Pelihara lah dirimu dan keluargamu dari api neraka
Tanggung jawab ini mungkin terasa berat, tetapi itu adalah bentuk cinta yang paling tulus. Merawat keluarga bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga tentang membangun kekuatan spiritual yang kuat. Dalam artikel ini, kita akan menggali lebih dalam makna dari perintah yang mulia ini, memahami peran setiap anggota keluarga, dan mencari langkah-langkah nyata untuk menciptakan rumah tangga yang bahagia di dunia dan selamat di akhirat.
A. Landasan tentang kewajiban memelihara diri dan keluarga dari api neraka
Allah meminta setiap Muslim untuk memiliki tanggung jawab utama menjaga diri dari dosa dan perbuatan salah yang bisa membawa mereka ke neraka. Allah juga menekankan pentingnya peran kepala keluarga (suami/ayah) dalam membimbing dan mengarahkan anggota keluarganya (istri dan anak-anak) agar mereka juga selamat dari api neraka. Meskipun ditujukan kepada laki-laki, makna ini berlaku bagi semua orang yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ٰูุۤงَ َُّููุง ุงَّูุฐَِْูู ุงٰู
َُْููุง ُْููุۤง ุงَُْููุณَُูู
ْ َูุงَ ُِْْููููู
ْ َูุง ุฑًุง َُّْูููุฏَُูุง ุงَّููุง ุณُ َูุง ْูุญِุฌَุง ุฑَุฉُ ุนَََْูููุง ู
َٰูุٓฆَِูุฉٌ ุบَِูุง ุธٌ ุดِุฏَุง ุฏٌ َّูุง َูุนْุตَُْูู ุงَّٰููู ู
َุงۤ ุงَู
َุฑَُูู
ْ ََْูููุนََُْููู ู
َุง ُูุคْู
َุฑَُْูู
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim surah ke 66: Ayat 6).
Allah juga mengingatkan kita tentang betapa menakutkannya api neraka, yang terbuat dari manusia dan batu sebagai bahan bakarnya. Ini memberikan gambaran yang sangat menyeramkan agar setiap Muslim memperhatikan dengan serius dalam menjaga diri dan keluarganya. Selain itu, disebutkan bahwa penjaga neraka adalah malaikat-malaikat yang kuat dan tegas, yang selalu patuh kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa di neraka tidak ada toleransi atau negosiasi, dan hukuman akan dilaksanakan sesuai perintah Allah tanpa pengurangan sedikit pun.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin (pemelihara) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (rakyatnya). Seorang imam (pemimpin negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki (suami/ayah) adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita (istri/ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1.829).
Makna dari hadits tersebut adalah setiap orang, tanpa melihat status atau jabatannya, memiliki tanggung jawab tertentu dalam hal “kepemimpinan” atau “pengelolaan.” Setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat untuk tanggung jawab yang diembannya. Ini menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa menghindar dari tanggung jawab. Selain itu, seorang ayah atau suami berperan sebagai “ra’i” (pemimpin/penggembala) bagi keluarganya. Tanggung jawabnya sangat besar, seperti memenuhi kebutuhan fisik dan spiritual keluarga, membimbing mereka ke jalan Allah, mengajarkan tauhid, shalat, akhlak baik, serta menjauhkan mereka dari perbuatan salah.
B. Makna “memelihara diri dari api neraka”
1. Meningkatkan ketakwaan individu
Ketakwaan (taqwa) adalah dasar penting untuk melindungi diri dari api neraka. Takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menghindari larangan-Nya dengan hati-hati dalam setiap pikiran, ucapan, dan tindakan karena rasa takut kepada-Nya serta harapan untuk mendapatkan ridho-Nya. Ini adalah usaha yang harus dilakukan terus-menerus dari dalam diri. Berikut penjelasannya:
a. Melaksanakan perintah Allah (shalat, puasa, zakat, haji jika mampu)
Ini adalah pilar-pilar agama kita. Shalat menghubungkan kita langsung dengan Allah; ini adalah cara kita bersyukur dan meminta. Puasa mengajarkan kita kesabaran dan menahan diri dari keinginan. Zakat membersihkan harta kita dan membantu orang lain. Haji, jika kita mampu, adalah ibadah tertinggi yang mengajarkan tentang kesetaraan dan pengorbanan. Melakukan semua ini dengan tulus menunjukkan ketaatan kita kepada Allah.
Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa: “Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari no. 8 dan muslim no. 16).
b. Menjauhi larangan-larangan Allah (perbuatan dosa besar dan kecil)
Kita harus mengikuti perintah Allah dan menghindari apa yang Dia larang. Ini termasuk dosa besar seperti zina, mencuri, membunuh, berbohong, minum alkohol, riba, dan ghibah (menggunjing). Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ุงِْู ุชَุฌْุชَِูุจُْูุง َูุจٰุٓฆِุฑَ ู
َุง ุชََُْْูููู ุนَُْูู َُِّูููุฑْ ุนَُْููู
ْ ุณَِّูุงٰุชُِูู
ْ َُููุฏْุฎُِْูููู
ْ ู
ُّุฏْุฎًَูุง َูุฑِْูู
ًุง
Artinya: "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (QS. An-Nisa' surah ke 4: Ayat 31).
Selain itu, dosa kecil juga perlu dihindari karena jika dilakukan terus-menerus, bisa menumpuk dan menjadi dosa besar. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ุงََّูุฐَِْูู َูุฌْุชَِูุจَُْูู َูุจٰุٓฆِุฑَ ุงْูุงِ ุซْู
ِ َูุง ََْูููุง ุญِุดَ ุงَِّูุง ุงَّููู
َู
َ ۙ ุงَِّู ุฑَุจََّู َูุง ุณِุนُ ุงْูู
َุบِْูุฑَุฉِ ۗ
Artinya: "(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya." (QS. An-Najm surah ke 53: Ayat 32).
c. Berusaha membersihkan diri dari sifat-sifat tercela (riya, sombong, dengki, dll.)
