Manusia bermuka dua

Dalam kehidupan sehari-hari kita pastinya akan menemui berbagai karakter, sifat dan tabiat manusia. Salah satunya manusia bermuka dua. Mereka merupakan manusia yang sangat dibenci oleh setiap manusia lainnya. Lalu, apa yang dimaksud dengan manusia bermuka dua? Bagaimana ciri-cirinya dan cara menghindarinya? Bagaimana pandangan Islam mengenai manusia bermuka dua? Berikut pembahasannya.

A. Pengertian manusia bermuka dua Manusia bermuka dua, juga disebut "dzul-wajhain" dalam bahasa Arab, adalah orang yang mempunyai dua wajah atau dua sifat yang berbeda. Mereka mempunyai satu wajah di depan dan satu lagi wajah di belakang. Dalam konteks modern, sikap bermuka dua dapat dilihat pada perilaku orang-orang dengan “kepribadian ganda". Mereka dapat saja memperlihatkan keindahan dan kebaikan di hadapan orang lain, namun dibaliknya terdapat keburukan dan keburukan. Sifat tersebut terlihat baik pada perilaku orang-orang yang menyembunyikan kepentingan duniawinya  dengan kampanye ukhrawinya dan pada perilaku orang-orang yang memiliki sifatnya tidak jujur dan paradoks.

B. Ciri-ciri manusia bermuka dua 
Berikut adalah beberapa ciri umum orang bermuka dua.
1. Mereka sering kali tidak jujur dan berusaha menyembunyikan niat atau perasaan sebenarnya.
2. Bisa sangat berbeda di depan dan di belakang orang lain. Mereka mungkin menampilkan karakteristik berbeda untuk mencapai tujuan pribadi.
3. Mereka cenderung menggunakan manipulasi untuk mencapai tujuannya, seperti membuat janji tetapi tidak pernah menepatinya.
4. Sering membuat janji tapi tidak pernah menepatinya. Mereka pandai membuat janji untuk menyenangkan orang lain, namun kemudian mengingkarinya karena tidak terlalu ingin mengingkari janji.
5. Orang yang bermuka dua bertindak secara sadar, memberikan pujian, di depan seseorang, sehingga orang lain dapat melihatnya. Tetapi jika mereka tidak bersama orang yang dipujinya, maka mereka menghinanya.  
6. Mereka membuat orang lain merasa rendah diri. Mereka tidak melontarkan kata-kata kritik yang kasar tepat di depan Anda, tetapi melontarkan pujian dan kata-kata manis, meski menunjukkan gestur non-verbal yang terkesan menghakimi dan menyakitkan.
7. Ketenangan tidak mendukung dan sering cemburu serta bergosip di belakang. Mereka bukan pendengar yang baik dan tidak mengoreksi orang lain ketika berada di jalur yang salah.

C. Pandangan Islam mengenai manusia bermuka dua 
Dalam Islam, dzul-wajhain adalah orang munafik, atau nifaq i'tiqadi atau nifaq 'amali. Nifaq i'tiqadi (berpura-pura beriman namun menyembunyikan kekafiran di dalam hatinya). Nifaq 'amali (nampaknya adalah orang yang bertakwa, namun di dalam hatinya ia menyembunyikan ke-fajir-an (penuh kemaksiatan)). Keduanya termasuk dzul-wajhain. Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang melakukan namimah (adu domba) juga termasuk dzul-wajhain. Dzul-wajhain adalah orang yang paling buruk karena kondisinya sama dengan orang munafik. Karena dia menambahkan kebohongan dan kebatilan untuk menghancurkan manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Ùˆَاِ ذَا Ù„َÙ‚ُÙˆْا الَّذِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْا Ù‚َا Ù„ُÙˆْاۤ اٰÙ…َÙ†َّا ۚ Ùˆَاِ ذَا Ø®َÙ„َÙˆْا اِÙ„ٰÙ‰ Ø´َÙŠٰØ·ِÙŠْÙ†ِÙ‡ِÙ…ْ ۙ Ù‚َا Ù„ُÙˆْاۤ اِÙ†َّا Ù…َعَÙƒُÙ…ْ ۙ اِÙ†َّÙ…َا Ù†َØ­ْÙ†ُ Ù…ُسْتَÙ‡ْزِØ¡ُÙˆْÙ†َ

