Merajut ilmu, tauhid, dan seni melalui jejak Walisongo dan budaya lokal


Bayangkan sebuah perubahan peradaban yang tenang, tanpa suara peperangan, tetapi dampaknya mengubah peta spiritual di seluruh benua. Di banyak tempat di dunia, penyebaran agama-agama besar sering dicatat dengan kekerasan, melalui penaklukan militer atau pemaksaan politik. Namun, saat Islam masuk ke Jawa, ceritanya berbeda. Ini adalah kisah tentang penerimaan yang damai dan mendalam serta berakar pada budaya.

Mengapa Islam yang menekankan konsep Tauhid (Keesaan Mutlak) dapat diterima oleh masyarakat Jawa yang kaya dengan tradisi spiritual Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal? Jawabannya terletak pada proyek intelektual dan seni luar biasa yang dilakukan oleh sembilan tokoh karismatik yang dikenal sebagai Walisongo. Mereka memahami bahwa Jawa tidak memerlukan revolusi, tetapi evolusi yang bijaksana. 

Alih-alih menghancurkan pura dan candi, Walisongo memilih untuk "merajut" ajaran Islam seperti Ilmu (strategi berpikir), Tauhid (inti keimanan), dan Seni (ekspresi budaya) ke dalam tradisi lokal. Mereka menggunakan gamelan untuk mengajarkan Syariat, tembang macapat untuk menjelaskan filsafat Sangkan Paraning Dumadi, dan wayang untuk menyampaikan kisah kenabian. 

Pada kesempatan ini, kita akan membahas secara mendalam proses perajutan agung tersebut. Kita akan menyelidiki bagaimana Walisongo menggunakan ilmu sebagai cara, tauhid sebagai tujuan akhir, dan seni budaya Jawa sebagai jembatan yang paling efektif. Dengan melihat jejak sejarah mereka, kita akan mengerti mengapa Islam di Jawa menjadi unik yakni sebuah peradaban yang dibangun di atas keseimbangan, kebijaksanaan, dan harmoni, yang warisannya masih relevan sebagai contoh bagi Islam masa kini. 

A. Tauhid sebagai inti spiritual
Tauhid adalah konsep penting dalam Islam yang berarti keesaan mutlak Allah (Tuhan). Dalam Islam, konsep keesaan Allah (Tauhid) berfungsi sebagai penyempurna dan pembebas yang mengembalikan manusia kepada sifat dasarnya yang benar. Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak disembah dan menjadi fokus pengabdian, sehingga menggantikan cara salah dalam menyembah banyak dewa, roh, atau kekuatan alam yang ada dalam kepercayaan politeistik dan animistik. 

Dalam penyebaran Islam di Jawa, Walisongo sangat bijaksana dalam menempatkan konsep ini. Mereka menghindari konflik besar dengan kepercayaan lokal yang sudah ada, yang biasanya bersifat politeistik atau animistik. Jadi, mereka tidak menghancurkan spiritualitas lokal, tetapi justru mentransformasikannya dan menyempurnakannya. Mereka memberikan dasar keimanan yang satu untuk menyatukan pandangan manusia tentang Tuhan dan hidup dengan harmonis. 

Berikut adalah penjelasan mengapa Tauhid diterima sebagai penyempurna:

1. Mengakui adanya jembatan spiritual
Masyarakat Jawa sebelum Islam sudah memiliki pemahaman tentang Realitas Tertinggi dan pentingnya hubungan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Walisongo tidak mengabaikan keinginan spiritual ini, tetapi memberikan tempat dan arah yang lebih jelas. Mereka menerima tauhid karena menawarkan keyakinan bahwa Tuhan itu satu, yang menyederhanakan kerumitan politeisme (banyak dewa atau roh) dan memberikan fokus yang jelas. Para spiritualis Jawa dapat mengarahkan pengabdian mereka ke satu titik pusat, yaitu Allah. Walisongo, terutama melalui pendekatan sufisme, berhasil "men-tauhid-kan" atau menggabungkan prinsip universal Islam dengan elemen lokal dan tradisi Jawa. 

2. Menggunakan bahasa tasawuf (sufisme)
Walisongo menyampaikan ajaran Tauhid tidak dengan bahasa hukum (fiqh) yang kaku, tetapi dengan bahasa Tasawuf yang lebih dalam, penuh etika, dan pengalaman spiritual. Pendekatan ini sangat sesuai dengan cara berpikir masyarakat Jawa yang menghargai praktik batin dan perasaan. Konsep-konsep Tasawuf seperti Zuhud (hidup sederhana), Ikhlas (niat yang tulus), dan Wirid (dzikir) terasa akrab.

