Modal awal dalam menuntut ilmu
Artikel ini akan mengajak pembaca untuk menjelajahi enam pilar penting yang harus disiapkan oleh setiap pelajar sejati, yang dikenal sebagai "Modal Awal". Keenam pilar ini lebih dari sekadar kurikulum dan biaya; mereka juga mencakup niat, dukungan orang tua, adab, ketekunan, dan rasa ingin tahu yang tak pernah pudar. Mari kita bahas bersama mengapa niat yang tulus menjadi panduan utama, mengapa adab lebih bernilai daripada angka, dan bagaimana kesabaran menjadi aset paling berharga dalam perjalanan menuntut ilmu yang tidak hanya menerangi diri sendiri tetapi juga peradaban. Jika ingin pengetahuan yang diperoleh menghasilkan karya dan berkah, inilah panduan dasar yang perlu dikuasai.
1. Niat yang tulus dan ikhlas sebelum menuntut ilmu
Niat (al-niyyah) merupakan dasar dari setiap tindakan yang kita lakukan. Allah hanya mengakui amal yang dimulai dengan niat yang tulus untuk-Nya. Dalam banyak buku fiqh, para ulama, seperti Imam Nawawi dalam bukunya Al-Arba'in An-Nawawiyah, sering memulai dengan hadis terkenal yang mengatakan, "Setiap amal bergantung pada niatnya." Niat yang baik memastikan bahwa tujuan kita dalam mencari ilmu bukanlah untuk mendapatkan kekuasaan, kekayaan, atau pujian, tetapi semata-mata demi mendapatkan ridho-Nya dan melaksanakannya.
Niat yang tulus adalah hal yang membedakan antara 'ilmu' (pengetahuan) dan 'ma'rifah' (pemahaman mendalam yang menghasilkan kebijaksanaan). Pendidikan yang didasari niat tulus akan menghasilkan peserta didik yang memiliki karakter, bukan hanya kecerdasan. Niat ini akan memandu seluruh proses pembelajaran menuju tujuan yang mulia.
Niat ikhlas bertindak sebagai kompas mental yang sangat kuat. Ketulusan niat menciptakan ketenangan dalam diri karena motivasi berasal dari dalam (internal) dan tidak tergantung pada pengakuan dari luar. Ini membantu mengurangi rasa cemas dan stres yang sering muncul saat belajar, karena keberhasilan atau kegagalan tidak lagi menjadi ukuran utama.
Niat yang tulus dalam belajar tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat. Ilmu yang berasal dari niat baik akan menghasilkan amal yang bermanfaat untuk banyak orang. Niat ini memastikan bahwa ilmu yang diperoleh digunakan untuk kebaikan umat, bukan untuk menindas atau mengeksploitasi orang lain.
Dalam filsafat, niat berfungsi sebagai jembatan antara tujuan akhir dan tindakan. Para filsuf Muslim seperti Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulumiddin menekankan bahwa niat yang bersih adalah langkah pertama untuk membersihkan jiwa dan pikiran. Ini menjadi titik awal perjalanan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang kebenaran.
2. Mendapatkan doa restu dari orangtua
Islam menempatkan orangtua di posisi yang sangat penting. Doa mereka diyakini memiliki kekuatan besar, dan ridha mereka adalah ridha Allah. Hadits Nabi menyebutkan, "Ridho Allah tergantung pada ridho orangtua, dan murka Allah tergantung pada murka orangtua." Menerima doa restu dari orangtua adalah cara untuk mendapatkan berkah dari Allah melalui orang yang paling dicintai-Nya.
Dukungan dari orangtua menciptakan suasana spiritual yang baik. Bantuan emosional dan spiritual dari rumah memberikan ketenangan bagi mereka yang belajar. Para ulama zaman dahulu sering meminta izin dan doa restu dari orangtua sebelum memulai perjalanan panjang dalam menuntut ilmu. Doa restu dari orangtua memberikan rasa aman dan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan. Merasa bahwa ada orang terdekat yang tulus mendoakan kesuksesan kita akan membentuk mental yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan.
