Peduli dengan anak yatim dan fakir miskin
Di tengah dinamika kehidupan sosial yang terus berkembang tantangan sosial seperti kemiskinan dan keterpinggiran masih menjadi kenyataan yang dihadapi banyak orang termasuk anak yatim dan fakir miskin. Anak yatim dan fakir miskin merupakan bagian dari kelompok rentan yang memerlukan perhatian dan bantuan lebih untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Meskipun banyak program pemerintah dan LSM telah diluncurkan untuk membantu mereka diperlukan lebih banyak upaya untuk memastikan perlindungan dan dukungan yang memadai bagi anak yatim dan fakir miskin.
Partisipasi aktif berbagai aktor, baik individu maupun kelompok dalam memenuhi kebutuhan ini merupakan kunci untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan peduli. Pada kesempatan kali ini penulis akan menggali pentingnya kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin serta berbagai inisiatif yang dapat dilakukan masyarakat untuk memperbaiki kondisinya. Dengan meningkatkan pemahaman dan kesadaran terhadap masalah ini, harapannya adalah menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan berempati bagi mereka yang membutuhkan.
A. Mengenal anak yatim dan fakir miskin
Yatim berasal dari kata al-fardu yang mempunyai arti sendirian dan segala hal yang ditinggalkan oleh sesuatu yang sama dengan hal tersebut. Yatim menurut syariat adalah tak jauh berbeda dengan makna secara bahasa yakni seorang anak yang ayahnya meninggal dunia sebelum anak tersebut dewasa. Sedangkan jika ibunya yang meninggal sebelum anak tersebut dewasa disebut piatu.
Anak piatu tidak disebut dengan yatim karena kematian bapaknya biasanya menjadikan anak tersebut lemah dan kehilangan penghidupan; karena memberi dukungan adalah tugas ayah, bukan tugas ibu. Dalam adat istiadat Indonesia, anak yatim disebut sebagai anak yang ayahnya telah meninggal dunia dan yang ditinggal meninggal oleh ibunya disebut piatu. Sedangkan anak yatim piatu merupakan gabungan keduanya, yaitu anak yang orangtuanya sudah dan belum mencapai umur dewasa.
Dalam bahasa arab, kata faaqir berasal dari kata faqr yang artinya tulang punggung. Sedangkan kata miskin berasal dari kata bahasa arab yakni sakana artinya diam atau tenang. Menurut istilah, fakir adalah seseorang yang tidak dapat mencukupi kebutuhan dasar (makanan, pakaian dan tempat tinggal) dalam hidupnya. Sedangkan, miskin adalah orang yang hanya dapat memenuhi setengah atau lebih dari kebutuhan dasar, akan tetapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan yang lainnya.
B. Perintah untuk peduli dengan anak yatim dan fakir miskin
Allah menghendaki umat Islam berbuat baik kepada anak yatim, fakir miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh,teman sejawat Ibnu Sabil dan hamba Sahaya. Karena berbuat baik kepada mereka dapat membuat hidup lebih mudah, menghilangkan kesengsaraan dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَا عْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا ۗ وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَا لْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَا لْجَـارِ الْجُـنُبِ وَا لصَّا حِبِ بِا لْجَـنْبِۢ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَا نَ مُخْتَا لًا فَخُوْرًا
Artinya:"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,"(QS. An-Nisa' surah ke 4: Ayat 36)
Pada ayat lain, Allah memerintahkan umat Islam untuk selalu memberi makan kepada anak yatim. Ayat ini juga mengandung makna agar manusia senantiasa menolong anak yatim dan fakir miskin. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَا مَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا
Artinya:"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan,"(QS. Al-Insan surah ke 76: Ayat 8)
Allah mengibaratkan manusia yang berbuat tercela kepada anak-anak yatim dan enggan mendorong memberi makan orang miskin, sebagai perbuatan yang dianggap sama dengan mendustakan agama. Karena umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk berbuat baik kepada yatim dan fakir miskin. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِا لدِّيْنِ(١) فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَ(٢) وَ لَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَا مِ الْمِسْكِيْنِ(٣)
Artinya:"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."(QS. Al-Ma'un surah ke 107: Ayat 1-3)
C. Cara peduli dengan anak yatim dan fakir miskin
Beberapa contoh sikap peduli terhadap anak yatim dan fakir miskin meliputi:
1. Memberikan bantuan berupa materi
Memberikan bantuan materi seperti pakaian, makanan, dan kebutuhan sehari-hari. Menyumbangkan uang atau barang-barang yang dibutuhkan oleh anak yatim dan fakir miskin.