Artinya:"Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.""(QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 14)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Engkau akan dapati seburuk-buruk manusia di hari kiamat adalah yang datang kepada sekelompok orang dengan suatu perkataan dan datang pada sekelompok orang lainnya dengan perkataan yang lain." (H 9171, disahihkan Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad)

Dalam hadits lain disebutkan, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika di tengah sekelompok orang, ia menampakkan suatu wajah, namun di tengah sekelompok orang lain, ia menampakkan wajah yang lain”(HR. Bukhari no. 7179, Muslim no. 2526).

Terdapat sejumlah hadits sahih yang melarang bermuka dua, antara lain:

Dari Ammar bin Yasar Radhiyallahu 'Anhu,  Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memiliki dua wajah di dunia, ia akan memiliki dua lidah dari api di akhirat” (HR. Abu Daud no. 4873, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 892). Dalam hadits lain disebutkan bahwa, "Orang yang memiliki dua wajah sebaiknya tidak dipercayai” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 238, Al Albani mengatakan, “hasan shahih”)

Adapun orang-orang yang menunjukkan perbedaan sikap antar manusia menurut keadaan, tidak termasuk dzul-wajhain yang dikritisi dalam hadits. Contoh:
- Di luar rumah, laki-laki itu berwibawa, tetapi di dalam keluarga dia ceria dan jenaka.- Seorang murid banyak berbicara di antara teman-temannya, tetapi banyak diam di depan guru.
- Warga negara biasa berbicara dalam bahasa sehari-hari, namun ketika ada pihak yang berwenang, ia berbicara dengan lembut dan sopan.

Semua itu tidak termasuk dalam dzul-wajhain yang dimaksud dalam hadis. Bahkan, semua itu termasuk sikap terpuji karena menempatkan sikap pada tempatnya. Dalam hadits disebutkan bahwa, “Perlakukanlah orang lain dengan perlakuan yang sesuai untuk mereka masing-masing” (HR. Abu Daud no. 4842. Hadis ini dihasankan oleh Syu’aib Al Arnauth dan didaifkan oleh Al Albani. Namun maknanya benar, sebagaimana dikatakan oleh Syekh bin Baz Rahimahullah).

Begitu pula dengan salaf yang memerintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahamannya. Berbicara dengan orang yang berbeda sikap dengan keadaan dan pemahamannya, tanpa ada kebohongan atau kebatilan, adalah sikap yang benar dan tidak termasuk dzul-wajhain. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa, "Bicaralah kepada orang lain sesuai dengan apa yang mereka pahami. Apakah Engkau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari no. 127)


D. Dampak bermuka dua 
Bermuka dua, juga dikenal sebagai kemunafikan, berdampak sangat negatif pada kehidupan individu dan masyarakat. Dampak tersebut antara lain:

1. Meningkatkan kebencian Allah 
Allah sangat membenci orang yang berperilaku munafik dan tidak memperlakukan orang lain dengan tulus. Dalam Al-Qur'an, Allah menggambarkan orang munafik sebagai orang yang fasik dan menyeru manusia untuk berbuat ingkar dan menghalangi mereka berbuat baik. 

2. Menghancurkan kepercayaan dan hubungan
Orang bermuka dua seringkali tidak bisa mempercayai mereka. Mereka tidak jujur dan tidak menepati janji, sehingga kepercayaan yang diberikan tidak dapat ditepati. Bermuka dua juga dapat menghancurkan hubungan yang sudah ada dengan orang lain. Mereka tidak memiliki keseimbangan antara hati dan penampilan, itulah sebabnya orang lain tidak bisa mempercayai mereka.