Ini adalah usaha melawan “penyakit hati.” Riya adalah beribadah agar orang lain melihat. Sombong berarti merasa lebih unggul dari orang lain. Dengki berarti tidak senang melihat kebaikan orang lain. Sifat-sifat ini dapat merusak amal baik kita dan menjauhkan kita dari Allah. Membersihkan hati dari sifat-sifat ini sangat penting untuk ketakwaan. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin menekankan pentingnya Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) sebagai syarat meraih manisnya iman.
d. Memperbaiki diri secara terus-menerus (muhasabah)
Muhasabah berarti melakukan introspeksi atau menilai diri sendiri. Setiap hari, kita harus memikirkan tentang apa yang telah kita lakukan, apakah itu sudah sesuai dengan perintah Allah, atau jika ada kesalahan yang perlu diperbaiki. Ini adalah proses untuk belajar dan berkembang yang terus berlangsung. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ٰูุۤงَ َُّููุง ุงَّูุฐَِْูู ุงٰู
َُْููุง ุงุชَُّููุง ุงَّٰููู َْููุชَْููุธُุฑْ َْูููุณٌ ู
َّุง َูุฏَّู
َุชْ ِูุบَุฏٍ ۚ َูุง ุชَُّููุง ุงَّٰููู ۗ ุงَِّู ุงَّٰููู ุฎَุจِْูุฑٌ ุจِูۢ
َุง ุชَุนْู
ََُْููู
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr surah ke 59: Ayat 18).
2. Menjaga diri dari perbuatan yang mengarah ke neraka
Selain meningkatkan ketakwaan, kita juga perlu secara aktif melindungi diri dari semua tindakan yang bisa membawa kita ke neraka, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ini adalah langkah pencegahan. Berikut penjelasannya:
a. Menghindari perbuatan syirik dan bid’ah
Syirik adalah tindakan menyekutukan Allah dengan hal lain dalam ibadah. Contohnya termasuk menyembah berhala, meminta bantuan kepada selain Allah, atau percaya pada kekuatan lain selain-Nya. Ini merupakan dosa yang paling besar dan tidak akan diampuni jika seseorang tidak bertaubat sebelum meninggal. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
َูุงِ ุฐْ َูุง َู ُْููู
ُٰู ِูุง ุจِْููٖ ََُููู َูุนِุธُูٗ ٰูุจََُّูู َูุง ุชُุดْุฑِْู ุจِุง ِّٰููู ۗ ุงَِّู ุงูุดِّุฑَْู َููุธُْูู
ٌ ุนَุธِْูู
ٌ
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar."" (QS. Luqman surah ke 31: Ayat 13).
Sementara itu, bid’ah berarti menciptakan hal-hal baru dalam agama yang tidak ada petunjuknya dari Nabi Muhammad. Kedua hal ini sangat berbahaya karena dapat merusak kemurnian tauhid dan ibadah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, "Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (Sunnah). Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (bid'ah), dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim no. 657).
b. Menjauhi makanan dan minuman yang haram
Islam mengajarkan untuk memilih makanan dan minuman yang halal dan baik (halalan thayyiban). Makanan dan minuman yang haram, seperti daging babi, minuman keras, darah, atau makanan yang diperoleh dari cara curang seperti mencuri atau berutang dengan riba, sangat dilarang. Mengonsumsi barang-barang haram tidak hanya dapat merusak kesehatan fisik tetapi juga dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang. Bahkan, hal ini bisa membuat doa menjadi tidak diterima.
Disebutkan bahwa, “"Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, dalam keadaan rambutnya kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Ya Rabbi… Ya Rabbi…”, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan? " (HR. Muslim no. 1.015).
c. Mengendalikan hawa nafsu yang buruk
Hawa nafsu adalah keinginan atau dorongan dari dalam diri kita. Ada jenis hawa nafsu yang baik, seperti keinginan untuk beramal baik dan ingin makan saat kita lapar. Namun, ada juga hawa nafsu yang buruk, seperti keinginan seksual yang tidak terkontrol, kemarahan, dan keserakahan. Kita perlu bisa mengendalikan hawa nafsu yang buruk ini agar tidak membawa kita ke dalam dosa. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, "Seorang mujahid (pejuang) adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah." (HR. Tirmidzi no. 1.621 & Ahmad no. 23.951 , dinilai shahih).
d. Berhati-hati dalam berucap dan bertindak
Lidah dan tubuh kita adalah tanggung jawab. Banyak dosa besar muncul dari ucapan yang tidak terjaga, seperti ghibah, fitnah, adu domba, dan sumpah palsu. Selain itu, tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti mencuri, menipu, dan menyakiti orang lain juga termasuk. Kita perlu berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara dan berbuat. Disebutkan bahwa “Barang siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (mulut/lidah) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), aku jamin baginya surga.” (HR. Bukhari no. 6.474).
C. Makna “memelihara keluarga dari api neraka”
1. Mengenalkan Allah, Rasulullah , dan pokok-pokok keimanan (Rukun Iman)
Orangtua perlu mengenalkan siapa Allah itu (Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta), siapa Nabi Muhammad (utusan terakhir Allah), dan apa saja rukun iman (percaya kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan takdir).
