Mengenal, mengimani dan mencintai Allah


Selama hidup seseorang, kehadiran Tuhan menjadi fokus spiritualitas dan iman. Islam sebagai agama yang mengedepankan keesaan Tuhan memberikan landasan yang kuat bagi umatnya untuk mengenal, mengimani, dan mencintai Allah. Lalu bagaimana cara kita mengenal, mengimani dan mencintai Allah? Berikut pembahasannya.

A. Siapa itu Allah?
Allah adalah nama Tuhan dalam Islam. Dalam Islam, Allah dianggap sebagai Pencipta dan Penguasa seluruh alam semesta. Dia diwujudkan sebagai satu-satunya Tuhan yang maha kuasa, maha bijaksana dan maha penyayang. Konsep Allah terdapat dalam Al-Quran yang menguraikan sifat-sifat-Nya dan memberikan petunjuk bagi umat Islam. Ketaqwaan dan keimanan kepada Allah merupakan pilar utama praktik keagamaan Islam, termasuk ibadah, akhlak, dan hubungan sosial.

B. Asmaul Husna
Al-Asmā'u al-Husnā terdiri dari dua kata yaitu asmā yang berarti nama dan husna yang berarti baik atau indah. Jadi al-Asmā'u al-husnā dapat diartikan sebagai nama baik dan indah yang hanya dimiliki oleh Allah sebagai bukti agungnya Allah. Kata Al-Asmā'u al-Husnā diambil dari kata dalam Al Qur'an yang berbunyi:

اَللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ لَـهُ الْاَ سْمَآءُ الْحُسْنٰى

Artinya:"(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik."(QS. Ta-Ha surah ke 20: Ayat 8)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلِلّٰهِ الْاَ سْمَآءُ الْحُسْنٰى فَا دْعُوْهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْۤ اَسْمَآئِهٖ ۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ 

Artinya:"Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Al-A'raf surah ke 7: Ayat 180)

Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa: "Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu sesungguhnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa yang menghafalkannya, maka ia akan masuk surga”. (H.R. Bukhari)

Berikut merupakan daftar 99 Asmaul Husna:
1.) Ar Rahman artinya Yang Maha Pengasih
2.) Ar Rahiim artinya Yang Maha Penyayang
3.) Al Malik artinya Yang Maha Merajai
4.) Al Quddus artinya Yang Maha Suci
5.) As Salaam artinya Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6.) Al Mu`min artinya Yang Maha Memberi Keamanan
7.) Al Muhaimin artinya Yang Maha Memelihara
8.) Al 'aziiz artinya Yang Maha Perkasa
9.) Al Jabbar artinya Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
10.) Al Mutakabbir artinya Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11.) Al Khaliq artinya Yang Maha Pencipta
12.) Al Baari` artinya Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13.) Al Mushawwir artinya Yang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)
14.) Al Ghaffaar artinya Yang Maha Pengampun
15.)  Al Qahhaar artinya Yang Maha Memaksa
16.) Al Wahhaab artinya Yang Maha Pemberi Karunia
17.) Ar Razzaaq artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
18.) Al Fattaah artinya Yang Maha Pembuka Rahmat
19.) Al `Aliim artinya Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20.) Al Qaabidh artinya Yang Maha Menyempitkan (makhluk-Nya)
21.) Al Baasith artinya Yang Maha Melapangkan (makhluk-Nya)
22.) Al Khaafidh artinya Yang Maha Merendahkan (makhluk-Nya)
23.) Ar Raafi` artinya Yang Maha Meninggikan (makhluk-Nya)
24.) Al Mu`izz artinya Yang Maha Memuliakan (makhluk-Nya)
25.) Al Mudzil artinya Yang Maha Menghinakan (makhluk-Nya)
26.) Al Samii` artinya Yang Maha Mendengar
27.) Al Bashiir artinya Yang Maha Melihat
28.) Al Hakam artinya Yang Maha Menetapkan
29.) Al `Adl artinya Yang Maha Adil
30.) Al Lathiif artinya Yang Maha Lembut
31.) Al Khabiir artinya Yang Maha Mengenal
32.) Al Haliim artinya Yang Maha Penyantun
33.) Al `Azhiim artinya Yang Maha Agung
34.) Al Ghafuur artinya Yang Maha Pengampun
35.) As Syakuur artinya Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36.) Al `Aliy artinya Yang Maha Tinggi
37.) Al Kabiir artinya Yang Maha Besar
38.) Al Hafizh artinya Yang Maha Memelihara
39.) Al Muqiit artinya Yang Maha Pemberi Kecukupan
40.) Al Hasiib artinya Yang Maha Membuat Perhitungan
41.) Al Jaliil artinya Yang Maha Mulia
42.) Al Kariim artinya artinya Yang Maha Mulia
43.) Ar Raqiib artinya Yang Maha Mengawasi
44.) Al Mujiib artinya Yang Maha Mengabulkan
45.) Al Waasi` artinya Yang Maha Luas
46.) Al Hakiim artinya Yang Maha Bijaksana
47.) Al Waduud artinya Yang Maha Mengasihi
48.) Al Majiid artinya Yang Maha Mulia
49.) Al Baa`its artinya Yang Maha Membangkitkan
50.) As Syahiid artinya Yang Maha Menyaksikan
51.) Al Haqq artinya Yang Maha Benar
52.) Al Wakiil artinya Yang Maha Memelihara
53.) Al Qawiyyu artinya Yang Maha Kuat
54.) Al Matiin artinya Yang Maha Kokoh
55.) Al Waliyy artinya Yang Maha Melindungi
56.) Al Hamiid artinya Yang Maha Terpuji
57.) Al Muhshii artinya Yang Maha Mengkalkulasi
58.) Al Mubdi` artinya Yang Maha Memulai
59.) Al Mu`iid artinya Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
60.) Al Muhyii artinya Yang Maha Menghidupkan
61.) Al Mumiit artinya Yang Maha Mematikan
62.) Al Hayyu artinya Yang Maha Hidup
63.) Al Qayyuum artinya Yang Maha Mandiri
64.) Al Waajid artinya Yang Maha Penemu
65.) Al Maajid artinya Yang Maha Mulia
66.) Al Wahiid artinya Yang Maha Tunggal
67.) Al Ahad artinya Yang Maha Esa
68.) As Shamad artinya Yang Maha Dibutuhkan
69.) Al Qaadir artinya Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70.) Al Muqtadir artinya Yang Maha Berkuasa
70.) Al Muqaddim artinya Yang Maha Mendahulukan
71.) Al Mu`akkhir artinya Yang Maha Mengakhirkan
72.) Al Awwal artinya Yang Maha Awal
73.) Al Aakhir artinya Yang Maha Akhir
74.) Az Zhaahir artinya Yang Maha Nyata
75.) Al Baathin artinya Yang Maha Ghaib
76.) Al Waali artinya Yang Maha Memerintah
77.) Al Muta`aalii artinya Yang Maha Tinggi
78.) Al Barri artinya Yang Maha Penderma
79.) At Tawwaab artinya Yang Maha Penerima Taubat
80.) Al Muntaqim artinya Yang Maha Pemberi Balasan
81.) Al Afuww artinya Yang Maha Pemaaf
82.) Ar Ra`uuf artinya Yang Maha Pengasuh
83.) Malikul Mulk artinya Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
84.) Dzul Jalaali Wal Ikraam artinya Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86.) Al Muqsith artinya Yang Maha Pemberi Keadilan
87.) Al Jamii` artinya Yang Maha Mengumpulkan
88.) Al Ghaniyy artinya Yang Maha Kaya
89.) Al Mughnii artinya Yang Maha Pemberi Kekayaan
90.)Al Maani artinya Yang Maha Mencegah
91.) Ad Dhaar artinya Yang Maha Penimpa Kemudharatan
92.) An Nafii`artinya Yang Maha Memberi Manfaat
93.) An Nuur artinya Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94.) Al Haadii artinya Yang Maha Pemberi Petunjuk
95.) Al Baadii artinya Yang Indah Tidak Mempunyai Banding
96.) Al Baaqii artinya Yang Maha Kekal
97.) Al Waarits artinya Yang Maha Pewaris
98.) Ar Rasyiid artinya Yang Maha Pandai
99.) As Shabuur artinya Yang maha sabar

