Sejarah asal mula bangsa Yahudi
Yahudi adalah istilah yang mengacu pada agama, bangsa atau kelompok etnis. Sebagai sebuah agama atau kepercayaan, istilah ini mengacu pada orang-orang Yahudi. Banyak orang mungkin menganggap bangsa Yahudi identik dengan negara Israel saat ini. Meski keduanya memiliki nama yang sama, namun keduanya merupakan hal yang berbeda. Bangsa Yahudi merupakan suku bangsa yang merupakan keturunan dari keturunan Nabi Ibrahim, khususnya keluarga Nabi Ishaq. Nabi Ibrahim mempunyai dua istri, Sarah dan Siti Hajar. Namun keturunan terpenting yang berperan penting dalam sejarah Israel berasal dari Sarah.
Dari pernikahannya dengan Sarah, Nabi Ibrahim dikaruniai seorang putra bernama Ishaq. Setelah dewasa, Nabi Ishaq menikah dengan seorang wanita bernama Ribka, dan setelah puluhan tahun menikah tanpa anak, Allah menjawab doanya dan memberi mereka anak kembar, Esau dan Ya'kub. Namun Esau dan Ya'kub tidak pernah akur sehingga Nabi Ishaq dan istrinya berencana untuk memisahkan mereka berdua. Ibu Ya'kub menyarankan untuk mengunjungi pamannya bernama Laban di Babilonia, Irak dan ia pn setuju dengan saran ibunya.
Ya'kub berangkat ke Irak pada malam hari untuk menghindari kejaran Esau dari sinilah kemudian ia mendapatkan gelar Israil yang artinya berjalan mala dan anak cucu keturunannya bernama Bani Israil. Ketika sampai di Irak, diterima dengan baik oleh pamannya. Laban dikenal mempunyai kepribadian yang baik, ia merupakan seorang kaya raya yang baik, suka menolong dan dermawan. Ya'kub kemudian diangkat menjadi angkatnya karena Laban tidak mempunyai anak laki-laki.
Kemudian setelah Ya'kub dewasa dinikahkan dengan anak perempuan Laban bernama Layya dan Rahiel. Keduanya saudara kandung kakak beradik. Pada masa itu menikahi dua saudara kandung sekaligus boleh namun pada masa Rasulullah hingga sekarang hukumnya berubah menjadi haram. Ya'kub terlebih dahulu menikahi Layya kemudian menikahi Rahiel 7 tahun kemudian. Ya'kub diperbolehkan menikahi Rahiel setelah menggembalakan kambing yang nantinya dijadikan mas kawin pernikahannya dengan Rahie dan ia pun menyetujuinya.
Laban mencarikan pembantu untuk meringankan beban kedua anaknya. Kedua pembantu tersebut bernama Zulfa untuk membantu Layya dan Balhah untuk Rahiel. Setelah bekerja lama dengan mereka, kedua istri Ya'kub memberikan pembantunya untuk dinikahi. Dengan demikian istri Ya'kub menjadi 4. Dari Layya melahirkan putra yakni Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Ishkhar dan Zebulon dan melahirkan putri bernama Dina. Dari Rahiel melahirkan putra yakni Yusuf dan Bunyamin. Dari Bilha melahirkan putra Dan dan Naftali. Dari Zilpa melahirkan putra Gad dan Asyer.
Diantara putra Nabi Ya'kub yang meneruskan tugasnya menjadi nabi dan rasul adalah Nabi Yusuf. Setelah mengalami berbagai lika-liku kehidupan beliau berhasil menjadi menteri keuangan Kerajaan Mesir. Setelah dapat berkumpul kembali dengan keluarganya, sejak saat itulah Nabi Yusuf beserta keluarganya tinggal di Mesir dan berketurunan disana selama 400 tahun. Nabi Ya'kub dan keturunannya hidup makmur di Mesir. Namun setelah itu Bani Israil hidup dalam penderitaan dan penindasan dikarenakan pada waktu itu penguasa Mesir sudah berganti.