Mengajarkan tauhid (keesaan Allah) sejak dini sangat penting agar anak-anak tidak terjerumus ke dalam kesyirikan. Sebab, keimanan yang benar adalah syarat utama untuk masuk surga dan terhindar dari neraka. Tanpa iman yang kuat, semua amal ibadah bisa menjadi sia-sia. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, "Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat 'Laa ilaaha illallah'." (HR. Al-Hakim no. 7.606).
2. Menanamkan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari
Ajari anak-anak dan terapkan di dalam keluarga nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, sopan santun, kerendahan hati, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama, tidak sombong, tidak dengki, dan berbicara dengan baik. Akhlak yang baik menunjukkan iman seseorang. Sebaliknya, akhlak yang buruk dapat menjauhkan seseorang dari surga dan mendekatkannya ke neraka. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi no. 2.002).
3. Mengajarkan tata cara ibadah yang benar (Rukun Islam)
Ini termasuk cara melakukan shalat yang benar, puasa yang sah, cara berzakat, dan memahami kewajiban haji. Orangtua perlu membimbing anak-anak mereka dalam menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran Nabi. Ibadah yang dilakukan dengan benar dan diterima oleh Allah adalah jalan menuju surga. Mengabaikan atau melaksanakan ibadah dengan cara yang salah dapat membahayakan keselamatan di akhirat.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Al Mu'tamir, dari Ubaidullah, dari Abdul Malik bin Ar-Rabi' bin Sabrah, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkanlah anak-anak untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun." (HR. Abu Dawud no. 494 dalam Kitab Ash-Shalat (Shalat), Bab Mata Yu'maru Ash-Shabiyu bi Ash-Shalat (Kapan Anak Kecil Diperintahkan untuk Shalat)).
4. Membiasakan membaca Al-Qur’an di rumah
Al-Qur’an adalah panduan hidup yang jika kita ikuti, akan membawa kita ke surga. Rumah yang dipenuhi dengan Al-Qur’an akan mendapatkan berkah dan terhindar dari hal-hal buruk. Buatlah Al-Qur’an sebagai "teman" di rumah. Ajarilah anak-anak untuk membaca Al-Qur’an sejak usia dini, biasakan mereka untuk tadarus bersama, dan jelaskan artinya agar mereka bisa memahami pesan-pesan dari Allah.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim no. 804 dalam Kitab Shalat Al-Musafirina wa Qashruha (Shalatnya Orang-Orang yang Bepergian dan Qashar), Bab Fadhlu Qira'atil Qur'an wa Surati Al-Baqarah (Keutamaan Membaca Al-Qur'an dan Surat Al-Baqarah)).
5. Mencari nafkah yang halal dan menjauhi yang haram
Orangtua, khususnya ayah, perlu memastikan bahwa setiap penghasilan yang dibawa pulang untuk keluarga berasal dari cara yang halal (tidak curang, tidak riba, tidak korupsi, dan sebagainya). Makanan yang didapat dari harta haram dapat memberikan dampak negatif bagi keluarga dan sulit mendapatkan berkah. Harta haram adalah salah satu penyebab utama seseorang bisa terjerumus ke neraka. Ada hadits yang mengatakan bahwa tubuh yang tumbuh dari yang haram lebih pantas untuk api neraka.
Tidaklah daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram melainkan api neraka lebih pantas untuknya.” (HR. Tirmidzi no. 614 dalam kitab Al-Jana'iz (Jenazah), Bab Maa Jaa-a fil Taghlizi fi Aklil Haram (Tentang Kerasnya Larangan Memakan yang Haram)).
6. Menggunakan harta untuk kebaikan keluarga dan tidak bermewah-mewahan secara berlebihan
Ajarilah keluarga untuk bersyukur atas rezeki yang dimiliki dan menggunakan uang dengan bijak untuk kebutuhan penting, pendidikan, dan memberi sedekah. Hindari menggunakan harta untuk kemewahan berlebihan, pamer, atau boros. Hidup sederhana dan merasa cukup itu lebih baik. Pemborosan dan berfoya-foya adalah tindakan yang tidak disukai Allah dan dapat menjauhkan kita dari keberkahan. Terlalu mencintai dunia dan hidup mewah bisa membuat kita lupa akan kehidupan setelah mati.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
َูุง َّูุฐَِْูู ุงِุฐَุงۤ ุงََُْْููููุง َูู
ْ ُูุณْุฑُِْููุง ََููู
ْ َْููุชُุฑُْูุง ََููุง َู ุจََْูู ุฐَِٰูู ََููุง ู
ًุง
Artinya: "Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar," (QS. Al-Furqan surah ke 25: Ayat 67).
7. Menjaga suasana rumah dari hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam
Lingkungan rumah adalah pertahanan pertama kita. Jangan biarkan hal-hal yang tidak baik atau tidak berguna masuk ke dalam rumah, seperti tayangan yang penuh kekerasan, pornografi, atau yang membuat kita jauh dari ibadah. Buatlah suasana rumah yang Islami dan positif. Misalnya, hindari tontonan yang tidak mendidik. Lingkungan yang buruk bisa mempengaruhi sikap dan keyakinan anggota keluarga, sehingga bisa menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan salah.
Terdapat sebuah hadits tentang perintah untuk menjaga kesucian rumah dari simbol kemaksiatan, yang bunyinya; "Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung/gambar makhluk bernyawa yang disembah/diagungkan)." (HR. Bukhari no. 3.225 dalam Kitab Bad'u Al-Khalq (Permulaan Penciptaan), Bab Dhikru Al-Mala'ikah (Penyebutan Para Malaikat) & Muslim no. 2.106 dalam Kitab Al-Libas wa Az-Zinah (Pakaian dan Perhiasan), Bab Tahrimu Taswiri Al-Hayawan wa Tahrimu Ittikhadhi Al-Kilab Illa li Zar'in au Nashlin au Shaidin (Haramnya Menggambar Hewan dan Haramnya Memelihara Anjing Kecuali untuk Bertani, Menjaga Ternak, atau Berburu)).