C. Sifat-sifat Allah
Menurut para ulama, sifat-sifat Allah adalah sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat Jaiz atau Mumkin. Sifat-sifat Allah sebenarnya tidak terbatas, tujuan dari pengelompokan ini adalah untuk memudahkan umat Islam dalam mempelajari dan memahami sifat-sifat kebesaran Allah. Memahami sifat-sifat Allah dapat menjadi salah satu cara seorang muslim mempelajari katauhidan.

1. Sifat wajib
Sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang ada pada diri Allah. Berikut merupakan sifat wajib bagi Allah.
1.) Wujud artinya ada.
Hakikat sifat wujud artinya kehadiran Allah tidak diciptakan oleh siapa pun dan tidak ada Tuhan lain selain Dia. Allah pasti ada dan tidak bergantung pada siapapun karena Dialah pencipta alam semesta. Bukti kehadiran dan wujud Allah adalah penciptaan-Nya berupa langit dan bumi serta segala isinya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍ ۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ

Artinya:"Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"(QS. As-Sajdah surah ke 32: Ayat 4)

2.) Qidam artinya terdahulu.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan oleh Allah yang merupakan awal dan pencipta kehidupan serta akhir kehidupan. Sifat qidam dari Allah menunjukkan bahwa Dia mengetahui segala sesuatu tentang ciptaan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

هُوَ الْاَ وَّلُ وَا لْاٰ خِرُ وَا لظَّاهِرُ وَا لْبَا طِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Artinya:"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."(QS. Al-Hadid surah ke 57: Ayat 3)

3.) Baqa artinya kekal.
Sifat Baqa artinya Allah itu kekal. Allah tidak akan mati sebagaimana Dia menciptakannya. Karena kematian dan kehancuran adalah ciptaannya. Sifat Baqa menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah atas seluruh ciptaan bumi dan dunia. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَا نٍ(٢٦) وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَا لْاِ كْرَا مِ(٢٧) 

Artinya:"(26)Semua yang ada di bumi itu akan binasa,(27.) Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."(QS. Ar-Rahman surah ke 55: Ayat 26-27)

Selain itu dijelaskan dalam ayat lain yang berbunyi: 

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَا لِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَـهُ الْحُكْمُ وَاِ لَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Artinya:"Dan jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan."(QS. Al-Qasas surah ke 28: Ayat 88)

4.) Mukhalafatu Lil Hawaditsi artinya berbeda dengan makhluknya.
Allah Maha Sempurna dan tidak ada ciptaan yang dapat menandingi Dia. Pembaca mungkin mengetahui fakta bahwa manusia pasti memiliki anak kembar di dunia ini, namun itu berbeda dengan Allah yang satu dan tidak ada yang bisa menandingi kebesaran-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَا طِرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا وَّ مِنَ الْاَ نْعَا مِ اَزْوَا جًا ۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِ ۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya:"(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."(QS. Asy-Syura surah ke 42: Ayat 11)

5.) Qiyamuhu Binafsihi artinya tidak membutuhkan bantuan dari siapapun.
Sesuai dengan kehendak-Nya, Allah tidak pernah bergantung pada siapa pun karena kebesaran yang ia miliki atas seluruh ciptaan-Nya. Berbeda dengan makhluk lain, Allah tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu. Allah adalah keagungan terbesar di alam semesta.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا

Artinya:"Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya.""(QS. Al-Isra' surah ke 17: Ayat 111)

6.) Wahdaniyah artinya esa/tunggal.
Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan satu-satunya Tuhan yang menciptakan alam semesta. Sebagai umat Islam, pembaca harus yakin bahwa Allah Maha Esa dan satu-satunya yang dianggap sebagai pencipta alam semesta dan isinya. Oleh karena itu, ketika umat Islam menyekutukan Allah, maka musyrik lah mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ 

Artinya:"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa."(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1)