3. Meningkatkan keburukan 
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan orang yang bermuka dua dengan dua wajah yang terkadang menoleh ke keadaan tertentu dan menunjukkan wajah lain dalam keadaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang bermuka dua dapat berperilaku baik hanya untuk mendapatkan keuntungan, namun jika tidak ada keuntungan, mereka berperilaku sebaliknya, sehingga meningkatkan kemungkinan mempermalukan dan menganiaya orang lain.

4. Meningkatkan kekufuran 
Allah menggambarkan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang jahat dan mengajak manusia berbuat jahat dan menghalangi mereka berbuat baik. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang bermuka dua dapat meningkatkan ketidakpercayaan terhadap diri sendiri dan orang lain.

5. Menghancurkan kesehatan hati
Penyakit hati kemunafikan dapat menghancurkan kesehatan jantung dan kehidupan seseorang dan masyarakat. Dalam Al-Qur'an Allah menjelaskan betapa pentingnya fungsi hati dalam kehidupan seseorang, dan bila hati rusak maka seluruh organ tubuh manusia juga ikut rusak.

E. Cara menghindari manusia bermuka dua
Untuk menghindari orang yang bermuka dua, berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan.

1. Pilih teman yang tepat 
Pilihlah teman yang jujur dan adil. Mereka yang jujur biasanya tidak bertindak bermuka dua. Dalam beberapa kasus, orang bermuka dua mungkin memiliki kelemahan saat berinteraksi dengan orang lain, sehingga memilih teman yang tepat akan membantu menghindari situasi yang tidak menyenangkan.


2. Jaga jarak 
Jaga jarak dari orang bermuka dua. Jika Anda tidak perlu berinteraksi dengan mereka secara pribadi, hindari pertemuan pribadi. Menjaga jarak dalam percakapan juga membantu menghindari situasi yang tidak menyenangkan. Dalam beberapa kasus, orang yang bermuka dua mungkin memiliki kelemahan dalam berinteraksi dengan orang lain, jadi menjaga jarak membantu menghindari situasi yang tidak menyenangkan.

3. Hindari berbagi rahasia 
Jangan berbagi rahasia dengan orang yang bermuka dua. Mereka tidak dapat diandalkan dan tidak memiliki integritas yang tinggi. Berbagi rahasia dengan mereka dapat membahayakan keselamatan Anda dan menyelamatkan Anda dari situasi yang tidak menyenangkan.

4. Jangan terlalu percaya 
Jangan terlalu percaya pada orang bermuka dua. Mereka bisa saja mempunyai kelemahan ketika berhadapan dengan orang lain, jadi jangan terlalu percaya pada mereka. Dalam beberapa kasus, orang bermuka dua mungkin memiliki kelemahan dalam berhubungan dengan orang lain, jadi jangan terlalu mempercayai mereka.

5. Utamakan diri sendiri 
Tempatkan diri Anda terlebih dahulu dan perhatikan kebahagiaan Anda. Jangan biarkan orang-orang munafik mengganggu hidup Anda. Dalam beberapa kasus, orang yang bermuka dua mungkin memiliki kelemahan dalam berinteraksi dengan orang lain, jadi utamakan diri Anda sendiri dan lindungi kebahagiaan Anda.

Dengan mengikuti strategi di atas, Anda dapat menghindari kemunafikan dan menjaga keselamatan dan kebahagiaan Anda.

Penutup: 
Perilaku dua orang yang mempunyai wajah atau sikap yang berbeda dalam situasi yang berbeda atau di hadapan orang yang berbeda. Secara umum, orang dengan sifat ini cenderung bersikap manis dan ramah didepan, namun bersikap negatif dibelakang. Kita harus berhati-hati dalam menilai karakter seseorang dan menghindari sikap bermuka dua demi menjaga kejujuran dan kepercayaan dalam pergaulan sosial. Sekian dan terimakasih.

Penulis: Maulana Aditia 

Artikel terkait:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhi suudzon dan tingkatkan husnudzon

Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul

Peduli terhadap hewan dan lingkungan sekitar