8. Memberikan contoh teladan yang baik sebagai orangtua
Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan dengan apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi contoh yang baik dalam beribadah, berperilaku sopan, jujur, sabar, dan taat kepada Allah. Jangan hanya memberi perintah, tetapi juga tunjukkan melalui tindakan.
Contoh yang buruk dapat menjerumuskan anak-anak ke jalan yang salah dan membawa mereka ke neraka, dan orang tua pun akan diminta untuk bertanggung jawab. Sebaliknya, contoh yang baik akan menjadi cahaya bagi keluarga. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: "Anak adalah amanah bagi orang tuanya... jika ia dibiasakan dan diajarkan kebaikan, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan itu." (Kebaikan anak dimulai dari melihat kebaikan orang tuanya).
9. Mendorong anggota keluarga untuk bergaul dengan lingkungan yang baik
Pergaulan yang buruk dapat membawa seseorang ke jalan dosa dan kemaksiatan, yang bisa berujung di neraka. Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar. Ajarkan anak-anak untuk memilih teman yang baik, yang mengajak mereka melakukan kebaikan, bukan hal-hal buruk. Jika ada kesempatan, ajak mereka bergabung dalam komunitas atau kegiatan Islami. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan bahwa "Seseorang akan mencuri sifat dan karakter temannya tanpa dia sadari."
10. Mengadakan diskusi atau kajian agama dalam keluarga
Sesekali, luangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Bacalah Al-Qur’an beserta tafsirnya, diskusikan hadits, atau dengarkan ceramah agama. Kegiatan ini akan memperkuat pemahaman agama dan ikatan spiritual di antara anggota keluarga. Mengadakan majelis ilmu di rumah akan membawa keberkahan dan rahmat dari Allah. Ini juga menjadi cara untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, yang merupakan kunci untuk keselamatan.
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (atau tempat kebaikan) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan ketenangan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, dan malaikat mengelilingi mereka..." (HR. Muslim no. 2.699 dalam Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du'a wa At-Taubah wal Istighfar (Dzikir, Doa, Taubat, dan Istighfar), Bab Fadhlu Al-Ijtima' 'ala Tilawatil Qur'an wa Adz-Dzikr (Keutamaan Berkumpul untuk Membaca Al-Qur'an dan Berdzikir)).
D. Tanggung jawab setiap anggota keluarga
1. Tanggung jawab ayah sebagai kepala keluarga
Peran ayah dalam sebuah keluarga sangat penting. Ia adalah pemimpin yang mengarahkan rumah tangga, memastikan semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Ayah bertanggung jawab untuk membimbing semua anggota keluarga. Ia bukan hanya kepala rumah tangga, tetapi juga menjadi pengarah spiritual dan moral. Untuk menjalankan peran ini, ayah perlu memiliki kebijaksanaan, kesabaran, dan kemampuan untuk membimbing dengan cinta.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ุงَูุฑِّุฌَุง ُู ََّููุง ู
َُْูู ุนََูู ุงِّููุณَุงุٓกِ ุจِู
َุง َูุถََّู ุงُّٰููู ุจَุนْุถَُูู
ْ ุนَٰูู ุจَุนْุถٍ َّูุจِู
َุงۤ ุงََُْْููููุง ู
ِْู ุงَู
َْูุง ِِููู
ْ
Artinya: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisa’ surah ke 4: Ayat 34).
Selain itu, ayah menyediakan kebutuhan finansial untuk keluarganya dari sumber yang halal dan baik. Ia juga harus menjadi contoh nyata dalam semua aspek kehidupan, seperti ibadah, akhlak, kejujuran, kesabaran, dan cara berinteraksi dengan orang lain. Teladan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada seribu nasihat. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama terkenal, dalam kitabnya Tuhfatul Maulud bi Ahkamil Maulud menekankan bahwa anak mempunyai hak untuk dididik dengan akhlak yang baik oleh orang tuanya, termasuk memberikan teladan.
Terakhir, ayah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan istri dan anak-anaknya memahami agama dengan baik. Ini tidak hanya berarti menyekolahkan mereka di madrasah, tetapi juga secara aktif mengajarkan rukun iman, rukun Islam, membaca Al-Qur’an, dan membimbing mereka dalam praktik ibadah sehari-hari. Dia harus menjadi guru pertama bagi keluarganya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud no. 495).
2. Tanggung jawab ibu
Peran seorang ibu dalam keluarga sangat penting. Ia adalah sumber kasih sayang, pengatur rumah tangga, dan yang paling utama, pendidik pertama bagi anak-anak. Ibu berfungsi sebagai "sekolah" pertama dan terpenting bagi anak. Sejak masih di dalam kandungan, ia sudah mulai berinteraksi dan membentuk karakter dasar si anak. Kualitas seorang ibu sangat mempengaruhi kualitas generasi berikutnya. Ia adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktu dengan anak pada masa-masa pertumbuhan yang krusial. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 7.138 dan Muslim no. 1.829).
Ibu adalah orang yang paling sering dan intens berinteraksi dengan anak. Ia memiliki peluang besar untuk mengajarkan akidah, akhlak yang baik, dan adab sehari-hari (seperti cara makan, berbicara, dan berdoa), serta menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya sejak anak masih kecil. Ini bisa dilakukan melalui cerita, pembiasaan, dan contoh langsung. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa pendidikan anak di usia dini sangat penting karena ini adalah waktu terbaik untuk membentuk karakter dan menanamkan kebaikan.
