Nasi wudhu : Nasi yang mengajarkan ketakwaan kepada Allah


Menurut babad Tanah Jawi Sultan Agung, Sultan Mataram sangat menyukai nasi Arab, namun karena bahan baku nasi Arab sulit didapat, Sultan Agung memulai nasi Arab versinya sendiri yang disebut nasi wudhu. Mengapa disebut nasi wudhu? Karena kalau mau membuat nasi wudhu, harus berwudhu dulu. Selain itu, beras ini juga sudah dibersihkan, artinya beras tersebut dibersihkan terlebih dahulu sebelum diolah. Setelah bersih, campurkan dengan bahan berwarna putih bernama santan. 


Nasi wudhu dilengkapi dengan ayam ingkung, yaitu lauk ayam utuh yang diikat hingga menyerupai manusia sujud. Memiliki makna ingkung eling nyekungkung, nyekungkung artinya sujud tapi sekaligus eling dzikrul mati, besok mati. Kemudian ditambahkan sambal gepleng. Sambal gepleng terbuat dari kacang kedelai yang dihaluskan dengan cabai, bawang merah, dan garam. Hal ini memiliki makna banyak geleng kepala, banyak berdzikir kepada Allah, Laa Ilaa ha Ilallah

Pada tahun 1628–1629, pasukan Mataram menyerang Batavia. Nah, pasukan Mataram membawa nasi wudhu, yang kemudian oleh masyarakat Betawi dijadikan nasi uduk, yang kemudian dicampur dengan semur jengkol dan sambal goreng jengkol. Kita bisa melihat bahwa pada masa Kesultanan Mataram, agama ditempatkan dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari makanan, pakaian, penataan bangunan dan segala sesuatunya.


Jadi kita bisa belajar filosofi dari sepiring nasi wudhu adalah selalu ingat beribadah kepada Allah, diawali dengan wudhu atau bersuci dan diakhiri dengan dzikir. Nasi uduk menjadi favorit banyak orang saat ini. Berbahan dasar nasi putih, nasi uduk dengan bumbu dan santan memiliki aroma dan rasa yang nikmat nikmat alami. Banyak nama dan istilah dalam tradisi
Jawa yang sering kita anggap biasa saja, namun ternyata mempunyai banyak makna filosofis yang dalam. Semoga pembahasan kita yang singkat ini membawa manfaat bagi kita semua. Sekian dan terimakasih atas kunjungannya.


Penulis: Maulana Aditia 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhi suudzon dan tingkatkan husnudzon

Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul

Peduli terhadap hewan dan lingkungan sekitar