2. Mendukung secara emosional
Memberikan perhatian, kasih sayang, dan dukungan emosional kepada anak yatim. Mendengarkan keluh kesah dan memberikan semangat kepada fakir miskin.
3. Memberikan pendidikan yang layak
Membantu menyediakan akses pendidikan bagi anak yatim agar dapat mengembangkan potensi mereka. Memberikan kesempatan belajar dan pelatihan keterampilan kepada fakir miskin untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
4. Menyantuni dan menyayangi
Menyantuni anak yatim dengan memberikan perlindungan, perhatian, dan kasih sayang seperti orangtua. Menunjukkan rasa kasih sayang dan empati kepada fakir miskin dengan mendengarkan cerita kehidupan mereka.
5. Mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan
Mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan seperti tolong-menolong, kepedulian, dan empati kepada anak yatim dan fakir miskin. Mendorong kesadaran sosial dalam membantu sesama manusia yang membutuhkan.
D. Manfaat peduli dengan anak yatim dan fakir miskin
Berikut merupakan manfaat dari peduli dengan anak yatim dan fakir miskin.
1. Mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat
Setiap orang pasti ingin bahagia. Bagi umat Islam yang bertakwa pasti akan dengan segera berlomba-lomba untuk menggapai sebuah kebahagiaan tersebut. Berbuat baik kepada anak yatim dan fakir miskin akan memudahkan kita dalam menggapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan yang kita peroleh di dunia yakni merasa tenang, tentram, dan bahagia karena dapa mencukupi kebutuhan orang yang kekurangan.
Menurut pandangan masyarakat, jika kita senantiasa dan senang berbuat baik terhadap anak yatim dan fakir miskin pasti masyarakat akan senang dengan apa yang kita lakukan. Sebab, hal tersebut merupakan perbuatan mulia dan hubungan kita dengan masyarakat akan dengan baik terjalin. Selain mendapatkan kebahagiaan di dunia juga akan mendapatkan orang yang berbuat baik dengan anak yatim dan fakir miskin akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat yakni dekat dengan Rasulullah. Dalam hadits yang berbunyi:
Aku dan orang-orang yang menyantuni anak-anak yatim disurga nanti kelak seperti dua jari ini” (HR. abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad)
Dalam hadits diatas dikatakan bahwa barangsiapa yang berbuat baik terhadap anak yatim akan dekat dengan Rasulullah di surga layaknya 2 jari. Selain, hadits diatas terdapat hadits lain yang menyatakan bahwa orang yang rajin berbuat baik terhadap anak yatim dan fakir miskin akan masuk kedalam surga. Disebutkan dalam hadits yang berbunyi:
"Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim diantara dua orangtua yang muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mncukupinya maka ia pasti akan masuk surga” (HR. Abu Ya’la dan Thabrani, Shahih At Targhib, Al-Albani).
2. Mempertebal iman dan takwa
Orang yang mempunyai iman dan takwa yang kuat dapat dilihat dari kepedulian mereka dengan anak yatim dan fakir miskin. Orang yang mempunyai iman dan takwa pasti akan senantiasa berusaha melakukan kebaikan, terutama kepada anak yatim dan fakir miskin. Allah memerintahkan kita untuk menginfakkan harta kita untuk anak yatim dan fakir miskin dalam keadaan lapang maupun sempit. Dengan demikian iman dan takwa kita semakin tebal.
Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ(١٣٣) الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ(١٣٤)
Artinya:"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."(QS. Ali 'Imran surah 3: Ayat 133-134)
3. Memunculkan jiwa yang pemurah
Islam memerintahkan kita untuk mempunyai jiwa pemurah, karena dengan demikian hubungan antara kita dan orang lain menjadi semakin baik, lebih-lebih hubungan kita dengan anak yatim dan fakir miskin. Dengan hal tersebut, Allah akan memberikan pahala dan kenikmatan yang sangat luas kepada kita. Kita dilarang oleh Allah untuk memiliki sifat kikir pada orang yang lemah, terlebih kepada anak yatim dan fakir miskin. Sungguh rugi orang yang mempunyai sifat kikir dalam hidupnya sebab akan mengalami kesulitan kehidupannya dan sifat kikir dapat membinasakan diri sendiri.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاَ مَّا مَنْۢ بَخِلَ وَا سْتَغْنٰى(٨) وَكَذَّبَ بِا لْحُسْنٰى(٩) فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰى(١٠) وَمَا يُغْنِيْ عَنْهُ مَا لُهٗۤ اِذَا تَرَدّٰى(١١)
Artinya:"Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa."(QS. Al-Lail surah ke 92: Ayat 8-11)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, "Jauhilah sifat kikir, sesungguhnya yang memninasakan umat sebelum kamu adalah sifat kikir: ia (sifat kikir) akan menyuruh mereka bersifat kikir maka mereka kikir, dan menyuruh mereka memutuskan silaturahim maka mereka memutuskan silaturahm, serta mnyuruh mereka berbuat fasik maka mereka berbuat fasik” (HR. Abu Dawud)
4. Meningkatkan rasa syukur dan ikhlas dalam diri seseorang
Berbuat baik dan peduli dengan anak yatim dan fakir miskin merupakan bentuk dari sifat pemurah, rasa syukur dan ikhlas dalam diri seseorang akan semakin meningkat dan semakin percaya bahwa berbuat baik terhadap anak yatim dan fakir miskin hidup mereka akan membuat hidup mereka berkualitas. Dengan beramal shalih dalam bentuk sedekah kepada fakir miskin akan membuat harta kita semakin bertambah dan orang yang mempunyai rasa ikhlas dan syukur kepada Allah akan membuat hidupnya bahagia.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
Artinya:"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."(QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 261)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْ اِنِّيْۤ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ
Artinya:"Katakanlah, "Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama."(QS. Az-Zumar surah ke 39: Ayat 11)
5. Sumber cinta dari Allah dan sesama manusia
Sebagai orang yang mempunyai iman dan takwa kita harus mempunyai rasa cinta dan kasih sayang. Apabila kita berharap Allah mencintai kita, maka kita harus bisa mencintai sesama manusia terlebih dahulu. Pada dasarnya, orang yang berbuat baik terhadap sesama manusia akan mendapatkan cinta dan kasih sayang. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS. Ali 'Imran surah ke 3: Ayat 31)
6. Harta akan menjadi berkah dan semakin bertambah
Berbuat baik dan peduli terhadap anak yatim dan fakir miskin merupakan wujud dan manfaat dari sedekah adalah membuat harta kita semakin berkah dan bertambah. Harta yang berkah membuat hidup seseorang tenang, tentram dan bahagia. Dengan keberkahan tersebut, pemiliknya akan bertambah rajin dalam beribadah kepada Allah.
Namun sebaliknya orang mempunyai harta dan enggan untuk bersedekah akan membuat hartanya tidak berkah dan mengakibatkan pemiliknya jauh dari Allah serta membuat hidupnya resah dan gelisah. Kita tak perlu khawatir menjadi miskin, jika kita bersedekah kepada fakir miskin karena itu akan mendatangkan keberkahan bukan kemelaratan.