Ajaran ini tampak melengkapi nilai-nilai etika dan spiritual yang sudah ada dalam tradisi kebatinan Jawa, namun kini dipadukan dengan keyakinan Islam yang kuat. Cara dakwah Walisongo kaya akan prinsip-prinsip sufistik, sehingga berhasil membuat Islam diterima sebagai agama baru dan terus berkembang hingga sekarang. 

3. Mengisi ulang makna konsep lokal
Walisongo mengambil istilah spiritual yang sudah dikenal di Jawa, seperti "Manunggaling Kawula Gusti" (persatuan antara hamba dan Tuhan), lalu mereka memberikan makna baru sesuai dengan konsep Tauhid yang benar (yaitu Wahdatul Syuhud, atau Kesatuan Penyaksian). Mereka membersihkan konsep tersebut dari kemungkinan Syirik (menyekutukan Tuhan) yang dianggap salah, sambil tetap menghargai keinginan masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Mereka menegaskan bahwa hubungan itu adalah antara Pencipta dan Ciptaan, bukan penyatuan wujud secara total. Inti ajaran Tauhid yang dibawa oleh Walisongo adalah Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud dalam pandangan yang benar) yang mereka jelaskan dengan bijak. Para Wali menyebarkan akidah secara bertahap karena khawatir akan penyimpangan akidah akibat tradisi lama. 

4. Strategi adaptif
Proses penyempurnaan ini dilakukan dengan menggunakan dua strategi utama yang berasal dari pengetahuan dan logika. 

a. Tadrij (bertahap)
Tadrij (bertahap) adalah cara mengajarkan sesuatu secara perlahan dan bertahap, mulai dari hal yang paling mudah dan bisa diterima oleh orang-orang hingga ke hal yang lebih sulit. Misalnya, Walisongo tidak langsung menentang kepercayaan tentang dewa atau roh. Mereka memulai dengan konsep yang sudah dikenal, seperti Dewi Sri (Dewi Padi), lalu menjelaskan bahwa pencipta sejati dari padi dan seluruh alam adalah Allah Yang Maha Esa. 

b. Adamul haraj (tidak menyakiti)
Adamul haraj (tidak menyakiti) adalah menghindari kekerasan, konfrontasi langsung, atau penghancuran tradisi lokal yang disampaikan dengan penuh kerendahan hati (tawadhu), keluwesan, dan toleransi. Contoh: Sunan Kalijaga tidak membakar wayang kulit yang sarat mitologi Hindu-Buddha. Ia hanya mereformasi isinya. Bentuk wayang diubah agar tidak persis menyerupai manusia, naskah (lakon) diisi dengan ajaran Tauhid, dan suara gong (gaman dari Gamelan) diganti menjadi Gong Sekaten yang menyerukan Dua Kalimat Syahadat.

Tauhid yang diajarkan oleh Walisongo bukanlah "palu" yang menghancurkan kepercayaan lama, melainkan seperti "cincin" yang mengesahkan doktrin spiritual. Mereka menyempurnakan rasa ketuhanan yang sudah ada, dan mengarahkannya menuju Realitas Tunggal (Allah) dengan cara yang damai, bijaksana, dan sesuai konteks. Inilah alasan mengapa Islam di Jawa bisa tumbuh dan bertahan dengan baik. 

B. Syariat sebagai kompas dalam kehidupan
Syariat, secara sederhana, adalah pedoman praktis atau hukum yang mengatur semua aspek kehidupan seorang Muslim, dari ibadah kepada Tuhan hingga interaksi antar manusia (muamalah). Jika Tauhid merupakan tujuan utama secara spiritual, maka Syariat berfungsi sebagai kompas yang menunjukkan arah untuk mencapai tujuan tersebut. 

Bagi Walisongo, Syariat seharusnya tidak diajarkan sebagai sekumpulan aturan yang kaku dan memberatkan, tetapi sebagai panduan menuju kebahagiaan dan keselamatan. Masyarakat Jawa sebelum Islam sudah memiliki tradisi yang kuat. Menyampaikan Syariat dengan cara yang kaku dan mendadak akan dianggap merusak tradisi dan pasti akan menimbulkan penolakan yang kuat. 