7.) Qudrat artinya pemilik dan pemegang terhadap sesuatu.
Allah adalah satu-satunya dzat yang berkuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada makhluk lain yang dapat menandingi kuasa-Nya. Kekuasaan Allah bersifat mutlak dan tidak ada batasnya serta tidak dibatasi oleh siapa pun, baik oleh kodratnya sendiri maupun oleh makhluk ciptaannya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يَكَا دُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَا رَهُمْ ۗ كُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ ۙ وَاِ ذَاۤ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَا مُوْا ۗ وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَ بْصَا رِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya:"Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."(QS. Al-Baqarah artinya 2: Ayat 20)

8.) Iradat artinya berkehendak
Allah mempunyai kehendak terhadap seluruh alam semesta dan segala isinya. Tidak mungkin Allah melakukan apa pun atas perintah dan paksaan makhluk lain. Jika Allah berkehendak tidak ada yang mustahil dan tidak ada yang bisa menghalanginya. Segala sesuatu di alam semesta ini berjalan dan terjadi sesuai kehendak Allah tanpa campur tangan siapapun.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَاۤ اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَا دَ شَیْئًـا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Artinya:"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu."(QS. Yasin surah ke 36: Ayat 82)

9.) Ilmun artinya mengetahui atas segala sesuatu
Allah mengetahui segalanya dan tidak ada sesuatu pun yang tidak diketahuinya. Ilmu dan kecerdasan Allah itu sempurna, artinya ilmu Allah tidak terbatas dan terbatas. Segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, diketahui oleh Allah. Allah bahkan mengetahui rahasia hati manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

Artinya:"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."(QS. Qaf surah ke 50: Ayat 16)

10.) Hayat artinya hidup
Allah itu hidup dan kekal serta memberi kehidupan. Allah hidup bukan karena dihidupkan tapi hidup menurut kehendak-Nya, karena Allah maha sempurna. Hakikat kehidupan juga menunjukkan bahwa Allah tidak membutuhkan makhluk hidup seperti makan, minum, tidur, istirahat dan aktivitas hidup manusia lainnya. Hidup Allah itu kekal dan kekal tanpa mengalami kematian.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Artinya:"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."(QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 255)

11.) Sama' artinya mendengar
Allah mendengarkan segala sesuatu di alam semesta. Dan hal-hal yang terucap dan tersembunyi di dalam hati dan jiwa manusia. Tidak ada suatu bentuk suara pun yang tidak didengar oleh Allah, sekalipun suara itu lemah dan lembut, sebab pendengaran Allah tidak terbatas pada apa pun. Berbeda dengan pendengaran manusia yang terbatas pada frekuensi suara tertentu.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قُلْ اَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَـكُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ۗ وَا للّٰهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Artinya:"Katakanlah (Muhammad), "Mengapa kamu menyembah yang selain Allah, sesuatu yang tidak dapat menimbulkan bencana kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(QS. Al-Ma'idah surah ke 5: Ayat 76)

12.) Bashar artinya melihat 
Allah melihat segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik yang kasat mata maupun yang tersembunyi. Penglihatan Allah tidak ada batasnya, dan tidak terpengaruh oleh jarak atau terhalang oleh apapun. Kita harus percaya pada sifat bashar untuk selalu peduli dengan apa yang kita lakukan di dunia karena kita tidak bisa berbohong kepada Allah dan Dia selalu tahu.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمُ ابْتِغَآءَ مَرْضَا تِ اللّٰهِ وَ تَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِۢرَبْوَةٍ اَصَا بَهَا وَا بِلٌ فَاٰ تَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ ۚ فَاِ نْ لَّمْ يُصِبْهَا وَا بِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya:"Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 265)

13.) Kalam artinya berfirman
Allah berarti kemampuan untuk berbicara dan berkata dengan sempurna tanpa batasan atau bantuan. Allah berfirman melalui kitab-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rasul. Ucapan Allah pasti berbeda dengan pengertian ucapan dan pemahaman manusia karena Allah tidak berpanca indera atau berorgan seperti manusia. Hakikat firman Allah adalah sempurna dan mutlak.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya:"Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." (Allah) berfirman, "Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku." Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.""(QS. Al-A'raf surah ke 7: Ayat 143)

14.) Qadiran artinya kuasa
Allah maha kuasa atas alam semesta dan segala isinya. Kekuasaan Allah tidak terbatas pada apapun dan siapapun, karena Dialah Sang Pencipta yang berkuasa tunggal atas kehidupan alam semesta. Kuasa Allah tidak pernah setara atau lebih baik dari kuasa mana pun di bumi.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يَكَا دُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَا رَهُمْ ۗ كُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ ۙ وَاِ ذَاۤ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَا مُوْا ۗ وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَ بْصَا رِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya:"Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."(QS. Al-Baqarah artinya 2: Ayat 20)

15.) Muridan artinya kehendak
Allah mengendalikan segala kondisi dan keadaan yang menentukan segala sesuatu di alam semesta. Allah mengendalikan nasib dan takdir manusia dan alam semesta. Kewajiban muridan menyatu dengan sifat wajib iradat Allah. Kehendak Allah bersifat mutlak dan tidak terbatas.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

خٰلِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَا مَتِ السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۗ اِنَّ رَبَّكَ فَعَّا لٌ لِّمَا يُرِيْدُ

Artinya:"Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki."(QS. Hud surah ke 11: Ayat 107)

16.) 'Aliman artinya mengetahui
Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dan apa yang terjadi dan apa yang tidak terjadi di bumi dan di alam semesta. Tidak ada sesuatu pun yang tidak diketahui Allah, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat disembunyikan dari-Nya. Bahkan Allah pun mengetahui pikiran dan isi hati manusia. Allah maha tahu tanpa batas dan tidak sebanding dengan substansi apapun.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يَسْتَفْتُوْنَكَ ۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْـكَلٰلَةِ ۗ اِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَـيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗۤ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَاۤ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۗ فَاِ نْ كَا نَـتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗ وَاِ نْ كَا نُوْۤا اِخْوَةً رِّجَا لًا وَّنِسَآءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُ نْثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Artinya:"Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, (yaitu) jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.""(QS. An-Nisa' surah ke 4: Ayat 176)