3. Tanggung jawab anak
Anak-anak bukan hanya penerima pasif dalam keluarga; mereka juga memiliki tanggung jawab penting. Mereka harus menghormati, mendengarkan, dan mengikuti perintah orangtua, asalkan perintah tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Ketaatan ini menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang kepada orang tua. Menentang orangtua adalah dosa besar yang bisa berujung pada siksaan di neraka. Sebaliknya, berbakti kepada orangtua dapat membuka jalan menuju surga.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ََููุถٰู ุฑَุจَُّู ุงَ َّูุง ุชَุนْุจُุฏُْูุۤง ุงَِّูุงۤ ุงَِّูุงُู َูุจِุง َْููุง ِูุฏَِْูู ุงِุญْุณَุง ًูุง
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’ surah ke 17: Ayat 23).
Anak-anak harus belajar ilmu, terutama ilmu agama, karena itu akan membantu mereka di dunia dan akhirat. Mereka perlu serius dalam mencari ilmu yang diberikan oleh orang tua, guru, atau ulama. Ilmu agama berfungsi sebagai cahaya yang menunjukkan jalan yang benar dan menjauhkan dari kesesatan yang bisa membawa ke neraka. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2.699).
Setelah anak-anak memahami agama, mereka juga harus saling mengingatkan anggota keluarga lainnya (seperti kakak, adik, atau bahkan orang tua jika mereka lupa) tentang kebaikan dan kebenaran dengan cara yang sopan dan bijaksana. Ini menunjukkan rasa peduli dan cinta mereka karena Allah. Saling mengingatkan adalah bagian dari perintah Allah untuk saling menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran, yang merupakan salah satu kunci untuk mencapai keselamatan dari kerugian.
E. Konsekuensi jika lalai dalam memelihara diri dan keluarga dari api neraka
1. Dosa dan azab di akhirat dan azab di akhirat
Konsekuensi paling serius dari kelalaian ini adalah dosa besar dan hukuman di akhirat. Tujuan utama dari perintah “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah untuk menyelamatkan kita dari siksa neraka. Ketika seseorang mengabaikan hal ini, ia tidak hanya membahayakan dirinya sendiri tetapi juga orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.
Allah telah memberi kita petunjuk yang jelas melalui Al-Qur’an dan Sunnah tentang cara hidup yang benar agar terhindar dari neraka. Jika kita mengetahui ada bahaya tetapi tidak menjauhinya, terutama membiarkan orang tercinta kita menuju bahaya itu, maka kita telah melakukan kesalahan besar. Kelalaian dalam membimbing keluarga ke jalan Allah, tidak mengajarkan agama, atau membiarkan mereka terjerumus dalam kemaksiatan, akan menjadi beban dosa yang sangat berat pada Hari Kiamat.
Imam Ibnu Katsir, dalam tafsirnya mengenai QS. At-Tahrim ayat 6, menjelaskan bahwa jika seseorang tidak mengajarkan kebaikan kepada keluarganya dan tidak melarang kemungkaran, maka ia telah lalai dari amanah Allah dan berisiko menghadapi azab-Nya. Beliau juga mengutip perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang menafsirkan ayat ini sebagai “Ajarkanlah mereka (keluargamu) kebaikan dan didiklah mereka (untuk mengerjakan) kebaikan.”
2. Keluarga yang tidak harmonis dan tidak berkah di dunia
Mengabaikan aspek agama tidak hanya berpengaruh pada kehidupan setelah mati, tetapi juga dapat menimbulkan masalah serius dalam kehidupan sehari-hari keluarga, yang membuatnya tidak harmonis dan kurang berkah. Ketika anggota keluarga tidak mengikuti nilai-nilai agama, mereka cenderung mengejar keinginan dan kepentingan pribadi. Hal ini bisa mengakibatkan pertikaian, ketidakjujuran, perpecahan, dan kurangnya rasa hormat.
Hubungan antara suami dan istri bisa menjadi goyah, anak-anak bisa memberontak, dan suasana di rumah menjadi tegang. Keluarga yang menjauh dari ajaran Allah akan kehilangan keberkahan, rezeki terasa sempit, dan sulit untuk menemukan kebahagiaan sejati. Walaupun ini bukan siksaan neraka secara langsung, hidup yang kacau dan tidak diberkati bisa mencerminkan hati yang jauh dari Allah. Hal ini pada akhirnya bisa menyebabkan penderitaan di akhirat.
Keharmonisan dan keberkahan adalah sebagian dari tanda bahwa Allah meridhai kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
َูู
َْู ุงَุนْุฑَุถَ ุนَْู ุฐِْูุฑِْู َูุงِ َّู َูููٗ ู
َุนِْูุดَุฉً ุถًَْููุง
Artinya: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit,” (QS. Ta-Ha surah ke 20: Ayat 124).
3. Generasi yang jauh dari nilai-nilai agama
Ketidakpedulian orang tua dalam mengajarkan agama dapat menjadi awal bagi generasi yang jauh dari nilai-nilai keagamaan, bahkan bisa menyebabkan kerusakan pada generasi tersebut. Anak-anak sangat mudah meniru. Jika mereka tidak diajari agama sejak dini, tidak melihat contoh baik dari orang tua, dan tidak terbiasa melakukan ibadah, mereka akan tumbuh tanpa dasar spiritual yang kuat.