Dari Annas Radhiyallahu 'Anhu: “Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “Pintu rizki akan terbuka sampai ‘Arsy. Allah menurunkan kepada Hamban-Nya bagian rizki mereka sesuai dengan banyaknya sedekah mereka. Barangsiapa yang sedikit mengeluarkan sedekah, maka Allah akan memberinya sedikit rizki, dan barang siapa yang banyak mengeluarkan sedekah, maka Allah akan memberinya rizki yang banyak” (HR. Dailami).
7. Memperoleh naungan dan pertolongan dari Allah
Nanti pada hari kiamat semua manusia akan bingung, resah, gelisah dan ketakutan dengan kondisi saat itu gunung-gunung bagikan kapas yang berhamburan dan manusia berhamburan tak karuan. Saat itu hanya manusia tertentu saja yang mendapatkan naungan dan pertolongan dari Allah. Salah satu orang yang mendapatkan naungan dan pertolongan tersebut adalah orang yang gemar bersedekah dengan hati yang tulus dan ikhlas. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang berbunyi:
Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: Ada tujuh golongan manusia yang nanti akan dinaungi Allah dalam naungan ‘arasy-Nya pada hari yang tiada naungan selain naungan Allah, yaitu : (1) Seorang pemuda yang dibesarkan dalam ibadah kepada Allah, (2) Pemimpin yang adil dan ujur, (3) Seorang laki-laki yang diajak berselingkuh oleh seorang perempuan cantik dan berpangkat, lalu dia mengatakan “aku takut kepada Allah rabbal ‘alamin”, (4) Seseorang yang merahasiakan sedekah yang diberikan oleh tangan kanannya terhadap tangan kirinya, (5) Seseorang yang hatinya selalu tertambat di masjid-masjid Allah, (6) dan (7) Dua orang yang masing-masing bermaksud menjalin persaudaraan karena Allah, lalu dalam keadaan demikian itu mereka berpisah. (HR Thahawi)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa,
Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersada : ”Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tiada naungan lain selain naungan-Nya, yaitu : (1) Pemimpin yang adil dan jujur, (2) Seorang lelaki betemu seorang perempuan cantik dan berpangkat lalu perempuan itu menawarkan dirinya kepada laki-laki tersebut dan laki-laki tersebut mengatakan : “Sesungguhya aku takut kepada Allah rabbul alamin”, (3) Seseorang yang hatinya tertambat di masjid-masjid, (4) Seseorang yang mempelajari al-Qur’an sejak muda dan terus dibacanya sampai tua, (5) Seseorang yang merahasiakan sedekahnya sehingga apa yang diberikan oleh tangan kanannya tidak diketahui oleh tangan kirinya, (6) Seseorang yang ingat kepada Alah (dzikrullah) di tengah-tengah orang banyak sambil melelehkan air matanya karena takut kepada Allah, (7) Seseorang bertemu orang lain lalu dia mengatakan : Aku mencintaimu karena Allah, yang disambut oleh temannya itu : Akupun mencintaimu karena Allah”. (HR Baihaqi, dalam Syu’abul Iman)
Maka dari tu hendaknya kita ringan tangan kepada anak yatim dan fakir miskin dengan hati yang tulus dan ikhlas.
8. Pahala yang mengalir terus menerus
Berbuat baik dan peduli terhadap anak yatim dan fakir miskin merupakan wujud sedekah. Sedekah tidak harus dengan materi seperti yang penulis katakan sebelumnya yakni dengan memberikan pendidikan yang layak dan mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan atau mengajarkan ilmu lain yang bermanfaat dalam kehidupan anak yatim dan fakir miskin. Kemudian dengan ilmu tersebut anak yatim dan fakir miskin mendapatkan kebaikan dari ilmu yang kita ajarkan, setelah itu mereka terus mengajarkannya sehingga membawa manfaat bagi orang lain maka kita pun akan memperoleh pahala yang terus mengalir.
