Tutupi aibmu dan aib saudaramu
Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bebas dari kesalahan dan kekeliruan. Mari kita mengingat kembali kisah Nabi Adam dan Hawa yang memakan buah khuldi, padahal Allah melarangnya. Nabi Yunus sengaja meninggalkan umatnya karena setelah 33 tahun berdakwah, hanya 2 orang yang mendengarkan seruannya. Nabi Musa secara tidak sengaja membunuh seseorang dengan pukulannya. Tentu saja para nabi mulia ini langsung memohon ampun kepada Allah.
Mari kita cermati salah satu hadits Rasulullah yang berbunyi: “Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. At Tirmidzi). Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa pelakunya pastilah orang yang bertaubat, yaitu orang yang berjanji kepada Allah dan dirinya sendiri untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun masih banyak manusia yang apabila mengetahui orang lain mempunyai aib atau melakukan dosa malah disebar luaskan. Lalu, bagaimana Islam memandang perbuatan tersebut? Berikut penjelasan lengkapnya.
A. Pengertian aib
secara bahasa, aib dapat didefinisikan sebagai cacat atau kekurangan. Bentuk jama’nya adalah uyub. Adapun sesuatu yang mempunyai aib, dalam bahasa Arab disebut ma’ib. Aib adalah sesuatu yang berhubungan dengan sikap buruk, memalukan dan negatif. Aib merupakan celaan atau keadaan yang tidak baik bagi seseorang dan jika orang lain mengetahuinya, itu akan menimbulkan rasa malu. Aib dapat berupa peristiwa, situasi, atau deskripsi.
B. Macam-macam aib
Berikut merupakan macam-macam aib ditinjau dari sifatnya.
1. Aib dzahir
Aib dzahir adalah aib yang terlihat dan dirasakan secara lahir jika dicermati dengan baik. Misalnya cacat pada produk komersial seperti buah busuk atau furnitur rusak, atau kekurangan fisik seseorang misalnya cacat fisik.
2. Aib tersembunyi
Aib tersembunyi adalah aib yang tidak terlihat karena tersembunyi. Aib ini tidak dapat dilihat, meskipun seseorang memperhatikannya dengan cermat. Misalnya beras bias yang dicampur beras premium. Selain itu, kacang-kacangan yang baik ditempatkan di atas, sedangkan kacang-kacangan yang ditempatkan di bawah kondisinya kurang baik. Tidak hanya itu, dosa, kesalahan atau hal buruk dan memalukan yang dilakukan oleh seseorang dan hanya dia atau segelintir orang yang tahu
Kedua jenis aib ini dapat ada dalam diri setiap orang, meskipun sering kali aib yang sering dibicarakan adalah kelompok kedua. Kedua jenis aib ini juga selalu ingin disembunyikan dan ditutupi, karena dapat menimbulkan malu bahkan rasa rendah diri.
C. Hubungan Antara Aib dan Media Sosial: Dampak dan Tantangannya
Media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan modern, memfasilitasi komunikasi, berbagi informasi, dan penyebaran berita dengan cepat. Namun, dibalik kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan, media sosial juga membuka pintu terhadap berbagai permasalahan, salah satunya adalah meluasnya aib. Media sosial menyediakan platform untuk penyebaran informasi tersebut secara cepat dan luas, seringkali tanpa pertimbangan etika atau privasi.
Salah satu tantangan terbesarnya adalah penyebarana aib yang tak terbatas di media sosial. Setelah sesuatu dipublikasikan, sulit untuk memverifikasi atau menghapusnya sepenuhnya, meskipun itu awalnya dihapus dari platform. Hal ini dapat berdampak buruk pada kehidupan pribadi, profesional, dan emosional korban. Ketika seseorang menjadi korban rasa malu di media sosial, dampak psikologisnya bisa sangat buruk.
Malu, tekanan emosional, dan bahkan depresi adalah beberapa konsekuensi yang mungkin terjadi. Hal ini dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan mental seseorang. Meskipun terdapat upaya untuk melindungi individu agar tidak menyebarkan rasa malu di media sosial melalui undang-undang privasi dan pencemaran nama baik, kondisi hukum seringkali tidak jelas. Karena media sosial dapat menjangkau khalayak global, perbedaan yurisdiksi dan hukum antar negara membuat penegakan hukum menjadi sulit.