3. Adab dan akhlak yang baik kepada guru dan teman
Menghormati guru dianggap lebih penting daripada ilmu itu sendiri. Imam Malik mengatakan, "Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu." Ilmu yang diperoleh tanpa adab tidak akan memberikan berkah. Sebaliknya, sikap baik kepada guru akan membuat kita lebih mudah memahami dan menerima ilmu dengan hati. Adab berfungsi sebagai kurikulum tersembunyi yang membentuk karakter siswa.
Dalam pendidikan Islam, akhlak menjadi tujuan utama, sementara ilmu digunakan sebagai sarana untuk mencapainya. Hal ini menciptakan suasana belajar yang harmonis dan penuh rasa hormat. Perilaku dan akhlak yang baik membangun hubungan antarpribadi yang sehat. Menghormati guru membantu menciptakan hubungan positif dan mendukung, yang sangat penting untuk meningkatkan motivasi belajar. Bersikap baik kepada teman dapat mengurangi persaingan yang tidak sehat dan mendorong kerja sama.
Sikap sopan santun berfungsi sebagai perekat sosial. Dalam komunitas belajar, perilaku yang baik menciptakan norma-norma yang mendorong kolaborasi, empati, dan saling membantu, sehingga menghasilkan masyarakat pembelajar yang kuat. Dalam filsafat, adab adalah wujud dari kebijaksanaan praktis. Ini menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya memahami ide-ide abstrak, tetapi juga bisa menerapkannya dalam tindakan dan interaksi sehari-hari.
4. Sabar dan istiqomah dalam belajar
Kesabaran dan ketekunan adalah dua sifat yang sering disarankan dalam Al-Qur'an. Allah menyatakan dalam Surah Al-'Ashr bahwa manusia akan mengalami kerugian, kecuali bagi mereka yang beriman dan bersabar. Belajar adalah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, dan hanya dengan kesabaran serta konsistensi kita dapat memastikan kelanjutannya.
Kesabaran adalah kunci untuk menghadapi tantangan dalam belajar, sementara konsistensi adalah kunci untuk mempertahankan semangat dan tidak cepat menyerah. Keduanya menjadi dasar dari pembelajaran seumur hidup yang diinginkan dalam pendidikan Islam. Kesabaran berfungsi sebagai alat pertahanan mental. Dengan bersabar, seseorang dapat mengatasi rasa frustrasi dan kegagalan tanpa kehilangan semangat. Konsistensi membantu membentuk kebiasaan baik dan disiplin diri. Keduanya sangat penting untuk kesehatan mental saat mengejar ilmu.
Kesabaran dan konsistensi dalam belajar bersama akan menciptakan sebuah peradaban yang berpengetahuan. Sejarah peradaban Islam dibangun oleh para ulama yang dengan tekun meneliti dan mengembangkan ilmu selama berabad-abad. Sabar menunjukkan kekuatan niat kita. Dalam filsafat, ini berarti bahwa untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan, kita perlu ketahanan mental. Istiqomah adalah kebiasaan melakukan tindakan yang membentuk karakter kita.
5. Waktu dan biaya
Waktu adalah amanah yang sangat berharga. Dalam Surah Al-'Ashr, Allah bersumpah dengan waktu. Menggunakan waktu dengan baik untuk belajar adalah sebuah ibadah. Mengeluarkan biaya atau berkorban harta juga merupakan bentuk perjuangan di jalan Allah. Untuk mendapatkan pendidikan yang baik, kita perlu mengelola waktu dan sumber daya dengan hati-hati.
Ulama-ulama terdahulu, seperti Ibnu Jama'ah dalam kitabnyaTadzkiratus Sami' wal Mutakallim, menekankan pentingnya mengatur waktu belajar dan mengelola biaya dengan bijak. Menghargai waktu dan biaya dapat meningkatkan tanggung jawab serta mengurangi rasa penyesalan. Pengelolaan yang baik terhadap kedua sumber daya ini juga dapat mengurangi stres yang mungkin muncul akibat keterbatasan.