Penguasa Mesir waktu itu tidak suka dengan Bani Israil karena jumlah mereka semakin banyak mengalahkan jumlah suku asli Mesir dan Bani Israil waktu itu menyembah satu tuhan seperti yang diajarkan oleh leluhurnya yakni Nabi Ibrahim sedangkan penguasa Mesir menyembah berhala. Akibat perbedaan keyakinan inilah Bani Israil mengalami penindasan dan perbudakan dari penguasa Mesir. Kemudian diturunkan Nabi Musa dari suku Lewi sebagai juru selamat Bani Israil.
Nabi Musa mengajak Bani Israil untuk pergi dari Mesir, namun hal itu diketahui oleh penguasa Mesir dan akhirnya Nabi Musa beserta pengikutnya dari Bani Israil dikejar oleh penguasa Mesir beserta bala tentaranya. Nabi Musa dan Bani Israil waktu itu tidak tahu apa yang harus dilakukan karena dihadapannya adalah laut merah sedangkan dibelakang mereka ada penguasa Mesir dan pengikutnya yang mengejar mereka. Kemudian turunlah petunjuk dari Allah kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke batu.
Setelah Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke batu terbelah laut merah menjadi dua dengan izin Allah. Setelah laut merah terbelah Nabi Musa dan pengikutnya dari Bani Israil melewati laut merah yang terbelah menjadi dua tersebut dan penguasa Mesir beserta bala tentaranya mengejar mereka melewati laut merah terbelah juga. Setelah Nabi Musa dan pengikutnya melewati laut merah Nabi Musa kemudian mendapatkan petunjuk dari Allah untuk memukul tongkatnya dan setelah tongkatnya dipukul kemudian laut merah kembali menyatu. Penguasa Mesir dan bala tentaranya tenggelam meninggal di laut merah.
Ketika Allah menyelamatkan Bani Israel dari penguasa Mesir dan pasukannya, mereka berjalan menuju pantai timur, namun mereka tidak dapat menemukan air minum untuk diri mereka sendiri dan hewan mereka, sehingga mereka mengadu kepada Nabi Musa dan bertanya kepada Allah untuk memberi mereka air. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya pada batu tersebut dan keluarlah 12 mata air sehingga setiap suku Bani Israil mendapat mata air yang mengalir. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan seiring matahari terbenam di tubuh mereka. Kemudian mereka mengadu kembali kepada Nabi Musa , kemudian Allah menurunkan kepada mereka awan tebal yang melindungi mereka dari sinar matahari yang membakar kulit mereka.
Tak lama setelah perbekalan mereka habis, sedangkan tidak membawa dukungan logistik, mereka pun meminta kepada Nabi Musa agar Allah mengirimkan makanan kepada mereka. Maka Allah menurunkan dua jenis makanan yakni Manna dan Salwa. Manna adalah makanan yang turun dari langit dan rasanya manis sedangkan Salwa merupakan salah satu jenis burung puyuh yang jumlahnya sangat banyak hingga hampir menutupi seluruh dunia.
Kedua makanan ini tidak akan pernah habis meski dimakan setiap hari.
Oleh karena itu, Bani Israil tidak perlu bersusah payah, bertikai dan berperang satu sama lain untuk mendapatkannya. Allah menurunkan kedua makanan ini setiap hari secara cuma-cuma (kecuali hari Sabtu). Oleh karena itu, Bani Israil tidak perlu menyimpan kedua makanan tersebut di tempat penyimpanan. Allah benar - benar memenuhi kebutuhan mereka akan makanan. Sayangnya, nikmat Allah tidak membuat bangsa Israel berhenti berkeinginan. Mereka menginginkan berbagai sayuran, mentimun, bawang merah, bawang putih, buncis, dan lentil.
