentuk?", pendidikan ini memberikan jawaban dengan data ilmiah yang sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan begitu, iman mereka menjadi iman yang berdasarkan pengetahuan (yakin), bukan sekadar mengikuti orang lain.
4. Mengembalikan kejayaan "Golden Age" Islam
Sejarah menunjukkan bahwa ketika umat Islam menghargai Al-Qur'an dan juga terbuka terhadap ilmu pengetahuan, lahirlah para ilmuwan hebat seperti Al-Jazari, yang dikenal sebagai bapak robotika, dan Ibnu Haitham, yang disebut bapak optik. Mereka tidak pernah menganggap bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan Al-Qur'an. Menerapkan pemikiran ini adalah usaha untuk meraih kembali kejayaan tersebut. Kita ingin menunjukkan bahwa semakin dalam seseorang belajar tentang sains, seharusnya ia semakin percaya kepada Sang Pencipta.
E. Contoh penerapan pendidikan Islam modern sesuai Al-Qur'an dan Sunnah
Pendidikan Islam modern di Indonesia sekarang sudah lebih dari sekadar teori. Banyak lembaga telah berhasil menggabungkan kekuatan hafalan dan pemahaman kitab tradisional dengan teknologi dan sains yang canggih. Berikut ini adalah penjelasan rinci tentang cara penerapannya, beserta contoh institusi yang menjadi pelopor dalam bidang ini:
1. Model integrasi sains dan tauhid (Islamization of Knowledge)
Dalam model ini, pelajaran sains saling terhubung. Setiap fenomena alam dianggap sebagai tanda kebesaran Allah (Ayat Kauniyah). Ketika murid mempelajari astronomi tentang tata surya, guru tidak hanya menjelaskan jarak antara planet-planet, tetapi juga membacakan QS. Yasin ayat 40 yang menggambarkan keteraturan orbit yang diciptakan oleh Allah.
Tujuannya adalah agar siswa menjadi ilmuwan yang memiliki rasa spiritual. Salah satu contoh lembaga yang sudah menerapkan ini adalah Sekolah Islam Terpadu (SIT) di bawah jaringan JSIT, seperti SMA IT Nurul Fikri di Depok atau SMA IT Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Purwokerto. Universitas Islam Negeri (UIN) di berbagai kota juga menerapkan integrasi ilmu, contohnya UIN Sunan Kalijaga atau UIN Syarif Hidayatullah.
2. Pesantren modern (Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyyah)
Model ini menghapus anggapan bahwa santri hanya bisa membaca kitab kuning. Santri harus menguasai bahasa internasional, yaitu Arab dan Inggris, untuk memahami ilmu modern. Kurikulumnya menggabungkan 100% kurikulum pesantren dengan 100% kurikulum pemerintah.
Di pagi hari, santri belajar Fikih, sementara di siang hari mereka mempelajari Kimia atau Ekonomi dengan menggunakan bahasa asing. Ini merupakan penerapan hadits Nabi yang menekankan pentingnya belajar bahasa agar tidak tertipu atau tertinggal. Contohnya adalah Pondok Modern Darussalam Gontor (Ponorogo) beserta cabang-cabangnya dan Pesantren Tazakka (Batang).
3. Sekolah berbasis digital dan literasi Al-Qur'an
Lembaga ini memanfaatkan platform digital untuk memantau hafalan Qur'an dan pembelajaran akademis secara langsung. Mereka menggunakan aplikasi untuk tasmi' (menyimak) hafalan dari jarak jauh serta Learning Management System (LMS) yang dilengkapi dengan kuis-kuis yang berbasis nilai-nilai Islam. Ini sejalan dengan prinsip bahwa teknologi berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ilmu pengetahuan. Contohnya adalah Sekolah Insantama di Bogor yang fokus pada kepemimpinan Islam dan Global Islamic School (GIS) di Jakarta.
4. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) / SMK Islam
Menggunakan prinsip bahwa Islam mendukung kemandirian ekonomi dan keterampilan profesional. Siswa mendapatkan pelajaran tentang keterampilan khusus seperti robotika, multimedia, atau memasak, tetapi mereka juga diajari fikih muamalah agar bisa memahami batasan halal dan haram dalam berbisnis atau bekerja di masa depan. MAN Insan Cendekia (MAN IC) tersebar di seluruh Indonesia sebagai pusat keunggulan sains dan iman, sedangkan SMK Muhammadiyah ada di berbagai daerah dengan fokus pada keterampilan industri dan dakwah.
F. Tantangan dan solusi dalam menerapkan pendidikan Islam modern sesuai Al-Qur'an dan Sunnah
Menerapkan pendidikan Islam yang modern dan ideal tidaklah semudah yang dibayangkan. Terdapat konflik antara nilai-nilai mulia dari Al-Qur'an dan Sunnah dengan kenyataan dunia modern yang lebih fokus pada materi. Namun, setiap tantangan pasti memiliki solusi dalam syariat. Berikut adalah penjelasan lengkap tentang tantangan tersebut dan solusinya:
1. Dikotomi (pemisahan) ilmu dan kurikulum
Banyak sekolah masih memisahkan antara "ilmu agama" dan "ilmu dunia". Akibatnya, murid merasa bahwa ketika mereka belajar biologi, itu bukan ibadah, dan saat mengaji, mereka tidak perlu memikirkan sains. Untuk mengatasi masalah ini, sekolah sebaiknya merancang kurikulum di mana nilai-nilai Al-Qur'an menjadi bagian penting dalam setiap pelajaran umum. Misalnya, dalam pelajaran ekonomi, murid tidak hanya belajar teori pasar, tetapi juga diajarkan tentang etika muamalah dan bahaya riba.