17.) Hayyan artinya hidup
Allah hidup tanpa tidur, bermalas-malasan, lelah, apalagi mati. Allah hidup selama-lamanya dan tidak dibatasi oleh waktu, keadaan atau tempat karena Allah itu sempurna. Sifat wajib hidup Allah dipadukan dengan sifat wajib Allah yaitu sifat hayat. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَـيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهٖ ۗ وَكَفٰى بِهٖ بِذُنُوْبِ عِبَا دِهٖ خَبِيْرًا 

Artinya:"Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya,"(QS. Al-Furqan surah ke 25: Ayat 58)

18.) Sami'an artinya mendengar
Sifat wajib Sam'an artinya Allah mendengar segala sesuatu yang ada di alam semesta. Tidak ada batasan untuk tampak tidak tampak, maupun keras pelannya suara. Allah mendengar perkataan, keinginan, doa bahkan bisikan hati manusia yang tidak dapat didengar orang lain. Tidak ada yang membatasi atau merintangi pendengaran Allah . Sifat wajib sam’an menyatu dengan sifat wajib Allah yakni sifat sami'.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِا لطَّا غُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِا لْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَا مَ لَهَا ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya:"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."(QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 256)

19.) Bashiran artinya mengawasi
Allah selalu mengendalikan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, termasuk gerak dan perilaku manusia. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari kendali Allah, meskipun tersembunyi. Sifat wajib bashiran Allah sama dengan sifat bashar. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَا للّٰهُ بَصِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya:"Sungguh, Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hujurat surah ke 49: Ayat 18)

20.) Mutakkaliman artinya berfirman
Allah Yang Mahakuasa berfirman tentang segala rahmat-Nya kepada alam semesta ciptaan-Nya. Firman Allah diturunkan melalui para nabi dan rasul, makhluk pilihan yang dapat dipercaya untuk menyampaikan firman-Nya. Bukti dari firman Allah adalah adanya Al-Quran sebagai pedoman bagi umat Islam di seluruh dunia. Sifat mengikat mutakkaliman Allah berpadu dengan sifat kalam.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗ وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًا 

Artinya:"Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul (lain) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung."(QS. An-Nisa' surah ke 4: Ayat 164)

Setelah mengetahui sifat-sifat wajib Allah di atas, pembaca perlu mengetahui klasifikasi sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1. Sifat Nafsiyah
Sifat wajib Allah yang berkaitan dengan dzat Allah adalah sifat wujud termasuk dalam kategori sifat nafsiyah.
2. Sifat Salbiyah 
Sifat wajib yang hanya dimiliki oleh Allah . Seperti Qidam, Baqa, Mukhalafatul lil hawadisi, Qiyamuhu binafsihi, dan Wahdaniyah. 
3. Sifat Ma'ani 
Sifat wajib yang berhubungan dengan perbuatan atau kehendak Allah. Seperti Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama', basar, dan Kalam. 
4. Sifat Ma'nawiyah 
Sifat wajib yang berhubungan dengan Sifat Ma'ani. Seperti Qadiran, Muridan, Aliman, Hayan, Sami’an, Basiran, dan Mutakaliman.  

2. Sifat mustahil 
Sifat mustahil bagi Allah adalah sifat yang tidak mungkin ada pada Allah dan merupakan lawan dari sifat wajib Allah. Berikut ini merupakan sifat mustahil bagi Allah.
1.) Adam artinya tidak ada
Tidak mungkin Allah tidak ada dalam konsep kehidupan, karena Dialah pencipta alam semesta beserta isinya. Allah mempunyai sifat wujud yang artinya pasti ada, sehingga tidak mungkin Allah mempunyai sifat Adam yang berarti tidak ada. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini hidup dan ada karena Allah, sehingga mustahil jika penciptanya sendiri tidak ada.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَا رَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّا لشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ وَا لنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَ لَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَا لْاَ مْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya:"Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam."(QS. Al-A'raf surah ke 7: Ayat 54)

2.) Hudust artinya baru
Allah tidak didahului sesuatu pun, karena Dia ada sebelum segala sesuatu yang ada dan tercipta karena Allah mempunyai sifat qidam. Allah adalah permulaan dan mendahului segala sesuatu yang ada, kemudian menciptakan segala sesuatu yang ada atas kehendak dan kekuasaan Allah terhadap seluruh ciptaan-Nya di dunia dan alam semesta.

3.) Fana artinya tidak kekal
Allah tidak bisa musnah, karena Tuhan tetap ada selamanya. Kehadiran Allah tidak ada awal, tidak ada akhir, tidak ada kematian, tidak ada kehancuran, karena Allah tetap ada selamanya. Tidak mungkin Allah mempunyai sifat yang fana atau tidak abadi karena sifatnya yang Baqa atau kekal melebihi segala keagungan dan keagungan-Nya melebihi alam semesta.

4.) Mumatsalatu Lilhawasitsi artinya menyerupai makhluk
Allah tidak bisa serupa atau sama dengan makhluk yang diciptakannya. Allah tentu berbeda dengan makhluk-Nya baik dalam sifat-Nya maupun dalam tindakan dan perilaku makhluk-Nya, yang tentunya mempunyai kelemahan dan kekurangan. Tidak ada yang menyamai Allah atau setara dengan kesempurnaan-Nya. Sifat mumatsalatu lil hawadits merupakan kebalikan dari sifat mukhalafatu lilhawaditsi yang artinya Allah berbeda dengan ciptaannya.

5.) Ihtiyaju Lighairihi artinya membutuhkan bantuan
Allah maha kuasa dan tidak bergantung pada makhluk lain dalam hal apapun, karena Dia berkuasa atas seluruh alam semesta dan segala isinya. Allah itu maha kuasa dan satu-satunya, sehingga Dia tidak membutuhkan pertolongan siapapun. Sifat mustahil Ihtiyaju lighairih bertentangan dengan sifat Allah Qiyamuhu Binafsih.

6.) Ta'adud artinya berbilang
Allah itu tidak berbilang karena Tuhan Yang Maha Esa, yaitu satu-satunya hakikat kebesaran-Nya. Tidak mungkin Allah mempunyai sifat ta-adud yang artinya lebih dari satu, dan Dia tidak mempunyai saudara dan keturunan. Sifat Ta’adud merupakan kebalikan dari sifat Allah Wahdaniyah, yaitu tunggal dan umat Islam harus beriman kepada-Nya sebagai satu-satunya pencipta.