Hal tersebut membuat mereka lebih rentan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan, seperti narkoba, pergaulan bebas, atau ideologi yang salah. Akibatnya, mereka bisa menjadi individu yang tidak mengenal Tuhan, kurang berakhlak, dan bahkan menjadi beban bagi masyarakat. Generasi yang jauh dari ajaran agama sangat mudah terjebak dalam perbuatan buruk dan dosa, yang bisa membawa mereka ke neraka. Orang tua yang mengabaikan pendidikan ini mungkin juga akan menanggung beban dosa anak-anaknya.
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjelaskan secara mendetail tentang pentingnya mendidik anak sejak dini dan bahaya membiarkan mereka tumbuh tanpa bimbingan agama. Ia mengatakan bahwa jiwa anak itu seperti kain putih, siap untuk menerima segala jenis goresan. Jika goresannya baik, maka hasilnya pun baik; sebaliknya, jika goresannya buruk, maka hasilnya juga buruk.
4. Kurangnya keberkahan dalam hidup dan rezeki
Keberkahan adalah peningkatan kebaikan dan manfaat dari sesuatu, meskipun jumlahnya sedikit. Keluarga yang menjauh dari Allah dan mengabaikan kewajiban agama akan kehilangan keberkahan ini. Jika rumah tidak dipenuhi dengan ibadah, zikir, dan pendidikan agama, maka keberkahan akan hilang. Meskipun rezeki banyak, bisa terasa kurang atau cepat habis untuk hal-hal yang tidak berguna. Kesehatan bisa terganggu, kebahagiaan terasa tidak nyata, dan masalah datang satu demi satu. Semua ini terjadi karena Allah menarik dukungan dan rahmat-Nya dari keluarga tersebut.
Banyak ulama modern seperti Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid dan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi sering menekankan bahwa masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi umat Islam saat ini banyak disebabkan oleh ketidakpedulian mereka terhadap ajaran agama, yang mengakibatkan hilangnya berkah. Banyak hadits menjelaskan bahwa berkah datang dari ketaatan dan menjauhi perbuatan dosa. Contohnya termasuk keberkahan dari sedekah, menjaga silaturahmi, dan lain-lain. Sebaliknya, perbuatan dosa dan kelalaian dapat menghilangkan berkah tersebut.
5. Kerusakan dalam masyarakat
Keluarga merupakan bagian penting dari masyarakat. Jika bagian ini tidak dijaga dengan baik, terutama dalam hal agama, dampaknya akan terasa di seluruh masyarakat. Ketika keluarga tidak dapat mendidik anak-anak yang shalih, melainkan justru menghasilkan anak-anak yang nakal, suka berbuat salah, atau bahkan terlibat dalam tindakan kriminal, mereka akan menjadi beban bagi masyarakat dan sumber masalah.
Anak-anak ini mungkin terlibat dalam kejahatan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, atau menyebarkan ide-ide yang salah. Ini semua adalah akibat dari kurangnya perhatian orangtua. Orang yang merusak masyarakat tidak hanya berisiko mendapatkan hukuman untuk diri sendiri, tetapi juga dapat menambah dosa orang lain yang terpengaruh oleh perilakunya yang buruk. Ini adalah salah satu bentuk "neraka" di dunia yang dapat memperburuk keadaan di akhirat.
Kerusakan ini biasanya dimulai dari individu dan keluarga yang tidak baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ุธََูุฑَ ุงَْููุณَุง ุฏُ ِูู ุงْูุจَุฑِّ َูุง ْูุจَุญْุฑِ ุจِู
َุง َูุณَุจَุชْ ุงَْูุฏِู ุงَّููุง ุณِ ُِููุฐَُِْูููู
ْ ุจَุนْุถَ ุงَّูุฐِْู ุนَู
ُِْููุง َูุนََُّููู
ْ َูุฑْุฌِุนَُْูู
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS. Ar-Rum surah ke 30: Ayat 41).
Jika orangtua tidak memberikan pendidikan yang baik kepada anaknya, dan anak tersebut berperilaku buruk di masyarakat, ada kemungkinan orang tua juga akan ikut menanggung kesalahan tersebut. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang memulai suatu perbuatan buruk dalam Islam, maka dia mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1.017).
6. Terputusnya silsilah kebaikan (generasi pemutus rantai amal shalih)
Jika generasi sekarang tidak memperhatikan pendidikan agama, kemungkinan besar generasi selanjutnya juga akan semakin menjauh dari nilai-nilai agama, bahkan bisa lebih parah. Hal ini dapat memutuskan hubungan kebaikan yang seharusnya terus berlanjut. Agama dan kebaikan biasanya diwariskan dari orangtua kepada anak-anak. Jika orangtua tidak mengajarkan atau memberikan contoh yang baik, anak-anak tidak akan memiliki pengetahuan tersebut.
Akibatnya, mereka pun tidak akan mampu mengajarkan hal yang sama kepada anak-anak mereka di masa depan. Rantai kebaikan terputus, dan generasi mendatang dapat semakin jauh dari Allah. Imam Ibnul Jauzi dalam Saydul Khatir sering mengingatkan kita untuk memikirkan masa depan spiritual anak-anak, bukan hanya hal-hal duniawi. Pendidikan agama adalah investasi yang tidak akan pernah hilang. Jika orang tua lalai dalam mendidik anak, mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala dari doa anak yang baik.