Pentingnya etika digital dan kesadaran privasi tidak bisa dilebih-lebihkan. Pengajaran tentang penggunaan media sosial yang bertanggung jawab dan dampak memalukan harus dimulai sejak dini di lingkungan sekolah dan juga di rumah. Platform media sosial juga memainkan peran penting dalam menyelesaikan masalah ini. Langkah-langkah seperti peningkatan keamanan data, algoritme untuk mendeteksi konten sensitif, dan aturan ketat untuk mencegah penyebaran rasa malu dapat membantu mengurangi dampak negatifnya.
Baca juga: PRIVACY IS NUMBER ONE!!!
Hubungan antara aib dan media sosial menunjukkan kompleksitas era digital saat ini. Meskipun media sosial menawarkan manfaat besar dalam hal konektivitas dan komunikasi, penting untuk diingat bahwa kekuatan ini juga dapat digunakan dengan cara yang merugikan. Perlindungan privasi, kesadaran akan etika digital, dan peran platform media sosial yang bertanggung jawab semuanya diperlukan untuk menghadapi tantangan ini dan memastikan pengalaman online yang lebih aman dan positif bagi semua orang.
D. Perintah untuk menutup aib
Seperti kita ketahui, setiap orang mempunyai aibnya masing-masing, oleh karena itu Allah memerintahkan dalam Islam untuk menutupi aib sendiri dan orang lain yang berpikiran sama. Allah menciptakan manusia dengan sempurna, dimana setiap jalan kehidupan ditentukan dengan caranya masing-masing oleh Allah. Terkadang manusia melakukan hal-hal yang kurang pantas, seperti menampakkan rasa malunya yang sebelumnya ditutupi oleh Allah.
Dikisahkan suatu ketika Salman al Farisi, salah satu sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, tertidur mendengkur setelah makan. Kelakuan Salman diketahui dan tersebar kemudian menjadi bahan pergunjingan di kalangan orang lain hingga kemudian aib tersebar luas. Akibat kejadian tersebut, Allah menurunkan ayat yang berbunyi:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."(QS. Al-Hujurat surah ke 49: Ayat 12)
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَا حِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ ۙ فِى الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."(QS. An-Nur surah ke 24: Ayat 19)
Orang-orang yang dengan sengaja mengumbar aibnya bahkan diancam tidak akan dimaafkan oleh Allah. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “ Setiap umatku dimaafkan (dosanya), kecuali orang-orang yang menampak-nampakkannya. Termasuk orang yang menampak-nampakkan (dosanya) adalah seorang hamba yang melakukan perbuatan (maksiat) di malam hari sementara Allah telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi dia berkata, ' Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.' Padahal, pada malam hari Allah telah menutupi aibnya dan di pagi harinya ia menyingkapkan apa yang telah ditutupi oleh Allah. (HR.Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2993)
Dalam hadits lain disebutkan bahwa:“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Ia tidak menzalimi dan tidak berbuat aniaya kepadanya. Barang siapa yang memenuhi (membantu) kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari berhenti kelak. (HR. al-Bukhari, no. 2442)
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:"Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah membuka aib mereka. Barang siapa membuka aib saudaranya, niscaya Allah akan membuka aibnya dan siapa yang dibuka Allah akan aibnya, niscaya Allah akan menunjukkan aibnya, meskipun dirahasiakan di lubang kendaraan." (HR. Tirmidzi)
Namun mengapa aib begitu banyak orang semangat dalam membongkar aibnya dan aib saudaranya yakni sesama muslim? Apalagi hal ini banyak dilakukan oleh wanita? Seakan-akan hal tersebut menjadi santapan yang lezat dalam sebuah perbincangan. Alasan terbesarnya adalah karena ghibah-lah yang mewadahi semua ini. Dengan ghibah, aib orang lain terbongkar dengan begitu seru dan mudahnya. Mereka lupa bahwa malaikat Atid mencatat perbuatan jahat mereka. Meskipun aib bukanlah suatu bentuk berita bohong, namun aib adalah sesuatu yang buruk yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Karena itu sangat memalukan.
Baca juga: Jauhi ghibah dan mari bertabayyun
Ketika kita mengetahui aib orang lain, kita mengingatnya kepada orang yang bersangkutan. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai mengajak kebaikan dan melarang keburukan. Ketika orang lain terjerat maksiat, kita harus mencegah perbuatan tersebut dengan menggunakan tangan, lidah, dan paling tidak melalui doa. Kalau sudah menasehatinya, jangan tebar aib saudara-saudara kita yang muslim kemana-mana, apalagi menjadikannya sebagai bahan obrolan. Namun, kita bisa membeberkan aib orang lain kepada orang yang tepat jika hal itu mengancam keselamatan kita atau orang lain. Misal kita tahu si A itu suka mencuri, maka kita harus suruh orang lain hati-hati dengan si A.