Waktu dan biaya merupakan modal sosial dan ekonomi. Dengan memanfaatkan keduanya secara efektif untuk pendidikan, kita dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam masyarakat, yang pada akhirnya akan memperbaiki kesejahteraan sosial. Waktu dan biaya berfungsi sebagai aspek material dari perjalanan spiritual. Waktu adalah sarana di mana seseorang mencapai tujuannya, sedangkan biaya adalah pengorbanan yang diperlukan untuk menemukan kebenaran. Keduanya menjadi ujian untuk menilai seberapa serius seseorang dalam mencari ilmu.
6. Rasa ingin tahu dan semangat yang tinggi
Dalam Islam, rasa ingin tahu berfungsi sebagai jembatan menuju keimanan yang lebih kuat. Allah sering mengingatkan manusia untuk merenung (Tafakkur) dan menggunakan akal mereka untuk memperhatikan ciptaan-Nya. Rasa ingin tahu yang tulus mendorong seseorang untuk mencari jawaban mengenai penciptaan alam semesta dan arti kehidupan, yang pada akhirnya membawa mereka kepada pemahaman yang lebih dalam tentang Allah. Semangat tinggi dalam menuntut ilmu dianggap sebagai salah satu bentuk jihad di jalan Allah.
Rasa ingin tahu juga menjadi penggerak utama dalam proses belajar. Kurikulum pendidikan Islam menekankan pentingnya siswa untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari kebenaran. Tanpa rasa ingin tahu, belajar hanya akan menjadi kegiatan menghafal yang tidak berarti. Semangat yang besar membantu siswa tetap termotivasi dan aktif menghadapi pelajaran yang sulit atau membosankan.
Dari sudut pandang psikologi, rasa ingin tahu adalah sifat alami manusia yang baik. Jiwa yang aktif dan bersemangat menunjukkan bahwa seseorang hidup dan berkembang. Ini berbeda dengan jiwa yang tidak peduli atau putus asa, yang cenderung stagnan. Rasa ingin tahu juga membantu orang menemukan makna dan tujuan dalam berbagai proses, yang sangat penting untuk kesehatan mental.
Dari sisi sosiologis, rasa ingin tahu dan semangat tinggi adalah kunci kemajuan suatu peradaban. Masyarakat yang memiliki kedua sifat ini akan menjadi inovatif, berani menghadapi tantangan, dan terus mencari solusi baru. Ini merupakan modal sosial yang sangat berharga untuk membangun peradaban yang maju dan adil.
Dalam filsafat, rasa ingin tahu merupakan dorongan dasar untuk mencapai kebenaran (haqq) dan kebijaksanaan (hikmah). Semua pertanyaan filosofis muncul dari rasa ingin tahu mendalam tentang keberadaan, pengetahuan, dan nilai-nilai. Semangat tinggi berarti tidak pernah berhenti mencari kebenaran meskipun ada banyak rintangan. Ini adalah perjalanan tanpa akhir yang membawa seseorang pada pemahaman lebih dalam tentang realitas.
Lalu, apa yang akan terjadi jika kita tidak mempunyai ke-enam modal diatas?
1. Sulit untuk Istiqomah dalam menuntut ilmu
Tanpa niat yang tulus, semangat untuk belajar sangat bergantung pada faktor luar seperti motivasi dari orang lain, nilai tinggi, atau pujian. Ketika menghadapi tantangan atau kesulitan, semangat belajar bisa langsung hilang karena tidak ada dorongan internal yang kuat untuk terus bertahan. Jika materi yang diajarkan sulit, seperti filsafat atau logika yang perlu pembaca pelajari, kurangnya kesabaran akan membuat pelajar menyalahkan kurikulum, guru, atau bahkan diri mereka sendiri. Akhirnya, mereka mungkin memilih jalan yang lebih mudah atau berhenti belajar sepenuhnya. Ini bertentangan dengan sabar dan istiqomah dalam Tali Ilmu & Ridho.