F. Cara mengimplementasikan perintah ini dalam kehidupan sehari-hari
1. Memperbaiki ibadah dan akhlak pribadi
Sebelum kita dapat membimbing orang lain, kita perlu memastikan bahwa diri kita berada di jalur yang tepat. Meningkatkan diri adalah langkah pertama yang sangat penting. Kita harus serius dalam beribadah, seperti shalat tepat waktu dan puasa, serta menjaga sikap kita agar selalu baik. Misalnya, kita harus jujur dalam berbicara, tidak mudah marah, bersabar, dan selalu berusaha untuk berbuat baik kepada orang lain. Contohnya adalah membiasakan diri untuk berkata jujur meskipun sulit dan meminta maaf jika melakukan kesalahan.
2. Saling mengingatkan dan menasihati dengan hikmah
Keluarga yang baik adalah keluarga yang saling peduli, terutama dalam hal agama. Mereka tidak ragu untuk mengingatkan anggota keluarga jika ada yang lupa untuk shalat, melakukan kesalahan, atau berbuat hal yang kurang baik. Namun, cara mereka mengingatkan harus lembut, penuh kasih sayang, dan memilih waktu yang tepat, bukan dengan teriakan atau kemarahan. Begitu juga sebaliknya, anak-anak dapat mengingatkan orang tua dengan sopan. Misalnya, “Kak, jangan terlalu lama main game, nanti kita ketinggalan shalat Isya.” atau “Ayah, sudah waktunya shalat Ashar, ayo kita shalat berjamaah.”
3. Menjadwalkan kegiatan keagamaan bersama keluarga
Membuat rutinitas ibadah bersama akan memperkuat hubungan spiritual dalam keluarga. Sisihkan waktu khusus setiap hari atau minggu untuk beribadah bersama. Ini bisa berupa shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, atau mengaji/kajian singkat. Hal ini akan menciptakan suasana religius di rumah dan membiasakan anak-anak dengan kegiatan ibadah.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian kuburan (tidak ada shalat dan membaca Al-Qur’an di dalamnya). Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 780).
Misalnya, kita bisa shalat Maghrib berjamaah di rumah, kemudian membaca beberapa ayat Al-Qur’an bersama-sama. Kita juga bisa mengajak keluarga untuk ikut kajian di masjid terdekat atau menghadiri majelis ilmu. Selain itu, kita dapat mengadakan “kajian keluarga” singkat, membaca kisah nabi, atau mendengarkan ceramah agama dari Youtube, lalu mendiskusikan maknanya.
4. Memilih lingkungan yang baik untuk keluarga
Lingkungan memiliki dampak besar pada perkembangan iman dan akhlak. Usahakan untuk memilih tempat tinggal yang mendukung nilai-nilai Islam, seperti yang dekat dengan masjid, sekolah Islam, atau komunitas Muslim yang baik. Jika itu tidak mungkin, pastikan anak-anak berteman dengan teman-teman yang saleh dan hindari pergaulan yang bisa membawa mereka kepada maksiat. Misalnya, carilah rumah dekat masjid atau pesantren yang memiliki komunitas Islami dan batasi atau larang anak bergaul dengan orang-orang yang jelas-jelas memberikan pengaruh buruk.
5. Memanfaatkan teknologi dengan bijak untuk pendidikan agama
Teknologi bisa menjadi pedang bermata dua; ia dapat merusak tetapi juga memiliki banyak manfaat. Kita harus menggunakan internet, smartphone, atau televisi untuk hal-hal yang positif dan mendidik tentang agama. Contohnya, kita bisa mendengarkan ceramah dari ulama terkenal, menonton film Islami yang mendidik, atau mengikuti akun media sosial yang menyebarkan kebaikan.
Penting untuk membatasi penggunaan teknologi yang membuat kita teralihkan atau berisi konten negatif. Misalnya, kita bisa berlangganan saluran YouTube ceramah agama dari ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang terpercaya seperti Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdul Somad, Buya Yahya, dan lainnya. Selain itu, pastikan anak-anak hanya mengakses konten yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan batasi waktu mereka di depan layar.
6. Senantiasa berdoa kepada Allah untuk kemudahan dan hidayah
Semua usaha kita tidak akan berhasil tanpa bantuan Allah. Setelah kita berusaha sebaik mungkin, penting untuk menyerahkan hasilnya kepada-Nya dan memohon pertolongan. Berdoalah secara teratur agar Allah memudahkan kita dalam mendidik keluarga, memberikan petunjuk kepada setiap anggota keluarga, dan melindungi mereka dari api neraka. Doa orang tua untuk anak-anaknya sangat diterima. Misalnya, setelah shalat fardhu, luangkan waktu untuk berdoa demi kebaikan keluarga. Salah satu cara adalah dengan membaca doa ini:
ุฑَุจََّูุง َูุจْ ََูููุง ู
ِْู ุงَุฒَْูุง ุฌَِูุง َูุฐُุฑِّّٰูุชَِูุง ُูุฑَّุฉَ ุงَุนٍُْูู َّูุง ุฌْุนََْููุง ِْููู
ُุชََِّْููู ุงِู
َุง ู
ًุง
Artinya :”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan surah ke 25: Ayat 74).
Penutup:
Melindungi diri dan keluarga dari api neraka bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam sehari, tetapi merupakan perjalanan panjang yang memerlukan konsistensi, kesabaran, dan ketulusan. Kita sudah menyadari bahwa tanggung jawab ini dimulai dengan memperbaiki diri sendiri, yang kemudian meluas menjadi memberikan bimbingan dengan kasih sayang kepada pasangan dan anak-anak.
Mengabaikan amanah ini tidak hanya berisiko terhadap keharmonisan di dunia, tetapi juga dapat memiliki konsekuensi berat di hadapan Sang Pencipta. Namun, setiap usaha kecil yang kita lakukan untuk menerapkan nilai-nilai agama di rumah setiap doa yang dipanjatkan, setiap nasihat yang disampaikan dengan bijak, dan setiap contoh baik yang ditunjukkan adalah investasi abadi yang tidak akan sia-sia.