1. Penerapan adaptif melalui tadrij (bertahap)
Tadrij adalah strategi pintar yang digunakan oleh Walisongo, mengikuti metode dakwah Rasulullah di Makkah dan Madinah. Sebagai contohnya: 

a. Moh limo 
Walisongo, terutama Sunan Ampel, merangkum inti dari Syariat dalam lima larangan moral yang dikenal sebagai "Moh Limo." "Moh" berarti menolak atau tidak mau, sedangkan "Limo" berarti lima. Jadi, Moh Limo mengacu pada penolakan untuk melakukan lima tindakan yang tercela atau terlarang. Ajaran ini bertujuan untuk membersihkan masyarakat dari masalah moral dan etika yang berkembang pada masa Majapahit sebelum membahas hukum Islam yang lebih rumit. 

Lima larangan dalam ajaran Moh Limo mencakup tindakan-tindakan yang merugikan akal, harta, kehormatan, dan ketertiban sosial, yaitu: 
- Moh Main berarti tidak mau berjudi. Ini artinya menolak perjudian (menghindari mencari uang dengan cara yang salah dan merusak keluarga). 
- Moh Ngombe berarti tidak mau minum minuman keras. Artinya adalah menjauhi alkohol (agar tetap menjaga pikiran sehat). 
- Moh Maling berarti tidak mau mencuri. Ini berarti menolak mencuri, merampok, atau korupsi (menjaga hak orang lain dan mendukung keadilan sosial). 
- Moh Madat berarti tidak mau menggunakan narkoba. Maknanya adalah menjauhi candu, ganja, atau obat terlarang (untuk menjaga pikiran tetap sehat dan tidak merusak diri sendiri). 
- Moh Madon berarti tidak mau berzina. Ini artinya menolak hubungan seksual di luar pernikahan (untuk menjaga kehormatan dan garis keturunan). 

Ajaran ini merupakan dasar etika dan Syariat yang mudah dipahami sebelum membahas hukum fikih secara lebih mendalam. 

b. Pengenalan ibadah
Ibadah yang wajib tidak diterapkan secara langsung dan total. Walisongo menekankan pentingnya Syahadat (pengakuan iman) lewat seni, kemudian secara perlahan mengajarkan Shalat Lima Waktu (Mulya Guna Panca Waktu). Sunan Ampel mengajarkan bahwa salat itu penting untuk mencapai kemuliaan baik di luar maupun dalam diri. 

c. Akulturasi tradisi
Walisongo mengubah cara tradisi lama digunakan, bukan menghilangkannya. Misalnya, tradisi kenduri atau slametan yang dulunya hanya ritual lokal, kini diubah menjadi kenduri yang diisi dengan doa-doa Islam untuk mendoakan leluhur. Ini menunjukkan ajaran Syariat tentang pentingnya doa dan sedekah, tetapi tetap dalam konteks budaya yang sudah dikenal. 

2. Penerapan adaptif melalui 'adamul haraj (tidak menyakiti)
Adamul Haraj merupakan fondasi penting bagi fleksibilitas syariat dalam konteks budaya. Contohnya adalah:" 

a. Kasus larangan sapi (sunan kudus)
Sunan Kudus adalah seorang pakar hukum Islam (Fiqh), tetapi ia melarang para pengikutnya untuk memotong atau makan daging sapi. Ia melakukan ini hanya untuk menghormati perasaan masyarakat Hindu yang menganggap sapi suci. Ini menunjukkan bahwa aturan Syariat bisa ditunda demi menjaga persatuan sosial dan penyebaran agama. 

b. Akulturasi arsitektur
Saat membangun Masjid Menara Kudus, Sunan Kudus mempertahankan bentuk menara yang mirip dengan candi atau bangunan Hindu kuno. Ini bukanlah sebuah penghancuran, tetapi lebih kepada penyerapan. Masjid ini berfungsi sebagai tempat ibadah (syariat), namun tetap mempertahankan bentuk yang akrab dalam budaya.  

c. Dakwah luwes
Walisongo selalu memilih cara damai dan tidak menggunakan kekerasan dalam menyebarkan ajaran mereka. Mereka melakukan dakwah dengan memberikan contoh yang baik dan menekankan pentingnya kesejahteraan sosial (muamalah). Contohnya, Sunan Drajat mengajarkan tentang kemanusiaan dan perhatian terhadap orang-orang miskin. 