7.) Adzun artinya lemah
Allah tidak mungkin mempunyai kelemahan sedikit pun dalam setiap kehendak dan kekuasaan-Nya. Sifat mustahil Adzun merupakan kebalikan dari sifat Allah qudrat yang artinya Yang Maha Kuasa dengan segala kekuasaannya yang sempurna. Allah dengan mudahnya melakukan segala sesuatu sesuai kehendak dan kebesaran-Nya, sehingga tidak mungkin Dia mempunyai kelemahan dan kekurangan di luar pemahaman manusia, karena Dialah yang menciptakannya sendiri.

8.) Karahah artinya terpaksa
Allah tidak dipaksa melakukan apapun yang dikehendakinya atas kebesaran ciptaannya. Sifat mustahil Karahah adalah kebalikan dari sifat iradat yang berarti kehendak terhadap alam semesta dan isinya. Apapun yang Allah kehendaki terjadilah, dan tidak ada yang mustahil bagi Allah.

9.) Jahlun artinya bodoh
Allah tidak bodoh karena Allah tahu segalanya. Sifat Jahlun merupakan kebalikan dari sifat Allah yaitu Ilmun, yaitu menguasai ilmu dengan segala keagungan dan kekuasaannya, sehingga tidak ada makhluk yang dapat bersembunyi darinya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, termasuk mengetahui hal-hal yang gaib atau tersembunyi di dalam hati dan jiwa seseorang.

10.) Maut artinya mati
Allah tidak akan mati atau binasa karena keberadaannya kekal dan kuasanya yang sempurna. Kematian atau kehancuran adalah ciptaannya, sehingga tidak mungkin baginya binasa dengan segala kekuatan dan kuasanya atas segala ciptaannya di alam semesta. Sifat maut berlawanan dengan sifat Allah yang hayat, yakni hidup kekal dengan keabadiaan kuasanya.

11.) Shaman artinya tuli
Mustahil Allah tidak mendengar karena ia adalah pendengar segala sesuatu yang ada di alam semesta. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pandangan Allah, bahkan apa pun yang tersembunyi atau terucap hanya dalam doa dan hari-harinya. Allah dapat mendengar segala sesuatu, bahkan apa pun yang tidak dapat didengar oleh manusia atau makhluk lain. Sifat mustahil Shaman adalah kebalikan dari sifat Allah sama' yaitu Dia mendengar segala sesuatu yang terucap maupun yang tersembunyi.

12.) Ama artinya buta
Allah tidak buta atau tidak mampu melihat apapun yang terjadi, bahkan apa yang terlihat oleh mata dilihat oleh Allah. Sifat Ama bertolak belakang dengan sifat Allah Bashar, yakni maha melihat dengan segenap kekuasaannya dan tidak ada satu pun alam semesta yang luput dari pandangannya.

13.) Bakuman artinya bisu
Allah tidak bisu atau berdiam diri, karena Allah SWT adalah kalam, yaitu Dia yang berfirman demi keselamatan dan hidayah manusia. Allah berbicara atas keagungannya melalui sosok yang mulia, yaitu melalui para nabi dan rasul yang dapat dipercaya. Mustahil bagi Allah untuk tidak mengatakan apa pun tentang segala sesuatu yang terjadi dan diciptakan di bawah kekuasaannya.

14.) Kaunuhu Ajiza artinya lemah
Allah tidak bisa mempunyai kelemahan karena Dia mempunyai kemahakuasaan dan kekuatan seutuhnya alam semesta dan isinya. Sifat ajiza merupakan kebalikan dari sifat qadiran, yaitu kekuasaan atas seluruh alam semesta dan seluruh ciptaannya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, yang dikehendakinya pasti terjadi. Tidak ada yang menandingi kekuasaan Allah yang paling sempurna dengan segala kebesaran dan keagungannya.

15.) Kaunuhu muridan artinya terpaksa atau keterpaksaan
Allah tidak terpaksa atas segala ciptaan nya karena Dia mempunyai kuasa dan kehendak atas segalanya. Tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi kehendak Allah, termasuk membantu, mencampuri, atau bersaing dalam urusan Allah yang sempurna. Sifat kaunuhu muridan bertentangan dengan sifat muridan artinya maha menghendaki.

16.) Kaunuhu jahilan artinya bodoh
Allah tidak mungkin bodoh. Segala ilmu pengetahuan dan informasi diciptakan oleh Allah, sehingga tidak mungkin Dia bodoh. Sifat jahilian merupakan kebalikan dari sifat aliman yaitu mengetahui segala hal dan pengetahuan yang tidak dibatasi oleh apapun.

17.) Kaunuhu mayitan artinya bisa mati
Allah tidak bisa mati, hilang, lenyap atau tergantikan oleh apapun juga, karena Allah itu kekal dalam kepenuhan kekuasaan-Nya. Allah tidak bisa tidur, istirahat dan mati. Sifat kaunuhu mayitan kebalikan dari sifat hayyan yaitu hidup kekal tanpa cacat.

18.) Kaunuhu ashamma artinya ketulian
Allah tidak tuli atau tidak mendengar apa pun. Allah mendengar segala sesuatu yang terjadi, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam hati atau jiwa seseorang. Oleh karena itu, mustahil Allah tidak mendengarkan doa hamba-Nya, karena Dialah yang mendengar segala sesuatunya.

19.) Kaunuhu ama artinya buta
Allah tidak bisa buta atau tidak terlihat. Allah selalu menjaga makhluk-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari pandangan Allah. Tidak ada yang bisa membatasi pandangan Allah. Oleh karena itu Allah mengetahui segala sesuatu yang dilakukan manusia, walaupun tidak ada yang mengetahuinya.