E. Doa agar terlindung dari aib
Membuat kesalahan adalah sesuatu yang wajar dilakukan setiap orang. Namun alangkah lebih baik jika Anda menyadari kesalahan Anda, lalu segera bertaubat dan meminta ampun. Aib dan kesalahan yang telah terjadi hendaknya dirahasiakan agar tidak diungkit-ungkit dengan alasan apapun. Selalu berserah diri dan memohon ampun, agar Allah senantiasa melindungimu di dunia dan akhirat. Ada doa yang harus dibaca untuk menghindari aib. Doa ini dapat dibaca pada pagi dan sore hari, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Umar:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِى وَدُنْيَاىَ وَأَهْلِى وَمَالِى اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتِى
Artinya: "Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada Mu 'Afiyah di dunia dan akhirat. Ya Allah aku memohon kepada Mu ''Afwaa dan 'Afiyah pada urusan agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah tutupi auratku (aib-aibku)"
Atau dengan riwayat Ibnu Majah dengan tambahan, yaitu:
اللَّهُمَّ استُر عَوْرَاتي ، وآمِنْ رَوْعَاتي ، اللَّهمَّ احفظني من بَينِ يَدَيَّ ومِن خَلْفي ، وَعن يَميني ، وعن شِمالي ، ومِن فَوقي، وأعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحتي
Artinya:"Ya Allah tutupi auratku (aib-aibku), tenangkanlah aku dari rasa takutku. Ya Allah jagalah aku dari arah depan dan belakangku, arah kanan dan kiriku, serta dari arah bawahku. Aku belindung dengan kebesaran Mu agar aku tidak dihancurkan dari arah bawahku."
Berusahalah untuk memperbaiki diri agar selalu berkenan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Atas kesalahan masa lalu, semoga Allah mengampuni dan selalu menyembunyikan aib kita.
F. Keutamaan menutup aib diri sendiri dan orang lain
Keutamaan menutupi aib berkaitan dengan perlindungan privasi dan kesalahan pribadi. Dalam konteks Islam mempunyai makna yang mendalam. Menyembunyikan aib merupakan perbuatan mulia yang dianjurkan karena mencerminkan rasa malu, diberikan kepada diri sendiri dan menghormati privasi orang lain. Hal ini juga merupakan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, pentingnya memprioritaskan menyembunyikan aib merupakan kegiatan yang dianjurkan, bermakna secara spiritual, dan membawa berkah kehidupan. Allah juga mengutamakan hamba-Nya untuk menutupi aib orang lain, termasuk mereka.
1. Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.
Dalam salah satu hadistnya, Rasulullah mengatakan,“Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah). Dalam hadits lain pula, Allah berjanji akan menutupi aibnya di akhirat, sebagai berikut: “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)
2. Setara dengan membangunkan bayi yang dikubur hidup-hidup
"Siapa melihat aurat (aib orang lain) lalu menutupinya maka seakan-akan ia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup." (HR. Abu Daud). Dalam hadits lain pula disebutkan bahwa: "Barangsiapa menutupi aib seorang mukmin maka ia seperti seorang yang menghidupkan kembali Mau`udah dari kuburnya,” (HR. Ahmad)
3. Dijanjikan masuk ke dalam surga
Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu ia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah seorang Muslim melihat aurat (cacat) saudaranya lalu menutupinya kecuali pasti akan masuk surga." (HR. Thabrani)
Penutup:
Setelah ini penulis berharap kita semua khususnya diri penulis sendiri untuk menutup aib diri sendiri dan menutup aib orang lain. Tidak ada untungnya kita membongkar aib orang lain malahan kita akan berdosa karena melakukannya. Penulis meminta bantuan kepada pembaca untuk membagikan artikel ini sebanyak-banyaknya. Mungkin ini saja yang dapat penulis sampaikan pada pembahasan kita kali ini. Kuranglebihnya penulis mohon maaf. Sekian dan terimakasih telah berkunjung ke blog ini.
Penulis: Maulana Aditia
Baca juga:
Komentar
Posting Komentar