Walisongo menempatkan Syariat sebagai panduan yang dapat beradaptasi. Dengan menggunakan strategi Tadrij (mengajarkan inti Syariat secara singkat, bertahap, dan mudah seperti Moh Limo) serta 'Adamul Haraj (menghormati tradisi dan menghindari konflik), mereka berhasil mengintegrasikan hukum Islam ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa tanpa menimbulkan gejolak sosial. Ini menunjukkan kecerdasan dan pengetahuan mereka dalam menerapkan syariat dengan bijaksana.

C. Ilmu sebagai strategi intelektual
Dakwah Walisongo adalah sebuah usaha yang sangat pintar, karena mereka memanfaatkan berbagai bidang ilmu, bukan hanya ajaran agama, untuk membangun kepercayaan masyarakat dan mendirikan dasar Syariat Islam di Nusantara. Berikut adalah penjelasannya: 

1. Astronomi (ilmu falak)
Ilmu ini sangat penting karena digunakan untuk menghitung dan menentukan arah kiblat dengan tepat serta menetapkan waktu-waktu ibadah seperti shalat dan puasa. Dengan menunjukkan keakuratan ilmiah ini, Walisongo menegaskan syarat sah ibadah (Syariat) dan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat bahwa ajaran yang mereka bawa didukung oleh pengetahuan yang baik. Penerapan ilmu pasti ini terlihat pada pembangunan masjid-masjid bersejarah, terutama Masjid Agung Demak. Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus, menggunakan perhitungan falak yang canggih untuk memastikan arah kiblat masjid benar-benar mengarah ke Ka'bah di Makkah. 

2. Arsitektur dan teknik
Hal ini terlihat dari pembangunan masjid-masjid kuno yang menggunakan desain atap bertumpuk, yang merupakan hasil adaptasi dari arsitektur setempat. Mereka juga mengajarkan keterampilan teknis seperti pande besi dan sistem irigasi, yang secara langsung meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Contoh paling terkenal adalah Soko Tatal di Masjid Agung Demak, tiang utama yang terbuat dari potongan kayu yang disatukan. Ini menunjukkan kemampuan teknik rekayasa yang luar biasa. Selain itu, Sunan Kudus juga dikenal mengajarkan masyarakat cara membuat pande besi dan kerajinan tangan. Melalui keterampilan ini, Syariat diterima bukan sebagai ajaran asing, tetapi sebagai solusi bagi peradaban. 

3. Filsafat dan tasawuf
Walisongo menggunakan ilmu spiritual ini yang tercermin dalam karya sastra Suluk untuk menyaring dan memperbaiki konsep spiritualitas lokal yang sudah ada, seperti Manunggaling Kawula Gusti. Penerapan ilmu ini terlihat dalam berbagai karya sastra dan spiritual, contohnya Suluk Wujil yang dihubungkan dengan Sunan Bonang. Melalui tembang dan ajarannya, Sunan Bonang berhasil mengubah konsep spiritualitas Jawa yang sangat mistis menjadi pemahaman Tauhid (keesaan Tuhan) yang benar dan filosofis. Dengan memberikan pemahaman Tauhid yang mendalam dan mudah dipahami, mereka mampu membentuk akhlak dan keyakinan batin yang kuat, yang merupakan inti dari keimanan. 

4. Ilmu sosiologi & komunikasi/seni
Mereka sangat memahami struktur sosial dan budaya masyarakat Jawa. Dengan memanfaatkan seni populer seperti Wayang dan Gamelan, mereka menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam pertunjukan yang disukai oleh masyarakat. Cara ini dikenal sebagai "Al-Hikmah" atau kebijaksanaan sosial. Strategi komunikasi budaya ini memastikan bahwa ajaran Syariat dan Akhlak dapat diterima oleh banyak orang, karena disampaikan melalui medium yang mereka cintai dan kenal. Penyampaian syariat dilakukan dengan cara yang persuasif, damai, dan tanpa konflik, sesuai dengan prinsip toleransi dan penyesuaian budaya. Contoh paling jelas dari hal ini adalah Sunan Kalijaga. Ia menggunakan pertunjukan Wayang Kulit untuk berdakwah. Meskipun tokoh dan alur cerita wayang tetap dipertahankan, namun beliau menyisipkan ajaran Islam (misalnya, meminta penonton untuk membayar dengan mengucapkan dua kalimat syahadat). 