20.) Kaunuhu abkam artinya bisu
Sifat mustahil kaunuhu abkam artinya Allah tidak mungkin selaras dengan sifat mustahil bakamun. Sifat mustahil ini adalah kebalikan dari sifat mutakaliman yang artinya berfirman. Atas segala kekuasaan dan keagungan-Nya, Allah terus memberitahukan firman agar makhluk-Nya terlindungi dari dunia dan akhirat. Semua perkataannya tertulis dalam kitab suci Al-Quran tentang peranan nabi dan rasul dalam menyampaikannya kepada umat manusia.

3. Sifat Jaiz
Sifat Jaiz bagi jaiz adalah sifat kebebasan, yang memungkinkannya melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Allah bebas melakukan segala yang mungkin, dan juga membiarkannya sesuai kehendak-Nya. Contoh sifat jaiz Allah meliputi:

1.) Menciptakan hal yang indah dan buruk atau menciptakan salah satunya atau tidak menciptakan sama sekali.
2.) Memberi rezeki atau tidak memberi rezeki kepada manusia.
3.) Memberikan pahala pada orang yang berbuat baik dan menyiksa orang-orang yang berbuat maksiat, bukan kewajiban Allah tetapi merupakan keadilan-Nya.
4.) Naik atau turunnya derajat seseorang tidak terlepas dari kekuasaan dan kehendak Allah.
5.) Contoh sifat jaiz juga terdapat dalam mukjizat nabi, seperti api yang dibuat dingin dan tidak membakar Nabi Ibrahim serta lautan yang terbelah akibat pukulan tongkat Nabi Musa.

D. Cara mengenal Allah
 Ketika seorang hamba mengenal Allah, maka ia akan lebih memahami hakikat kehadiran-Nya. Keperluan manusia mengenal Allah adalah untuk mengenal dirinya lebih baik dan mendapat manfaat serta keberkahan di akhirat. Cara mengenal Allah antara lain:

1. Kenali ciptaan Allah
Cara pertama untuk mengenal Allah adalah melalui ciptaan-Nya. Makhluk yang diciptakan Allah sangat berbeda dengan hewan, tumbuhan, manusia, malaikat dan jin. Sebagai umat Islam, kita harus yakin bahwa segala sesuatu ada karena kekuasaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَ اِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْۤ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ اَشْهَدَهُمْ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ ۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۗ قَا لُوْا بَلٰى  ۛ  شَهِدْنَا  ۛ  اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ(١٧٢) اَوْ تَقُوْلُوْۤا اِنَّمَاۤ اَشْرَكَ اٰبَآ ؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّنْۢ بَعْدِهِمْ ۚ اَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُوْنَ(١٧٣)

Artinya:"(172.)Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini," (173.) atau agar kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?""(QS. Al-A'raf surah ke 7: Ayat 172-173)

2. Kenali rububiyah Allah
Umat Islam juga harus meyakini keesaan Allah. Mengenai keesaan Rububiyah Allah berupa keyakinan bahwa hanya Allah yang menciptakan, memiliki, memerintah dan mengatur alam semesta. Selanjutnya umat Islam harus meyakini bahwa hanya Allah yang mampu memberikan kehidupan, kematian, rezeki, kebaikan dan musibah. Allah selalu mengatur, mengendalikan, mengatur dan mempunyai hak tunggal.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ(١) اَللّٰهُ الصَّمَدُ(٢) لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ(٣) وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ(٤) 

Artinya:"(1.)Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. (2.)Allah tempat meminta segala sesuatu. (3.) (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. (4.)Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."(QS. Al-Ikhlas surah ke 112: Ayat 1-4)

3. Kenali uluhiyah Allah
Mengetahui uluhiyah Allah berarti meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Tidak ada makhluk yang mampu menggantikan Dia, bahkan malaikat dan rasul sekalipun. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِيَّا كَ نَعْبُدُ وَاِ يَّا كَ نَسْتَعِيْنُ 

Artinya:"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."(QS. Al-Fatihah surah ke 1: Ayat 5)

4. Kenali nama dan sifat Allah
Allah mempunyai 99 nama dan sifat-sifat baik yang disebut Asmaul Husna. Setiap Muslim harus percaya pada nama dan sifat ini.

E. Pengertian mengimani Allah
Mengimani Allah adalah mempercayai sepenuh hati dan meyakini bahwa Allah itu ada dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna, meskipun belum pernah melihat, mendengar atau bahkan menyentuh-Nya. Mengimani Allah merupakan rukun iman pertama. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَا رَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّا لشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ وَا لنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَ لَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَا لْاَ مْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya:"Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam."(QS. Al-A'raf surah ke 7: Ayat 54)

F. Cara mengimani Allah
Mengimani Allah tidak hanya diucapkan dalam hati, tetapi juga melalui tindakan nyata. Berikut cara untuk mengimani Allah:

1. Percaya bahwa tidak ada tuhan selain Allah
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

ذٰلِكَ بِاَ نَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَـقُّ وَاَ نَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ هُوَ الْبَا طِلُ وَاَ نَّ اللّٰهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ

Artinya:"Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar."(QS. Al-Hajj surah ke 22: Ayat 62)

2. Percaya dengan kekuasaan dan kebesaran Allah
Selain meyakini bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah, selanjutnya adalah mengimani kekuasaan dan kebesaran Allah yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu. 

3. Percaya dengan sifat dan nama Allah
Tidak ada makhluk yang mempunyai sifat seperti Allah. Hanya Allah yang mempunyai nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallaam bersabda,“ Iman terdiri dari 70-an atau 60-an cabang. Cabang yang paling tinggi adalah ucapan Laa ilaaha ilallah, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah sebagian dari cabang keimanan.” (HR. Muslim)

4. Mempercayai rasul sebagai utusan Allah
Tidak hanya percaya akan kebesaran Tuhan, namun juga yakin bahwa nabi dan rasul sebagai utusan pilihan Allah yang diutus untuk umat manusia. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْۤ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَاۡ فَا عْبُدُوْنِ

Artinya:"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku maka sembahlah Aku."(QS. Al-Anbiya surah ke 21: Ayat 25)

5. Menjadi shalat dan ibadah wajib lainnya
Tidak ada bukti keimanan yang lebih kuat daripada menunaikan shalat lima waktu dan ibadah wajib lainnya. Hal ini tertuang dalam tauhid uluhiyah yang juga merupakan salah satu cara beriman kepada Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

Artinya:"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk."(QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 43)

6. Memohon hanya kepada Allah
Orang beriman hanya meminta pertolongan kepada Allah. Tidak ada yang bisa menolong kecuali Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِيَّا كَ نَعْبُدُ وَاِ يَّا كَ نَسْتَعِيْنُ 

Artinya:"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."(QS. Al-Fatihah surah ke 1: Ayat 5)

7. Berbakti kepada kedua orangtua
Bagi Allah, amalan yang juga merupakan cara paling disukai Allah adalah dengan berbakti kepada kedua orang tua. Keridhaan orang tua adalah keridhaan Allah, maka raihlah keridhaan Allah dengan berbakti kepada kedua orangtua.