Di tengah jalan mereka melihat orang-orang menyembah berhala dan kemudian dengan bodohnya meminta Nabi Musa untuk membuatkan berhala untuk mereka. Nabi Musa memberikan peringatan keras kepada Bani Israil. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mendaki bukit an berdiam disana selama 30 malam, setelah 30 malam Allah memberinya sebuah lempengan yang berisi beberapa wasiat yang ditujukan kepada Bani Israil, agar ia tetap berada dalam wasiat tersebut. Sebelum berangkat, Nabi Musa menitipkan umatnya kepada saudaranya, Nabi Harun sampai Nabi Musa kembali.
Baca juga: Mengimani Kitab-kitab Allah
Setelah melakukan hal tersebut, Nabi Musa menghadap Allah, namun para malaikat menangkapnya, mereka mencium bau mulut Nabi Musa, Nabi Musa mengaku telah memakan tumbuhan tertentu yang berbau, lalu Allah memerintahkannya untuk berpuasa lagi selama 10 hari. Ketika Nabi Musa selesai berpuasa selama 40 hari, dia bergegas berbicara kepada Tuhannya agar Dia dapat melihatnya, namun Allah menegaskan bahwa dia tidak dapat melihatnya. Akan tetapi Nabi Musa tetap ingin melihat Allah. Karena kasihan dengan Nabi Musa Allah akhirnya mengabulkan permintaan Nabi Musa. Saat Allah baru saja menampakkan cahayanya gunung-gunung hancur dan Nabi Musa pingsan saat itu.
Setelah pergi selama 40 hari Nabi Musa kembali kepada kaumnya yakni Bani Israil. Namun alangkah terkejutnya ketika beliau melihat kaumnya menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas dan dapat mengeluarkan suara. Nabi Musa sangat marah melihat hal tersebut. Kemudian ia mendatangi Nabi Harun kemudian menarik jenggot Nabi Harun dan bertanya mengapa Nabi Harun membiarkan Bani Israil dan mengapa tidak mendatangi Nabi Musa untuk memberi tahukan hal ini.
Nabi Harun sebenarnya sudah memperingatkan kepada Bani Israil untuk tidak menyembah patung anak sapi tapi Bani Israil tetap membantahnya dan nabi Harun khawatir bahwa membuat Bani Israil terpecah, sebagian ikut Nabi Musa dan Nabi Harun dan sebagian lagi menyembah patung anak sapi. Sedangkan alasan Nabi Harun tidak memberitahukan hal ini adalah beliau diperintahkan untuk tetap di tempat menunggu Nabi Musa kembali. Setelah diselidiki ternyata yang membuat dan mengajak Bani Israil untuk menyembah patung anak sapi adalah Samiri. Nabi Musa kemudian segera menemui Samiri dan mengusirnya.
Setelah Samiri pergi, Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk bertobat kepada Allah namun Bani Israil tidak mau bertobat dan malah memerintahkan Nabi Musa untuk menunjukkan wujudnya Allah. Nabi Musa kemudian mendapatkan petunjuk untuk memerintah Bani Israil naik kesebuah bukit. Naiklah 70 orang perwakilan dari Bani Israil keatas bukit untuk melihat Allah. Tak lama kemudian datanglah petir menyambar 70 orang perwakilan dari Bani Israil yang naik keatas bukit tersebut hingga tewas.
Bani Israil kemudian tersadar setelah melihat kejadian tersebut dan meminta Nabi Musa menghidupkan kembali orang yang tersambar petir tersebut. Nabi Musa pun memohon kepada Allah untuk menghidupkan kembali 70 orang tersebut. Mereka pun memohon ampun kepada Allah dan kemudian Nabi Musa menyampaikan wahyu bahwa taubat mereka akan diterima jika mereka mau bunuh diri pada puncaknya menghancurkan syahwat dan menyucikan kejahatan dan dosa. Saat itulah Allah menerima pertobatan mereka.
Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an yang berbunyi:
وَاِ ذْ قَا لَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَکُمْ بِا تِّخَا ذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْاۤ اِلٰى بَا رِئِكُمْ فَا قْتُلُوْۤا اَنْفُسَكُمْ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ عِنْدَ بَا رِئِكُمْ ۗ فَتَا بَ عَلَيْكُمْ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
Artinya:"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.""(QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 54)
“Membunuh dirinya sendiri” di sini berarti: siapa yang tidak menyembah anak lembu, akan membunuh orang yang menyembahnya. Ada juga maksudnya: orang-orang yang menyembah patung anak lembu itu saling membunuh, dan maksudnya juga: mereka disuruh membunuh diri untuk bertaubat. Nabi Musa terus merubah Bani Israil menjadi lebih baik namun beliau melihat bahwa mereka tetap keras kepala dan angkuh sampai Allah yang mengancam mereka dengan mengangkat Gunung. Mereka takut dan memohon belas kasihan.
Kemudian Allah menyuruh mereka untuk mengabdikan diri pada hukum-hukum Taurat, mempelajarinya dan tidak mengabaikannya, sehingga mereka menjadi orang-orang yang benar-benar bertakwa. Namun tetap saja, ketika rasa takut itu hilang, mereka kembali berpaling dari petunjuk Allah. Contoh lemahnya ketaatan mereka antara lain keengganan mereka berjihad untuk menaklukkan Palestina yang dihuni orang-orang kafir. Tanah Palestina dianugerahkan Allah kepada kaum Yahudi selama mereka beriman dan taat kepada-Nya.
Namun mereka menolaknya dan mereka baru mau memasuknya setelah kaum itu keluar dari negeri tersebut. Bani Israil tidak mau memasukinya dikarenakan penduduk negeri yang dijanjikan tersebut adalah orang yang gagah perkasa. Bahkan mereka memerintahkan Nabi Musa untuk berperang bersama Allah melawan penduduk dari negeri tanah yang dijanjikan tersebut dan mereka hanya menunggu saja. Setelah Nabi Musa sekian lama engajak Bani Israil dan memperbaiki akhlak dan perilakunya, ternyata hanya itu jawabannya. Nabi Musa hanya bisa mengadu kepada Allah agar tidak termasuk dengan golongan tersebut.
Allah menerima keluh kesah Nabi Musa dan memberitahukannya bahwa tanah yang dijanjikan dilarang dimasuki oleh Bani Israil dan mereka akan tetap berada di gurun Sinai selama 40 tahun serta mengingatkan Nabi Musa untuk tidak mengkhawatirkan orang-orang yang durhaka kepada Allah. Setelah bertahun-tahun terlunta-lunta di Padang Tiih, tibalah ajal Nabi Harun dan Nabi Musa masih membimbing Bani Israil selama beberapa waktu. Kemudian beliau wafat setelah mempersiapkan salah satu muridnya untuk memimpin Bani Israil, dialah Yusya' bin Nun, yang disebutkan dalam sebuah Hadits Nabi. Beliau merupakan pemimpin pasukan Bani Israel yang memenuhi wasiat Nabi Musa untuk menaklukkan Baitul Maqdis.
Setelah Nabi Yusya bin Nun meninggal Bani Israil kemudian tercerai-berai dan kehidupan mereka dihancurkan oleh raja kejam bernama Jalut. Karena tidak mampu menanggung kepemimpinan Jalut, para pemimpin Bani Israil berdebat dan meminta Nabi menunjuk seorang pemimpin yang berani dan mampu melawan Jalut. Kemudian Nabi Samuel menyebutkan bahwa Allah memang telah mengangkat Thalut sebagai pemimpin Bani Israil. Namun para pemimpin Bani Israil tidak yakin dan menolak membiarkan Thalut menjadi pemimpin mereka. Sebab, Thalut tidak mempunyai harta yang banyak.