5. Ilmu ekonomi & perdagangan
Banyak Walisongo adalah pedagang handal yang memanfaatkan jalur perdagangan di tepi pantai. Mereka tidak hanya berjualan, tetapi juga mengajarkan prinsip-prinsip Muamalah (hukum interaksi ekonomi) Islam yang jujur, serta aktif dalam mengelola zakat dan sedekah. Contohnya, Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) memilih untuk berdakwah melalui perdagangan di pelabuhan. Dia menunjukkan integritas dan akhlak yang baik dalam bisnis (Syariat Muamalah). Selain itu, dia juga aktif mengajarkan keterampilan bertani dan membantu orang-orang miskin. Ini membuktikan bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Walisongo tidak hanya berfokus pada kehidupan setelah mati dan ibadah ritual, tetapi juga membawa keadilan sosial dan kesejahteraan bagi masyarakat. 

6. Ilmu tata negara dan politik (siyasah)
Walisongo tidak hanya berfungsi sebagai ulama atau guru spiritual, tetapi juga sebagai tokoh politik dan penasihat kerajaan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman yang mendalam tentang ilmu tata negara (siyasah) dalam konteks membangun dan mengelola sebuah negara Islam. Tujuan dari ilmu ini dalam syariat adalah untuk mendirikan dan mengelola negara yang berdasarkan Syariat (hukum Islam), di mana pemimpin (ulil amri) bertanggung jawab untuk menjaga keamanan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat. Ini merupakan penerapan Syariat dalam pemerintahan. Contohnya, Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) yang mendirikan Kesultanan Cirebon dan Banten, menunjukkan bahwa beliau menguasai ilmu pendiri negara dalam merancang struktur pemerintahan, diplomasi, dan militer untuk memastikan kedaulatan Islam. 

7. Ilmu kesehatan dan kedokteran (thibbun nabawi)
Ilmu kesehatan adalah bagian yang sangat penting dalam dakwah, karena Islam memberikan perhatian besar terhadap kebersihan dan kesehatan tubuh (hifzhu an-nafs atau menjaga jiwa). Tujuannya adalah untuk mendapatkan simpati masyarakat dengan memberikan bantuan nyata melalui pengobatan sebelum mengajarkan ajaran spiritual. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang peduli dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik manusia. Contohnya adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), seorang tabib terkenal yang ahli dalam pengobatan dan sering merawat masyarakat, terutama mereka yang kurang mampu ketika sakit. 

D. Seni sebagai media inkulturasi
Peran seni dalam dakwah Walisongo merupakan strategi cerdas yang dikenal sebagai metode "Al-Hikmah" (kebijaksanaan). Walisongo sangat memahami bahwa masyarakat Jawa pada saat itu memiliki kecintaan yang mendalam terhadap seni, terutama wayang dan gamelan, yang merupakan warisan dari Hindu-Buddha dan animisme. 

Alih-alih melarang atau menentang secara langsung yang bisa menyebabkan konflik, mereka memilih untuk melakukan akulturasi dan transformasi. Seni digunakan sebagai jembatan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat dengan cara yang lembut dan tanpa paksaan. 

1. Merajut tauhid (inti kepercayaan)
Tauhid adalah dasar utama dalam Islam, yaitu keyakinan yang kuat akan keesaan Allah. Seni digunakan untuk secara halus menggantikan konsep ketuhanan Hindu-Buddha dengan ajaran Islam. Salah satu contohnya adalah perubahan bentuk wayang. Pada awalnya, wayang dibuat mirip manusia secara realistis, yang dikhawatirkan bisa menyebabkan penyembahan berhala (syirik). 

Sunan Kalijaga mengatasi perdebatan ini dengan menyarankan agar bentuk wayang dibuat pipih atau gepeng, seperti wayang kulit yang kita kenal sekarang. Perubahan ini bertujuan untuk menjauhkan citra wayang dari kesempurnaan bentuk manusia (yang hanya dimiliki oleh Allah) dan juga mengajarkan masyarakat bahwa tujuan pemujaan seharusnya bukan kepada bayangan, tetapi kepada Dzat Yang Maha Tunggal. 

2. Merajut syariat (hukum dan akhlak)
Syariat, yang meliputi hukum dan etika dalam Islam, dimasukkan secara halus ke dalam cerita dan lagu. Sunan Kalijaga memainkan peran penting dalam cara ini. Ia tidak meminta uang untuk pertunjukan wayangnya; sebaliknya, ia meminta penonton untuk mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Dengan cara ini, tiket masuk pertunjukan wayang diubah menjadi Syarat Masuk Islam (Syariat). 