Saat ini, pilihan ada di tangan kita. Mari kita buat rumah kita menjadi tempat penuh cinta, di mana cahaya Al-Qur'an selalu bersinar dan ketaatan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jangan tunggu lagi untuk memulai; mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan lakukan segera. Semoga Allah selalu memberikan hidayah-Nya, menguatkan langkah kita dalam memimpin keluarga, dan kelak mengumpulkan kita kembali bersama orang-orang tercinta di surga-Nya tanpa ada satu pun yang tertinggal.
Referensi:
1. Al-Qur'an
- QS. At-Tahrim surah ke 66: Ayat 6.
- QS. An-Nisa' surah ke 4: Ayat 31.
- QS. An-Najm surah ke 53: Ayat 32.
- QS. Al-Hasyr surah ke 59: Ayat 18.
- QS. Luqman surah ke 31: Ayat 13.
- QS. Al-Furqan surah ke 25: Ayat 67.
- QS. An-Nisa’ surah ke 4: Ayat 34.
- QS. Al-Isra’ surah ke 17: Ayat 23.
- QS. Ta-Ha surah ke 20: Ayat 124.
- QS. Ar-Rum surah ke 30: Ayat 41.
- QS. Al-Furqan surah ke 25: Ayat 74.
2. Hadits nabi
- HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1.829.
- HR Bukhari no. 8 dan muslim no. 16.
- HR. Muslim no. 657.
- HR. Muslim no. 1.015.
- HR. Tirmidzi no. 1.621 & Ahmad no. 23.951 , dinilai shahih.
- HR. Bukhari no. 6.474.
- HR. Al-Hakim no. 7.606.
- HR. Tirmidzi no. 2.002.
- HR. Abu Dawud no. 494 dalam Kitab Ash-Shalat (Shalat), Bab Mata Yu'maru Ash-Shabiyu bi Ash-Shalat (Kapan Anak Kecil Diperintahkan untuk Shalat).
- HR. Muslim no. 804 dalam Kitab Shalat Al-Musafirina wa Qashruha (Shalatnya Orang-Orang yang Bepergian dan Qashar), Bab Fadhlu Qira'atil Qur'an wa Surati Al-Baqarah (Keutamaan Membaca Al-Qur'an dan Surat Al-Baqarah).
- HR. Tirmidzi no. 614 dalam kitab Al-Jana'iz (Jenazah), Bab Maa Jaa-a fil Taghlizi fi Aklil Haram (Tentang Kerasnya Larangan Memakan yang Haram).
- HR. Bukhari no. 3.225 dalam Kitab Bad'u Al-Khalq (Permulaan Penciptaan), Bab Dhikru Al-Mala'ikah (Penyebutan Para Malaikat) & Muslim no. 2.106 dalam Kitab Al-Libas wa Az-Zinah (Pakaian dan Perhiasan), Bab Tahrimu Taswiri Al-Hayawan wa Tahrimu Ittikhadhi Al-Kilab Illa li Zar'in au Nashlin au Shaidin (Haramnya Menggambar Hewan dan Haramnya Memelihara Anjing Kecuali untuk Bertani, Menjaga Ternak, atau Berburu).
- HR. Muslim no. 2.699 dalam Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du'a wa At-Taubah wal Istighfar (Dzikir, Doa, Taubat, dan Istighfar), Bab Fadhlu Al-Ijtima' 'ala Tilawatil Qur'an wa Adz-Dzikr (Keutamaan Berkumpul untuk Membaca Al-Qur'an dan Berdzikir).
- HR. Abu Dawud no. 495.
- HR. Bukhari 7.138 dan Muslim no. 1.829.
- HR. Muslim no. 2.699.
- HR. Muslim no. 1.017.
- HR. Muslim no. 780.
3. Kitฤb para ulama
- Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali.
- Madarijus Salikin karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah.
- Tuhfatul Maulud bi Ahkamil karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
- Adab ad-Dunya wa ad-Din karya Imam Al-Mawardi.
- Al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari.
- Tafsir Al-Qur'an al-Azhim (Tafsir Ibnu Katsir) karya Imam Ibnu Katsir.
- Al-Fawaid karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah.
4. Jurnal
- Konsep Pendidikan Keluarga dalam Al-Qur’an Surah At-Tahrim Ayat 6 oleh Moh. Roqib.
- Tanggung Jawab Kepala Keluarga dalam Perspektif Hukum Islam oleh Khoiruddin Nasution.
- Internalisasi Nilai-Nilai Karakter dalam Keluarga Berdasarkan QS. At-Tahrim Ayat 6 oleh Zainuddin.
- Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak Dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim Ayat 6 oleh Heni Ariyani.
- Implementasi Pendidikan Islam dalam Keluarga: Analisis Tafsir Surah At-Tahrim Ayat 6 oleh Herlin Etika Bakti & Risnawati.
- Pendidikan Karakter dalam Lingkungan Keluarga oleh Sri Suyanta.
5. Artikel
- Building a God-Conscious Family oleh Dr. Muzammil Siddiqi (Mantan Presiden ISNA).
- Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat.
- The Role of Muslim Parents in the West/Modern Era oleh Dr. Bilal Philips.
- Keteladanan Orang Tua dalam Pendidikan Anak oleh Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka) dalam Tafsir Al-Azhar.
- Membina Keluarga Sakinah oleh K.H. Sahal Mahfudh (Mantan Rais Aam Syuriah PBNU).
Penulis: Maulana Aditia
Baca juga:
Komentar
Posting Komentar