Ketika kita berbuat baik dan peduli terhadap anak yatim kemudian ia senantiasa mendoakan kita maka doa anak yatim tersebut seperti mendoakan kedua orangtuanya. Apalagi jika kita membantu kehidupan anak yatim dan fakir miskin dengan materi dan materi tersebut bermanfaat sepanjang hidupnya maka kita pun akan mendapatkan pahala. Dan itu semua merupakan pahala sedekah jariyah.
"Jika anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 4310)
9. Menyucikan jiwa
Jiwa manusia seringkali ternodai oleh perbuatan mereka sendiri. Salah satu diantaranya adalah sifat berlebihan dalam mencintai dunia yang pada akhirnya menimbulkan sifat kikir dan tidak menyedekahkan sebagian hartanya. Sikap yang berlebihan dalam mencintai dunia merupakan hal yang dibenci oleh Allah. Bahkan orang yang mengumpulkan harta berlebihan namun tidak mempunyai keinginan untuk mengamalkannya harta yang ia miliki merupakan hal yang dibenci oleh Allah dan orang yang demikian akan menjadi orang-orang yang celaka.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَيْلٌ لِّـكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ(١) ٱلَّذِيْ جَمَعَ مَا لًا وَّعَدَّدَهٗ(٢)
Artinya:"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,"(QS. Al-Humazah surah ke 104: Ayat 1-2)
Sebagai umat Islam yang mempunyai iman dan takwa tentu tidak ingin masuk kedalam golongan tersebut. Sifat Bakhil dan kikir dapat menodai jiwa seseorang dan peduli terhadap anak yatim dan fakir miskin merupakan hal yang sangat mulia serta dapat menyucikan jiwa. Tindakan ini membuat kita menjadi orang yang lebih baik dan lebih berguna bagi orang lain. Karena sebaik-baiknya orang adalah orang yang berguna untuk orang lain.
10. Sama dengan jihad dijalan Allah
Membantu fakir miskin termasuk jihad dijalan Allah. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi jandan dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (HR. Bukhari)
Selain itu mengasuh 3 anak yatim mendapatkan pahala setara dengan shalat malam, puasa dan jihad dijalan Allah. Dalam hadits disebutkan bahwa, "Barangsiapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad di jalan Allah." (HR. Ibnu Majah)
11. Mengusap kepala anak yatim mempunyai banyak keutamaan
“Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim karena Allah maka baginya kebaikan yang banyak dari setiap rambut yang ia usap. Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki maka aku dan dia akan berada di surga seperti ini, beliau mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (HR. Ahmad dan Abu Umamah)
E. Kisah inspiratif tentang peduli dengan anak yatim dan fakir miskin
1. Rasulullah dan anak yatim dihari raya
Ketika semua orang berbahagia menyambut hari raya, ada seorang gadis dengan pakaian lusuh yang tampak menangis tersedu-sedu disudut kota Madinah. Melihat hal tersebut Rasulullah kemudian mendatanginya. "Nak, mengapa kamu menangis? Bukankah hari ini adalah hari raya?," kata Rasulullah. "Nak, mengapa kamu menangis? Kamu tidak bermain bersama mereka?” Anak kecil tersebut tidak mengetahui bahwa yang ada dihadapannya adalah Rasulullah.
Anak kecil itu menjawab, "Paman ayahku mengikuti pertempuran bersama Rasulullah dan gugur dalam pertempuran tersebut." Rasulullah mendengarkan cerita anak tersebut dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang diceritakan anak tersebut. Gadis tersebut kemudian melanjutkan ceritanya, "Ibuku kemudian menikah lagi dan memakan harta warisan peninggalan ayahku. Suaminya yang baru kemudian mengusirku dari rumahku sendiri dan sekarang aku tidak mempunyai apapun. Aku bukan siapa-siapa. Namun hari ini aku melihat teman seumuranku merayakan hari raya dengan ayah mereka dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis.”