3. Alat pendidikan dan transmisi ilmu
Seni digunakan sebagai kurikulum yang menyenangkan dan efektif untuk pendidikan moral dan agama. Dengan lagu dan permainan, anak-anak serta masyarakat umum dapat memahami ajaran Islam yang rumit sejak usia dini. Ini adalah cara penggunaan ilmu pengajaran yang memastikan bahwa Syariat dan Akhlak diajarkan dengan cara yang efektif, menyenangkan, dan dapat diteruskan dari generasi ke generasi. 

Walisongo, seperti Sunan Giri, menciptakan berbagai permainan untuk anak-anak dan tembang dolanan (Cublak-Cublak Suweng, Gundul-Gundul Pacul) yang melodinya mudah diingat. Tembang-tembang ini bukan hanya sekadar lagu, tetapi juga mengandung pesan etika, moral, dan ajaran agama yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana. 

4. Menggalang persatuan dan solidaritas
Seni, khususnya seni pertunjukan Wayang dan Gamelan, adalah aktivitas bersama yang menghubungkan masyarakat. Walisongo menggunakan seni ini untuk menghapus batasan sosial. Sebelum masuknya Islam, masyarakat Jawa memiliki sistem kasta (Hindu) dan pembagian kelas yang ketat. Pertunjukan Wayang yang diselenggarakan oleh Walisongo adalah acara gratis yang bisa dinikmati oleh semua orang, dari kalangan bangsawan hingga rakyat biasa. 

Gamelan Sekaten juga dimainkan untuk mengumpulkan semua orang di satu tempat. Dengan cara ini, mereka secara langsung menegakkan prinsip kesetaraan dan persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah), karena semua orang duduk bersama tanpa melihat status sosial mereka, sehingga membangun solidaritas sebagai komunitas baru (umat Islam). 

E. Warisan sejarah Islam, intelektual dan kebudayaan Jawa di Nusantara
1. Warisan arsitektur dan sejarah (artefak fisik)
Warisan arsitektur dan sejarah merupakan peninggalan nyata yang menjadi simbol percampuran budaya Islam dengan peradaban Jawa-Hindu-Buddha. Ini menunjukkan bagaimana Syariat diungkapkan melalui seni bangunan. Warisan arsitektur dan sejarah mencakup:  

a. Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak merupakan masjid kerajaan Islam pertama di Jawa yang berasal dari Kesultanan Demak. Ciri khasnya adalah atap yang berbentuk tumpang tiga atau limasan, yang terinspirasi dari arsitektur pura atau candi. Selain itu, masjid ini juga menggunakan Soko Tatal, yaitu tiang penyangga yang terbuat dari potongan kayu. Hal ini melambangkan persatuan dan kebersamaan dalam membangun peradaban Islam. 

b. Masjid Menara Kudus
Masjid ini didirikan oleh Sunan Kudus dan memiliki menara yang bentuknya mirip dengan candi Hindu, mengikuti gaya arsitektur kulkul Bali. Peninggalan ini menunjukkan strategi dakwah toleransi Sunan Kudus, yang menghargai budaya setempat, termasuk melarang penyembelihan sapi untuk menghormati para penganut Hindu. 

c. Makam-Makam Walisongo
Kompleks makam seperti Makam Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, dan Makam raja-raja Mataram Islam (Astana Pajimatan Imogiri) memiliki gapura yang bergaya paduraksa dan kori agung (pintu gerbang bertingkat). Ini menunjukkan kombinasi antara arsitektur Islam dengan tradisi penghormatan kepada leluhur Jawa. 

2. Warisan intelektual dan keagamaan (sanad keilmuan)
Warisan ini terdiri dari konsep ajaran, pendidikan, dan tulisan yang menjadi dasar ilmu pengetahuan Islam di Nusantara. Warisan ini mencakup: 

a. Pondok pesantren
Walisongo, khususnya Sunan Ampel (dengan Pesantren Ampel Denta) dan Maulana Malik Ibrahim (dengan Masjid Pesucinan di Leran), adalah orang-orang yang pertama kali mendirikan lembaga pendidikan Islam yang teratur di Jawa. Pondok pesantren ini menjadi warisan paling berharga dalam penyampaian ilmu Syariat, Tauhid, dan Tasawuf. 