Dari Abu Amr asy-Syaibâni (namanya Sa’d bin Iyâs) berkata, “Pemilik rumah ini telah menceritakan kepadaku sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu dengan tangannya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku (Abdullah bin Mas’ud) mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada dua orang tua.” Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allâh.”

G. Cara mencintai Allah
Seringkali gemerlapnya dunia membuat kita lebih mencintai dunia dibandingkan Allah. Inilah cara Anda mencintai Allah di atas segalanya:

1. Menyadari bahwa kita adalah ciptaan Allah 
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

Artinya:"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna."(QS. Al-Isra' surah ke 17: Ayat 70)

2. Mengikuti perintah Allah
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS. Ali 'Imran surah ke 3: Ayat 31)

3. Mencintai Rasulullah
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah beriman (secara sempurna) salah seorang dari kamu sehingga aku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya dan segenap manusia.” (HR. Al-Bukhari)

4. Mengamalkan isi Al Qur'an
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰ نَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًا(٩) وَّاَنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِا لْاٰ خِرَةِ اَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَا بًا اَلِيْمًا(١٠) 

Artinya:"(9.)Sungguh, Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar, (10.)dan bahwa orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih."(QS. Al-Isra' surah ke 17: Ayat 9-10)

5. Senantiasa berdoa
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam senantiasa meminta agar dianugerahi  cinta kepada Allah. Doa Rasulullah diabadikan dalam sebuah hadits yang berbunyi: "Ya Allah, anugerahkanlah aku cinta kepada-Mu, cinta kepada orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada sesuatu yang mendekatkanku kepada cinta-Mu. Jadikanlah cintaku kepada-Mu lebih besar daripada cintaku kepada air yang dingin.”(HR. Abu Naim dari Abu Darda)

6. Tidak mengejar dunia
“Orang yang telah mencicipi kesucian cinta kepada Allah, niscaya hal itu akan melalaikannya dari mengejar kehidupan dunia dan membuatnya tidak betah dengan semua orang.” (Abu Bakar Ash-Shiddiq)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قُلْ اِنْ كَا نَ اٰبَآ ؤُكُمْ وَاَ بْنَآ ؤُكُمْ وَاِ خْوَا نُكُمْ وَاَ زْوَا جُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَ اَمْوَا لُ ٱِ قْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَا رَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَا دَهَا وَ مَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَاۤ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ جِهَا دٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَ بَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَ مْرِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Artinya:"Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik."
(QS. At-Taubah surah ke 9: Ayat 24)

7. Senantiasa sabar menghadapi cobaan dari Allah
"Nikmatnya cinta membuat mereka lupa kepada pahit dan beratnya ujian. Dorongan cinta membuat mau mengorbankan jiwa, harta, waktu, dan segala yang berharga demi Dia yang cinta dengan harapan mereka akan mendapat ridha dan cinta-Nya". (Syaikh Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari)

8. Membaca kisah nabi
Dengan membaca kisah para nabi, kita semakin mengetahui betapa besarnya kasih sayang Allah terhadap manusia dan makhluk ciptaan lainnya. Kisah Nabi akan menambah rasa cintamu kepada Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

بِا لْبَيِّنٰتِ وَا لزُّبُرِ ۗ وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّا سِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Artinya:"(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Al-Qur'an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan."(QS. An-Nahl surah ke 16: Ayat 44)

9. Puasa 
Saat kita berpuasa, kita semakin tahu betapa besarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Semakin kita mulai mencintai Allah, yang telah memberi kita banyak kebahagiaan dan kesenangan selama hidup kita di dunia. 

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”(HR Bukhari no 1761 dan muslim 1946)

10. Memperbanyak dzikir kepada
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا(٤١) 
وَّ سَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا(٤٢)

Artinya:"(42.)Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, (43.)dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
(QS. Al-Ahzab surah 33: Ayat 41-42)

11. Berkumpul dengan orang Shalih
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

Artinya:"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas."(QS. Al-Kahf surah ke 18: Ayat 28)


12. Mengingat kematian
Ingatlah bahwa kita hanyalah makhluk lemah yang waktunya ditentukan oleh Allah. Semakin kita mengingat kematian, semakin besar hati kita mencintai Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَاِ نَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّا رِ وَاُ دْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَا زَ  ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ

Artinya:"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."(QS. Ali 'Imran surah ke 3: Ayat 185)

Anas Radhiyallahu 'Anhu meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Saw,”Kapan kiamat tiba, wahai Rasulullah?” “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” beliau balik bertanya. Orang itu menjawab,”Aku tidak menyiapkan banyak shalat, puasa, dan sedekah. Tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam berujar,”Kau akan bersama orang yang kau cinta.” Anas berkomentar,”Kami juga demikian?” “Ya,” jawab Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. “Maka kami sangat bergembira,” tutur Anas.”(HR. Bukhari dan Muslim)

H. Hikmah mengimani Allah 
Berikut merupakan hikmah mengimani Allah.
1. Hati menjadi tenang.
2. Mendapatkan bimbingan dari Allah.
3. Mempunyai kasih sayang yang tinggi.
4. Diampuni dosanya dan memperoleh pahala yang besar.
5. Diberi kemudahan hidup.
6. Ketaatan kepada Allah bertambah.