Baca juga: Tali Ilmu & Ridho
2. Setelah menuntut ilmu akan menjadi sombong dan menyalahgunakan ilmu yang didapatkan
Ilmu yang diperoleh tanpa adab dan niat yang tulus hanya akan memuaskan ego. Seseorang bisa merasa dirinya yang paling benar (merasa pintar di tingkat terendah dalam belajar) dan meremehkan orang lain, termasuk guru atau ulama. Mereka menggunakan ilmu untuk membenarkan kesalahan pribadi, menipu orang lain, atau mengejar kekuasaan yang merugikan.
Misalnya, seorang sarjana hukum mungkin memakai ilmunya untuk mengakali undang-undang, atau seorang pendidik dapat menggunakan pengetahuannya untuk mencari ketenaran tanpa integritas. Hal ini menghilangkan fungsi ilmu dalam menyucikan hati (Aksara Nurani Karya), melanggar adab kepada guru, dan membuat ilmu menjadi berbahaya.
Baca juga: Aksara Nurani Karya
3. Ilmu yang didapatkan tidak menjadi berkah
Meskipun sudah berhasil secara materi, ilmu tersebut tidak memberikan ketenangan batin. Rezeki yang diperoleh terasa cepat habis, waktu seolah tidak pernah cukup, dan masalah hidup datang silih berganti. Ilmu sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (contohnya, kita tahu betapa pentingnya shalat, tetapi sulit untuk tetap konsisten melakukannya). Ilmu menjadi hanya sekadar informasi tanpa dorongan spiritual. Doa restu dari orang tua dan niat yang ikhlas (ridho) hilang, padahal itu adalah kunci untuk mendapatkan berkah spiritual dalam Tali Ilmu & Ridho.
4. Kesulitan memahami ilmu yang dalam
Tanpa adab yang baik, guru hanya akan mengajarkan materi kurikulum yang bersifat teknis, yaitu ilmu pengetahuan. Mereka akan menahan diri untuk membagikan hikmah, seperti kebijaksanaan dan kiat sukses spiritual, yang berasal dari pengalaman bertahun-tahun. Para pelajar mungkin menjadi pintar dalam hal data, tetapi mereka tidak dapat melakukan analisis mendalam atau berpikir secara filosofis seperti yang seharusnya diajarkan. Mereka juga tidak bisa mencapai tingkat tertinggi dalam Piramida Berpikir Kreatif dan mendalam. Melanggar adab terhadap guru dan teman adalah kesalahan, karena mereka adalah sumber utama untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam dan berkah.
Baca juga: Piramida Berpikir Kreatif Dan Mendalam
5. Orientasi ilmu menjadi duniawi semata (gelar, uang, atau pujian (show off)
Tanpa adab yang baik, guru hanya akan mengajarkan materi kurikulum yang bersifat teknis, yaitu ilmu pengetahuan. Mereka akan menahan diri untuk membagikan hikmah, seperti kebijaksanaan dan kiat sukses spiritual, yang berasal dari pengalaman bertahun-tahun.
Para pelajar mungkin menjadi pintar dalam hal data, tetapi mereka tidak dapat melakukan analisis mendalam atau berpikir secara filosofis seperti itu seharusnya diajarkan. Mereka juga tidak bisa mencapai tingkat tertinggi dalam piramida berpikir kreatif dan mendalam. Melanggar adab terhadap guru dan teman adalah kesalahan, karena mereka adalah sumber utama untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam dan berkah.
6. Ilmu hanya akan menjadi teori yang tersimpan di kepala tanpa adanya hasil karya
Pelajar sering kali menjadi ensiklopedia yang berjalan; mereka memiliki banyak pengetahuan, tetapi jarang mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah atau memberikan kontribusi. Mereka tidak berhasil mengubah teori menjadi tindakan, yang dikenal sebagai sindrom "Tahu Tapi Diam". Hal ini melanggar prinsip Karya dalam Aksara Nurani Karya dan juga prinsip Tanggung Jawab Kontribusi dalam Tali Ilmu & Ridho. Pengetahuan yang mereka miliki tidak terwujud menjadi manfaat bagi masyarakat.