Namun Nabi Samuel dengan bijak menjawab bahwa Allah memang telah menganugerahi Thalut dengan ilmu yang luas dan badan yang perkasa. Selain itu, Nabi Samuel mengatakan bahwa tanda sebenarnya Thalut adalah pemimpinnya adalah kembalinya bahtera. Tabut itu berisi kedamaian dari Allah dan sisa-sisa peninggalan keluarga Musa dan Harun. Segera setelah itu, muncullah malaikat yang membawa tabut itu dan melemparkannya ke hadapan para pemimpin Bani Israil. Ketika mereka melihat hal ini, mereka mengenali Thalut sebagai pemimpin dan raja Israil. Karena masyarakat Bani Israil tidak mau terus menerus menindas Jalut, maka mereka pun siap berperang untuk mengalahkan pasukan Jalut.
Di bawah kepemimpinan Thalut, ia memilih 70 ribu orang Bani Israil sebagai tentara. Di antara prajurit itu ada seorang pemuda pemberani bernama Daud. Kemudian mereka berangkat melawan pasukan Jalut. Udara gurun yang kering dan panas membuat para prajurit haus, dan perbekalan yang mereka bawa pun habis.Sebelum berperang, Allah menguji prajurit Thalut. Sesuai perintah Allah, para prajurit Thalut dilarang meminum air sungai di tengah gurun pasir, mereka diperbolehkan minum, namun hanya untuk melepas dahaga. Jika ada prajurit yang tidak meminumnya, maka prajurit tersebut memang beriman.
Akibatnya para prajurit yang minum sebanyak-banyaknya tiba-tiba merasa lelah dan mengantuk sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Akhirnya Thalut melanjutkan perjalanannya dengan sekelompok tentara yang lebih kecil. Ketika mereka tiba dan melihat Jalut dan prajuritnya, Thalut an prajuritnya meminta pertolongan kepada Allah. Kemudian pasukan Thalut dan Jalut bertempur. Meski jumlah prajurit Thalut lebih sedikit dibandingkan Jalut, namun pasukan Thalut tetap unggul. Banyak prajurit Jalut yang gugur di medan perang. Hingga akhirnya Jalut maju dan menantang kekuatan Thalut.
Allah membantu Daud mengalahkan Jalut dengan ketapel. Ketika umban batu tersebut dilempar ke arah Jalut, Allah menolong Daud dengan cara menimbulkan angin yang membawa umban batu Daud dan mengenai dahi Jalut hingga tewas. Akhirnya pasukan Thalut berhasil mengalahkan pasukan Jalut. Setelah perang, Bani Israil hidup di bawah kepemimpinan Thalut. Beberapa saat setelah kematian Thalut, Daud menggantikannya sebagai raja. Kemudian Daud menjadi seorang nabi, dan kitab Zabur diturunkan kepadanya.
Setelah Nabi Daud meninggal, pemerintahan dilanjutkan oleh anaknya yakni Nabi Sulaiman. Pada masa inilah Bani Israil hidup bahagia dan makmur. Namun setelah Nabi Sulaiman wafat pada 935 M terjadilah perpecahan internal dikalangan Bani Israil. Perpecahan inilah yang kemudian menjadi awal terbentuknya bangsa Yahudi yang kita kenal sekarang. Seperti yang dijelaskan tadi bahwa Bani Israil terdiri dari 12 kabilah yang merupakan keturunan Nabi Ya'kub. Akibat perpecahan ini terjadilah perpecahan menjadi dua kubu.
Kubu pertama terdiri atas 10 kabilah dari Bani Israil yang kemudian mendirikan pusat pemerintahan di Utara yang disebut dengan Kerajaan Israel dan mempunyai pusat pemerintahan di Sumeria. Sedangkan kabilah kedua yang terdiri dari kabilah Yahuda dan kabilah Bunyamin yang mendirikan pusat pemerintahan di selatan yang bernama Kerajaan Yahuda yang beribukota di Yerusalem. Pada tahun 738 SM terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Tiglat Pileser III dari Asiria menyerang Kerajaan Israel. Penyerangan tersebut mengakibatkan seluruh warga Kerajaan Israel kocar-kacir dan akhirnya mereka kembali mengalami perbudakan.