I. Hikmah mencintai Allah
Berikut merupakan hikmah mencintai Allah.
1. Menjadi dekat kepada Allah.
2. Menemukan ketenangan jiwa.
3. Kualitas ibadah meningkat.
4. Memperoleh perlindungan dan bimbingan.
5. Mendapatkan kebahagiaan.

Mencintai Allah juga merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari iman Islam dan memiliki efek yang sangat positif dalam kehidupan sehari-hari.

J. Kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan
Nabi Ibrahim adalah salah rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi karena ketabahan dan keteguhan hati yang luar biasa. Sebagai utusan Ulul Azmi, Nabi Ibrahim mempunyai banyak kisah yang patut diteladani. Salah satunya adalah kisah teladan perjuangannya mencari Tuhan di tengah masyarakat penyembah berhala. Bagaimanakah kisahnya? Berikut pemaparannya.

Nabi Ibrahim lahir di Ur Kasdim, Babilonia (saat ini masuk wilayah Irak ) yang diperintah oleh Raja Namrud. Masyarakat Babilonia pada saat itu menyembah berhala dan terdapat tempat dimana mereka memuja patung, termasuk patung terbesar milik Raja Namrud. Ayah Nabi Ibrahim bahkan berprofesi sebagai pembuat patung atau berhala.

Nabi Ibrahim menunjukkan banyak keistimewaan sejak kelahirannya. Nabi Ibrahim kecil juga diilhami oleh akal sehat dan pikiran yang tajam, serta pengetahuan bahwa penyembahan berhala yang dilakukan masyarakat Babilonia, termasuk ayahnya, adalah tindakan salah.

Nabi Ibrahim meyakini bahwa dirinya dan seluruh makhluk di dunia harus menciptakan sesuatu. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim tidak mengikuti kaumnya dalam menyembah berhala, namun mulai mencari dimana dan siapa Tuhan sebenarnya.

Kisah pencarian tersebut diawali dengan Nabi Ibrahim berjalan di malam hari dan melihat bintang terang. Nabi Ibrahim pernah mengira bahwa bintang adalah tuhannya, namun kekagumannya hilang ketika bintang yang dilihatnya menghilang. Nabi Ibrahim juga mengira bahwa bulan adalah tuhannya, namun bulan juga menghilang di pagi hari.

Setelah itu Nabi Ibrahim melihat matahari terbit dan mengira bahwa matahari adalah Tuhan karena ukurannya juga lebih besar dari bulan. Namun ketika matahari terbenam, Nabi Ibrahim kembali sadar bahwa itu bukanlah Tuhan, karena Tuhan tidak pernah hilang. Kisah ini tertuang didalam Al Qur'an yang berbunyi: 

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۚ قَا لَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَ قَا لَ لَاۤ اُحِبُّ الْاٰ فِلِيْنَ(٧٦) فَلَمَّا رَاَالْقَمَرَ بَا زِغًا قَا لَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَ قَا لَ لَئِنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَ كُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّآ لِّيْنَ(٧٧) فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَا زِغَةً قَا لَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَاۤ اَكْبَرُ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَتْ قَا لَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ(٧٨)

Artinya:"(76.)Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, "Inilah tuhanku." Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, "Aku tidak suka kepada yang terbenam." (77.)Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, "Inilah tuhanku." Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, "Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." (78.)Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah tuhanku, ini lebih besar." Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, "Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.""(QS. Al-An'am surah ke 6: Ayat 76-78)

Niat tulus Nabi Ibrahim untuk mencari Tuhan membawa pada kesimpulan bahwa segala sesuatu pasti ada Penciptanya dan hanya Dia yang patut disembah. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur'an yang berbunyi:

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ حَنِيْفًا وَّمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ 

Artinya:"Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik."(QS. Al-An'am surah ke 6: Ayat 79)

Meskipun Nabi Ibrahim bertekad untuk melawan kesyirikan dan penyembahan berhala, namun pertama-tama ia ingin menguatkan imannya untuk meyakinkannya. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan segala keraguan yang mungkin mengganggu pikirannya.

Nabi Ibrahim meminta kepada Allah untuk menunjukkan kepadanya bagaimana Allah menghidupkan kembali makhluk yang mati. Allah mengabulkan doa tersebut dengan menyuruh Nabi Ibrahim menangkap empat ekor burung dan memotongnya menjadi beberapa bagian lalu mencampurkannya.

Nabi Ibrahim kemudian diminta untuk membagi burung sudah tercampur tersebut menjadi empat bagian dan masing-masing ditempatkan di puncak gunung yang berbeda. Sebuah keajaiban terjadi ketika Nabi Ibrahim memanggil burung-burung itu, bagian tubuhnya terbang dan bersatu kembali menjadi empat burung yang hidup. Kisah ini tertuang dalam Al Qur'an yang berbunyi:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya:"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati." Allah berfirman, "Belum percayakah engkau?" Dia (Ibrahim) menjawab, "Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap)." Dia (Allah) berfirman, "Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."(QS. Al-Baqarah surah ke 2: Ayat 260)

Dengan cara ini, keinginan Nabi Ibrahim untuk menenangkan hatinya dan menghilangkan keraguan terhadap keimanannya kepada Allah tercapai. Nabi Ibrahim kemudian menjalankan tugas pertamanya untuk menyadarkan ayahnya sebelum akhirnya berdakwah kepada masyarakat luas.

Untuk menunjukkan bahwa penyembahan berhala itu salah, Nabi Ibrahim menghancurkan berhala yang disembah orang Babilonia. Kisah Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala menempatkannya dalam situasi berbahaya karena semua orang menentangnya. Namun atas izin Allah, Nabi Ibrahim selamat dari segala penderitaan dan mampu mengalahkan Raja Namrud yang membakarnya hidup-hidup.

Penutup:
Mengenal, mengimani dan mencintai Allah mempunyai banyak hikmah yang dapat kita ambil. Semoga kita semua diberikan keistiqomahan dalam mengimani dan mencintai Allah. Kurang lebihnya penulis mohon maaf. Sekian dan terimakasih telah berkunjung ke blog ini.

Penulis: Maulana Aditia

Baca juga: 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhi suudzon dan tingkatkan husnudzon

Menjauhi syirik, khurafat, dan takhayul

Peduli terhadap hewan dan lingkungan sekitar