b. Karya sastra tasawuf (suluk)
Warisan yang ada berupa buku-buku dan lagu-lagu yang mengandung ajaran spiritual. Salah satu contohnya adalah Suluk Sunan Bonang, yang mengajarkan tasawuf dan tauhid dengan sangat dalam. Selain itu, ada juga ajaran "Moh Limo" dari Sunan Ampel, yang menjadi dasar untuk ajaran moral dan etika (Syariat dan Akhlak) bagi masyarakat. 

c. Konsep fikih lokal
Beberapa Wali, seperti Sunan Giri, memiliki pandangan yang sangat hati-hati ketika memutuskan hal-hal mengenai ibadah. Mereka membentuk corak Fikih yang tetap berpegang pada Al-Qur'an dan Hadits, tetapi juga disesuaikan dengan adat Jawa. 

3. Warisan kebudayaan dan sosial (tradisi hidup)
Warisan budaya dan sosial (tradisi hidup) adalah tradisi yang diciptakan atau diubah oleh Walisongo dan masih dilakukan hingga sekarang. Warisan ini mencakup: 

a. Seni pertunjukan dan musik
Contoh wayang kulit yang dijadikan sebagai alat dakwah memiliki cerita yang mengandung nilai-nilai Islam, seperti Jimat Kalimasada yang melambangkan Syahadat. Ini merupakan warisan dari Sunan Kalijaga. Selain itu, ada juga lagu-lagu Islami berbahasa Jawa seperti "Tombo Ati" dari Sunan Bonang dan "Lir-Ilir" yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Modifikasi Gamelan Sekaten, yang berasal dari Syahadatain, juga digunakan untuk menarik banyak orang dalam penyebaran agama. 

b. Tradisi sosial (slametan)
Walisongo mengubah tradisi pra-Islam yang berupa sesajen menjadi kenduri atau slametan. Ritual yang awalnya ditujukan untuk roh nenek moyang kini diubah menjadi berbagi makanan dan doa bersama yang ditunjukan kepada Allah, sehingga praktik ini menjadi bagian dari Syariat yang lebih terbuka. 

Penutup:
Proyek dakwah Walisongo di Nusantara adalah contoh peradaban yang lengkap, di mana Tauhid menjadi dasar spiritual yang kuat. Untuk menerapkan keyakinan ini dalam kehidupan sehari-hari, Syariat berfungsi sebagai pedoman dan hukum. Menariknya, penyebaran Tauhid dan Syariat ini sangat terkait dengan Ilmu, yang berperan sebagai strategi berpikir dari berbagai disiplin ilmu (mulai dari astronomi hingga politik). 

Strategi ini disampaikan dengan baik melalui Seni sebagai cara untuk menggabungkan budaya lokal, menciptakan Warisan Sejarah Islam, Intelektual, dan Kebudayaan Jawa yang seimbang, toleran, dan bertahan hingga sekarang. Dengan cara ini, Walisongo menunjukkan bahwa Islam dapat disebarkan tidak dengan penolakan, tetapi melalui penggabungan budaya, spiritualitas, dan ilmu pengetahuan. 

Baca juga:

Referensi: 
1. Strategi Kultural Walisongo dalam Membangun Masyarakat Muslim Indonesia (Neliti).
2. REAKTUALISASI AJARAN WALISONGO DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI ERA PERUBAHAN (Journal UNUGIRI)
3. MANUNGGALING KAWULO GUSTI MENURUT ALIRAN SAPTA DARMA DITINJAU DARI AGAMA ISLAM (UINSU)
4. STUDI ISLAM DI PERGURUAN TINGGI (UINKHAS Jember)
5. H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud, Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries (Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa).
6. Suluk Sunan Bonang atau Serat Centhini
7. Jurnal Teosofi dan Al-Jami'ah
8. Buku Rikardus J. K. L. M. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c. 1300.
9. Syarif Hidayatullah: Bapak Islam Nusantara (Sunan Gunung Jati)
10. Historiografi Islam Indonesia oleh Azyumardi Azra.
11. The Founding Fathers of Indonesian Islam: The Pioneers of Islamic Knowledge in the Malay Archipelago (Kajian tentang sanad keilmuan Wali).
12. Akulturasi Budaya Jawa dan Islam Melalui Dakwah Sunan Kalijaga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhi suudzon dan tingkatkan husnudzon

Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul

Peduli terhadap hewan dan lingkungan sekitar