Namun mereka belum ingin menyerah, mereka ingin balas dendam. Hingga pada 721 SM mereka berusaha melakukan perlawanan terhadap Asiria agar orang-orang dari Kerajaan Israel mendapatkan kebebasannya kembali. Akan tetapi raja Sargon ll penerus dari Tiglat Pileser IIl sudah mengetahui rencana pemberontakan tersebut dan langsung melakukan penyerangan hingga sisa-sisa Kerajaan Israel tercerai-berai. Sebagian dari mereka meninggal dan sebagian lagi hilang entah kemana. Dari sinilah kemudian keturunan yang inilah dijuluki sebagai 10 suku Yahudi yang hilang.
Pada tahun tahun 606 SM, terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Nebukatnezar ll dari Babilonia terhadap Kerajaan Yahuda. Dalam penyerangan tersebut pasukan Nebukatnezar ll Berhasil menduduki kota Yerusalem dan saat itu terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang Yahudi. Mereka juga merampas harta benda warga Kerajaan Yehuda dan membakar kota Yerusalem dan menghancurkan Baitul Maqdis. Selain itu mereka juga membunuh Nebukatnezar ll juga membunuh raja terakhir dari Kerajaan Yahuda yakni Sidqiya bin Yawaqim. Pada 587 Kerajaan Yahuda resmi berakhir dan sisa-sisa warga dari Kerajaan Yahuda dibuang ke Babilonia untuk dijadikan budak.
Pada tahun 106 M Babilonia ditaklukan oleh Julius Caesar dari Romawi. Pada masa inilah sisa-sisa orang Yahudi dibebaskan dari perbudakan dan diberikan jabatan sebagai pejabat Romawi. Mereka juga diizinkan untuk kembali ke Yerusalem. Pada masa inilah hubungan antara orang Yahudi dan Romawi harmonis. Namun itu bertahan lama dikarenakan keangkuhan dan kesombongan orang-orang Yahudi dan terjadilah perang diantara dua bangsa tersebut yang dimenangkan oleh Romawi. Setelah kejadian itu Yahudi diusir dari Yerusalem. Sebagian ada yang mengungsi ke Mesir, Khaibar, Madinah, Spanyol dan masih banyak lagi dari sinilah kemudian Yahudi tersebar di seluruh dunia.
Hingga berabad-abad kemudian Yerusalem ditaklukan oleh kekuatan muslim yang dipimpin oleh Umar bin Khattab setelah berhasil mengalahkan Romawi. Baca juga: Sang Pembebas Baitul maqdis Setelah itu Yerusalem berada dibawah pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus. Baca juga: Damaskus sebagai pusat peradaban Islam di Timur Kemudian Dinasti Abbasiyah, Dinasti Fathimiyah dan Dinasti Ayyubiyah. Namun pada 1095 Yerusalem pernah berada dibawah kekuasaan Kristen. Setelah itu jatuh ke tangan Dinasti Mamluk, hingga pada 1516, Yerusalem ditaklukan oleh Khalifahan Turki Usmani.
Setelah Turki Usmani kalah pada Perang Dunia l Yerusalem jatuh ke tangan Inggris dan pada saat inilah banyak orang Yahudi yang datang ke Yerusalem. Orang-orang Yahudi juga mengalami pembantaian pada peristiwa Holocaust pada Perang Dunia ke 2 hingga menyebabkan mereka mengungsi ke Palestina yang waktu itu dibawah kekuasaan Inggris. Dari tahun 1918 hingga 1948, Mandat Inggris untuk Palestina pertama-tama adalah LBB, kemudian penggantinya adalah PBB; Emirat Trans-Yordania terpisah dari wilayah Palestina lainnya pada tahun 1922. Kerajaan Hashemite Yordania kemudian merdeka setelah mandat LBB berakhir pada tahun 1946 dan inilah yang berbuntut pada konflik Palestina dan Israel. Baca juga: Sejarah konflik Palestina dan Israel
Penulis: Maulana Aditia
Komentar
Posting Komentar