2. Kesiapan dan kualitas sumber daya manusia (guru)
Masih sedikit guru yang ahli dalam ilmu sains dan juga memiliki pemahaman agama yang mendalam. Banyak guru agama yang tidak menguasai teknologi, sementara guru sains sering kali kurang memahami dasar-dasar akidah. Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu melakukan pelatihan berkelanjutan (In-house Training) dan standarisasi bagi para guru. Kita harus mendorong guru untuk terus belajar sepanjang hidup mereka (Long-life learner). Ini sejalan dengan pesan Imam Syafi'i bahwa ilmu harus selalu dicari. Lembaga perlu membantu guru agar bisa mendalami literasi digital tanpa kehilangan aspek spiritualnya.
3. Serangan nilai-nilai sekuler-liberal melalui teknologi
Arus informasi di internet menyebarkan paham hedonisme, atheisme, dan gaya hidup bebas yang bisa dengan mudah diakses oleh murid. Solusinya bukan dengan menjauhkan anak dari gadget, tetapi dengan memberikan "vaksin" berupa akidah yang kuat agar mereka bisa menyaring informasi sendiri. Pendidikan harus menjadi pelindung iman anak di dunia digital. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim surah ke 66: Ayat 6).
4. Budaya pragmatisme (hanya kejar ijazah)
Seringkali, orangtua dan murid hanya memperhatikan nilai akademis dan peluang kerja, sehingga mereka melupakan pentingnya adab dan pembentukan karakter. Sekolah perlu berkolaborasi dengan orang tua untuk mencapai pemahaman yang sama bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari gaji yang tinggi, tetapi juga dari keberkahan dalam hidup.
Penutup:
Pendidikan Islam modern sebenarnya menggabungkan iman dan ilmu secara utuh; keduanya saling terkait untuk menciptakan generasi yang kuat. Dari cerita Tsauban, kita bisa belajar bahwa tidak peduli seberapa tinggi pencapaian intelektual kita, semuanya harus berlandaskan cinta yang tulus kepada Allah dan Rasulullah.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip Al-Qur'an dan Sunnah dengan konsisten, kita sedang membangun dasar yang penting untuk mewujudkan Indonesia Emas yang beradab. Sebagaimana janji Rasulullah yang berbunyi; "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim, No. 2.699).
Sumber:
1. Al-Qur'an
- QS. Al-Kahf surah ke 18: Ayat 109.
- QS. Al-Qashash surah ke 28: Ayat 77.
- QS. Al-'Alaq surah ke 96: Ayat 1-5.
- QS. Al-Ahzab surah ke 33: Ayat 21.
- QS. Ali 'Imran surah ke 3: Ayat 190-191.
- QS. Al-A'raf surah ke 7: Ayat 56.
- QS. Al-Hasyr surah ke 59: Ayat 18.
- QS. At-Tin surah ke 95: Ayat 4.
- QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 30.
- QS. Ali 'Imran surah ke 3: Ayat 104.
- QS. At-Tahrim surah ke 66: Ayat 6.
2. Hadits nabi
- HR. Ahmad dan Bukhari no. 273 dalam kitab Adabul Mufrad.
- HR. Bukhari no. 1.358 dan Muslim no. 2.658.
- HR. Bukhari no. 7.137 dan Muslim no. 1.829.
- HR. Ibnu Majah, No. 3.671.
3. Kitab klasik ulama Ahlussunnah wal Jamaah
- Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
- Ta’limul Muta’allim Thariqut Ta’allum karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji.
- Ar-Risalah karya Imam Syafi'i.
- I’lamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.
- Adabul 'Alim wal Muta'allim karya KH. Hasyim Asy'ari.
4. Buku
- The Concept of Education in Islam karya Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
- Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi di tengah tantangan milenium III karya Azyumardi Azra.
- Tarbiyatil Islamiyyah wa Asalibuha (Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam) karya Abdurrahman An-Nahlawi diterjemahkan oleh Drs. Herry Noer Ali.
- Filsafat Pendidikan Islam karya Muzayyin Arifin.
- Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi, Filsafat dan Pendidikan karya Hasan Langgulung.
- Lembaga Budi karya Buya Hamka.
5. Jurnal & makalah ilmiah (hasil riset)
- Integrative-Interconnective Bakal Kurikulum Masa Depan oleh Amin Abdullah diterbitkan pada tahun 2004, dimuat di Jurnal Pendidikan Islam UIN Yogyakarta.
- Implementasi Kurikulum Integratif di Sekolah Islam Terpadu oleh Marno & Drajat diterbitkan pada tahun 2021 di Jurnal Tadris Malang: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim.
- Rencana Strategis (Renstra) Pendidikan Islam 2020-2024 oleh Kementerian Agama RI diterbitkan pada tahun 2022 oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Jakarta.
- Standar Mutu Sekolah Islam Terpadu oleh JSIT Indonesia diterbitkan pada tahun 2020 oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu, Jakarta.
Penulis: Maulana Aditia
Baca juga:
Komentar
Posting Komentar