"Nak, dengar baik-baik." Kata Rasulullah, "Apakah kamu mau menerima aku sebagai ayahmu? Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husein sebagai saudaramu, dan Fatimah sebagai saudarimu?” Tanya Rasulullah. Mendengar tawaran tersebut, gadis tersebut mengerti yang ada dihadapannya adalah Rasulullah. "Kenapa tak sudi ya Rasulullah?" Gadis itu menjawab dengan senyum terbuka. Setelah itu, Rasulullah membawa pulang anak angkatnya ke rumah. Gadis tersebut disana diberikan pakaian terbaik dan dipersilahkan makan dengan kenyang. Penampilannya diperhatikan dan diberikan wewangian.
Setelah itu gadis tersebut keluar dari rumah Rasulullah dengan wajah bahagia. Melihat perubahan drastis pada anak ini, teman-temannya bertanya. “Kamu menangis tadi. Tapi kamu terlihat sangat bahagia sekarang?" "Benar kawan. Tadinya aku lapar, tapi lihat, sekarang sudah tidak lagi. Aku kenyang. Dulunya aku tidak berpakaian, tapi sekarang lihat. Sekarang aku memakai baju yang bagus. Dulu aku yatim piatu, tapi sekarang aku punya sangat keluargaku yang penuh perhatian. Rasulullah adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah saudari perempuanku. Apakah aku tidak bahagia?” mendengar hal tersebut temannya menginginkan apa nasib serupa.
2. Rasulullah membesarkan hati orang miskin
Seorang budak perempuan bernama Barirah juga sangat mencintai Rasulullah. Wanita miskin ini sangat ingin agar Rasulullah datang ke gubuknya. Namun, ia tidak berani mengundang Rasulullah karena tidak tersedia apa-apa di rumah Barirah. Suatu ketika, Barirah diberi makan yang cukup mewah oleh salah satu temannya. Dia belum pernah mencicipi makanan lezat seperti ini seumur hidupnya. Sebelum mencicipinya, tiba-tiba terlintas dalam benaknya, selagi ada makanan, sebaiknya makanan ini dihidangkan kepada orang spesial yang ia rindukan yakni Rasulullah.
Begitu diundang, Nabi pun datang bersama para sahabatnya. Tiba-tiba sahabat Nabi melihat makanan yang enak dan mahal itu, berpikir budak wanita ini tidak mampu membelinya sendiri. “Wahai Rasulullah, mungkin ini makanan zakat atau sedekah. Sedangkan zakat dan sedekah tidak boleh engkau makan. Jadi, engkau jangan memakannya Rasulullah." Kata sahabat Nabi. Cinta Barirah yang menggebu-gebu membuatnya lupa bahwa Rasulullah tidak menerima zakat dan sedekah. Mendengar apa yang dikatakan sahabat tersebut, hati Barirah seakan meledak.
Perasaan takut, cemas, malu dan sedih kini merusak kegembiraannya. Menghilangkan makanan yang tidak boleh dimakan oleh Nabi adalah kesalahan yang fatal. Dalam keadaan inilah Nabi menunjukkan kemuliaannya. Dengan lembut dan bijaksana: “Makanan ini memang sedekah Barirah, maka dari itu sudah menjadi milik Barirah. Lalu Barirah memberikannya kepadaku. Barulah aku boleh memakannya.” Lalu Nabi memakannya tanpa rasa malu.
Penutup:
Kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin merupakan tanggung jawab bersama dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berempati. Melalui peran aktif individu dan kelompok dalam memberikan bantuan dan dukungan, kita dapat membantu mengatasi tantangan yang dihadapi oleh kelompok rentan ini. Pentingnya memperluas pemahaman dan kesadaran akan kondisi mereka menjadi fokus utama, sehingga tercipta lingkungan yang lebih ramah dan berempati terhadap kebutuhan mereka. Dengan menjalin solidaritas dan kerjasama lintas sektor, kita dapat menciptakan perubahan yang signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup anak yatim dan fakir miskin, serta membangun masa depan yang lebih baik bagi mereka dan masyarakat secara keseluruhan. Sekian dan terimakasih atas kunjungannya.
Penulis: Maulana Aditia
Baca juga:
Komentar
Posting Komentar