Penutup:
Sebagai penutup, kita perlu memahami bahwa belajar bukan hanya tentang mengisi pikiran dengan banyak informasi. Proses belajar adalah sebuah perjalanan untuk mengubah diri. Keenam modal awal yang telah kita bahas—mulai dari niat yang tulus, dukungan orangtua, akhlak yang baik, kesabaran yang kuat, pengorbanan waktu dan biaya, hingga semangat yang membara—bukanlah pilihan tambahan, melainkan dasar utama yang menentukan seberapa kuat atau lemahnya intelektual kita.
Mengabaikan atau kehilangan salah satu dari modal ini bisa menyebabkan masalah besar. Tanpa fondasi yang kuat, kita mungkin menjadi orang yang "pintar" secara akademis, tetapi lemah dalam karakter. Kita bisa terjebak dalam siklus ilmu yang tidak bermanfaat, sulit untuk konsisten, terkena sifat sombong, hanya mengejar pengakuan duniawi, dan akhirnya ilmu tersebut hanya menjadi teori di kepala tanpa menghasilkan karya yang berguna bagi orang lain.
Oleh karena itu, mari kita ingat kembali esensi dari perjalanan ini melalui prinsip Tali Ilmu & Ridho, "Ilmu tanpa Nurani adalah kegelapan, dan Karya tanpa Ridho adalah kesia-siaan. Maka, ikatlah ilmumu dengan adab yang kokoh, saringlah pikiranmu dengan niat yang murni, dan buktikan keberkahan belajarmu melalui karya yang menghidupkan hati."
Mari kita siapkan diri untuk menjadi generasi yang tidak hanya memiliki banyak pengetahuan, tetapi juga teguh dalam prinsip. Manfaatkan setiap detik dan setiap rupiah yang kita keluarkan sebagai investasi yang akan membawa kita ke derajat yang mulia di sisi Tuhan dan manusia. Karena pada akhirnya, seorang pencari ilmu sejati dinilai bukan dari seberapa banyak yang dia hafal, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dia berikan melalui karya-karya yang lahir dari hati nuraninya.
Sumber:
1. Al-Qur'an
- QS. Al-Ashr surah ke 103 Ayat 1-3.
- QS. Al-Isra' surah ke 17 Ayat 23-24.
- Q.S. Al-A'raf surah ke 13 Ayat 175-176.
- Q.S. Al-Baqarah surah ke 2 Ayat 269.
- Q.S. Al-Bayyinah surah ke 98 Ayat 5.
- Q.S. As-Saff surah ke 61 Ayat 2-3.
2. Hadits
- HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1.907.
- HR. Bukhari dalam kitab dalam Adabul Mufrad no. 1 dan Muslim no. 1.899.
- HR. Abu Dawud no. 3.664 dan no. 252.
3. KitÄb para ulama Ahlussunnah wal jamaah
- Kitab Al-Arba'in An-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi.
- KitÄb Ihya' Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali.
- Kitab Tadzkiratus Sami' wal Mutakallim karya Ibnu Jama'ah
- Kitab Ta'lim Muta'allim karya Imam Az-Zarnuji.
- Kitab Madarij As-Salikin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
- Kitab Al-Hikam karya Syaikh Ibnu 'Athâ'illah as-Sakandari
- KitÄb Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali
- Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka.
- Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar bin Katsir al-Qursyi ad-Damasyqi (Ibnu Katsir).
4. Artikel
5. Skripsi
- PENGARUH PENGAJIAN KITAB TA’LIM MUTA’ALLIMTERHADAP AKHLAK PESERTA DIDIK DI MTs DDI BANUA KEC. SENDANA KAB. MAJENE oleh Nurul Adianingsih dari Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam IAIN Pare-Pare, Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan.
6. Jurnal
- Adab Dalam Belajar Dan Pembelajaran; Strategi Untuk Meningkatkan Kesadaran Dan Keterampilan Siswa oleh Rachma Afwani dan Siti Masyithoh dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia.
- Pemahaman Mendalam: Jihad Intelektual dalam Pendidikan Agama Islam oleh Muhammad Sali dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Penulis: Maulana Aditia
Baca juga:
Komentar
Posting Komentar